Precedence: bulk


Direito No. 03/27 Juli 1999

POLISI FITNAH UNAMET DAN LSM

Menkeh Muladi mengatakan, untuk mengamankan proses penentuan pendapat
pemerintah Indonesia perlu mengirim pasukan kepolisian yang terlatih dan
profesional. Dalam pengamanan penentuan pendapat, tentu Kesepakatan 5 Mei
merupakan satu-satunya acuan yang harus dipakai. Kesepakatan tersebut
menempatkan Polri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban. Itu berarti Polri
harus menindak siapa saja yang bertindak mengancam keamanan dan ketertiban
masyarakat.

Kejadian di Liqui�a (4/7) menunjukkan kenyataan yang sama sekali berbeda.
Sejumlah LSM yang tergabung dalam Tim Kemanusiaan untuk Pengungsi (TKuP)
diserbu milisi Besi Merah Putih (BMP) tepat di tengah kota Liqui�a. Kalau
melihat lokasinya, sulit dipercaya bahwa penyerangan itu bisa terjadi.
Lokasi tersebut diapit oleh Polsek Liqui�a Kota dan Polres Liqui�a. Beberapa
saksi mata juga mengatakan bahwa sejumlah anggota Polisi sedang bersiaga di
depan Polsek Liqui�a Kota ketika milisi BMP mulai menyerang. 

Gagal melaksanakan tugas pengamanan, Polisi justru main tuduh. Mulai dari
merekayasa tembakan pertama dari mobil UNAMET hingga tuduhan bahwa TKuP
hanya membantu kelompok pro-kemerdekaan. Tanpa mencoba mengecek faktanya
para petinggi Polri, termasuk Kapolda Kolonel Timbul Silaen, ikut-ikutan
menuduh. BN Marbun dari KPS menyambut tuduhan tersebut dengan versinya
sendiri. Tapi kesaksian beberapa relawan TKuP dan seorang anggota BMP yang
ikut dalam penyerangan itu, mengungkap kejadian sebenarnya.

Di persembunyiannya, salah seorang pelaku - sebut saja bernama Pedro,
menuturkan kesaksiannya kepada Direito. "Saya adalah anggota milisi Besi
Merah Putih (BMP). Saya menembak setelah komandan saya menembak. Tembakan
itu kami lakukan setelah anggota BMP yang lain mengobrak-abrik kaca mobil
UNAMET yang berada paling depan," katanya. Pedro juga menguraikan sepak
terjang para milisi BMP di wilayah itu yang selama ini menyebabkan
terjadinya kekerasan bagi sebagian besar penduduk sipil. 

"Saya adalah salah satu korban yang berhasil meloloskan diri ketika terjadi
penyerangan terhadap penduduk sipil di Gereja Liqui�a pada 5-6 April 1999.
Saat kejadian itu saya berhasil melarikan diri dan bersembunyi di hutan
selama lebih dari satu minggu. Karena tidak tahan lapar dan haus saya masuk
ke wilayah perkampungan di sekitar Liqui�a. Ternyata saya ditangkap oleh
para milisi dan diancam akan  dibunuh. Syukurlah, saya diselamatkan oleh
beberapa teman saya yang lebih dulu menjadi anggota milisi. Saya tahu mereka
mau menjadi anggota BMP karena dipaksa.

"Saya memang tidak dibunuh tapi setiap gerak-gerik saya selalu dipantau oleh
anggota yang lain, bahkan oleh beberapa rekan saya yang bertugas dalam satu
pos. Kami selalu didatangi oleh pasukan BTT dan komandan BMP, Ronaldo.
Mereka yang menjadi anggota BMP karena dipaksa memang selalu dicurigai.
Dikhawatirkan kami akan melarikan diri ke hutan, ke Dili atau ke tempat
lain. Karena kurang dipercaya kami yang berada dalam satu pos tidak diberi
senjata, baik yang rakitan maupun otomatis. Kami juga disuruh berjaga di
wilayah yang rawan dan sering diduduki oleh Falintil. Kami tidak disuruh
menjaga  penduduk yang pro-kemerdekaan, tapi kami disuruh menjaga jangan
sampai Falintil menyerang pos komando di kota Liqui�a Kota di samping Kodim
Liquisa itu. Kami juga tidak menjadi anggota Pam Swakarsa."

Penyerangan terhadap UNAMET dan TkuP pada tanggal 4 Juli itu terjadi di luar
rencana. Tuduhan polisi yang mengatakan, bahwa ditemukan senjata di dalam
mobil UNAMET dan tembakan dari anggotanya adalah bohong. Lalu, bagaimana
kejadian yang sesungguhnya? 

"Pada tanggal  4 Juli, karena sedang tak ada kegiatan saya jalan-jalan ke
pos komando. Saya kemudian diajak oleh Ronaldo untuk bergabung dengan
teman-teman anggota BMP dan anggota BTT 143 yang tengah minum tuak di pos
itu. Saya pun segera bergabung selama kurang lebih satu jam. Di sana kami
mabuk. Sekitar pukul 15.45, Ronaldo mengajak beberapa teman termasuk saya
untuk  pesiar ke Mercado Liquica dengan menumpang mikrolet "Vilamar" hasil
rampasan. Entah karena apa saya diberi dua senjata rakitan. Mungkin saja
karena kami mabuk. Lalu, kami beramai-ramai naik mikrolet menuju ke Mercado
Liquica. 

Sesampainya di depan KUD Kutu Lau kami berpapasan dengan konvoi. Yang
pertama kali kami lihat adalah mobil UNAMET. Kami langsung disuruh turun dan
diperintahkan untuk menghancurkan mobil UNAMET itu. Ronaldo lah yang
memerintahkan agar teman-teman saya memecahkan kaca mobil. Tak berapa lama
kemudian saya melihat Ronaldo melepaskan tembakan ke udara. Karena melihat
beberapa orang UNAMET keluar dari mobil, saya lalu diperintahkan oleh
Ronaldo untuk menembak mereka.  Saat itu saya berdiri persis di belakang
Ronaldo. Dan teman-teman BMP lainnya ada yang berdiri di depan, di samping
dan ada pula yang berdiri di belakang saya. Sebagian dari kami masih ada
yang memukul kaca-kaca mobil UNAMET. Pada saat itu ada satu orang anggota
UNAMET yang berada di depan kami. Saya mendengar Ronaldo berteriak, "Hei ...
kamu tembak orang itu." Dalam hitungan detik, saya segera membakar dan
mengarahkan senjata rakitan itu ke anggota UNAMET yang dimaksud Ronaldo itu.
Saat saya bakar senjata itu ternyata Ronaldo tak memperhatikan saya.
Langsung saja senjata itu saya ledakkan ke arah Ronaldo, tepat mengenai
sasaran. Tembakan saya mengena pada bagian perut bagian kiri, lengan kiri
dan kepalanya. Ronaldo berhasil saya lumpuhkan. Ia meraung kesakitan sambil
berteriak, "Hei ... kalian tembak lagi saya" sambil berusaha lari, tapi
karena lukanya parah ia langsung terkapar. 

Dari arah belakang saya mendengar teriakan, "Pedro yang menembak. Tangkap
dan bunuh dia sekarang." Saat mendengar suara itu saya segera membuang
senjata yang saya pegang lalu saya melarikan diri. Bersamaan itu saya
melihat mobil milik UNAMET juga sedang bergegas maju, saya berusaha
mengejarnya. Saya mencoba melepaskan senjata yang saya kalungkan di leher
lalu saya buang. Saya terus berlari mengejar mobil UNAMET dan berusaha naik.
Saat itu saya takut ditangkap dan dibunuh oleh teman-teman sesama anggota
BMP yang melihat saya. Dalam ketakutan yang sangat saya berhasil memegang
pintu mobil sebelah kanan. Saya segera masuk dan bersem-bunyi di dalam mobil
bersama-sama dengan beberapa anggota konvoi.  

Ketika mendekati kantor Polres saya turun tepat di depan Gereja Kristen
Protestan. Dari sana saya lari menuju ke arah belakang kantor bupati
menyusuri sungai, dan saya langsung menghilang di antara pohon kayu putih di
perbukitan Liqui�a. Di sana saya bersembunyi sampai sekitar pukul 19.00.
Kemudian saya menyusuri pantai menuju ke arah timur, ke Kota Dili. Setiba di
Tibar sekitar pukul 02.15 dini hari saya menumpang mikrolet dari Ermera lalu
menuju Dili. Lega hati saya setelah tiba di Terminal Tasi Tolu di Comoro. 

Nasib baik ternyata masih berpihak pada saya. Di terminal bus itu saya
bertemu dengan kenalan lama ketika di Liqui�a. Saya menumpang di rumah
Manuel selama dua malam. Kemudian saya melanjutkan perjalanan untuk menginap
di rumah salah seorang kerabat saya di Kota Dili.

Bagaimana dengan senjata yang dituduhkan berada di dalam mobil UNAMET?
Senjata itu saya lempar ke arah mobil yang sedang melaju tapi tidak masuk ke
dalam mobil. Saya masih melihat senjata yang saya buang tadi diambil oleh
salah satu dari anggota konvoi lalu diserahkan pada anggota UNAMET, yang
kemudian diserahkan kepada polisi yang berada di sana."

Dengan pengakuan ini, terjawab sudah teka-teki yang dimainkan oleh polisi
atas tuduhan penyerangan di Liquisa itu. Bahwa senjata rakitan yang
diserahkan oleh UNAMET kepada polisi adalah senjata yang diambil oleh UNAMET
dari Pedro. Adalah tidak benar jika suara tembakan itu berasal dari mobil
milik UNAMET. Tuduhan lain, bahwa insiden itu telah diprovokasi oleh TKuP
pun bohong belaka. Artinya, polisi telah menfitnah pihak UNAMET dan Tim
Kemanusiaan yang terdiri dari sejumlah LSM di Kota Dili. Untuk itu, polisi
harus bertanggungjawab!

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke