Precedence: bulk
SEJAK diktatur Suharto dipaksa turun oleh gerakan
reformasi yang dipelopori kaum muda dan mahasiswa,
20 Mei 1998, masalah "pelurusan sejarah" menjadi
semacam "trend" di Indonesia. Untuk ikut
menanggapi "trend" di sementara kalangan di
Jakarta khususnya itu, kita turunkan teks ceramah
Hersri Setiawan, Ketua YSBI, di depan pertemuan
"Aksi Setiakawan" di Amsterdam 19 Desember 1998,
sebagai sumbangan untuk bahan kajian kita bersama.
Selain Hersri pada pertemuan itu juga berbicara
Joop Morrien, A. Munandar, dan Siswaputranto.
Berikut ini teks selengkapnya.
SEKITAR MASALAH "PELURUSAN SEJARAH"
Saudara-Saudara,
Menurut permintaan dan undangan "Aksi Setiakawan" -
terimakasih untuk semuanya itu - saya harus berceramah
tentang masalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Betawi
waktu itu. Berarti, ceramah ini sedikit banyak akan
merupakan ulangan dari ceramah yang diselenggarakan
Stichting Indonesia Sejahtera (SIS) untuk memperingati
hari besar nasional itu di Utrecht yang saya beri judul
"Sumpah Pemuda dari Tinjauan Budaya".Sekarang ini kita
sudah memasuki minggu ke-3 bulan Desember. Jadi perasaan
saya sudah agak jauh dengan tanggal kejadian bersejarah
yang bernama "Hari Sumpah Pemuda" itu. Tapi agar sedikit
banyak memenuhi harapan Saudara-Saudara, bagaimanapun
juga saya akan singgung soal Sumpah Pemuda, walaupun
secara pendek saja. Selanjutnya, saya tertarik pada apa
yang tadi disebut baik oleh Saudara Joop maupun Saudara
Munandar. Bung Munandar menyinggung masalah "pelurusan
sejarah", sedangkan Bung Joop seperti menggelitik saya
dengan menyebut tentang kegiatan yang saya kerjakan
selama di Belanda. Maka saya ingin bicara tentang
mengapa saya menyibuki diri dengan kegiatan pengumpulan
bahan sejarah, termasuk dan khususnya bahan-bahan
sejarah lisan, dengan jalan mewawancarai banyak teman.
Kegiatan yang sebenarnya sudah kami kerjakan, saya dan
istri saya Jitske Mulder, sejak sekembali saya dari
Pulau Buru.
Saudara-Saudara,
Selagi masih di penjara Salemba sampai selama di
Buru, saya banyak mendengar kisah sejarah dari kawan-
kawan angkatan terdahulu. Bagaimana pengalaman mereka di
Digul Atas, bagaimana penderitaan di tahanan Kenpeitai,
dan sebagainya. Semuanya kisah-kisah lisan, yang kalau
tidak dicatat dan direkam akan segera hilang ditelan
waktu. Lebih khusus lagi tentang sejarah pergerakan kaum
kiri pada umumnya dan kaum komunis khususnya di
Indonesia. Karena, seperti kita semua tahu, di Indonesia
sepanjang masa lebih dari 30 tahun terakhir, telah
terjadi penggelapan yang luar biasa terhadap sejarah
nasional kita. Praktek-praktek KKN sebenarnya juga
terjadi tak kalah intensif di bidang penyelenggaraan
sejarah Indonesia sepanjang rezim Orde Baru. Sejarah
kaum kiri, terlebih lagi kaum komunis, telah dihapus
dari lembaran catatan perjalanan bangsa.Untuk membantu
usaha mengembalikan lembaran-lembaran sejarah yang telah
dibuang dan dihapus itu lah kegiatan demikian saya
lakukan. Sukurlah bahwa sekarang, sesudah sekian tahun
saya bersibuk dan berhasil mengumpulkan tak kurang dari
dua ratus kaset rekaman wawancara-wawancara dengan
narasumber yang tersebar di Eropa, Tiongkok dan Vietnam,
selain bahan-bahan tertulis, masyarakat dan kaum muda di
Indonesia khususnya telah tergerak untuk melakukan apa
yang disebut "pelurusan sejarah". Dunia ilmu, dalam
hubungan pembicaraan ini ilmu sejarah, ialah dunia yang
mencintai kebenaran. Kaum ilmuwan, dalam konteks ini
ilmuwan sejarah atau sejarawan, ialah kaum yang setia
kepada kejujuran dan kebenaran. Tapi jujur dan benar
saja belum cukup kalau tidak disertai dengan keberanian.
Keberanian untuk membentangkan kembali kebenaran dan
kejujuran yang dengan sengaja telah diselubungi dan
bahkan dihitamkan sama sekali itu. Karena itu pada
kesempatan ini saya ingin mengutamakan berbicara tentang
hal hal sekitar sejarah. Tapi pertama-tama baiklah juga
saya kembali pada Sumpah Pemuda.
Saudara-Saudara,
Berbicara tentang Sumpah Pemuda, menurut saya, sebaiknya
janganlah kita berbicara tentang sisi formal atau bentuk
lahiriah peristiwa Sumpah Pemuda itu belaka. Juga
demikian halnya jika kita berbicara tentang peristiwa-
peristiwa sejarah yang lain apa pun. Kalau kita
memperingati sesuatu, orang Jawa memang - bagaimana ya?
Kata "memperingati" kok diterjemahkan dengan
"menyelamati" atau "selamatan". Dan makin "nggak
ketulungan" lagi karena kombinasi "selamatan" itu
biasanya, selain diisi dengan "ndremimil" membaca doa,
juga disertai tabur kembang, membakar kemenyan dan
nyekar! Jika kita memperingati sesuatu, tapi dengan
semangat seperti itu, akibatnya hakikat kejadian sejarah
yang hendak diperingati justru menjadi beku. Juga ikut
menjadi beku daya ingat kita dan, lebih parah lagi,
sadar atau tidak sadar sesungguhnya kita justru
membekukan sesuatu yang hendak kita peringati itu. Sadar
atau tidak sadar yang kita perbuat bahkan sebaliknya:
membunuh Api hal ihwal yang hendak kita peringati.
Membunuh sejarah! Kata "selamatan" kalau dikembalikan
pada akar katanya, "selamat" yaitu "salam", artinya
"damai". Kalau melihat itu, agaknya konsep ini merupakan
salah satu sisa dari jaman animisme, jaman pemujaan
kepada ruh (anima) yang dipercaya ada pada segala
sesuatu. Arwah, bentuk jamak dari ruh, dipuja agar
supaya Si Arwah damai sehingga tidak mengganggu yang
masih hidup. Jadi ada suatu kompromi antara dunia ruh
dan dunia jasad, untuk hidup berdampingan secara damai.
Yang hidup membiarkan "yang mati" (saya tulis di bawah
tanda kutip, karena "mati" ialah "hidup yang lain"
saja), dan berusaha mendamaikannya dengan sesaji yang
lazim disebut "nyekar" tersebut, atas dasar prinsip yang
dalam istilah Latin disebut "do ut des" - memberi untuk
menerima. Memberi sesuatu, yaitu makan yang berupa
sesaji itu, kepada arwah; sebaliknya untuk menerima
sesuatu, yaitu berkah keselamatan, daripadanya.
Jadi demikianlah
Saudara-Saudara,
Sebaiknya kita, dalam memperingati sesuatu kejadian
sejarah apa saja, tidak terjebak di dalam kebiasaan yang
ritualistik atau sekedar bersemangat keupacaraan seperti
itu. Sebab kalau demikian semangatnya, sebenarnya kita
bahkan ikut menyokong pembangunan mitos-mitos. Padahal
tugas sejarah justru untuk membabad mitos.
Mari kita kembali pada Sumpah Pemuda.Saya tidak perlu
menyebut satu demi satu butir-butir isi Sumpah yang tiga
itu. Apa dan bagaimana urutan butir-butir disebut, dan
bagaimana setepatnya rumusan kata-kata disusun, serta
siapa yang membacakannya dalam "sidang kerapatan" para
pemuda waktu itu, silakan Saudara membacanya pada teks
ceramah saya di Utrecht. Yang perlu ditekankan di sini
ialah apa sebenarnya "kata kunci" Sumpah Pemuda. Menurut
hemat saya kata kunci Sumpah Pemuda cukup disimpulkan
dalam satu baris kalimat, yaitu: "bineka tunggal ika".
Kita semua tahu, apa itu arti dan maknanya. Lalu, apakah
"amanat" Sumpah yang hendak disampaikan? Tentang ini pun
bisa dirumuskan pendek saja, yaitu tak lain ialah: usaha
untuk persatuan bangsa, usaha untuk pembinaan bangsa,
dan usaha untuk menemukan jatidiri bangsa. Kalau kita
melihat esensi ini, tentunya kalau Saudara-Saudara
sependapat dengan kesimpulan saya tersebut, maka saya
pikir amanat Sumpah Pemuda masih tetap relevan.
Karenanya pula meluangkan waktu untuk memperingatinya
pun tetap "sunnah", walaupun bukanlah "wajib" hukumnya.
Apalagi kalau kita menghubungkan dengan pergolakan
situasi dan situasi pergulatan di Indonesia akhir-akhir
ini, khususnya sejak diktatur $uharto lengser dari
singgasana atau kursi tahta - tapi tidak atau belum dari
keprabon atau kerajaan!
Saya teringat pada pesan Bung Karno yang mengatakan,
kalau kita memperingati sesuatu hendaklah jangan sekedar
menangkap abunya, tapi tangkaplah apinya. Api Kejadian
itu! Api itu lah yang harus kita tangkap dan nyalakan
kembali. Bahkan kobar-kobarkan lah terus nyala itu.
Demikian Bung Karno. Dalam hal "api" ini saya juga
teringat pada kata-kata nasihat Mangkunegara IV. Ia
memang seorang raja. Tapi kebijaksanaan kata-katanya
tidak akan menjadi pudar karenanya. "Intan tetap intan
walau keluar dari mulut anjing sekalipun", begitu
pepatah mengingatkan kita. Ada sebuah adagium terkenal,
warisan Mangkunegara IV, begini katanya: "apek geni
adedamar, ngangsu apikulan warih". Mengambil api dengan
membawa nyala api, mengambil air dengan berpikulan air.
Apa maksud adagium itu? Yaitu agar dalam mempelajari
peristiwa-peristiwa sejarah, atau menoleh pada
pengalaman-pengalaman masa lalu, jangan sampai kita lupa
pada apa yang hendak kita cari. Lebih buruk lagi, jangan
kita bikin padam api itu, atau kita bikin mati sumber
air itu. Tapi sebaliknya, kita harus menjaga nyala api
atau sumber air itu agar tetap terus menyala atau
memancar, dan kalau bisa bahkan lebih memperbesar lagi
kobaran nyala atau pancaran sumbernya. Apakah itu
sejarah? Kata orang-orang pandai "sejarah" berasal dari
kata Arab, "sajaratun", yang artinya pohon. Pohon
silsilah, maksudnya. Bayangkanlah: pohon itu tumbuh di
atas tanah, mempunyai batang, cabang, dahan dan ranting,
daun-daun, bunga dan buah. Kalau dibalik, sehingga
cabang dahan berikut ranting daun-daun dan sebagainya
ada di bawah, maka pohon kayu itu akan tampak menjadi
pohon silsilah. Silsilah pribadi seseorang atau
sekelompok orang atau bangsa, atau asal usul sesuatu
kejadian atau berbagai rupa kejadian-kejadian. Karena
itu saya berpendapat, sejak dulu sampai sekarang,
sejarah bukan masalah batang saja. Bukan masalah orang
gede saja. Sebab pohon dinamai pohon justru karena ada
dahan dan rantingnya, ada daun-daun dan bunganya, dan
seterusnya dan seterusnya. Dan jangan lupa: juga ada
akar dan tanahnya. Jadi, kalau kita mau mengusut sesuatu
kejadian sejarah, atau sesuatu batang "sajaratun"
tersebut, jangan hanya kita berhenti mengamati batang
dan cabang-cabangnya yang besar. Tapi harus juga kita
perhatikan ranting, daun, akar, tanah, dan seterusnya.
Bahkan daun-daun yang sudah melayang bertebaran di tanah
pun tidak boleh diabaikan. Ingatlah pada kata-kata
Rabindranath Tagore, yang pernah dikutip oleh Njono
dalam pidato terakhirnya ketika menerima vonis hukuman
mati dari Mahmilub-nya Orde Baru $uharto, bahwa daun
daun kuning yang gugur bertaburan akan menjadi pupuk
kesuburan tanah air ...
Setiap unsur pohon, juga "pohon sejarah",
sesungguhnya merupakan sesuatu hasil kesinambungan
proses yang panjang dan rumit. Karena itu mempelajari
sejarah berarti mempelajari semua unsur-unsur "pohon"
itu. Satu demi satu harus kita runut sampai ke akar-akar
dan bahkan tanahnya, yang telah menjadi tempat
bertumbuhnya pohon yang bersangkutan. Sebab jika tidak
demikian, kita tidak akan pernah bisa memahami sesuatu
kejadian yang rumit itu. Saya ambil contoh dari
pengalaman pribadi ketika saya masih duduk di bangku
sekolah menengah.
Ketika itu saya mempunyai guru sejarah, yang
barangkali seperti kebanyakan guru-guru sejarah lainnya.
Begitu masuk klas, murid-murid diperintahnya
mengeluarkan buku catatan. Pak Guru menulis bahan
pelajaran di papan tulis, atau mendiktekannya kalimat
demi kalimat. Sesudah selesai, Pak Guru hanya bertanya,
apakah ada di antara kami yang mau bertanya tentang
bahan pelajaran yang baru saja diberikannya itu. Untuk
menghadapi ulangan atau ujian kelak, kami disuruhnya
menghafal bab ini atau itu, atau kalau dari buku
pelajaran, dari halaman sekian sampai sekian. Suatu
ketika, pada suatu uji coba kerajinan murid seklas, saya
ditanya tentang tahun lahirnya Sura Agul-Agul, Panglima
Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam penyerbuan ke Betawi
(1628 dan 1629). Pak Guru marah karena saya tidak bisa
menjawab pertanyaannya itu. Saya tidak menghafalnya,
karena saya menganggap tahun kelahiran tokoh, walau ia
tokoh besar sekalipun, tidak terlalu penting dibanding
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan melibat diri
dan pribadi si tokoh itu. Seorang guru sejarah yang
pandai, bukan mengajarkan pada murid (tegasnya: suruh
menghafal) nama-nama tokoh dan urutan tahun dan bahkan
hari bulan kejadian demi kejadian. Tapi dia akan
menguraikan, bukan mengajarkan, kejadian demi kejadian
yang satu sama lain rangkai berangkai dalam jalinan
sebab dan musabab, sebab dan akibat. Kalau kejadian
kejadian itu diurai dengan jelas, maka kapan terjadinya
setiap peristiwa pun akan bisa melekat di ingatan -
kalau tidak secara tepat, tapi setidaknya suatu ancar-
ancar saat atau tahun.
Tapi, kemudian saya merasa mendapat motivasi dan
sekaligus semacam inspirasi dari guru sejarah yang lain,
sehingga saya selanjutnya menjadi mencintai mata
pelajaran ini. Nama guru ini Fransiskus Xaverius
Maryono, seorang katolik tentu saja. Pendek kecil tapi
singset dan cekatan, berkumis tipis seperti satria
Lesanpura Raden Sentiyaki, adik ipar Batara Kresna.
Tamatan B2 Sejarah ia, mengaku sebagai pengagum Arnold
Toynbee dan Jan Romein. Sejak masuk pertama kali ke klas
saya terpesona oleh penampilannya sebagai guru sejarah
yang belum pernah sebelumnya saya jumpai. Ia tidak mulai
dengan mendikte atau mencatat apa yang tertulis di papan
tulis, sebaliknya bahkan dilarangnya kami mengeluarkan
pensil dan sekrip. "Perhatikan papan tulis, dan dengar
baik-baik apa yang akan saya ceritakan!", katanya. Lebar
bidang papan tulis itu dibelahnya menjadi dua, seperti
Ki Dalang wayang kulit membelah dunia pekeliran: kiri
dan kanan. Di puncak belahan, di tengah-tengah,
ditulisnya besar besar: "Renaissance". Di bawahnya
ditulis dengan huruf huruf lebih kecil, di antara tanda
kurung: "renaitre" (Per.); "re-nasci" (Lat.) = lahir
kembali.
Jadi, sementara Pak Guru belum lagi bicara, saya
sudah mendapat tiga butir soal. Oh, Bapak ini mau
menerangkan tentang "renaissance", yang berasal dari
kata Perancis itu dan kata Latin itu, yang artinya
"lahir kembali". Ah, apa atau siapa itu yang lahir
kembali? Kami semua diam sambil mata tetap terpaku ke
papan tulis. Barangkali sama seperti saya juga, kami
semua penasaran ingin tahu. Pak Maryono seperti tak
peduli. Terus menulis kata kata pendek di kiri dan di
kanan berpasang-pasang, berturut-turut ke bawah seperti
butir demi butir:
Zaman Kegelapan >< Zaman Aufklaerung. Jenseitig ><
Diesseitig. Golongan Pendeta dan Bangsawan >< Golongan
Ke-3, dst. dst.
Hebat Pak Guru satu ini! Begitu saya pikir. Bukan
karena bombardemen kata-kata asing itu yang membuatku
terpukau, tapi karena kata demi kata merupakan tanda
tanya: apa gerangan yang tersembunyi di balik semuanya
itu? Ini beda dengan deretan angka tahun dan hari bulan
serta nama-nama para kaisar atau panglima perang! Semua
yang tersebut pertama itu ibarat hamparan masalah,
sedangkan semua yang tersebut kemudian tak lebih dari
timbunan sampah. Yang pertama, walaupun sulit, tapi
menantang; sedangkan yang kedua, walaupun terlalu
sederhana, tapi tidak memancarkan daya tarik.
Saudara-Saudara,
Sejarah sebenarnya warisan kebudayaan. Atau bisa juga
kita balik: kebudayaan ialah warisan sejarah -
historisch bestimmt, kata orang yang suka kata-kata
asing. Tapi di samping merupakan warisan kebudayaan,
sejarah sekaligus juga merupakan reservoar kebudayaan.
Seperti tadi saya sudah kemukakan, sejarah bukan sekedar
terang dan panas sebagai hasil kobaran nyala dari api
unggun sejarah masa lalu. Tapi sejarah juga memberi
terang dan panas pada kobaran nyala selanjutnya. Kalau
tidak ada proses demikian pastilah tidak akan kita kenal
sepatah adagium wasiat dari datuk teori dialektika
Herakleitos: panta rhei - segala hal-ihwal terus
mengalir. Sejarah selain warisan juga petandoan atau
reservoar. Dan dari petandoan yang satu ini kita ambil
api atau airnya, dengan membawa nyala atau pikulan air,
untuk menciptakan petandoan-petandoan baru, sementara
itu petandoannya yang lama tidak menjadi kering atau
padam.
Tentang Sumber Sejarah
Pada awal uraian sudah saya sebut juga, bahwa sejarah
merupakan cabang ilmu pengetahuan yang delikat: pelik
dan rumit, rentan dan peka, sehingga memerlukan
pengurusan yang wigati (untuk yang lebih mengenal bahasa
barat: "careful" atau "zorgvuldig"). Pada sumber sejarah
inilah sebenarnya ke-delikat-an sejarah itu terletak.
Kita tahu, bahwa sejarah dituturkan atau dituangkan
dalam wujud susunan kata-kata atau dengan alat bahasa.
Jadi bahasa sebenarnya suatu fiksi tentang hal-ihwal dan
kejadian di dalam satu ruang dan waktu tertentu. Fiksi
ini selanjutnya perlu diartikulasikan, yang untuk itu
memerlukan bahasa sebagai sarana. Bahasa dalam arti yang
seluas-luasnya, mulai dari gerak gerik, kata-kata yang
dilisankan atau dituliskan, sampai pada berbagai macam
bentuk bahasa kode atau bahasa sandi. Artikulasi mana
yang dalam satu ruang dan waktu tertentu, atau di mana
dan bilamana pun berfungsi dominan, selalu artikulasi
dari kaum yang berkuasa. Maka kita juga mengenal suatu
rumusan yang mengatakan, bahwa "kebudayaan sesuatu
bangsa pada suatu kurun waktu, selalu kebudayaan dari
klas yang berkuasa". Padahal setiap kekuasan, oleh siapa
pun dan kapan pun, selalu membutuhkan legitimasi.
Sejarah, atau tegasnya penulisan sejarah, merupakan
salah satu cara untuk menopang legitimasi tersebut.
Sejarah bangsa mana saja, apakah bangsa kulit berwarna
ataukah bangsa kulit putih, dan dari kurun jaman kapan
saja, apakah dari jaman kuno ataukah jaman modern,
memberikan sangat banyak contoh tentang hal itu. Tapi
baiklah kita ambil dua contoh dari sejarah bangsa
Indonesia kita sendiri.
Satu contoh dari "jaman kuno", yaitu dari jaman
Kediri misalnya, kalau pertengahan abad ke-12 sudah
termasuk kuno. Kita ketahui, bahwa syair Jawa Kuno
Bharatayuddha disusun oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh
untuk memberi legitimasi kekuasaan raja Jayabhaya yang
berhasil naik singgasana raja-di-raja setelah membasmi
saudaranya sendiri: Raja Jayasabha. Dari jaman mutakhir
ada satu contoh gemilang yang tak perlu saya bicarakan
dengan berbanyak kata. Jika ada kesempatan, datang
sajalah Saudara berkunjung, dan perhatikanlah baik-baik
itu prasasti "kesaktian pancasila" di Lubang Buaya!
Itulah sebabnya, maka dalam sumber sejarah - apalagi
sejarah jaman kuno, bahkan sejarah modern pun - selalu
ada masalah yang lazim disebut sebagai "dichtung" dan
"wahrheid". Yaitu masalah tentang adanya "dichtung" yang
menyelubungi "wahrheid". Dichtung-dichtung alias tabir-
tabir inilah yang harus kita singkap dan siangi, kalau
kita hendak menyusun sejarah. Atau, kalau kita meminjam
istilah yang sekarang lagi "ngetrend" di Indonesia:
"meluruskan sejarah". Masalah "pelurusan sejarah"
sebenarnya tidak lain ialah masalah menyiangi "dichtung"
dari "wahrheid". Tabir-tabir "dichtung" itu, terutama
sejak sekitar 32 tahun terakhir dalam masa rezim
$uharto, telah terus-menerus dan berlapis-lapis
diselubungkan dengan sengaja untuk sama sekali
menggelapi dan menggelapkan "wahrheid". Dalam rangka
itulah masalah penataan kembali sejarah menjadi sangat
penting dan mendesak.Saudara-Saudara,
Kita jumpai misalnya, bahwa dalam bahan-bahan sejarah
Indonesia yang tertulis, terutama sejak rezim $uharto
naik panggung sejarah, juga termasuk dalam diorama di
Monas Jakarta, tidak ada di sana tercantum PKI selain
sebagai partai pemberontak, pembunuh, dan segala apa
yang batil dan busuk. Seolah-olah di atas bumi
Indonesia, yang selalu dibangga-banggakan sebagai
"Pancasilais" itu, tidak ada PKI pernah lahir; dan tidak
ada peranan apa pun dimainkan PKI di dalam melahirkan
sebuah negeri merdeka yang bernama Republik Indonesia.
Ini jelas jemelas bukan sekedar pembelokan tapi
pembohongan yang tidak ada taranya. Jadi jelaslah bahwa
juga di dalam sejarah modern, sumber sejarah yang
tertulis itu pun perlu dikaji kembali. Mengkaji kembali
sejarah, sekali lagi, tak lain artinya ialah: menyiangi
"dichtung" dari "wahrheid". Di samping sumber tertulis,
sejarah juga mempunyai sumber-sumber yang tidak
tertulis. Sumber sejarah yang tak tertulis di dalam
sejarah jaman lampau, misalnya, berupa berbagai macam
dongeng tutur atau cerita lisan, termasuk apa yang oleh
orang Minang disebut "kaba".
Marilah saya ajak Saudara-Saudara mengikuti ingatan
saya sekilas kembali ke pulau pengasingan tapol: Buru.
Selama di pulau pengasingan itu kita tahu, Pramudya
Ananta Toer telah menulis sekian banyak karya. Salah
satu di antaranya sebuah roman yang berjudul "Ken Arok".
Bagi saya, setelah membaca naskah itu, yang baru dan
menarik di dalam karya Bung Pram ini ialah penafsirannya
terhadap "kutuk tujuh turunan keris Empu Gandring". Pada
roman ini Empu Gandring ialah satu sosok personifikasi
"gudang senjata". Barangsiapa berhasil menguasai Empu
Gandring, termasuk membuatnya mati tak berdaya, dia lah
nanti yang akan berhasil menguasai medan pertarungan dan
merebut kekuasaan (dalam hal ini di Singasari awal abad
ke-13). Pramudya dengan demikian telah "membikin
perhitungan" yang luar biasa terhadap "kutuk bertuah"
dari satu sosok pribadi Gandring yang sakti, dan diurai
serta dibangunnya menjadi satu konsep politik dan
logistik.
Tapi di Buru selain ada Pramudya, juga ada Badawi -
kebetulan berada di satu unit dengan saya, yaitu di Unit
XV Indrapura. Bung Badawi selain ketua bagian organisasi
Organisasi Ketoprak "Krida Mardi", juga anggota pengurus
Bakoksi (Badan Koordinasi Organisasi-Organisasi Ketoprak
Seluruh Indonesia).
Menanggapi "Ken Arok" versi Pramudya itu, Bung Badawi
melontar kritik yang cenderung memrotes keras: "Kalau
cerita Ken Arok jadi begini, bagaimana saya bisa
memainkannya di panggung ketoprak? Tanpa keris Empu
Gandring dan kutuk tujuh turunan, mana orang mau datang
menonton?" Protes Bung Badawi pada Pram melalui saya.
Barangkali selain merasa dekat dengan saya, sebagai sama-
sama orang Jogya, juga karena saya pernah duduk sebagai
Penasihat Bakoksi. "Bung tidak usah gusar," kata saya.
"Bung Pram tidak menulis skenario untuk ketoprak, tapi
dia menulis novel sejarah. Naskah ini merupakan
penafsiran Bung Pram tentang tutur babad itu dalam
bentuk novel. Jadi untuk lakon di atas panggung
ketoprak, silakan Bung Badawi tetap atas dasar pembakuan
yang selama ini berlaku. Kecuali kalau penonton sudah
tidak mau lagi, dan para seniman ketoprak juga sudah
ingin mencari pembaruan".
Bung Badawi yang sangat mencintai dunianya, dunia
panggung ketoprak, bagaimanapun juga sukar menerima
penjelasan saya itu. Urat leher malah ditariknya lebih
tegang. "Sastrawan juga harus turut bertanggung jawab
melestarikan pakem, bukan malah merusak semau-mau
sendiri!" Katanya.Tapi saya juga merasa mendapat hikmah
dari sikap keras Bung Badawi itu. Hikmah itu berupa
kesimpulan saya, bahwa ilmu pengetahuan yang bernama
ilmu sejarah, sesungguhnya merupakan satu-satunya mimbar
ilmu pengetahuan yang paling demokratis. Siapa saja
berhak berbicara tentang sejarah. Dan masing-masing
dengan hak bicara yang sama penuhnya pula! Siapa saja.
Dari profesor yang berkepala butak sampai tukang becak
yang butahuruf sekalipun. Dan belum tentu apa yang
dikatakan sang profesor tentang sesuatu kejadian sejarah
tertentu selalu benar, sedangkan yang dikatakan si
tukang becak tentang kejadian yang sama selalu salah.
Setiap peristiwa sejarah ialah "cerita" tentang sesuatu
kejadian. Dan setiap cerita ini didukung oleh para
pemain yang bermacam-macam dan berjumlah tak terbilang.
Setiap orang yang terkait - atau ikut bermain - di dalam
sesuatu kejadian sejarah, masing-masing tentu mempunyai
motivasinya sendiri-sendiri, yang satu sama lain berbeda-
beda. Apalagi motivasi banyak orang. Bahkan motivasi
seseorang individu dalam melakukan sesuatu gerak
perbuatan pun tidak pernah mengandung arti tunggal,
sehingga menutup kemungkinan adanya kepelbagaian
interpretasi. Kalau saya, misalnya, di tengah berbicara
sekarang ini minum seteguk, perbuatan ini bisa karena
berbagai kemungkinan alasan: haus, tenggorokan serak,
gugup dan sebagainya. Ini baru tentang perbuatan yang
sederhana belaka, tidak ada hubungan dengan orang-orang
lain, dan tidak pula didasari oleh alasan apa pun selain
yang bersifat manusiawi yang individual belaka.
Karena itu, kalau tidak salah, bukankah seperti
pernah dikatakan Mao Zedong, bahwa mengenal seorang
manusia saja pun tidak akan pernah bisa lengkap
selengkap-lengkapnya? Hari ini kita mengenal satu segi,
besok pun hanya bertambah satu segi saja lagi. Sementara
itu satu segi yang kita kenal kemarin itu pun, hari ini
sudah tidak lagi sama seperti ketika kita mengenalnya
kemarin! Itu baru berurusan dengan seseorang. Apalagi
berurusan dengan yang disebut sejarah; dengan serba
kejadian yang di dalamnya terkait banyak orang tak
terbilang dan dengan berbagai alasan yang banyak kali
tak terucapkan!
Saya ingin mengajukan sebuah contoh sehubungan dengan
uraian tersebut. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah
membaca Pranacitra Rara Mendut, roman penerbitan Balai
Pustaka tahun 50-an awal. Sebuah cerita babad Jawa yang
sangat terkenal, baik sebagai dongeng tutur, sebagai
lakon ketoprak bahkan film, maupun sebagai karangan
tertulis dalam bentuk tembang atau syair maupun gancaran
atau prosa. Satu pasase saja dari cerita ini ingin saya
kemukakan.
Syahdan. Dikisahkanlah pada saat-saat menjelang
sepasang kekasih Pranacitra Rara Mendut melarikan diri
dari kamar tutupan di Ketumenggungan Wiraguna. Karta,
ibukota Mataram, tiba-tiba tenggelam dalam keadaan gelap
gulita 40 hari 40 malam. (Perhatikan juga bilangan empat
puluh, yang juga disebut dalam deskripsi tentang Jaka
Tingkir ketika mengarungi Kedung Srengenge. Ia naik
gethek yang didukung 40 ekor buaya!). Pada saat Karta
gelap gulita seperti itu lah gerombolan penggarong dan
kecu mengamuk. Bukan hanya merusak mengobrak-abrik
Karta, tapi bahkan juga menyerbu istana raja.
Saya, sebagai guru sejarah di berbagai sekolah
menengah di Yogya ketika itu, bertanya pada diri sendiri
dan berusaha mencari tahu. Apa betul begitu? Ibukota
Mataram diserbu garong selama 40 hari 40 malam!
Katakanlah itu benar. Tapi apa hubungannya dengan
kejadian sepasang kekasih Pranacitra-Rara Mendut
melarikan diri?
Saudara-Saudara,
Kisah ini dari sebuah babad. Dan babad ialah sejarah
yang diselubungi kabut "dichtung" yang terkadang teramat
sangat tebal. Jadi kabut itu harus disinari, jika kita
ingin menyingkap kejadian yang sebenarnya - atau
setidaknya mendekati yang sebenarnya. Buyung Saleh
Puradisastra, bertahun tahun kemudian sesudah pengalaman
saya tersebut, pernah mendongeng di Unit Transito Jiku
Kecil Pulau Buru. Itu terjadi pada suatu petang di
minggu ke-2 bukan Agustus 1971. Ia mengatakan bahwa
Pranacitra dan Rara Mendut adalah pribadi-pribadi tokoh
sejarah yang benar-benar pernah ada. Ini berbeda dengan
kesimpulan saya jauh bertahun-tahun sebelumnya. Menurut
hemat saya Pranacitra jelas bukan sebuah nama. Tapi
sebutan personifikasi untuk suatu keadaan atau kejadian
belaka. "Prana" artinya "hati", dan "citra" ialah
"gambar" atau "lukisan". Lukisan Hati - Hati Masyarakat
yang melahirkan kisah itu. Rara Mendut lebih jelas lagi,
bukan sebuah nama. "Lara" atau "rara" ialah "dara" atau
"gadis", yaitu awalan penghormatan (honorefiks prefiks)
untuk perempuan muda; dan "mendut" ialah "sintal" atau
"mollig". Rara Mendut tak lain ialah Si Gadis Sintal.
Sama halnya seperti Lara Junggrang, yang sekarang
dikenal sebagai nama seluruh kompleks candi Prambanan,
yaitu sebutan untuk arca Durga di bilik utara candi
utama. Menurut dugaan sejarah candi ini dibangun dalam
jaman Raja Daksa, awal abad ke-10, yang di atas panggung
ketoprak dikenal sebagai Prabu Baka. "Junggrang" ialah
tinggi semampai atau langsing. Lara Junggrang ialah Si
Gadis Langsing.Kembali pada usaha mencari tahu
"wahrheid" cerita Pranacitra Rara Mendut. Untuk itu saya
lalu membaca "Indonesian Society in Transition"
W.F.Wertheim, "Indonesian Trade and Society" J.C. van
Leur, dan risalah tipis tapi mantap berbobot karangan
H.J. van Mook, "Koeta Gede". Saya seperti digugah oleh
bacaan-bacaan itu. Jadi, pikir saya, ketika itu telah
lahir apa yang disebut "golongan ke-3" di Mataram, atau
lebih tegas dan khusus lagi di Kota Gede? Itukah
"wahrheid" Lara Mendut, yang diceritakan sebagai mau
diperistri kesekian oleh Panglima Mataram Tumenggung
Wiraguna yang tua renta, asal diberi modal dan
dibolehkan berjualan rokok klobot di tengah pasar? Modal
dan ijin memang diberi oleh Wiraguna, asal Rara Mendut
setiap hari mau membayar pajak sebanyak sekian real.
Apa yang terjadi? Dagangan Si Dara Sintal, pingitan
Adipati Tuban di pesisir utara Jawa yang jatuh di tangan
Wiraguna sebagai pampasan perang itu, laris luar biasa.
Bahkan bukan hanya pemuda-pemuda Mataram saja yang
berebut membeli rokok klobot Lara Mendut! Juga "seorang
pemuda" berasal Pekalongan, ikut datang sebagai pembeli.
Tidak saja rokok klobot yang baru digulung Nimas Lara,
bahkan puntung isapannya pun laku keras. Pemuda berasal
Pekalongan itu bernama Pranacitra, anak janda juragan
batik.
Tumenggung Wiraguna lalu menuntut pembayaran pajak
yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Tapi Lara Mendut
selalu bisa melunasinya. Bagi saya lalu menjadi jelas.
Sungguh pandai dan sangat tepat cerita rakyat membuat
amsal pasemon. Mengapa justru pribadi Rara Mendut, sosok
perempuan muda yang sintal cantik, dipakai sebagai
lambang golongan baru yang sedang tumbuh. Bukankah
perempuan ialah Ibu kehidupan baru? Bukankah cantik
simbol dambaan setiap orang, dan sintal ialah pasemon
tentang kesuburan? Adapun yang angkuh di depannya adalah
Panglima Perang Tumenggung Wiraguna. Justru sosok
seorang laki-laki tua renta, namun dengan kekuasaan dan
keris lambang kelaki-lakian di genggaman tangannya yang
siap membunuh. Hubungkan-lah cerita tabir pasemon itu
dengan keterangan sejarah Jawa tentang dua kali
kegagalan Sultan Agung Hanyakrakusuma menyerbu VOC di
Batavia (1628 dan 1629). Bukan karena lihainya serdadu
VOC berperang dan gemuruhnya dentuman "Kyahi Jagur"
lasykar Wiraguna mundur bertahan ke selatan Betawi dan
jauh ke timur di Rengasdengklok. Penyebab sebenarnya
ialah, keterangan sejarah mengatakan, karena "gudang-
gudang perbekalan lasykar Mataram di sepanjang pantai
utara, mulai dari Kendal sampai ke Kerawang, habis
tumpas dibakar para penyamun ..."
Lagi-lagi dongeng tentang penyamun dan garong!
Sesungguhnya imperium Jawa di bawah Sultan Agung
Mataram, adalah sebuah negeri yang penuh huru hara dan
pemberontakan meluas di mana-mana. Sultan Agung menjadi
agung atau diagungkan oleh mitos, barangkali karena satu
sebab saja: ambisinya untuk mengalahkan VOC. Tapi ia
sesungguhnya bukanlah raja "gung binathara", raja agung
bertabiat dewa, melainkan raja penindas yang rakus
(terhadap "Rara Mendut") dan yang tak segan menumpas
musuhnya dengan lalim (siasat "perang kuman" terhadap
Surabaya, 1625, dengan membendung Sungai Brantas dan
menimbuni arusnya dengan bangkai).
Saudara-Saudara,
Itulah sebab dan alasannya, mengapa dalam beberapa waktu
yang belum lama berlalu, kami mendirikan sebuah yayasan
yang kami namai Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia.
Satu di antara tujuannya yang penting ialah hendak ikut
menyumbang usaha pembenahan atau penyusunan kembali
sejarah. Mudah-mudahan gerak kegiatan yayasan itu
mendapat sambutan yang semestinya dari Saudara-Saudara
sekalian, sehingga tidak ibarat pepatah mengatakan:
bagai bertepuk sebelah tangan. Karena pekerjaan
penyusunan, atau penyusunan kembali, sejarah Indonesia,
sesungguhnya merupakan pekerjaan kita bersama.
Istilah "pelurusan sejarah" yang tampaknya sedang
ngetrend di Jakarta akhir-akhir ini, sesungguhnya
istilah salah-kaprah yang gampang diucapkan, tapi
sungguh sangat sukar dilaksanakan - kalaupun bukannya
malah mustahil. Salah kaprah. Salah tapi dilazimkan.
Sebab, sesungguh-nya sejarah akan semakin mendekati
kebenaran justru apabila atau selama dia "tidak lurus".
Sebaliknya, malahan rezim Orde Baru $uharto dan
penerusnya, serta semua rezim militer dan totaliter
itulah yang paling berkepentingan pada "pelurusan
sejarah". Lurus ndlujur, sesuai dengan komando yang
digariskan oleh rezim.
Saudara-Saudara,
Sejarah itu perkara tentang hidup dan perkara yang
hidup. Karena itu benang merah di dalam sejarah bukanlah
kata "mustahil" yang tunggal, tapi kata "mungkin" yang
berbagai- bagai. Di dalam sejarah, tepat sama seperti di
dalam hidup, yang ada ialah serba kemungkinan yang
seribu satu, dan bukannya kemustahilan yang tunggal
belaka. Jalan sejarah, oleh karena itu, memang tidak
lurus seperti rel kereta api, atau seperti gerak-gerik
barisan militer. Jalan sejarah bahkan bukan hanya
sekedar zigzag, berliku-liku secara evolusioner, tapi
terkadang berselang-seling secara revolusioner bagaikan
arus puting beliung yang tak terduga. Justru oleh adanya
seribu satu kemungkinan itulah, maka roda sejarah akan
bisa berbelok-belok seperti tak teramalkan. Di depan
sudah saya kemukakan, pendukung sejarah ialah sejumlah
tak terbilang manusia. Masing-masing dengan aspeknya
yang berbagai-bagai. Dan aspek itu pun bukan hanya tidak
terbatas, tetapi juga terus-menerus berkembang dan
berubah-ubah.
Terimakasih!
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html