Precedence: bulk [DIREITO, No. 2/27 Juni '99] PETISI DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT (DIREITO UTAMA). Perhatian masyarakat Indonesia terhadap masalah Timor Timur semakin besar menjelang jajak pendapat bulan Agustus mendatang. Beberapa organisasi akan mengirimkan tenaga pemantauan untuk ditempatkan di berbagai daerah di Timor Timur. Di samping itu ada misi kemanusiaan yang akan membantu para pengungsi dan masyarakat yang tengah ditimpa kemalangan. Tanggal 24 Juni 1999, sejumlah lembaga dan individu mengambil inisiatif menyampaikan sebuah petisi kepada perwakilan PBB di Jakarta. Tercantum sebagai pengambil inisiatif antara lain Karlina Leksono-Supelli yang berkunjung ke Timor Timur beberapa waktu lalu, pengacara Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Luhut M Pangaribuan, Munir dari Kontras, dan organisasi Komunitas Muslin Indonesia untuk Timor Lorosae. Dalam surat pengantar petisi disebutkan inisiatif itu diambil karena "proses penyelesaian yang tersendat-sendat akibat terus terjadinya tindak kekerasan di wilayah Timor Timur." Dan petisi itu disebut sebagai "upaya kongkret untuk mendorong pemerintah Indonesia dan PBB untuk mengambil langkah-langkah tegas untuk mengakhiri kekerasan." Memang kekerasan nampaknya menjadi keprihatinan utama. Ini dapat dilihat dari butir-butir tuntutan yang antara lain menyatakan agar TNI ditarik dari Timor Timur, dan milisi secepatnya dilucuti. Hal ini disimpulkan setelah melihat berbagai kejadian tindak kekerasan yang melibatkan milisi dan TNI. Petisi itu juga menuntut agar para pelaku pelanggaran hak asasi manusia secepatnya ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Para penandatangan petisi berasal dari berbagai latar belakang dan daerah. Terlihat misalnya tanda tangan dari sejumlah nelayan di Biak, mahasiswa berbagai kota dan propinsi, dosen di Aceh, kaum santri dari perguruan Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kaum profesional di Jakarta. Petisi itu memang oleh para pengambil inisiatif diedarkan ke berbagai lapisan, kecuali orang Timor Timur sendiri. Menurut mereka, petisi ini adalah sebuah tindakan 'dari rakyat untuk rakyat', maksudnya dari rakyat Indonesia bagi rakyat Timor Timur yang sedang memperjuangkan haknya untuk menentukan nasib sendiri. Ketika diedarkan di sekolah-sekolah menengah, petisi itu mendapat sambutan yang baik. Para pelajar tercengang ketika mendengar apa saja yang dilakukan oleh milisi pro-otonomi dengan dukungan TNI. "Masa, sih?" ujar seorang pelajar SMU di Bandung. "Kok enak saja mereka membunuh orang atas nama Indonesia. Saya ini orang Indonesia, dan tidak setuju dengan tindakan mereka. Mereka sebenarnya bertindak atas nama siapa? Dan kenapa pemerintah kita kok diam saja?" Memang tidak banyak orang Indonesia yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Timor Timur. "Karena itu pula tanda tangan petisi ini baru sekitar 2.000," ujar Lefidus Malau. "Kami masih menunggu teman-teman dari Sumatera, yang menyebar di 150 tempat. Mudah-mudahan sebelum bulan Agustus sudah dapat kami terima." Menurutnya, cukup banyak daerah yang belum bisa mengirimkan karena petisinya diedarkan sampai ke pelosok-pelosok. Ada yang mengirimnya kembali melalui pos, ada yang dengan fax, atau membawanya sendiri ke sekretariat FORTILOS (Forum Solidaritas untuk Rakyat Timor Lorosae). "Maklum saja, namanya juga usaha dari rakyat untuk rakyat," ujar Lefidus. "Jadi perlu waktu juga untuk menggalangnya. Rakyat Indonesia itu sama saja seperti rakyat Timor Lorosae. Mereka hidup dalam penderitaan dan serba terbatas. Tapi justru karena itulah petisi ini menjadi penting. Petisi ini adalah dukungan langsung dari rakyat tanpa perantaraan partai atau elit politik tertentu. Inilah sikap sesungguhnya dari rakyat Indonesia." *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
