Precedence: bulk


TAUFIK ISMAIL TERTARIK "ISLAM DAN SOSILISME"?

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Menurut Ramelan, melalui tulisannya "Taufik Ismail: Komunisme Itu Membius"
(Inti Jaya, Edisi 4-8 Juni 1999) bahwa seorang Taufik Ismail anti-komunis,
sudah mafhum. Ketidaksetujuannya terhadap komunisme itu sudah secara
gamblang digambarkan dalam bukunya "Prahars Budaya", yang ditulis bersama DS
Mulyono. Tapi jika Taufik Ismail sendiri mengaku bahwa ia sempat kesemsem
dengan komunis, hal itu menjadi tanda tanya besar. Hal itu diungkapkan
Taufik ketika didaulat tampil menjadi pembicara dalam sebuah diskusi yang
membahas bahay laten PKI, di Hotel Meredian, Jakarta (1/6) lalu.
        Ajaran komunis itu bersumber dari pemikiran Dr Karl Marx, filsuf Jerman
yang hidup tahun 1818-1883, yang dituangkan dalam bukunya berjudul "Das
Kapital". Buku itu ditulis Marx ketika ia berusia 28 tahun, ketika energi
mudanya sedang meluap-luap.
        "Dulu ketika muda setelah membaca buku itu, saya juga terpikat dengan
ajaran itu. Bagaimana pemikiran Marx yang begitu menakjubkan, idealis dan
sangat membela rakyat," jelas Taufik.
        Karenanya, tambah Taufik bagi kaum muda yang senang membaca dan cerdas akan
mudah tertarik dengan ideologi komunisme atau marxisme. Faham komunisme bagi
kaum muda bisa membiuskannya.
        Lalu kenapa Taufik Ismail kemudian tidak tertarik lagi dengan ideologi
marxisme itu. Hal itu dijawab sendiri olehnya. "Setelah saya membaca buku
Islam dan Sosialisme" karangan H.O. Tjokroaminoto, akhirnya saya tidak
tertarik lagi dengan paham komunisme," akunya. Dalam Islam juga diajarkan
tentang faham ini melalui teladan Rasul Muhammad yang membela kaum dhuafa
dan miskin. Jadi, tidak hanya memandang secara materialistis.
        Jadi, karena Islam juga membela kaum dhuafa dan miskin, seperti yang
diteladankan oleh Rasul Muhammad, maka Taufik meninggalkan komunisme dan
tentu sudah menyatukan dirinya dengan Islam dan Sosialisme HOT di atas. Ia
menjadi Islam sosialis.
        Tepat kah langkahnya memusuhi komunisme atau marxisme, padahal komunisme
atau marxisme, seperti diakui Taufik sendiri juga membela kaum dhuafa dan
miskin, seperti yang diteladankan Rasul Muhammad? Dan bukankah seharusnya
kerjasama dengan komunisme untuk kepentingan kaum dhuafa dan miskin itu?

SAMA MEMERANGI KEPITALISME 

Bila benar-benar taufik Ismail tertarik dengan "Islam dan Sosialisme"
karangan HO Tjokroaminoto, tentu ia akan mengakui bahwa komunisme atau
marxisme dengan Islam sama-sama menerangi kapitalisme. Inilah yang dikatakan
H.O. Tjokroaminoto dalam buku "Islam dan Sosialisme":
        "Menghisap keringatnya orang-orang bekerja, memakan hasil pekerjaannya
orang lain, tidak memberikan bahagian keuntungan yang mestinya (dengan
seharusnya) menjadi bahagiannya lain orang, yang turut bekerja mengeluarkan
keuntungan itu-semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut
keuntungan "meewaarde" adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama
Islam, karena itulah perbuatan memakan "riba" belaka. 
Dengan begitu maka nyata lah, agama Islam memerangi kapitalisme sampai pada
"akarnya" , membunuh kapitalisme mulai daripada "benihnya", oleh karena
pertama-tama sekali yang menjadi dasar kapitalisme, yaitu memakan keuntungan
"meewaarde" sepanjang fahamnya Karl Marx dan "memakan riba" sepanjang
fahamnya Islam. (hal. 17).
        Jelasnyua Marxisme dan Islamisme sama-sama memerangi kapitalisme. Karena
itu pulalah maka Bung Karno melalui tulisannya "Nasionalisme, Islamisme dan
Marxism" mengingatkan hendak lah semua Islam yang tak mau merapatkan diri
dengan kaum marxis, sama ingat, bahwa pergerakannya itu, sebagai pergerakan
Marxis adalah suatu gaung atau kumandangnya jerit dan tangis rakyat
Indonesia yang makin lama makin sempit kehidupannya, makin lama makin pahit
kehidupan rumah tangganya. Hendaklah kaum itu sama ingat, bahwa
pergerakannya itu dengan pergerakan Marxis, banyak penyesuaian cita-cita,
banyak persamaan tuntutan-tuntutannya.
        Berbahagia lah kaum pergarakan Islam, ujar Bung Karno, yang insyaf dan mau
akan persatuan. Berbahagialah mereka, karena merekalah yang sungguh-sungguh
menjalankan perintah agamanya.
        Secara tidak langsung, tulisan Bung Karno itu adalah mengingatkan Taufik
Ismail untuk bekerjasama dengan kaum komunis atau marxis guna membela kaum
dhuafa atau miskin.
        Bung Karno juga mengatakan kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme
musuh marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula. Islamis yang fanatik dan
memerangi pergerakan marxisme adalah Islamis yang tak kenal akan
larangan-larangan agamanya sendiri. Islamis yang demikian itu tidak
mengetahui, bahwa sebagai marxisme, Islamisme yang sejati melarang
penumpukan uang secara kapitalis, melarang penimbunan harta benda untuk
keperluan sendiri (DBR, 1963, hal: 12-13).

HUKUM ISLAM SOSIALIS ATAU KAPITALIS? 

        Sebagai seorang Islam sosialis, yang wajar, tentu saja Taufik Ismail akan
berdaya upaya untuk membunuh kapitalisme sampai akar-akarnya, seperti yang
menjadi ide H.O. Tjokroaminoto dalam bukunya "Islam dan Sosialisme". Tetapi
apa yang hendak dibendung atau dihindari oleh Taufik Ismail?
        Menurut Ramelan dalam tulisannya diatas, Taufik Ismail berpendapat: untuk
membendung bahaya laten komunisme di Indonesia hukum harus ditegakkan. Jika
hukum ditegakkan, maka keadilan akan tercipta. Keadilan ini harus
diperjuangkan disegala bidang untuk mewujudkan Indonesia yang makmur. Jika
Indonesia sudah makmur, dengan sendirinya ideologi akan mati, tegas
sastrawan yang terkenal dengan puisi-puisinya yang relegius.
        Benarkah demikian jalan keluarnya? Hukum mana yang mau ditegakkan Taufik
Ismail? Hukum Islam sosialis atau hukum kapitalis?  
        Menurut hukum Islam sosialis, haram hukumnya memakan darah yang mengalir
dalam tubuh orang lain. (Lihat Surat Al An'am ayat 145). Haram memakan hasil
tenaga orang lain (lihat Surat Al Baqarah ayat 188).  Terkutuklah orang yang
mau menumpuk-numpuk harta benda (lihat Surat Al Humazah ayat 1-3). Tegasnya
hukum Islam sosialis mengharamkan berlangsungnya penghisapan manusia atas
manusia.
        Bertentangan dengan hukum islam sosialis, maka hukum kapitalis, demi
kapitalis memakan hasil tenaga kerja orang lain, yang menurut ajaran Islam
seperti dikatakan HO Tjokroaminoto sebagai "riba".
        Selain kaburnya hukum mana yang hendak ditegakkan taufik Ismail, juga
adalah menggelikan kata-kata: jika Indonesia sudah makmur, ideologi
(maksudnya komunisme) akan mati. Padahal Indonesia sudah makmur sejak
buminya terbentang. Sehingga di masa Hindia Belanda saja ada yang mengatakan
"tongkat dilempar ke tanah akan tumbuh dan berubah". Justru karena Indonesia
makmur itulah maka kolonialisme Belanda mengangkangi Indonesia ratusan tahun
lamanya dan sesudah Indomesia Merdeka terus menjadi sasaran kaum modal asing
untuk diekploitasinya.
        Jad, Indonesia makmur belum tentu kaum buruh, tani dan rakyat pekerjanya
makmur. Sepertinya "makmurnya" Indonesia di masa Orde Baru. Yang makmurnya
keluarga Cendana dan para kroninya serta konglomerat lainnya. Kaum buruh,
tani dan rakyat pekerja Indonesia lainnya tetap melarat. Kaum buruh, tani
dan rakyat tertindasnya lainnya, baru akan makmur jika isi surat Al Qashash
ayat 5-6 sudah membumi, yaitu kaum mustadhafhin (tertindas dan miskin) telah
menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Artinya telah tegak hukum Islam
sosialis!

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke