Precedence: bulk


MUI JALANKAN SKENARIO JEGAL MEGA 

        JAKARTA (SiaR, 4/6/99), Upaya jegal langkah Megawati Soekarnoputri
jadi Presiden RI kembali dilakukan. Kali ini Dewan Pimpinan Pusat Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan "fatwa" pada seluruh umat Islam agar 
hanya memilih parpol dalam Pemilu 7 Juni mendatang yang secara sungguh-sungguh
menonjolkan calon anggota legislatif (caleg) yang beragama Islam dan berakhlak
mulia. Pernyataan MUI dan Ormas Islam serta Muhammadiyah tersebut ditandatangani
oleh  Ketua Umum MUI KH Ali Yafie dan Sekretaris Umum Nazri Adlani kemarin di
Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu (2/6).

        Hadir dalam pembacaan pernyataan MUI "Amanat Umat Islam" itu,
antara lain Ketua Umum Al Irsyad Geys Ammar, Ketua Umum PUI KH Cholid 
Fadhullah, Sekretaris DMI Adang Syafaat, serta perwakilan ormas Islam 
lainnya. Amanat itu didukung lebih dari 40 ormas Islam tingkat nasional.

        Selain itu, PP Muhammadiyah juga mengeluarkan seruan serupa yang
ditandatangani Pejabat Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H A Syafi'i Ma'arif
dan Sekretaris HM Muchlas Abror. Ketua PP Muhammadiyah antara lain 
mewajibkan umat Islam memilih salah satu parpol peserta Pemilu yang 
mewakili kepentingan umat Islam dan tidak memilih parpol yang mayoritas 
calegnya tidak membawa aspirasi dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

        Meski indikasi niat menjegal Mega kuat, Ali Yafie yang juga anggota 
pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu pada sejumlah 
wartawan membantah bahwa amanat itu dimaksudkan untuk menjegal PDI
Perjuangan yang banyak calegnya berasal dari non-Muslim. 

        "Amanat umat Islam ini tidak ditujukan kepada seseorang atau
sekelompok partai tertentu. Tapi, saya hanya ingin memberitahukan 
garis-garis terpenting sebagai pegangan bagi seorang Muslim," papar Yafie.

        Sedangkan Sekretaris Umum MUI HA Nazri Adlani menyatakan umat Islam 
memang wajib memilih caleg Islam. Hal ini berdasarkan Surah Ali Imran ayat 
28, yang berbunyi, "Jangan lah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang 
kafir itu sebagai pemimpinnya".

        "Dari ayat itu sudah jelas bahwa umat Islam harus memilih caleg yang 
akan duduk di DPR RI, DPRD I, dan DPRD II nanti dari orang-orang yang seiman 
dan ber-akhlakul karimah," ujar Nazri.

        Seruan serupa juga dikeluarkan oleh Wakil ketua Umum Partai Bulan 
Bintang (PBB) Hartono Mardjono. Dalam kampanye di Tangerang, ia menyatakan umat
Islam saat ini sedang menghadapi bahaya besar berupa upaya sekularisasi
yang dilakukan oleh sejumlah parpol. Bahkan, upaya tersebut juga
dilakukan sejumlah tokoh reformis yang dapat menjual suara umat Islam
kepada pihak lain. "Ini bahaya besar yang harus segera diatasi," tegasnya.

        Namun pimpinan pondok pesantren di kawasan Kebun Jeruk, KH Nur 
Iskandar menolak "fatwa" yang dikeluarkan MUI itu. "Apa gunanya bikin amanat 
dengan kriteria semacam itu? Orang yang beragama kan kan belum tentu 
moralnya baik" tanyanya. 

        Sebuah sumber SiaR Mengungkap bahwa memang ada upaya sistematis dari 
kelompok pro-Habibie untuk secara sistematis menjegal langkah Megawati jadi 
presiden secara demokratis. "Setelah berhasil mengalahkan kubu pro-reformasi 
di tubuh Golkar dan lewat AA Baramuli bikin gerakan Irama Suka Nusantara, 
kini kelompok ini bekerja untuk mendapatkan dukungan dari kelompok Islam," 
ujarnya. 

        Kampanye penggembosan terhadap Mega saat ini tengah dilakukan 
sejumlah kelompok pro-status quo dengan cara memasang spanduk di 
tempat-tempat strategis tentang bahaya ancaman Zionisme dan komunisme gaya 
baru. Dai Sejuta Umat KH Zainuddin MZ, lewat iklan televisi, secara "agak" 
transparan juga menyatakan imbauannnya untuk tak memilih presiden yang 
agamanya tak jelas. 

        Seorang pengamat politik yang ditemui SiaR menyatakan kecurigaannya 
bahwa langkah MUI tak lebih merupakan kepanjangan-tangan kelompok Habibie 
untuk memenangkan suara. "Lihat saja serangan yang ditujukan ke Mega kan 
sistematis. Mulai dari serangan Menpangan dan Holtikultura AM Syaefuddin, 
kesepakatan pimpinan umat Islam untuk menolak presiden wanita, pernyataan 
Habibie tentang bahaya kelompok Komas hingga kesepakatan bersama parpol 
Islam. Saya melihat hal itu bukan sekadar ketakutan umat pada calon 
pemimpinnya, tapi lebih merupakan ketidak-siapan pro-status quo dalam 
menyongsong angin perubahan," ujarnya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke