Precedence: bulk


      SEJAK  diktatur Suharto dipaksa turun oleh  gerakan
      reformasi yang dipelopori kaum muda dan mahasiswa,
      20  Mei  1998, masalah "pelurusan sejarah" menjadi
      semacam   "trend"   di   Indonesia.   Untuk   ikut
      menanggapi   "trend"  di  sementara  kalangan   di
      Jakarta  khususnya itu, kita turunkan teks ceramah
      Hersri  Setiawan, Ketua YSBI, di  depan  pertemuan
      "Aksi  Setiakawan" di Amsterdam 19 Desember  1998,
      sebagai sumbangan untuk bahan kajian kita bersama.
      Selain  Hersri  pada pertemuan itu juga  berbicara
      Joop Morrien, A. Munandar, dan Siswaputranto.
      Berikut ini teks selengkapnya.

           SEKITAR MASALAH "PELURUSAN SEJARAH"
                            
Saudara-Saudara,

Menurut  permintaan  dan undangan  "Aksi  Setiakawan"  -
terimakasih  untuk semuanya itu - saya harus  berceramah
tentang masalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di  Betawi
waktu  itu.  Berarti,  ceramah ini sedikit  banyak  akan
merupakan  ulangan  dari  ceramah  yang  diselenggarakan
Stichting  Indonesia Sejahtera (SIS) untuk  memperingati
hari  besar nasional itu di Utrecht yang saya beri judul
"Sumpah  Pemuda dari Tinjauan Budaya".Sekarang ini  kita
sudah memasuki minggu ke-3 bulan Desember. Jadi perasaan
saya  sudah agak jauh dengan tanggal kejadian bersejarah
yang bernama "Hari Sumpah Pemuda" itu. Tapi agar sedikit
banyak  memenuhi  harapan Saudara-Saudara,  bagaimanapun
juga  saya  akan  singgung soal Sumpah Pemuda,  walaupun
secara pendek saja. Selanjutnya, saya tertarik pada  apa
yang  tadi disebut baik oleh Saudara Joop maupun Saudara
Munandar.  Bung Munandar menyinggung masalah  "pelurusan
sejarah",  sedangkan Bung Joop seperti menggelitik  saya
dengan  menyebut  tentang kegiatan  yang  saya  kerjakan
selama  di  Belanda.  Maka  saya  ingin  bicara  tentang
mengapa  saya menyibuki diri dengan kegiatan pengumpulan
bahan   sejarah,  termasuk  dan  khususnya   bahan-bahan
sejarah  lisan, dengan jalan mewawancarai banyak  teman.
Kegiatan  yang sebenarnya sudah kami kerjakan, saya  dan
istri  saya  Jitske  Mulder, sejak sekembali  saya  dari
Pulau Buru.

Saudara-Saudara,

    Selagi  masih  di penjara Salemba sampai  selama  di
Buru,  saya  banyak mendengar kisah sejarah dari  kawan-
kawan angkatan terdahulu. Bagaimana pengalaman mereka di
Digul  Atas, bagaimana penderitaan di tahanan Kenpeitai,
dan  sebagainya. Semuanya kisah-kisah lisan, yang  kalau
tidak  dicatat  dan direkam akan segera  hilang  ditelan
waktu. Lebih khusus lagi tentang sejarah pergerakan kaum
kiri   pada  umumnya  dan  kaum  komunis  khususnya   di
Indonesia. Karena, seperti kita semua tahu, di Indonesia
sepanjang  masa  lebih  dari 30  tahun  terakhir,  telah
terjadi  penggelapan  yang luar biasa  terhadap  sejarah
nasional  kita.  Praktek-praktek  KKN  sebenarnya   juga
terjadi  tak  kalah  intensif di bidang  penyelenggaraan
sejarah  Indonesia  sepanjang rezim Orde  Baru.  Sejarah
kaum  kiri,  terlebih lagi kaum komunis,  telah  dihapus
dari  lembaran catatan perjalanan bangsa.Untuk  membantu
usaha mengembalikan lembaran-lembaran sejarah yang telah
dibuang  dan  dihapus  itu lah  kegiatan  demikian  saya
lakukan.  Sukurlah bahwa sekarang, sesudah sekian  tahun
saya  bersibuk dan berhasil mengumpulkan tak kurang dari
dua   ratus  kaset  rekaman  wawancara-wawancara  dengan
narasumber yang tersebar di Eropa, Tiongkok dan Vietnam,
selain bahan-bahan tertulis, masyarakat dan kaum muda di
Indonesia  khususnya telah tergerak untuk melakukan  apa
yang  disebut  "pelurusan sejarah".  Dunia  ilmu,  dalam
hubungan pembicaraan ini ilmu sejarah, ialah dunia  yang
mencintai  kebenaran. Kaum ilmuwan,  dalam  konteks  ini
ilmuwan  sejarah atau sejarawan, ialah kaum  yang  setia
kepada  kejujuran dan kebenaran. Tapi  jujur  dan  benar
saja belum cukup kalau tidak disertai dengan keberanian.
Keberanian  untuk  membentangkan kembali  kebenaran  dan
kejujuran  yang  dengan  sengaja telah  diselubungi  dan
bahkan  dihitamkan  sama sekali  itu.  Karena  itu  pada
kesempatan ini saya ingin mengutamakan berbicara tentang
hal  hal sekitar sejarah. Tapi pertama-tama baiklah juga
saya kembali pada Sumpah Pemuda.

Saudara-Saudara,

Berbicara tentang Sumpah Pemuda, menurut saya, sebaiknya
janganlah kita berbicara tentang sisi formal atau bentuk
lahiriah  peristiwa  Sumpah  Pemuda  itu  belaka.   Juga
demikian  halnya jika kita berbicara tentang  peristiwa-
peristiwa   sejarah  yang  lain  apa  pun.  Kalau   kita
memperingati sesuatu, orang Jawa memang - bagaimana  ya?
Kata    "memperingati"    kok    diterjemahkan    dengan
"menyelamati"   atau  "selamatan".  Dan   makin   "nggak
ketulungan"   lagi  karena  kombinasi  "selamatan"   itu
biasanya,  selain diisi dengan "ndremimil" membaca  doa,
juga  disertai  tabur  kembang,  membakar  kemenyan  dan
nyekar!  Jika  kita  memperingati sesuatu,  tapi  dengan
semangat seperti itu, akibatnya hakikat kejadian sejarah
yang  hendak diperingati justru menjadi beku. Juga  ikut
menjadi  beku  daya  ingat kita dan, lebih  parah  lagi,
sadar   atau   tidak  sadar  sesungguhnya  kita   justru
membekukan sesuatu yang hendak kita peringati itu. Sadar
atau  tidak  sadar yang kita perbuat bahkan  sebaliknya:
membunuh  Api  hal  ihwal  yang hendak  kita  peringati.
Membunuh  sejarah!  Kata "selamatan" kalau  dikembalikan
pada  akar  katanya,  "selamat" yaitu  "salam",  artinya
"damai". Kalau melihat itu, agaknya konsep ini merupakan
salah  satu  sisa  dari jaman animisme,  jaman  pemujaan
kepada  ruh  (anima)  yang  dipercaya  ada  pada  segala
sesuatu.  Arwah,  bentuk jamak  dari  ruh,  dipuja  agar
supaya  Si  Arwah  damai sehingga tidak mengganggu  yang
masih  hidup. Jadi ada suatu kompromi antara  dunia  ruh
dan  dunia jasad, untuk hidup berdampingan secara damai.
Yang  hidup membiarkan "yang mati" (saya tulis di  bawah
tanda  kutip,  karena  "mati" ialah  "hidup  yang  lain"
saja),  dan  berusaha mendamaikannya dengan sesaji  yang
lazim disebut "nyekar" tersebut, atas dasar prinsip yang
dalam  istilah Latin disebut "do ut des" - memberi untuk
menerima.  Memberi  sesuatu,  yaitu  makan  yang  berupa
sesaji  itu,  kepada  arwah; sebaliknya  untuk  menerima
sesuatu, yaitu berkah keselamatan, daripadanya.

   Jadi demikianlah

Saudara-Saudara,

Sebaiknya  kita,  dalam  memperingati  sesuatu  kejadian
sejarah apa saja, tidak terjebak di dalam kebiasaan yang
ritualistik atau sekedar bersemangat keupacaraan seperti
itu.  Sebab kalau demikian semangatnya, sebenarnya  kita
bahkan  ikut menyokong pembangunan mitos-mitos.  Padahal
tugas sejarah justru untuk membabad mitos.
   Mari kita kembali pada Sumpah Pemuda.Saya tidak perlu
menyebut satu demi satu butir-butir isi Sumpah yang tiga
itu.  Apa dan bagaimana urutan butir-butir disebut,  dan
bagaimana  setepatnya rumusan kata-kata  disusun,  serta
siapa  yang membacakannya dalam "sidang kerapatan"  para
pemuda  waktu itu, silakan Saudara membacanya pada  teks
ceramah  saya di Utrecht. Yang perlu ditekankan di  sini
ialah apa sebenarnya "kata kunci" Sumpah Pemuda. Menurut
hemat  saya  kata kunci Sumpah Pemuda cukup  disimpulkan
dalam  satu baris kalimat, yaitu: "bineka tunggal  ika".
Kita semua tahu, apa itu arti dan maknanya. Lalu, apakah
"amanat" Sumpah yang hendak disampaikan? Tentang ini pun
bisa dirumuskan pendek saja, yaitu tak lain ialah: usaha
untuk  persatuan  bangsa, usaha untuk pembinaan  bangsa,
dan  usaha  untuk menemukan jatidiri bangsa. Kalau  kita
melihat   esensi  ini,  tentunya  kalau  Saudara-Saudara
sependapat  dengan kesimpulan saya tersebut,  maka  saya
pikir   amanat   Sumpah  Pemuda  masih  tetap   relevan.
Karenanya  pula  meluangkan waktu untuk  memperingatinya
pun  tetap "sunnah", walaupun bukanlah "wajib" hukumnya.
Apalagi   kalau  kita  menghubungkan  dengan  pergolakan
situasi  dan situasi pergulatan di Indonesia akhir-akhir
ini,  khususnya  sejak  diktatur  $uharto  lengser  dari
singgasana atau kursi tahta - tapi tidak atau belum dari
keprabon atau kerajaan!
   Saya  teringat pada pesan Bung Karno yang mengatakan,
kalau kita memperingati sesuatu hendaklah jangan sekedar
menangkap  abunya, tapi tangkaplah apinya. Api  Kejadian
itu!  Api  itu lah yang harus kita tangkap dan  nyalakan
kembali.  Bahkan  kobar-kobarkan lah  terus  nyala  itu.
Demikian  Bung  Karno. Dalam hal  "api"  ini  saya  juga
teringat  pada  kata-kata nasihat  Mangkunegara  IV.  Ia
memang  seorang  raja.  Tapi kebijaksanaan  kata-katanya
tidak  akan menjadi pudar karenanya. "Intan tetap  intan
walau   keluar  dari  mulut  anjing  sekalipun",  begitu
pepatah  mengingatkan kita. Ada sebuah adagium terkenal,
warisan  Mangkunegara  IV, begini  katanya:  "apek  geni
adedamar, ngangsu apikulan warih". Mengambil api  dengan
membawa nyala api, mengambil air dengan berpikulan  air.
Apa  maksud  adagium itu? Yaitu agar  dalam  mempelajari
peristiwa-peristiwa   sejarah,   atau    menoleh    pada
pengalaman-pengalaman masa lalu, jangan sampai kita lupa
pada apa yang hendak kita cari. Lebih buruk lagi, jangan
kita  bikin  padam api itu, atau kita bikin mati  sumber
air  itu. Tapi sebaliknya, kita harus menjaga nyala  api
atau  sumber  air  itu  agar tetap  terus  menyala  atau
memancar,  dan kalau bisa bahkan lebih memperbesar  lagi
kobaran  nyala  atau  pancaran  sumbernya.   Apakah  itu
sejarah? Kata orang-orang pandai "sejarah" berasal  dari
kata   Arab,  "sajaratun",  yang  artinya  pohon.  Pohon
silsilah,  maksudnya. Bayangkanlah: pohon itu tumbuh  di
atas tanah, mempunyai batang, cabang, dahan dan ranting,
daun-daun,  bunga  dan  buah.  Kalau  dibalik,  sehingga
cabang  dahan  berikut ranting daun-daun dan  sebagainya
ada  di  bawah, maka pohon kayu itu akan tampak  menjadi
pohon   silsilah.   Silsilah  pribadi   seseorang   atau
sekelompok  orang  atau bangsa, atau asal  usul  sesuatu
kejadian  atau  berbagai rupa kejadian-kejadian.  Karena
itu   saya  berpendapat,  sejak  dulu  sampai  sekarang,
sejarah  bukan masalah batang saja. Bukan masalah  orang
gede  saja. Sebab pohon dinamai pohon justru karena  ada
dahan  dan  rantingnya, ada daun-daun dan bunganya,  dan
seterusnya  dan  seterusnya. Dan jangan lupa:  juga  ada
akar dan tanahnya. Jadi, kalau kita mau mengusut sesuatu
kejadian   sejarah,  atau  sesuatu  batang   "sajaratun"
tersebut,  jangan  hanya kita berhenti mengamati  batang
dan  cabang-cabangnya yang besar. Tapi harus  juga  kita
perhatikan  ranting, daun, akar, tanah, dan  seterusnya.
Bahkan daun-daun yang sudah melayang bertebaran di tanah
pun  tidak  boleh  diabaikan.  Ingatlah  pada  kata-kata
Rabindranath  Tagore,  yang pernah  dikutip  oleh  Njono
dalam  pidato terakhirnya ketika menerima vonis  hukuman
mati  dari  Mahmilub-nya Orde Baru $uharto,  bahwa  daun
daun  kuning  yang gugur bertaburan akan  menjadi  pupuk
kesuburan tanah air ...

     Setiap   unsur   pohon,   juga   "pohon   sejarah",
sesungguhnya   merupakan  sesuatu  hasil   kesinambungan
proses  yang  panjang dan rumit. Karena itu  mempelajari
sejarah  berarti  mempelajari semua unsur-unsur  "pohon"
itu. Satu demi satu harus kita runut sampai ke akar-akar
dan   bahkan   tanahnya,  yang  telah   menjadi   tempat
bertumbuhnya pohon yang bersangkutan. Sebab  jika  tidak
demikian,  kita tidak akan pernah bisa memahami  sesuatu
kejadian   yang  rumit  itu.  Saya  ambil  contoh   dari
pengalaman  pribadi ketika saya masih  duduk  di  bangku
sekolah menengah.
     Ketika  itu  saya  mempunyai  guru  sejarah,   yang
barangkali seperti kebanyakan guru-guru sejarah lainnya.
Begitu    masuk    klas,    murid-murid    diperintahnya
mengeluarkan  buku  catatan.  Pak  Guru  menulis   bahan
pelajaran  di  papan tulis, atau mendiktekannya  kalimat
demi  kalimat. Sesudah selesai, Pak Guru hanya bertanya,
apakah  ada  di  antara kami yang mau  bertanya  tentang
bahan  pelajaran yang baru saja diberikannya itu.  Untuk
menghadapi  ulangan  atau ujian kelak,  kami  disuruhnya
menghafal  bab  ini  atau  itu,  atau  kalau  dari  buku
pelajaran,  dari  halaman sekian  sampai  sekian.  Suatu
ketika, pada suatu uji coba kerajinan murid seklas, saya
ditanya  tentang tahun lahirnya Sura Agul-Agul, Panglima
Sultan  Agung Hanyakrakusuma dalam penyerbuan ke  Betawi
(1628  dan 1629). Pak Guru marah karena saya tidak  bisa
menjawab  pertanyaannya  itu. Saya  tidak  menghafalnya,
karena  saya menganggap tahun kelahiran tokoh, walau  ia
tokoh  besar sekalipun, tidak terlalu penting  dibanding
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan melibat diri
dan  pribadi  si  tokoh itu. Seorang guru  sejarah  yang
pandai,  bukan  mengajarkan pada murid (tegasnya:  suruh
menghafal)  nama-nama tokoh dan urutan tahun dan  bahkan
hari   bulan  kejadian  demi  kejadian.  Tapi  dia  akan
menguraikan,  bukan mengajarkan, kejadian demi  kejadian
yang  satu  sama  lain rangkai berangkai  dalam  jalinan
sebab  dan  musabab,  sebab dan akibat.  Kalau  kejadian
kejadian  itu diurai dengan jelas, maka kapan terjadinya
setiap  peristiwa  pun akan bisa melekat  di  ingatan  -
kalau  tidak secara tepat, tapi setidaknya suatu  ancar-
ancar saat atau tahun.
    Tapi,  kemudian  saya merasa mendapat  motivasi  dan
sekaligus semacam inspirasi dari guru sejarah yang lain,
sehingga   saya   selanjutnya  menjadi  mencintai   mata
pelajaran   ini.  Nama  guru  ini  Fransiskus   Xaverius
Maryono,  seorang katolik tentu saja. Pendek kecil  tapi
singset  dan  cekatan,  berkumis  tipis  seperti  satria
Lesanpura  Raden  Sentiyaki, adik  ipar  Batara  Kresna.
Tamatan  B2 Sejarah ia, mengaku sebagai pengagum  Arnold
Toynbee dan Jan Romein. Sejak masuk pertama kali ke klas
saya  terpesona oleh penampilannya sebagai guru  sejarah
yang belum pernah sebelumnya saya jumpai. Ia tidak mulai
dengan mendikte atau mencatat apa yang tertulis di papan
tulis,  sebaliknya bahkan dilarangnya kami  mengeluarkan
pensil  dan sekrip. "Perhatikan papan tulis, dan  dengar
baik-baik apa yang akan saya ceritakan!", katanya. Lebar
bidang  papan tulis itu dibelahnya menjadi dua,  seperti
Ki  Dalang  wayang kulit membelah dunia pekeliran:  kiri
dan   kanan.   Di   puncak  belahan,  di  tengah-tengah,
ditulisnya  besar  besar:  "Renaissance".  Di   bawahnya
ditulis dengan huruf huruf lebih kecil, di antara  tanda
kurung:  "renaitre" (Per.); "re-nasci"  (Lat.)  =  lahir
kembali.
    Jadi,  sementara  Pak Guru belum lagi  bicara,  saya
sudah  mendapat  tiga  butir soal.  Oh,  Bapak  ini  mau
menerangkan  tentang "renaissance",  yang  berasal  dari
kata  Perancis  itu  dan kata Latin  itu,  yang  artinya
"lahir  kembali".  Ah,  apa atau siapa  itu  yang  lahir
kembali?  Kami semua diam sambil mata tetap  terpaku  ke
papan  tulis.  Barangkali sama seperti saya  juga,  kami
semua  penasaran  ingin tahu. Pak  Maryono  seperti  tak
peduli.  Terus menulis kata kata pendek di kiri  dan  di
kanan  berpasang-pasang, berturut-turut ke bawah seperti
butir demi butir:
Zaman  Kegelapan  ><  Zaman  Aufklaerung.  Jenseitig  ><
Diesseitig.  Golongan Pendeta dan Bangsawan ><  Golongan
Ke-3, dst. dst.
   Hebat  Pak  Guru satu ini! Begitu saya  pikir.  Bukan
karena  bombardemen kata-kata asing itu  yang  membuatku
terpukau,  tapi  karena kata demi kata  merupakan  tanda
tanya:  apa gerangan yang tersembunyi di balik  semuanya
itu?  Ini beda dengan deretan angka tahun dan hari bulan
serta  nama-nama para kaisar atau panglima perang! Semua
yang  tersebut  pertama  itu  ibarat  hamparan  masalah,
sedangkan  semua yang tersebut kemudian tak  lebih  dari
timbunan  sampah.  Yang pertama,  walaupun  sulit,  tapi
menantang;   sedangkan  yang  kedua,  walaupun   terlalu
sederhana, tapi tidak memancarkan daya tarik.

Saudara-Saudara,

   Sejarah sebenarnya warisan kebudayaan. Atau bisa juga
kita   balik:   kebudayaan  ialah  warisan   sejarah   -
historisch  bestimmt,  kata orang  yang  suka  kata-kata
asing.  Tapi  di  samping merupakan warisan  kebudayaan,
sejarah  sekaligus juga merupakan reservoar  kebudayaan.
Seperti tadi saya sudah kemukakan, sejarah bukan sekedar
terang  dan panas sebagai hasil kobaran nyala  dari  api
unggun  sejarah  masa  lalu. Tapi sejarah  juga  memberi
terang  dan panas pada kobaran nyala selanjutnya.  Kalau
tidak ada proses demikian pastilah tidak akan kita kenal
sepatah  adagium  wasiat  dari  datuk  teori  dialektika
Herakleitos:   panta  rhei  -  segala  hal-ihwal   terus
mengalir.  Sejarah  selain warisan juga  petandoan  atau
reservoar.  Dan dari petandoan yang satu ini kita  ambil
api  atau airnya, dengan membawa nyala atau pikulan air,
untuk  menciptakan petandoan-petandoan  baru,  sementara
itu  petandoannya  yang lama tidak menjadi  kering  atau
padam.

   Tentang Sumber Sejarah
   
Pada  awal  uraian sudah saya sebut juga, bahwa  sejarah
merupakan  cabang ilmu pengetahuan yang  delikat:  pelik
dan   rumit,   rentan  dan  peka,  sehingga   memerlukan
pengurusan yang wigati (untuk yang lebih mengenal bahasa
barat: "careful" atau "zorgvuldig"). Pada sumber sejarah
inilah  sebenarnya ke-delikat-an sejarah  itu  terletak.
Kita  tahu,  bahwa  sejarah dituturkan  atau  dituangkan
dalam  wujud susunan kata-kata atau dengan alat  bahasa.
Jadi bahasa sebenarnya suatu fiksi tentang hal-ihwal dan
kejadian  di dalam satu ruang dan waktu tertentu.  Fiksi
ini  selanjutnya perlu diartikulasikan, yang  untuk  itu
memerlukan bahasa sebagai sarana. Bahasa dalam arti yang
seluas-luasnya, mulai dari gerak gerik,  kata-kata  yang
dilisankan  atau dituliskan, sampai pada berbagai  macam
bentuk  bahasa  kode atau bahasa sandi. Artikulasi  mana
yang  dalam satu ruang dan waktu tertentu, atau di  mana
dan  bilamana  pun berfungsi dominan, selalu  artikulasi
dari  kaum yang berkuasa. Maka kita juga mengenal  suatu
rumusan   yang  mengatakan,  bahwa  "kebudayaan  sesuatu
bangsa  pada  suatu kurun waktu, selalu kebudayaan  dari
klas yang berkuasa". Padahal setiap kekuasan, oleh siapa
pun   dan  kapan  pun,  selalu  membutuhkan  legitimasi.
Sejarah,  atau  tegasnya  penulisan  sejarah,  merupakan
salah  satu  cara  untuk menopang  legitimasi  tersebut.
Sejarah  bangsa mana saja, apakah bangsa kulit  berwarna
ataukah  bangsa kulit putih, dan dari kurun jaman  kapan
saja,  apakah  dari  jaman kuno  ataukah  jaman  modern,
memberikan  sangat banyak contoh tentang hal  itu.  Tapi
baiklah  kita  ambil  dua  contoh  dari  sejarah  bangsa
Indonesia kita sendiri.
    Satu  contoh  dari "jaman kuno",  yaitu  dari  jaman
Kediri  misalnya,  kalau pertengahan  abad  ke-12  sudah
termasuk  kuno.  Kita  ketahui, bahwa  syair  Jawa  Kuno
Bharatayuddha disusun oleh Empu Sedah dan  Empu  Panuluh
untuk  memberi legitimasi kekuasaan raja Jayabhaya  yang
berhasil  naik singgasana raja-di-raja setelah  membasmi
saudaranya sendiri: Raja Jayasabha. Dari jaman  mutakhir
ada  satu  contoh gemilang yang tak perlu saya bicarakan
dengan  berbanyak  kata.  Jika  ada  kesempatan,  datang
sajalah  Saudara berkunjung, dan perhatikanlah baik-baik
itu  prasasti  "kesaktian pancasila"  di  Lubang  Buaya!
Itulah  sebabnya,  maka dalam sumber sejarah  -  apalagi
sejarah  jaman kuno, bahkan sejarah modern pun -  selalu
ada  masalah  yang lazim disebut sebagai "dichtung"  dan
"wahrheid". Yaitu masalah tentang adanya "dichtung" yang
menyelubungi "wahrheid". Dichtung-dichtung alias  tabir-
tabir  inilah yang harus kita singkap dan siangi,  kalau
kita  hendak menyusun sejarah. Atau, kalau kita meminjam
istilah  yang  sekarang  lagi "ngetrend"  di  Indonesia:
"meluruskan   sejarah".  Masalah   "pelurusan   sejarah"
sebenarnya tidak lain ialah masalah menyiangi "dichtung"
dari  "wahrheid". Tabir-tabir "dichtung"  itu,  terutama
sejak   sekitar  32  tahun  terakhir  dalam  masa  rezim
$uharto,    telah   terus-menerus   dan   berlapis-lapis
diselubungkan   dengan   sengaja   untuk   sama   sekali
menggelapi  dan  menggelapkan "wahrheid".  Dalam  rangka
itulah  masalah penataan kembali sejarah menjadi  sangat
penting dan mendesak.Saudara-Saudara,
   Kita jumpai misalnya, bahwa dalam bahan-bahan sejarah
Indonesia  yang tertulis, terutama sejak  rezim  $uharto
naik  panggung sejarah, juga termasuk dalam  diorama  di
Monas  Jakarta, tidak ada di sana tercantum  PKI  selain
sebagai  partai  pemberontak, pembunuh, dan  segala  apa
yang   batil  dan  busuk.  Seolah-olah  di   atas   bumi
Indonesia,   yang   selalu  dibangga-banggakan   sebagai
"Pancasilais" itu, tidak ada PKI pernah lahir; dan tidak
ada  peranan  apa pun dimainkan PKI di dalam  melahirkan
sebuah  negeri merdeka yang bernama Republik  Indonesia.
Ini   jelas   jemelas  bukan  sekedar  pembelokan   tapi
pembohongan yang tidak ada taranya. Jadi jelaslah  bahwa
juga  di  dalam  sejarah  modern,  sumber  sejarah  yang
tertulis itu pun perlu dikaji kembali. Mengkaji  kembali
sejarah,  sekali lagi, tak lain artinya ialah: menyiangi
"dichtung" dari "wahrheid". Di samping sumber  tertulis,
sejarah   juga   mempunyai  sumber-sumber   yang   tidak
tertulis.  Sumber  sejarah yang tak  tertulis  di  dalam
sejarah  jaman  lampau, misalnya, berupa berbagai  macam
dongeng tutur atau cerita lisan, termasuk apa yang  oleh
orang Minang disebut "kaba".
    Marilah saya ajak Saudara-Saudara mengikuti  ingatan
saya  sekilas kembali ke pulau pengasingan tapol:  Buru.
Selama  di  pulau  pengasingan itu kita  tahu,  Pramudya
Ananta  Toer  telah menulis sekian banyak  karya.  Salah
satu di antaranya sebuah roman yang berjudul "Ken Arok".
Bagi  saya,  setelah membaca naskah itu, yang  baru  dan
menarik di dalam karya Bung Pram ini ialah penafsirannya
terhadap "kutuk tujuh turunan keris Empu Gandring". Pada
roman  ini  Empu Gandring ialah satu sosok personifikasi
"gudang  senjata". Barangsiapa berhasil  menguasai  Empu
Gandring, termasuk membuatnya mati tak berdaya, dia  lah
nanti yang akan berhasil menguasai medan pertarungan dan
merebut kekuasaan (dalam hal ini di Singasari awal  abad
ke-13).   Pramudya  dengan  demikian   telah   "membikin
perhitungan"  yang luar biasa terhadap  "kutuk  bertuah"
dari  satu sosok pribadi Gandring yang sakti, dan diurai
serta   dibangunnya  menjadi  satu  konsep  politik  dan
logistik.
    Tapi di Buru selain ada Pramudya, juga ada Badawi  -
kebetulan berada di satu unit dengan saya, yaitu di Unit
XV Indrapura. Bung Badawi selain ketua bagian organisasi
Organisasi Ketoprak "Krida Mardi", juga anggota pengurus
Bakoksi (Badan Koordinasi Organisasi-Organisasi Ketoprak
Seluruh Indonesia).
   Menanggapi "Ken Arok" versi Pramudya itu, Bung Badawi
melontar  kritik yang cenderung memrotes  keras:  "Kalau
cerita  Ken  Arok  jadi  begini,  bagaimana  saya   bisa
memainkannya  di  panggung ketoprak?  Tanpa  keris  Empu
Gandring dan kutuk tujuh turunan, mana orang mau  datang
menonton?"  Protes Bung Badawi pada Pram  melalui  saya.
Barangkali selain merasa dekat dengan saya, sebagai sama-
sama  orang Jogya, juga karena saya pernah duduk sebagai
Penasihat  Bakoksi. "Bung tidak usah gusar," kata  saya.
"Bung  Pram tidak menulis skenario untuk ketoprak,  tapi
dia   menulis   novel  sejarah.  Naskah  ini   merupakan
penafsiran  Bung  Pram  tentang tutur  babad  itu  dalam
bentuk   novel.  Jadi  untuk  lakon  di  atas   panggung
ketoprak, silakan Bung Badawi tetap atas dasar pembakuan
yang  selama  ini berlaku. Kecuali kalau penonton  sudah
tidak  mau  lagi, dan para seniman ketoprak  juga  sudah
ingin mencari pembaruan".
    Bung  Badawi  yang sangat mencintai dunianya,  dunia
panggung  ketoprak,  bagaimanapun  juga  sukar  menerima
penjelasan  saya itu. Urat leher malah ditariknya  lebih
tegang.  "Sastrawan juga harus turut  bertanggung  jawab
melestarikan   pakem,  bukan  malah  merusak   semau-mau
sendiri!" Katanya.Tapi saya juga merasa mendapat  hikmah
dari  sikap  keras  Bung Badawi itu. Hikmah  itu  berupa
kesimpulan  saya,  bahwa ilmu pengetahuan  yang  bernama
ilmu sejarah, sesungguhnya merupakan satu-satunya mimbar
ilmu  pengetahuan  yang  paling demokratis.  Siapa  saja
berhak  berbicara  tentang  sejarah.  Dan  masing-masing
dengan  hak bicara yang sama penuhnya pula! Siapa  saja.
Dari  profesor yang berkepala butak sampai tukang  becak
yang  butahuruf  sekalipun. Dan  belum  tentu  apa  yang
dikatakan sang profesor tentang sesuatu kejadian sejarah
tertentu  selalu  benar,  sedangkan  yang  dikatakan  si
tukang  becak  tentang kejadian yang sama selalu  salah.
Setiap  peristiwa sejarah ialah "cerita" tentang sesuatu
kejadian.  Dan  setiap  cerita ini  didukung  oleh  para
pemain  yang bermacam-macam dan berjumlah tak terbilang.
Setiap orang yang terkait - atau ikut bermain - di dalam
sesuatu  kejadian sejarah, masing-masing tentu mempunyai
motivasinya sendiri-sendiri, yang satu sama lain berbeda-
beda.  Apalagi  motivasi banyak orang.  Bahkan  motivasi
seseorang   individu  dalam  melakukan   sesuatu   gerak
perbuatan  pun  tidak  pernah mengandung  arti  tunggal,
sehingga   menutup   kemungkinan   adanya   kepelbagaian
interpretasi. Kalau saya, misalnya, di tengah  berbicara
sekarang  ini minum seteguk, perbuatan ini  bisa  karena
berbagai  kemungkinan alasan: haus,  tenggorokan  serak,
gugup  dan  sebagainya. Ini baru tentang perbuatan  yang
sederhana  belaka, tidak ada hubungan dengan orang-orang
lain, dan tidak pula didasari oleh alasan apa pun selain
yang bersifat manusiawi yang individual belaka.
    Karena  itu,  kalau  tidak salah,  bukankah  seperti
pernah  dikatakan  Mao  Zedong, bahwa  mengenal  seorang
manusia   saja  pun  tidak  akan  pernah  bisa   lengkap
selengkap-lengkapnya? Hari ini kita mengenal satu  segi,
besok pun hanya bertambah satu segi saja lagi. Sementara
itu  satu segi yang kita kenal kemarin itu pun, hari ini
sudah  tidak  lagi sama seperti ketika kita  mengenalnya
kemarin!  Itu  baru berurusan dengan seseorang.  Apalagi
berurusan  dengan  yang  disebut sejarah;  dengan  serba
kejadian  yang  di  dalamnya terkait  banyak  orang  tak
terbilang  dan dengan berbagai alasan yang  banyak  kali
tak terucapkan!
   Saya ingin mengajukan sebuah contoh sehubungan dengan
uraian  tersebut. Bertahun-tahun yang lalu  saya  pernah
membaca  Pranacitra Rara Mendut, roman penerbitan  Balai
Pustaka tahun 50-an awal. Sebuah cerita babad Jawa  yang
sangat  terkenal,  baik sebagai dongeng  tutur,  sebagai
lakon  ketoprak  bahkan  film, maupun  sebagai  karangan
tertulis dalam bentuk tembang atau syair maupun gancaran
atau  prosa. Satu pasase saja dari cerita ini ingin saya
kemukakan.
     Syahdan.  Dikisahkanlah  pada  saat-saat  menjelang
sepasang  kekasih Pranacitra Rara Mendut melarikan  diri
dari  kamar  tutupan di Ketumenggungan Wiraguna.  Karta,
ibukota Mataram, tiba-tiba tenggelam dalam keadaan gelap
gulita 40 hari 40 malam. (Perhatikan juga bilangan empat
puluh,  yang  juga disebut dalam deskripsi tentang  Jaka
Tingkir  ketika  mengarungi Kedung  Srengenge.  Ia  naik
gethek  yang didukung 40 ekor buaya!). Pada  saat  Karta
gelap  gulita seperti itu lah gerombolan penggarong  dan
kecu   mengamuk.  Bukan  hanya  merusak  mengobrak-abrik
Karta, tapi bahkan juga menyerbu istana raja.

    Saya,  sebagai  guru  sejarah  di  berbagai  sekolah
menengah di Yogya ketika itu, bertanya pada diri sendiri
dan  berusaha  mencari tahu. Apa betul  begitu?  Ibukota
Mataram   diserbu  garong  selama  40  hari  40   malam!
Katakanlah  itu  benar.  Tapi  apa  hubungannya   dengan
kejadian   sepasang   kekasih   Pranacitra-Rara   Mendut
melarikan diri?

Saudara-Saudara,

Kisah  ini  dari sebuah babad. Dan babad  ialah  sejarah
yang diselubungi kabut "dichtung" yang terkadang teramat
sangat  tebal. Jadi kabut itu harus disinari, jika  kita
ingin   menyingkap  kejadian  yang  sebenarnya  -   atau
setidaknya  mendekati  yang  sebenarnya.  Buyung   Saleh
Puradisastra, bertahun tahun kemudian sesudah pengalaman
saya  tersebut, pernah mendongeng di Unit Transito  Jiku
Kecil  Pulau  Buru.  Itu terjadi pada  suatu  petang  di
minggu  ke-2  bukan  Agustus 1971. Ia  mengatakan  bahwa
Pranacitra dan Rara Mendut adalah pribadi-pribadi  tokoh
sejarah yang benar-benar pernah ada. Ini berbeda  dengan
kesimpulan saya jauh bertahun-tahun sebelumnya.  Menurut
hemat  saya  Pranacitra jelas bukan  sebuah  nama.  Tapi
sebutan  personifikasi untuk suatu keadaan atau kejadian
belaka.  "Prana"  artinya  "hati",  dan  "citra"   ialah
"gambar"  atau "lukisan". Lukisan Hati - Hati Masyarakat
yang melahirkan kisah itu. Rara Mendut lebih jelas lagi,
bukan sebuah nama. "Lara" atau "rara" ialah "dara"  atau
"gadis",  yaitu awalan penghormatan (honorefiks prefiks)
untuk  perempuan muda; dan "mendut" ialah "sintal"  atau
"mollig".  Rara Mendut tak lain ialah Si  Gadis  Sintal.
Sama   halnya  seperti  Lara  Junggrang,  yang  sekarang
dikenal  sebagai nama seluruh kompleks candi  Prambanan,
yaitu  sebutan  untuk arca Durga di  bilik  utara  candi
utama.  Menurut dugaan sejarah candi ini dibangun  dalam
jaman Raja Daksa, awal abad ke-10, yang di atas panggung
ketoprak  dikenal sebagai Prabu Baka. "Junggrang"  ialah
tinggi  semampai atau langsing. Lara Junggrang ialah  Si
Gadis   Langsing.Kembali   pada   usaha   mencari   tahu
"wahrheid" cerita Pranacitra Rara Mendut. Untuk itu saya
lalu   membaca   "Indonesian  Society   in   Transition"
W.F.Wertheim,  "Indonesian Trade and Society"  J.C.  van
Leur,  dan  risalah tipis tapi mantap berbobot  karangan
H.J.  van Mook, "Koeta Gede". Saya seperti digugah  oleh
bacaan-bacaan  itu. Jadi, pikir saya, ketika  itu  telah
lahir apa yang disebut "golongan ke-3" di Mataram,  atau
lebih  tegas  dan  khusus  lagi  di  Kota  Gede?  Itukah
"wahrheid"  Lara  Mendut, yang diceritakan  sebagai  mau
diperistri  kesekian  oleh Panglima  Mataram  Tumenggung
Wiraguna   yang  tua  renta,  asal  diberi   modal   dan
dibolehkan berjualan rokok klobot di tengah pasar? Modal
dan  ijin memang diberi oleh Wiraguna, asal Rara  Mendut
setiap hari mau membayar pajak sebanyak sekian real.
    Apa  yang terjadi? Dagangan Si Dara Sintal, pingitan
Adipati Tuban di pesisir utara Jawa yang jatuh di tangan
Wiraguna sebagai pampasan perang itu, laris luar  biasa.
Bahkan  bukan  hanya  pemuda-pemuda  Mataram  saja  yang
berebut  membeli rokok klobot Lara Mendut! Juga "seorang
pemuda" berasal Pekalongan, ikut datang sebagai pembeli.
Tidak  saja rokok klobot yang baru digulung Nimas  Lara,
bahkan  puntung isapannya pun laku keras. Pemuda berasal
Pekalongan  itu bernama Pranacitra, anak  janda  juragan
batik.
    Tumenggung  Wiraguna lalu menuntut pembayaran  pajak
yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Tapi Lara Mendut
selalu  bisa melunasinya. Bagi saya lalu menjadi  jelas.
Sungguh  pandai  dan sangat tepat cerita rakyat  membuat
amsal pasemon. Mengapa justru pribadi Rara Mendut, sosok
perempuan  muda  yang  sintal  cantik,  dipakai  sebagai
lambang  golongan  baru  yang  sedang  tumbuh.  Bukankah
perempuan  ialah  Ibu  kehidupan baru?  Bukankah  cantik
simbol  dambaan setiap orang, dan sintal  ialah  pasemon
tentang kesuburan? Adapun yang angkuh di depannya adalah
Panglima   Perang  Tumenggung  Wiraguna.  Justru   sosok
seorang laki-laki tua renta, namun dengan kekuasaan  dan
keris lambang kelaki-lakian di genggaman tangannya  yang
siap  membunuh. Hubungkan-lah cerita tabir  pasemon  itu
dengan   keterangan  sejarah  Jawa  tentang   dua   kali
kegagalan  Sultan Agung Hanyakrakusuma menyerbu  VOC  di
Batavia  (1628 dan 1629). Bukan karena lihainya  serdadu
VOC  berperang  dan  gemuruhnya dentuman  "Kyahi  Jagur"
lasykar  Wiraguna mundur bertahan ke selatan Betawi  dan
jauh  ke  timur  di Rengasdengklok. Penyebab  sebenarnya
ialah,  keterangan sejarah mengatakan,  karena  "gudang-
gudang  perbekalan lasykar Mataram di  sepanjang  pantai
utara,  mulai  dari  Kendal sampai  ke  Kerawang,  habis
tumpas dibakar para penyamun ..."
     Lagi-lagi  dongeng  tentang  penyamun  dan  garong!
Sesungguhnya   imperium  Jawa  di  bawah  Sultan   Agung
Mataram,  adalah sebuah negeri yang penuh huru hara  dan
pemberontakan meluas di mana-mana. Sultan Agung  menjadi
agung atau diagungkan oleh mitos, barangkali karena satu
sebab  saja:  ambisinya untuk mengalahkan VOC.  Tapi  ia
sesungguhnya bukanlah raja "gung binathara", raja  agung
bertabiat  dewa,  melainkan  raja  penindas  yang  rakus
(terhadap  "Rara  Mendut") dan yang tak  segan  menumpas
musuhnya  dengan  lalim (siasat "perang kuman"  terhadap
Surabaya,  1625,  dengan membendung Sungai  Brantas  dan
menimbuni arusnya dengan bangkai).

Saudara-Saudara,

Itulah sebab dan alasannya, mengapa dalam beberapa waktu
yang  belum lama berlalu, kami mendirikan sebuah yayasan
yang  kami  namai Yayasan Sejarah dan Budaya  Indonesia.
Satu  di antara tujuannya yang penting ialah hendak ikut
menyumbang  usaha  pembenahan  atau  penyusunan  kembali
sejarah.   Mudah-mudahan  gerak  kegiatan  yayasan   itu
mendapat  sambutan yang semestinya dari  Saudara-Saudara
sekalian,  sehingga  tidak  ibarat  pepatah  mengatakan:
bagai   bertepuk   sebelah  tangan.   Karena   pekerjaan
penyusunan, atau penyusunan kembali, sejarah  Indonesia,
sesungguhnya merupakan pekerjaan kita bersama.
    Istilah  "pelurusan sejarah" yang  tampaknya  sedang
ngetrend   di   Jakarta  akhir-akhir  ini,  sesungguhnya
istilah   salah-kaprah  yang  gampang  diucapkan,   tapi
sungguh  sangat  sukar dilaksanakan - kalaupun  bukannya
malah  mustahil.  Salah kaprah. Salah  tapi  dilazimkan.
Sebab,  sesungguh-nya  sejarah  akan  semakin  mendekati
kebenaran justru apabila atau selama dia "tidak  lurus".
Sebaliknya,   malahan  rezim  Orde  Baru   $uharto   dan
penerusnya,  serta  semua rezim  militer  dan  totaliter
itulah   yang  paling  berkepentingan  pada   "pelurusan
sejarah".  Lurus  ndlujur, sesuai  dengan  komando  yang
digariskan oleh rezim.

Saudara-Saudara,

Sejarah  itu  perkara  tentang hidup  dan  perkara  yang
hidup. Karena itu benang merah di dalam sejarah bukanlah
kata  "mustahil" yang tunggal, tapi kata "mungkin"  yang
berbagai- bagai. Di dalam sejarah, tepat sama seperti di
dalam  hidup,  yang  ada  ialah serba  kemungkinan  yang
seribu  satu,  dan  bukannya kemustahilan  yang  tunggal
belaka.  Jalan  sejarah, oleh karena itu,  memang  tidak
lurus  seperti rel kereta api, atau seperti  gerak-gerik
barisan  militer.  Jalan  sejarah  bahkan  bukan   hanya
sekedar  zigzag,  berliku-liku secara evolusioner,  tapi
terkadang berselang-seling secara revolusioner  bagaikan
arus puting beliung yang tak terduga. Justru oleh adanya
seribu  satu kemungkinan itulah, maka roda sejarah  akan
bisa  berbelok-belok  seperti tak teramalkan.  Di  depan
sudah  saya kemukakan, pendukung sejarah ialah  sejumlah
tak  terbilang  manusia. Masing-masing  dengan  aspeknya
yang berbagai-bagai. Dan aspek itu pun bukan hanya tidak
terbatas,  tetapi  juga  terus-menerus  berkembang   dan
berubah-ubah.

Terimakasih!

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke