Precedence: bulk
HAMZAH HAZ KOBARKAN KAMPANYE BERBAU "SARA"
JAKARTA (SiaR, 27/5/99), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan
lembaga-lembaga pengawas Pemilu independen tampaknya lebih memfokuskan
perhatiannya kepada jenis-jenis pelanggaran yang kasat mata, sehingga pidato
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hamzah Haz yang berbau
suku-agama-ras-antar golongan (SARA) luput dari perhatian mereka.
Dalam kampanye putaran ke dua PPP di Mampang, Jakarta Selatan, Hamzah Haz
menyerukan kepada ribuan simpatisan PPP yang hadir untuk tidak memilih
partai politik non-Islam yang menempatkan caleg non-Muslimnya sebanyak 90%.
"Bila mereka berkuasa, inginkah kita melihat umat Islam kembali seperti
zaman kegelapan dulu," tanyanya pada para pendukungnya.
Meski tak secara eksplisit menyebutkan parpol mana yang disasar dari
ucapannya tersebut, tapi Arbi Sanit, pengamat politik UI memperkirakan
pernyataan tersebut ditujukan kepada PDI Perjuangan. Menurut Arbi, PDI
Perjuangan merupakan parpol besar yang berwatak nasionalis sekuler, maka
salah satu cara untuk menjatuhkan kebesarannya adalah dengan isu-isu yang
berbau SARA.
Dalam kampanye putaran pertama PPP di Cililitan Besar, seperti telah
diberitakan SiaR sebelumnya (Rabu, 26/5), telah dibagikan selebaran yang
mempertentangkan Islam dengan PDI Perjuangan. Ini ke dua kalinya, PDI
Perjuangan dipojokkan dengan selebaran yang berbau SARA, setelah sebelumnya
seorang caleg Partai Daulat Rakyat (PDR), Basuki Suhardjo ditahan Polda
Metro Jaya karena mencetak selebaran yang mendiskreditkan PDI Perjuangan
dengan mempergunakan sentimen agama.
Pada selebaran yang dibagikan pada kampanye PPP itu juga dimuat sebelas
foto caleg PDI Perjuangan, lengkap dengan nama-nama mereka, yang disebutkan
beragama non-Islam.
Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Amien Arjoso yang
dikonfirmasi tentang tindakan pelecehan dan fitnah yang berbau SARA yang
dilakukan parpol-parpol tersebut, menegaskan, pihaknya akan mengadukan hal
ini kepada Panwaslu, agar diambil tindakan sesuai peraturan yang ada.
Menurut Amien, berdasarkan peraturan yang ada, setiap jurkam dalam
kampanyenya dilarang berpidato yang membangkitkan sentimen SARA, sehingga
merugikan pihak lainnya.
Sementara itu, Wakil Sekjen PDI Perjuangan Haryanto Taslam menyebutkan,
tidak benar bahwa caleg partainya didominasi non-Islam. Menurutnya, pendapat
tersebut sangat tendensius dan tidak realistis. Haryanto yakin, dari sekitar
35 juta massa pendukung PDI Perjuangan, maka sekitar 30 juta merupakan umat
muslim.
"Perbandingan caleg muslim dan non-muslim, juga sekitar segitu. Tapi, ini
tidak relevan untuk diangkat. Kami menilai seseorang tidak dari suku, agama,
ras, dan sebagainya. Itu pandangan yang sempit dan tiranik," ujarnya.
Menurut catatan SiaR, PPP pada Pemilu 1997 lalu, telah
menandatangani berita acara tentang keabsahan penghitungan suara setelah
disuap Soeharto --melalui Golkar-- sebesar Rp 1 trilyun. Ketika itu, seperti
diungkapkan sumber SiaR di kalangan anggota dewan di DPR/MPR-- semula ada
dua kubu yang bertentangan, yaitu kubu yang menerima atau yang menolak hasil
Pemilu itu. Kubu pertama, yakni mereka yang menerima hasil Pemilu, antara
lain didukung Ismail Hasan Metareum, Aisah Amini, Hamzah Haz, dan Hasan Zein
Badjeber. Sedangkan kubu kedua, yakni yang menolak antara lain Hadimulyo,
Khofifah, Jusuf Syakir dan Moedrick Soengidoe.
Akibat penyuapan tersebut, kubu Buya Metareum bukan saja secara
sepihak menandatangani berita acara tersebut, tapi juga sekaligus mendukung
pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI. Padahal, sebelumnya sempat
mendengung-dengungkan untuk mencalonkan calon lain selain Soeharto. Tindakan
sepihak yang dilakukan Buya dan kawan-kawan itu sempat mengecewakan para
pendukung Mega-Bintang.
Sumber SiaR, yaitu beberapa anggota DPR yang kecewa terhadap "ulah"
Buya Metareum dan kawan-kawan, kemudian membocorkan penyuapan tersebut
kepada para aktivis Mega-Bintang yang selama kampanye Pemilu bekerja keras
membangun isu menolak Soeharto dan Orde Baru-nya.
Buya Metareum, dan Aisah Amini, yang ditelpon "gelap" oleh para
pendukung Mega-Bintang, seperti diungkapkan seorang pendukung Mega-Bintang
kepada SiaR, sehubungan dengan penyuapan tersebut, malah balik bertanya:
"Anda siapa, dan dari mana Anda memperoleh informasi tersebut."
"Buya dan Aisah bingung, kok kita bisa memperoleh informasi
penyuapan itu," ujar pendukung Mega-Bintang yang kecewa tersebut.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html