Precedence: bulk


Direito No. 03/27 Juli 1999

XANANA GUSMAO: PARAMILITER DICIPTAKAN INTELIJEN INDONESIA

Allan Nairn berhasil mewawancarai Xanana Gusmao di penjara khusus di
Salemba, Jakarta. Hasilnya disiarkan di Radio Pacifica untuk  program
"Democracy Now!", pada 3 Maret 1999, yang disiapkan oleh East Timor Action
Network, Amerika Serikat. 

Allan Nairn (AN): Apakah Anda bisa menceritakan siapa yang menciptakan
kelompok-kelompok milisi. Maksudnya, paramiliter yang sekarang menyerang
rakyat sipil di Timor Leste?

Xanana Gusmao (XG): Kami berkesimpulan, bahwa intelijen militer [Indonesia]
yang  menciptakannya. Mereka mengorganisir orang sipil dan memberi mereka
senjata untuk mengintimidasi penduduk, agar terlihat bahwa di Timor Leste
situasinya tidak terkendali dan memperlihatkan kepada dunia internasional
bahwa akan terjadi perang saudara. Menurut pendapat saya, Satuan Tugas
Intelijen (SGI) yang menciptakannya. Ini adalah bagian dari proses yang
ingin menciptakan situasi yang tidak stabil di Timor Leste dan mendesak
masyarakat Indonesia serta dunia internasional untuk menerima bahwa jika ada
referendum atau pilihan untuk merdeka, maka akan terjadi perang saudara.

AN: Jika rakyat Timor Leste bisa bebas memilih dalam sebuah referendum,
apakah Anda percaya mereka akan memilih kemerdekaan?

XG: Saya tidak percaya, tapi yakin. Hanya segelintir orang yang menerima
privilese selama 23 tahun [pendudukan Indonesia] yang ingin integrasi,
karena mereka hidup enak di zaman itu, atau karena takut adanya pembalasan
dari rakyat yang pro-kemerdekaan. Saya sudah meyakinkan mereka bahwa tidak
akan terjadi apa-apa pada mereka jika Timor Leste sudah merdeka. Mereka tahu
bahwa mayoritas rakyat menginginkan kemerdekaan langsung. Kami harus
menerima sebuah periode di bawah PBB untuk mempersiap-kan diri.

AN: Bulan Januari lalu, Habibie mengatakan jika rakyat Timor Leste menolak
otonomi, Indonesia akan mempertimbangkan kemungkinan memerdekakan Timor
Leste. Apa Anda percaya bahwa pemerintah Indonesia memang benar-benar akan
memberi kemerdekaan?

XG: Saya tidak melihat masalahnya dari sudut itu. Saya melihatnya dari sudut
lain. Presiden Habibie harus  sadar bahwa ia punya komitmen dengan dunia
internasional, bukan dengan masyarakat Timor Leste. Saya tidak
mengkhawatirkan kesungguhan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia punya
komitmen dengan dunia internasional. Jika rakyat Timor Leste menolak
otonomi, mereka harus memberi kami kemerdekaan.

AG: Apa yang Anda katakan dalam pertemuan dengan Madeleine Albright hari
dalam pertemuan lalu?

XG: Pertanyaan ini sulit dijawab, tapi bisa saya katakan pada Anda bahwa
saya menjelaskan situasi nyata di wilayah itu. Saya menjelaskan peran dari
pihak ketiga dalam proses ini dan menjelaskan bagaimana kami memandang
proses konsultasi, serta mengatakan kepada dia tentang perlunya kekuatan
polisi PBB [UN Police Force].

AN: Apakah Anda menyerukan agar pasukan PBB datang ke Timor Leste atau hanya
mengundang personel PBB yang tidak bersenjata?

XG: Kekuatan polisi PBB, kehadiran polisi.

AN: Kenapa Anda pikir hal itu perlu?

XG: Kami, Falintil, siap untuk meletakkan senjata, dan kami telah meminta
semua pihak untuk meletakkan senjata: bahkan orang Timor Leste yang bertugas
di ABRI dan kelompok-kelompok paramiliter yang bertempur melawan rakyat
sipil, sementara itu ABRI harus ditarik dari Timor Leste.

AN: Dan Anda juga akan menyerukan agar ABRI ditarik dari Timor Leste dan
sebagai gantinya meminta pasukan PBB untuk datang ke Timor Leste?

XG: Ya, karena tidak akan ada proses konsultasi yang damai jika semua pihak
belum meletakkan senjata. Ini adalah cara terbaik untuk meyakinkan setiap
pihak bahwa tidak ada kesempatan atau kemungkinan terjadinya perang saudara
... ABRI harus ditarik dari Timor Leste untuk menciptakan atmosfer yang
memungkinkan terjadinya proses konsultasi tersebut.

AN: Berapa lama Anda harapkan PBB berada di Timor Leste?

XG: Selama proses konsultasi berlangsung, dan mungkin ditambah enam bulan
lagi setelah itu, karena kami harus mengkonsolidasi proses rekonsiliasi.
Kami harus memperlihatkan kepada semua pihak bahwa kami sungguh-sungguh
dengan komitmen kami untuk melangsungkan rekonsiliasi sebelum proses
konsultasi. Kami harus mengkonsolidasi saling percaya antara orang Timor
Leste, dan saya merasa bahwa waktu enam bulan cukup bagi kekuatan polisi PBB
di Timor Leste.

AN: Setelah waktu enam bulan dan pasukan PBB meninggalkan Timor Leste, apa
yang akan terjadi kemudian?

XG: Setelah proses melucuti senjata, kekuatan polisi PBB akan memilih dan
melatih kandidat dari FALINTIL dan orang Timor yang masuk ABRI atau polisi,
yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia, dan membentuk sebuah korps polisi
Timor Leste untuk seluruh wilayah. Saya pikir jika ada proses yang damai
dalam periode konsultasi itu, kita juga akan memperoleh atmosfir yang damai
setelah proses konsultasi. Setelah tiga atau enam bulan kita dapat
bekerjasama untuk menghindari tindak kekerasan dan usaha menciptakan konflik.

AN: Anda telah bertemu dengan beberapa jenderal ABRI. Apakah Anda membahas
mengapa mereka membentuk dan mempersenjatai milisi di Timor Leste?

XG: Kita punya beberapa alasan, tapi sudah terlihat bahwa ada sebagian unsur
dalam ABRI yang tidak dapat menerima kekalahan perang di Timor Leste ini
secara psikologis. Maksudnya di sini para veteran perang dan mungkin juga...
faksi Kopassus, faksi dinas intelijen militer.

AN: Kopassus selama bertahun-tahun dilatih oleh militer Amerika dalam taktik
menembak jitu, perang psikologis, dan seterusnya. Apa dampak dari dukungan
ini bagi pasukan Indonesia dalam menjalankan tugasnya di Timor Leste maupun
Indonesia sendiri?

XG: Saya pikir dampaknya adalah mempersiapkan serdadu Indonesia untuk pergi
ke Timor Leste dan membunuh rakyat Timor Leste. Saya pikir Kopassus bukanlah
sebuah pasukan penyerbu, tapi sebuah dinas intelijen ABRI. Dalam perang,
dalam 23 tahun pendudukan, Kopassus terlibat dalam penangkapan, penyiksaan,
pembunuhan dan pemenjaraan terhadap rakyat. Saya pikir bahwa dampak dari
pelatihan oleh pendidikan militer Amerika Serikat, sangat buruk bagi Timor
Leste. 

AN: Sekarang ada usulan dari Kongres AS untuk memotong dan mengakhiri semua
bantuan dan persediaan senjata, amunisi serta pelatihan bagi ABRI. Apakah
Anda setuju dengan usulan ini, untuk menghentikan semua bantuan senjata dan
pelatihan bagi ABRI?

XG: Saya pikir usulan itu baik sekali, tapi tidak cukup hanya begitu. Saya
pikir, seperti saya katakan sebelumnya pada Anda, bahwa dinas intelijen
militer sangat buruk kelakuannya di Timor Leste sekarang ini. Saya lebih
senang sekarang karena  pemerintah AS terus menekan pemerintah Indonesia
untuk mengakhiri keberadaan SGI dan kekuatan militernya di Timor Leste.
Karena setelah Habibie mengajukan dua pilihan pada rakyat Timor Leste, maka
tidak ada lagi landasan dan alasan bagi mereka untuk tetap berada di sana.
Saya yakin jika mereka dibawa keluar dari Timor Leste, kami orang Timor
Leste dapat bekerjasama, dapat bertemu satu sama lain dan mempersiapkan diri
menghadapi masa yang krusial dalam proses konsultasi itu.

AN: Menurut Anda apakah pemerintah AS harus memberi kompensasi kepada rakyat
Timor Leste karena selama ini mendukung ABRI dalam membasmi rakyat Timor Leste?

XG: Yang coba kami katakan kepada AS adalah tolong beritahu pemerintah
Indonesia untuk menghentikan kekerasan di Timor Leste dan menarik dinas
intelijen militer dari Timor Leste. Karena menurut kami mereka itulah pihak
ketiga yang memegang peran penting untuk mengganggu penyelesaian dan
mendiskreditkan pemerintah Indonesia sendiri.

* Allan Nairn adalah jurnalis dari Amerika Serikat yang menjadi saksi mata
  pembantaian di Santa Cruz 12 November 1991.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke