Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------

LAGI, BII DIKERUK TIM HABIBIE

(POLITIK): Satu korban lagi terungkap. BII dibobol juga. Jangan-jangan
sejumlah bank pun jadi korban para operator Tim Sukses Habibie.

Sepandai-pandainya tumpai melompat, akhirnya jatuh juga ke kubangan.
Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perilaku Tim Sukses BJ
Babibie, yang bertugas menggalang dana untuk menyuap anggota MPR dalam
proses pemilihan presiden mendatang melawan Megawati Soekanoputri. 

Setelah ketahuan mengeruk uang negara dari Bank Bali (BB), Wakil Bendahara
DPP Golkar Setya Novanto, bos Mulia Grup Djoko Soegiarto Tjandra alias Tjan
Kok Hui, yang didukung oleh Ketua DPA AA Baramuli, Menteri Pendayagunaan
BUMN Tanri Abeng, bos Texmaco Marimutu Sinivasan dan sejumlah tokoh Golkar
lainnya, kepergok pula membobol Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank
Internasional Indonesia (BII) total senilai lebih dari Rp2,5 trilyun.

Itulah skandal perbankan terbesar yang membuat aib dunia perbankan,
semata-mata  money politics. Dengan obyek dan bank yang berbeda, Setya
Novanto dan Djoko Soegiarto Tjandra, berhasil mengeruk milyaran rupiah uang
milik negara ke kantong Tim Siluman.Yang pertama, melalui PT Era Giat Prima
(EGP), keduanya berhasil menagih piutang BB kepada tiga bank -diantaranya
BDNI, senilai Rp550 milyar lebih, yang tigaperempatnya masuk menjadi dana
Tim Sukses. Sedangkan sisanya, ke kantung mereka berdua. 

Kasus BB ini berawal dari kerja sama dengan PT EGP-milik Djoko Tjandra dan
Setya Novanto -yang melibatkan sejumlah elit politik Golkar. Kerja sama itu
adalah bisnis anjak piutang. Berdasarkan cessie (pengalihan hak penagihan
piutang), EGP tampil sebagai perantara (broker) pencairan tagihan BB ke BDNI
dan dua bank lainnya. Dengan informasi Pande Lubis, Wakil BPPN dan operator
Goklar lainnya, PT EGP mudah saja menilep uang milik negara.

Setya Novanto, memang ditugaskan untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya.
Sedangkan, Djoko Tjandra, selain memberi pelicin sampai 50% adalah pengusaha
yang betul-betul dompleng mencari keuntungan rupiah setelah sebagiannya
disetor ke kantung Habibie. "Dia itu hanya dipakai untuk melancarkan setiap
permohonan kredit. Karena Djoko seolah murni untuk berbisnis. Soal lain
kalau uang yang berhasil diraup kemudian disetor ke tim," ujar sumber Xpos
(Lihat profil Djoko Soegiarto Tjandra, red).

Ulah Setya Novanto dan Djoko, memang akhirnya ketahuan setelah pengamat
hukum perbankan Pradjoto SH berbicara lantang mengenai skandal keuangan BB
tersebut. Ditambah dukungan data dan analisa ekonomi PDI-Perjuangan dan
Golkar Putih pimpinan Marzuki Darusman, Tim Habibi ini terpojok. "Nantinya,
Setya Novanto yang akan dikorbankan," tambah sumber tersebut. 

Sebelum Setya Novanto dan Djoko Tjandra mengerjai BB, sebetulnya keduanya
juga sukses mengerjai BII, April lalu. Paling tidak sebelum ketahuan juga.
Masih atas informasi Baramuli dan Pande Lubis, Setya Novanto dan Djoko
Tjandra membuat skenario, yang sebelumnya dikonsultasikan pada BJ Habibie,
untuk mengambilalih kepemilikan Hotel Mulia di mana Djoko juga turut sebagai
pemegang sahamnya. Tujuannya, masih tak jauh. Mencari dana untuk timnya.
Kebetulan, hotel milik Eka Cipta Widjaya ini berutang kepada sindikasi bank,
yang dipimpin BII senilai US$200 juta atau sekitar Rp1,7 trilyun. Sedang di
pihak lain, BII memang membutuhkan dana rekapitalisasi. Nah, dengan cara
demi dana rekapitalisasi, Setya dan Djoko, berhasil membobol BII. 

Akibat tak mampu bayar utang, kepemilikan hotel tersebut akhirnya beralih ke
tangan Setya Novanto dan Djoko Tjandra, melalui (masih) PT EGP. BII sendiri
justru tak dapat apa-apa. Begitulah hebatnya, Setya dan Djoko. "Tapi, tanpa
peran empat pejabat Habibie dalam pengambilalihan Hotel Mulia, tanpa keluar
duit sepeserpun, mereka tak bakal bisa. Sama dengan cara Bank Bali," ungkap
sumber Xpos. 

Habibie, lewat Fanny dan Hariman serta Tanri Abeng, meminta keempat
menterinya itu memperhatiakn proposal yang diajukan Setya Novanto. Setya
Novanto dan Djoko kemudian bergerak mengatur strateginya. Meski, sebelumnya
dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, Bambang Riyadi Soegama, Enggartiasto
Lukito, termasuk juga Djoko Tjandra, apa boleh buat. "Yang berkuasa sekarang
kan Habibie. Eranya Bambang Trihatmodjo sudah lewat," sumber itu mencoba
merinci. 

Namun, hebatnya, Djoko Tjandra justru bisa bertahan dan malah akhirnya
menjadi pemilik hotel tersebut. Sedangkan Tim Sukses Habibie berhasil
mengantungi kurang lebih Rp400 miliar, sebagai fee. Toh, ulah Setya Novanto
dan Djoko akhirnya juga tercium. Pekan-pekan ini, skandal money politics
mulai terbuka. Kasus ini tentu akan terus bergulir. 

Meski menolak dana tersebut digunakan untuk kepentingan BJ habibie, namun
Golkar tak dapat berkutik lagi menampik sejumlah bukti yang disodorkan
Pradjoto dan tim gabungan PDI Perjuangan dan Golkar Putih. Ketua Umum DPP
Golkar Akbar Tandjung juga menegaskan, bisnis yang dikelola Setya Novanto,
tidak terkait dengan DPP Golkar."Silakan selidiki kasus itu. Jika ditemukan
bukti pelanggaran, yang bersangkutan harus ditindak tegas," Akbar membuka
jalan. Sebagai Ketua Tim Sukses Golkar, Akbar patut tersinggung dengan ulah
Tim siluman ini.

Seperti biasa, Baramuli mengelak, meski kaset rekaman pertemuannya dengan
Setya Novanto dan Djoko Tjandra beredar di masyarakat. "Tuduhan itu salah
besar," sangkal Baramuli. Namun, pernyataan itu dibantah pengamat ekonomi,
Hartojo Wigjopranoto. "Itu sudah seperti sistem mafia, para penguasa menekan
mereka yang masih punya duit untuk menyetor dana membiayai upaya untuk
menggolkan Habibie jadi presiden." 

Selain di dua bank tersebut, Tim Sukses siluman ini ternyata ikut main di
BRI. Lewat bos Mulia Grup Djoko Tjandra, tanpa Setya Novanto, tim ini juga
mengeruk dana. Kali ini, Djoko mengajak pengusaha The Ning King, berhasil
mendapatkan sejumlah dana trilyunan rupiah lagi untuk kreditnya, yang tentu
saja sebagain besar masuk lagi ke kantung Tim Sukses. Untuk melicinkan
jalannya, Djoko dan The Ning King memang harus memberi uang sogok ke Direksi
BRI, pimpinan Djoko Santoso Moeljono. Sumber Xpos menyebutkan bahwa sebagian
kredit yang diperoleh The Ning King dibayarkan untuk menyuap Jaksa Agung
Andi Ghalib, lewat rekening Gulat. 

BRI yang selama ini menyalurkan kredit khusus untuk petani dan pengusaha
kecil, akhirnya bangkrut sampai Rp2,8 trilyun. "Modusnya memang berbeda
dengan Bank Bali maupun BII. Tetapi, yang ikut main adalah Marimutu
Sinivasan, pemilik Texmaco. Peranan Djoko dan Sinivasan, adalah menyetor
sebagian dana yang diperolehnya untuk Tim Sukses Habibie," ungkap sumber
itu. Lagi-lagi Habibie. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke