Precedence: bulk


SATGAS PDI PERJUANGAN JAKARTA AWASI MARKAS PROVOKATOR

        JAKARTA (SiaR, 1/6/99), Sebanyak 20 ribu satuan tugas (Satgas) PDI
Perjuangan wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) telah
diinstruksikan oleh DPP PDI Perjuangan untuk terus mengawasi markas tempat
berkumpulnya para provokator atau tempat memobilisasi massa perusuh, hingga
usainya pelaksanaan Pemilu dan penghitungan suara, 7 Juni 1999 mendatang. Hal
ini diungkapkan sejumlah sumber SiaR di DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, Senin
(31/5) kemarin.

        Menurut sumber tersebut, pihaknya telah memiliki data-data dimana posisi
atau keberadaan markas tempat berkumpulnya para provokator dan tempat
memobilisasi massa perusuh di wilayah Jabotabek. Berdasarkan sejumlah data dan
pengetahuan yang dimiliki tersebut, sekitar 15 ribu anggota satgas PDI
Perjuangan dinilai berhasil didalam mencegah rencana penyusupan para provokator
pada kampanye PDI Perjuangan putaran kedua, Jumat (28/5) lalu.

        Dalam kampanye putaran kedua yang diperkirakan diikuti lebih satu juta
massa itu, berdasarkan pantauan SiaR, satgas PDI Perjuangan di lima wilayah
Jakarta plus di Bekasi, Bogor, dan Tangerang telah melakukan pengawasan di
markas para provokator dan titik-titik di mana diperkirakan akan menjadi wilayah
konsentrasi memobilisasi massa perusuh, sejak dinihari hingga subuh, dan pagi
hari Jumat itu.

        Di kawasan Tanjungpriok yang mulanya disinyalir menjadi daerah untuk
memobilisasi massa perusuh, karena juga terdapat markas-markas para provokator,
ratusan satgas dan pendekar silat simpatisan PDI Perjuangan dengan dibantu
warga setempat melakukan konsinyering secara bergiliran guna memantau
gerak-gerik markas para provokator. 

        Markas para provokator ini merupakan tempat dimana ketika Sidang Umum
(SU) MPR November 1998 lalu merupakan tempat pengerahan massa pendukung SU MPR,
baik melalui pasukan Pam Swakarsa-nya, maupun aksi demonstrasi-nya. Tempat-
tempat yang gerak-geriknya terus diawasi satgas PDI Perjuangan adalah di
Jalan Warakas Gang 4 Tanjungpriok, dimana terdapat markas Fisabilillah (pasukan
Jihad Pusat) yang dipimpin Syarifin Maloko.

        Syarifin Maloko adalah eks korban Peristiwa Tanjungpriok yang kini
menjabat salah satu fungsionaris DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Jakarta Utara.
Syarifin mula-mula dikenal sebagai aktivis Islam penentang Soeharto dan Orde
Baru-nya, tapi tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan Soeharto, ia menjadi
salah seorang pengikut setia mantan Pangkostrad Prabowo Subianto yang juga mantu
mantan Presiden Soeharto itu, dan Ahmad Sumargono. 

        Pengawasan yang dilakukan para satgas PDI Perjuangan terhadap markas
Syarifin Maloko dan kawan-kawan, karena adanya laporan warga masyarakat
Tanjungpriok tentang disebarluaskannya selebaran gelap bernada suku-agama-ras-
antargolongan (SARA) yang mendiskreditkan Megawati dan PDI Perjuangan oleh para
aktivis PBB.

        Selain itu, pengawasan juga dilakukan terhadap beberapa tempat lainnya
di kawasan yang sama, di mana ketika SU MPR lalu dikenal sebagai tempat
pengerahan massa Pam Swakarsa dan massa demonstran pendukung SU MPR, yaitu di
Jalan Tongkol Tanjungpriok, tepatnya di Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI),
yang dipimpin oleh Abdul Qadir Djaelani. Tokoh Furkon ini juga dikenal dekat
dengan mantan Pangkostrad Prabowo Subianto, dan dalam berbagai kesempatan kepada
pers berkali-kali mengakui kedekatannya dengan Prabowo.

        Markas lainnya yang diawasi satgas PDI Perjuangan adalah sebuah mushola
di kawasan Cilincing, dimana mantan "Komandan" Pam Swakarsa Toto Tasmara
bermukim. 

        Dalam melaksanakan tugasnya, ribuan satgas PDI Perjuangan, dibagi antara
mereka yang berseragam, dan yang tanpa seragan satgas, terkecuali tanda-tanda
khusus, yang hanya diketahui oleh sesama satgas. Pada kampanye putaran kedua
yang diisukan akan dikacaukan para provokator tersebut, satgas tak berseragam
itu berada di tengah-tengah massa peserta kampanye. Mereka, sebagaimana dipantau
SiaR, telah dibriefing terlebih dahulu untuk mengenali pola-pola kerja para
provokator. Misalnya, ciri-ciri provokator ketika menghasut massa dengan
teriakan-teriakan, atau seruan-seruan untuk bertindak anarkis dan destruktif,
dan sebagainya.

        "Jika ada yang mencurigakan, segera ringkus mereka," ucap seorang
komandan satgas PDI Perjuangan dalam briefing-briefing-nya. Para satgas ini pun
membekali para peserta kampanye, kader dan simpatisan PDI Perjuangan untuk
mengidentifikasi ciri-ciri seorang provokator. Menurut mereka, provokator itu
bisa dari kalangan sipil, bisa juga militer tak berseragam.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke