Precedence: bulk Direito No. 03/27 Juli 1999 ANAK GADIS DIPAKSA DANSA, ORANG TUANYA DIJEMUR Tidak puas membunuh orang dan menjarah harta milik warga, anak gadis desa disuruh meladeni anggota Milisi Besi Merah Putih (BMP) di Desa Mota-Ulun, kecamatan Bazartete. Setiap Sabtu malam, mereka mengadakan pesta. Dan, anggota BTT 143 di wilayah itu dianggap tamu agung. Semua orang tahu, pada April dan Mei lalu di Liqui�a terjadi pembunuhan, pembantaian, intimidasi dan teror. Penduduk sipil yang meninggal, korban yang luka dan harta benda penduduk akibat dari tindak kekerasan itu tak terhitung lagi jumlahnya. Demikian pula terjadi kekerasan pada bulan Juni. Sejak awal Juni itulah, di Bazartete setiap malam minggu, para milisi, Babinsa dan BTT 143 berpesta dansa dan berhura-ria. Cara ini digunakan sebagai alternatif untuk mengukur apakah penduduk sipil mendukung otonomi luas yang ditawarkan Indonesia. Setiap kali pesta, anak gadis diharuskan berdansa dengan para milisi. Bukan cuma itu. Layaknya sebuah pesta perlu memberi makan para tamu yang diundang. Untuk keperluan itu, mereka menangkap dan menyembelih hewan piaraan dan mengutip uang dari penduduk setempat secara paksa. Bagi gadis di desa itu yang tak mau hadir pasti dituduh anti-integrasi. Anggota keluarga mereka pun pasti tak luput dari teror dan intimidasi, bahkan diancam akan dibunuh. Akibatnya, penduduk di wilayah itu yang melarikan diri ke Dili, ke hutan dan ada pula yang pergi Atambua, NTT. Bagaimana kelakuan para milisi itu? Salah seorang korban menuturkan pengalamannya pada Direito, sejak awal Juni sampai menjelang penempatan kantor UNAMET di Liqui�a, aksi penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, intimidasi dan teror semakin menjadi-jadi. Aksi-aksi itu terus terjadi pada malam hari. Mereka mendatangi rumah penduduk dan mengancam, "Jika UNAMET datang di Liqui�a dan kalian ditanya mereka, kalian harus menjawab di sini aman, bebas dan dilindungi. Dan jika mereka bertanya kalian memilih otonomi atau merdeka, kalian harus jawab menerima dan mendukung otonomi," begitu pesan yang hampir setiap hari dijejalkan oleh milisi. Seorang gadis di desa itu, Natalia menuturkan, ketika ia tak datang ke pesta mereka, keluarganya didatangi Capriano de Fatima, anggota milisi dan Babinsa. "Meskipun kami diancam akan dibunuh, kami tetap tidak mau datang ke pesta." Natalia terbebas dari hukuman tapi keesokan paginya, 23 Juni, orangtuanya disuruh datang ke balai desa. Ternyata, orangtua Natalia disika lalu disuruh berlari dengan rute dari depan balai desa menuju ke SD Bazartete, berputar ke SMP Negeri Bazartete lalu kembali ke balai desa. Belum puas mereka menyiksa, orangtua Natalia masih dijemur di bawah terik matahari dari pagi sampai siang. "Bahkan, orang tua kami disuruh tidur terlentang dan menatap mata hari," kata Natalia. Tindak kekerasan oleh milisi itu pun segera diketahui oleh anggota UNAMET berkat laporan penduduk setempat. Tapi, Capriano de Fatima berbohong, "Warga sedang kerja bakti." Tak bosan-bosannya para milisi itu mengancam, jika Natalia tak mau lagi datang ke pesta maka keluarganya akan dibunuh. Itu tak hanya dialami oleh Natalia. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
