Precedence: bulk Pembaca yang budiman, Berikut ini disampaikan sebuah laporan singkat tentang pengalaman seorang relawan di Dili yang sementara sedang bekerja di tempat pengungsi di Liquica. Laporan ini mudah-mudahan dapat memberi gambaran kepada teman-teman tentang keadaan yang sementara sedang dihadapi oleh masyarakat yang dipaksa mengungsi ke kota Liquica oleh milisi BMP dan aparat keamanan. Keadaan para pengungsi di kota Liquica lebih tepat kalau dikatakan bahwa mereka ini diperlakukan sebagai tawanan-tawanan BMP. Nama-nama kami samarkan karena pertimbangan keamanan sumber MateBEAN Demikian, Redaksi MateBEAN atas nama Sumber Informasi ------------------------------------------------------------ LAPORAN TENTANG KEADAAN PENGUNGSI DI LIQUICA Oleh: Angelika Diaz (Relawan Posko Dili) PENGANTAR Organisasi kami (selanjutnya kami sebut ORG) adalah sebuah organisasi yang terdiri atas laki dan perempuan yang memberikan perhatian kepada pemberdayaan perempuan, khususnya masalah kekerasan yang dialami perempuan akibat situasi konflik. Dalam menjalankan misi tersebut, ORG memberikan perhatian kepada perempuan korban kekerasan dengan upaya pendampingan dan pemberdayaan kepada beberapa kelompok dampingan kami yang tersebar di beberapa tempat seperti Viqueque, Laclo dan Dili. Situasi politik yang berkembang akhir-akhir ini, telah menyebabkan banyak masyarakat yang menjadi korban akibat diteror dan dibantai oleh para milisi. Banyak penduduk yang akhir-akhir ini terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi tempat lain untuk mencari perlindungan. Meningkatnya arus pengungsian akhir-akhir ini, kurang mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berkewajiban. Terdorong oleh rasa kemanusiaan dan sebagai putra daerah Timor Loro Sae, tentulah ORG tidak dapat tinggal diam melihat situasi tidak berperikemanusiaan ini berlanjut. Untuk itu juga mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan sekedarnya baik material maupun moril, guna membantu esama, bersama rekan-rekan lainnya melalui Posko Bantuan Darurat Bagi Pengungsi Internal - Dili. Banyak informasi telah diperoleh melalui Susteran Carmelitas yang bekerja di Maubara, salah satu kecamatan di kabupaten Liquica, bahwa tidak ada akses jaminan keamanan bagi para pemberi bantuan kemanusiaan. Suster-suster diancam akan dibunuh bila memberikan bantuan bagi para pengungsi. Posko ingin memberi bantuan bagi para pengungsi di Liquisa dan sekitarnya, tapi bagaimana caranya ? Untuk bisa masuk saja ke kota Liquisa susah. Namun Tuhan tidak pernah menutup jalan bagi umatnya yang tidak berdosa dan bagi orang yang ingin berbuat sesuatu untuk sesama. Seorang suster pendiri sebuah Institut Sekuler Maun Alin Iha Kristu (ISMAIK), suster X mencoba untuk melihat kondisi di Liquisa dan menawarkan ke ORG kalau ingin kerja sama. Hanya seorang perempuan yang dapat pergi bersama. Semuanya demi kelancaran misi kemanusiaan. Sebagai salah seorang anggota ORG, saya diminta untuk berangkat bersama Sr X ke Liquisa, saat itu juga (30/4). PERJALANAN PERTAMA TANGGAL 30 APRIL 1999. Kira-kira pukul 11.00 wita kami berangkat ke Liquisa. Saya, Sr X dan sopirnya. Saat kami tiba di sebuah pos Besi Merah Putih (BMP) di desa Tibar, Sr X minta untuk berhenti sebentar. Sr X berbicara dengan pimpinan di pos tersebut. Pimpinan itu minta beberapa anak buahnya untuk menemani kami ke Liquisa (kebetulan Sr X kenal orang tersebut). Tidak lupa kami suguhkan rokok untuk mereka (membangun jalinan kerja sama demi keamanan dan kelancaran). Perjalanan dilanjutkan ke Liquisa bersama empat orang dari mereka. Di Liquisa, kami diantar oleh seorang suster yang berdiam di Liquisa ke pos yang menangani para pengungsi. Kami hanya diperkenalkan oleh suster tersebut bahwa kami dari Dili. Sr X agak sedikit memberikan nasehat kepada orang-orang di situ, tentang perilaku mereka. Dan melihat dari cara mereka membantah setiap pembicaraan Sr X, kami sadar bahwa ternyata pos tersebut adalah pos para BMP. Mereka mengatakan BMP ada untuk melindungi rakyat dari teror dan intimidasi Falintil. Bahwa orang masuk BMP secara sukarela. Salah satu dari mereka (BMP), Jose Diogo sebagai pimpinan pos secara terang-terangan mengatakan, "Kami BMP sangat benci dengan Wartawan, karena para wartawan membuat berita yang tidak baik tentang kejadian di kediaman pastor Liquisa. Karena itu saya suruh untuk hancurkan kantor berita STT (kejadiann tanggal 17 April 1999). Kami akan usir setiap wartawan yang datang ingin meliput di Liquisa. Semua yang datang, harus melalui pos BMP". Saat kami sedang duduk, datang seorang perempuan tua. Dia marah dan berteriak-teriak di pos tersebut (menggunakan bahasa daerah setempat ; Tokodede). Para BMP mengusir dia pergi dan mengatakan kepada kami bahwa dia sudah lama jadi gila. Tapi Sr X pergi memeluk ibu tua tersebut dan meminta dia untuk tenang. Ternyata dia trauma dengan apa yang dialami dan dilihatnya. Sr X jadi bisa mengerti dari apa yang dimaksudkannya saat dia marah-marah dengan bahasa daerah. Setelah dia tenang para milisi menyuruhnya pergi. Kemudian datang dua orang bersepeda motor, berhenti sebentar di belakang pos, kemudian pergi lagi. Belakangan diketahui bahwa orang itu adalah Camat Liquisa. Kemudian datang sebuah truk yang membawa beras dan diturunkan di pos. Beras berkarung-karung ditumpukan di pos, tapi tidak langsung dibagikan kepada masyarakat. Pos tersebut terdapat beberapa kamar. Di situ terlihat ada laki-laki dan perempuan entah siapa dan bagaimana mereka, kami tidak tahu banyak. Di depan pos milisi terdapat lagi sebuah gubuk terbuat dari bambu, yang dijadikan juga sebagai pos. Di situ duduk beberapa orang laki-laki tua dan muda yang semua memakai kain merah putih yang diikat pada kepala dan lengan. Di depan pos BMP juga terdapat pos penjagaan Koramil dan markas Koramil serta asramanya. Setelah selesai berbicara, kami diantar dan dikawal oleh para BMP - yaitu 2 orang bersepeda motor sebagai penunjuk jalan, dan 6 orang bersama kami dengan mobil. Ada sebuah mobil lagi dengan beberapa orang di dalam mengikuti dengan jarak agak jauh dari belakang kami. Kami diantar mengelilingi desa Dato/Pukelaran, untuk melihat para pengungsi dari jauh. Dari perjalanan ini terlihat beberapa rumah penduduk yang rusak dan terbakar tinggal puing-puing. Jalanan kelihatan sangat sepi. Tidak ada kendaraan dari masyarakat yang lalu lalang kecuali sepeda motor dan kendaraan tentara dan para milisi. Di sudut-sudut jalan dan beberapa rumah dan emperan pertokoan yang kebanyakan ditutup terlihat beberapa orang tentara lengkap dengan senjata. Terkesan pandangan mereka tidak bersahabat, tapi kami tetap mencoba melemparkan senyum dan menundukan kepala pertanda memberi salam. Setelah selesai melihat beberapa tempat, kami kembali ke pos. Sebelum kami diajak berkeliling, datang seorang perempuan tua mendekat dan menangis di hadapan saya dan berbicara dengan sangat pelang. Katanya, "Alangkah baiknya sekarang kalian datang. Tapi nanti setelah kalian pulang, kami akan disiksa dan ditekan". Saya merasa takut karena semua mata para milisi memandangi ke arah saya. Saya sengaja tersenyum dan mencoba menjauhkan diri dari ibu tersebut, demi keselamatan kami berdua. Setiap gerak-gerik kami dilihat oleh mereka. Saya sendiri merasa tidak bebas untuk berbicara dengan penduduk setempat apalagi para pengungsi. Di samping kiri pos pada pinggiran jalan terdapat banyak pengungsi yang tinggal di tenda terpal, dan bahkan ada yang tidak mendapat bagian terpal dan berteduh di bawah pohon. Hampir semua orang - khususnya orang dewasa terlihat mengikat kain merah putih pada lengan mereka. Orang takut untuk pergi berobat baik ke poliklinik maupun puskesmas. Sebelum pulang ke Dili kami mampir ke rumah keluarga Sr X. Ada seorang bayi umur 3 bulan menderita diare yang sudah hampir 3 minggu dan belum mendapatkan pengobatan, karena ibunya takut pergi berobat. Dia ingin berobat kalau pergi bersama kami. Di hari pertama ini para milisi telah bersedia untuk menyediakan tempat bagi kami (kelompok susteran dari Dili/Dare) sebagai tempat tinggal sementara untuk dapat membantu para pengungsi. Mereka bersedia membantu dengan catatan bahwa kami jangan macam-macam seperti memberian informasi atau mencoba mempengaruhi masyarakat. Kami mengidentifikasi kebutuhan para pengungsi. Menurut para milisi, masih dibutuhkan lagi terpal, tikar dll. Dan saya mencatatnya atas ijin Sr X. PERJALANAN KEDUA, SABTU 1 MEI 1999 Kami berangkat lagi dengan membawa beberapa kebutuhan para pengungsi seperti beras, tikar, terpal dll. Kami langsung ke pos BMP untuk memastikan tempat yang akan kami tempati. Setelah jelas, kami diantar ke tempat asrama putri susteran untuk tinggal di sana. Saya dan Sr X ditemani oleh dua orang milisi, salah satunya adalah pimpinan pos setempat, Diogo. Dengan berjalan kaki, kami berusaha untuk bertemu dan melapor ke KODIM, KORAMIL dan POLSEK dan BUPATI. Namun semua tidak ada di tempat. Kami ke camat. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kami, pada dasarnya dia selaku camat senang dan menerima kedatangan kami. Dengan catatan bahwa kami benar-benar hanya akan melakukan misi kemanusiaan untuk para pengungsi. "Tidak usah dengar berita yang macam-macam, jangan mencoba memberikan informasi yang bukan-bukan kepada masyarakat. Semua kegiatan kami harus sepengetahuan BMP dan bekerja sama dengan BMP. Dan jangan menulis dan mencoba memberikan informasi ke media , karena kami di sini tidak senang dengan kedatangan para wartawan baik luar maupun dari dalam. Karena apa yang dituliskan wartawan selama ini adalah bohong", jelas Pak Camat. Sehabis mengatakan demikian camat berbalik ke arah saya dan bertanya "Adik ini wartawan? Terus terang saja saat itu saya kaget bercampur takut. Namun saya berusaha untuk tenang dan menjawab saya bukan wartawan, saya anggota susteran dan pengikut pada institut milik Sr X. Dan Sr X juga mengiyakan apa yang saya katakan. Saat itu terlintas dalam pikiran saya bahwa saya harus berpenampilan seperti suster dan para pengikutnya (Susteran ISMAIK ini tidak memamaki baju putih, berpakaian bebas, rok). Kami pulang dan mampir sebentar di susteran PRR. Dari susteran ini, kami mengetahui bahwa para milisi telah menginformasikan kedatangan kami ke camat dan pihak lain. Para milisi mencurigai saya sebagai wartawan serta mengatakan bahwa Sr X berbicara terlalu berbau politik. Untuk itu mereka akan selalu memantau setiap gerakan dan kegiatan kami. Terakhir informasi yang saya peroleh dari seorang teman yang kebetulan mengenal beberapa anak SPK yang ternyata pada hari Sabtu, (hari rencana kunjungan kami yang kedua) telah disuruh oleh para milisi tersebut untuk menunggu kami di pos BMP. Dikatakan bahwa mereka harus menunggu kedatangan seorang suster dan seorang wartawan dari CNRT, serta informasi yang harus diberikan kepada kami bahwa pos tersebut bukan pos BMP, tapi pos tim kesehatan (duh... apa mungkin?) Kapolsek, Koramil dan Camat juga mengatakan bahwa kami harus selalu bekerja sama dengan para milisi, karena yang menjaga keamanan dan bertannggung jawab sekarang adalah BMP. Saya menginap semalam di Liquisa. Pada malam itu kami mendengar bunyi suara motor yang melakukan patroli, orang berteriak dan menangis (suara laki-laki dan perempuan). Waktu telah menunjukan hampir pukul 12.00 wita, asrama tempat tinggal kami dijaga ketat oleh para milisi. Namun diketahui bahwa yang disuruh jaga tersebut adalah para pengungsi laki-laki sekitar sepuluh lebih orang. Dan mereka juga selalu diawasi oleh para milisi yang lainnya. Para milisi yang menjaga dilarang tidur dan harus tinggal di bawah pohon. Kalau tidak, maka mereka akan dilaporkan dan dipukul. Informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat bahwa saat tidur jika lampu telah dipadamkan, maka jangan dihidupkan lagi. Juga sebaliknya, karena ini akan menimbulkan kecurigaan para milisi, dan mereka akan datang memeriksa Mereka melakukan pemeriksaan pada malam hari, jika menemukan ada laki-laki dewasa dalam rumah, maka akan dipukul dan rumah akan dihancurkan. KEADAAN UMUM PARA PENGUNGSI Jumlah pengungsi secara keseluruhan di kecamatan Liquisa berkisar antara 14.000 - 16.000 orang. (informasi diperoleh dari pimpinan BMP setempat, Jose Diogo). Para pengunsi ini berasal dari 8 desa yaitu; 1. Desa Darlete, jumlah secara keseluruhan yang diperoleh dari salah seorang penanggungjawab pengunsi dari desa Darlete yang juga sebagai anggota DPRD TK II Liquisa, yaitu 1.365 orang. Diantaranya terdapat sekitar 200-an anak-anak. 2. Desa Letola. Data yang dapat diperoleh bahwa jumlah anak 270 orang 3. Desa Laclo, jumlah anak 300 ornag 4. Desa Lukulai, jumlah anak 228 orang 5. Desa Hatukesi, jumlah anak 502 orang 6. Desa Dato, jumlah anak 270 orang 7. Desa Leodahar, belum diperoleh informasi 8. Desa Asmanu, diperoleh informasi bahwa yang telah turun ke kota (mengungsi) untuk baru 400 orang. Yang lain tidak mau mengungsi dan pergi melarikan diri ke hutan. Sedangkan informasi tentang jumlah orang tua (usila/jompo) yang telah diperoleh baru empat lokasi yaitu sebanyak 99 orang sedangkan ibu hamil dari 3 desa sebanyak 16 orang (jumlah ini belum mencakup semuanya karena keterbatasan jangkauan dari anak binaan yang diminta dari tiap-tiap desa sebagai penanggung jawab untuk desanya dalam pendistribusian makanan dan kebutuhan lainnya). Perlu diinformasikan bahwa sasaran utama yang diperhatikan dalam misi ini adalah kelompok rentan jompo, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak, khususnya untuk pembagian makanan. KONDISI TEMPAT TINGGAL DAN KESEHATAN PENGUNGSI DAN MASYARAKAT SEKITARNYA. Para pengungsi tinggal di bawah tenda terpal, di rumah-rumah penduduk di sekitar itu dan keluarga mereka. Tapi masih ada juga pengungsi yang tidak mendapatkan terpal, sehingga mereka hanya berteduh di bawah pohon, di teras rumah yang sudah tidak tertampung lagi, karena banyaknya orang yang berdiam dalam satu rumah. Demikian juga dengan tikar sebagai alas tidur, masih begitu banyak yang belum mendapatkannya, sehingga harus tidur di atas tanah. Banyak pengungsi yang tinggal di rumah-rumah penduduk yang kosong, karena ditinggal pergi akibat diteror semenjak kejadian gereja Liquisa. Satu rumah menampung bisa lebih dari 5-7 keluarga. Rumah kosong yang telah dihuni tersebut, pintu dan jendelanya telah dirusak sebelum kami datang, kata seorang pengungsi. Banyak rumah terlihat rusak akibat dibakar dan dihancurkan dengan cara dipukul dan lemparan batu. Dan ada rumah yang kosong tidak dihuni, entah ke mana pergi peghuninya karena takut dan diteror. Kunjungan kami ke tempat/rumah penampungan, ada seorang ibu yang datang menangisi anaknya yang entah hidup atau mati. Kata ibu itu bahwa anaknya adalah pengungsi di rumah Manuel Carascalao. Sang ibu meminta untuk membantu mencarikan anaknya. Karena kami diawasi oleh salah seorang BMP, kami hanya diam dan mengangukkan kepala. Ibu tersebut mengerti dan mengambil ijasah SMP anaknya dan menunjukan pada kami. Nama anak berinisial JR, umur 17 tahun. Di rumah pengungsian yang lain seorang bapak bernama Monteiro, umur 47 tahun, asal kampung Ilbehu dipukul saat disuruh harus tinggal di Kec. Liquisa (mengungsi). Akibatnya batang hidungnnya pecah. Kemudian mereka dipesan (istrinya), apabila ada yang tanya katakan bahwa bapak jatuh dari atas pohon. Informasi awal yang kami dapat dari BMP, camat dan Koramil dan dari Puskesmas bahwa hingga saat ini belum ada anak /orang yang sakit diare dll (tanggal 1-2 Mei). Tetapi dari hasil survey yang kami lakukan banyak orang tua yang mengeluh anak mereka sakit; diare, panas, demam, sakit mata, batuk, flu, bisulan, bahkan ada yang TBC. Tapi mereka tidak berobat karena tidak punya uang untuk biaya pengobatan dan terlebih karena takut. Puskesmaspun kelihatan sepi. Kebutuhan air bersih dirasakan sangat kurang. Hanya ada beberapa kerang air yang lancar, itupun dengan batas waktu tertentu. Mereka harus mengambil air dari jarak yang jauh, dan bahkan ada yang mengambil air lansung ke reservoir. Hal ini tentu saja akan mencemari air bersih semuanya. Ada yang mengambil air ke tempat asrama kami. Padahal persedian air dalam bak-pun semakin sedikit. Lingkungan tempat tinggal penuh dengan sampah. Anak-anak membuang air di sembarang tempat, sekalipun telah dibangun MCK galian. Banyak orang mengeluh semakin kekurangan persediaan makanan mereka. Mereka tidak dapat mencari makan ke tempat asal mereka. Ada yang berkata coba kami disuruh tinggal di tempat kami, pasti sudah akan memanen kopi dan hasil kebun kami. Kami tidak akan kelaparan seperti ini. Informasi yang diperoleh bahwaBMP hanya membagikaan beras 1 kaleng susu ada yang 5 kg /KK, tetapi hanya pada saat pertama mereka mengungsi. Hingga saat ini (6 Mei) tidak pernah dibagi lagi beras. Di pos BMP beras bertumpukan. Kata para milisi untuk pengungsi tapi tidak dibagikan. Saat saya di pos Koramil, datang sebuah truk Hino penuh dengan beras. Ternyata beras untuk para anggota koramil yang jaga. Tidak ada untuk pengungsi . Ada yang mengatakan bahwa mereka dilarang ke gereja, agar tidak terpengaruh dengan Rafael (pastor paroki), nanti akan menjadi Fretilin. Setiap hari para pengungsi laki-laki harus mengadakan apel pagi jam 06.00, dan sore jan 15.00. Kemudian mereka harus lari untuk berbaris. Yang terlambat dipukul dengan kayu besar dan dibentak. Bagi perempuan mereka mengeluarkan kata-kata tidak senonoh. Perempuan ikut jika ada pengarahan. Saat apel dan pengarahan orang disuruh meneriakan yel-yel otonomi. Hidup otonomi, hidup mera h putih dll. Serta menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti berkibarlah benderaku, maju tak gentar dll. Orang disuruh untuk mengikatkan bendera merah putih pada lengan atau pergelangan tangan. Semua laki-laki dewasa harus menjaga di pos. Beberapa orang dari mereka yang mengikuti kemana kami mengatakan jika kami tidak berjaga di pos maka saat pemeriksaan didapati dirumah maka akan dipukul.siapa yang ingin disiksa. Ada yang melapor bahwa kita tidak ke pos, otomatis akan dipukul. Ada yang dari mereka mengatakan bahwa (malam 5 Mei) sekitar 40 orang direndam ke dalam bak air, karena tidak berjaga di pos BMP. Di beberapa pos kecil di sudut jalan yang sempat kami lewati, para melisi berpesan agar jika ingin memberikan bantuan harus lewat pos BMP. Jangan langsung atau melalui pemuda, karena tidak ingin menjadi sasaran amukan mereka (BMP). Pengalaman bantuan yang diberikan tanpa melalui pos sudah cukup bagi kami. Kami dimarah dan diancam akan dibunuh. Hal serupa dialami oleh kelompok susteran Carmelitas dan PRR. Hingga sekarang susteran tersebut tidak berani lagi memberikan bantuan kepada pengungsi, karena mereka telah diancam akan dibakar bersama mobilnya, jika masih memberikan bantuan bagi para pengungsi. Sehingga saat Sr X menawarkan untuk kerja sama menangani pengungsi, suster dari Carmelitas dan PRR mengatakan takut. "Kami akan berdoa untuk suster X semoga dia baik-baik saja," kata seorang suster PRR. Sebagian besar para pengungsi adalah orang tua dan anak-anak serta perempuan. Ada perempuan yang baru habis melahirkan sehari, dipaksa mengungsi. Ada yang 2 hari dan seminggu. Ada yang melahirkan di bawah pohon, saat perjalanan dari desa ke tempat pengungsian. Karena kondisinya lemah, sehingga dirawat di puskesmas. Banyak perempuan dengan kondisi hamil muda dan tua. Informasi yang diperoleh bahwa ada yang telah melahirkan di kantor desa. Bayi mereka dibungkus dengan kain apa adanya. Salah seorang ibu menyusui yang kami temui mengatakan air susunya kering, karena satu minggu dia dipisahkan dari anak saya yang kini berusia 3 bulan. Waktu itu dia ke Liquisa kota untuk belanja keperluan keluarganya, bertepatan dengan kejadian di gereja Liquisa pihak BMP menahannya dan tidak ijinkan pulang ke kampungnya. Sekarang dia hanya bisa memberikan air bubur dan air untuk anaknya. Informasi dari teman-teman anggota susteran bahwa tanggal 4 Mei sore ada pengarahan dari Kapolsek, Koramil dan Camat. Akhir dari pengarahan dikatakan bahwa 5 dan 6 Mei, tidak boleh ada yang pergi mencari makan, semua harus di tempat. Tapi tanggal 5, pada apel pagi diberikan surat ijin bagi kurang lebih 200 (laki dan perempuan) untuk mencari makanan di desa Darlete. Tapi apa yang terjadi? Di pertengahan jalan permainan pun dimulai. Masyarakat dikelabui dengan tembakan dari atas, sehingga dikatakan bahwa hal ini ulah Falinitil. Mendengar bunyi tembakan masyarakat lari ketakutan. Akibatnya banyak perempuan jatuh dan terinjak-injak. Ada yang bengkak seluruh tubuhnya terutama perut dan dada. Dibawa ke puskesmas tapi puskesmas tidak berbuat apa-apa. "Hanya dengan bantuan doa dan obat tradisional dan perawatan di rumah, keadaan kritis saya dapat terlewati", kata Dina (bukan nama sebenarnya), salah seorang korban. Ada yang mengeluh bahwa karena seluruh tubuh diinjak, sehinnga mereka hanya dapat tidur dan tidak mengambilkan bubur untuk anak-anak mereka di asrama. Jika ada yang baru datang ke tempat pengungsian dari kampungnya, maka ia akan dipukul. Seorang laki laki bernama Aliku (bukan nama sebenarnya), dipukul hingga matanya hampir keluar dan tubuhnya penuh dengan luka-luka, karena terlambat datang (persisnya menyerah) dan dicurigai bekerja sama dengan Falintil. Dia dirawat di Puskesmas. Saat saya menengok, ternyata korban batuk dan mengeluarkan ludah bercampur darah. Informasi yang diperoleh bahwa saat korban dirawat, para milisi masih berusaha untuk membawanya pergi, hingga 2 kali tapi para perawat tidak mengijinkan mereka untuk masuk. Informasi lain dari para pengungsi bahwa para milisi BMP mengancam masyarakat harus turun dari kampung ke tempat penanpungan pengungsi. Jika tidak maka mereka akan dihabiskan di kampung. Bahwa semua harus mendukung otonomi. Terlepas dari para pengungsi, beberapa informasi yang diperoleh dari hasil kunjungan ke beberapa rumah masyarakat yang tinggal di kota Liquisa, ternyata meraka mengalami nasib yang malang juga. Karena semua isi rumah mereka dijarah oleh para milisi, baik uang yang ada dalam laci di kamar, uang di kios dan barang-barang usahanya, baju ternak dan barang barang elektronik, habis dibawa para milisi. Rumah dirusak, lemari dirusak semua. Ternyata mereka semua tidak mampu berbuat apa-apa. Para aparat keamanan (militer) dan kepolisian hanya diam seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lantas keamanan yang bagaimana dan perhatian pemerintah yang bagaimana terhadap masyarakat kecil yang sudah menjadi korban? Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa situasi di Liquisa baik-baik saja? Informasi terakhir yang diperoleh dari teman-teman di sana bahwa pengungsi asal desa Darlete dan Lukulai sudah dipulangkan ke tempat asalnya. Dengan alasan bahwa jumlah masyarakat lengkap dan semua mengikuti perintah untuk mengungsi. Kepulangan dilakukan setelah adanya upacara pengambilan sumpah dan minum darah (tanggalnya lupa). Tempat penampungan pengungsi tersebar di beberapa tempat antara lain; di Mauboke, Pukelaran dan sekitarnya, Maumeta, Dato dan sekitarnya. Dili, akhir Mei 1999 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
