Precedence: bulk


SAATNYA BICARA BAIK-BAIK [bagaimana membubarkan Indonesia secara damai]

Oleh: Ben Abel


Banyak istilah dan kalimat yang dipakai menggambarkan bagaimana rejim Soeharto
yang berkuasa absolut selama 32 tahun itu, hanyalah menitik beratkan pada
ekonominya. Dan ini masih berlangsung sekarang ini di jaman yang konon sedang
reformasi. Ambil saja, istilah yang dipakai tim peneliti LIPI, "salah urus
negara Orde Baru"  [lih. laporan Xpos no.27/II/8-14 Agustus 99, DISINTEGRASI
LEBIH BAIK] -- Dikatakan, masa sekarang ini Republik Indonesia mempunyai
potensi disintegrasi sebagai dampak dari "salah urus negara Orde Baru" -- Pada
saat yang sama mereka juga mengatakan korup dan represif serta militeristik
dstnya. Ini sama saja dengan bahasa Orde Baru yang sedang dikritik
habis-habisan itu. 

Sudah dikata, korup, represif, militeristik kok masih juga disebut sebagai
"salah urus" - Bukankah ini sama saja dengan istilah "mengamankan" yang semua
mengetahui arti sebenarnya adalah ditangkap, disiksa bahkan dilenyapkan.

Padahal istilah korup itu sendiri telah memaknakan kebusukan praktek
kesewenang-wenangan. Yang bukan saja sekedar mencuri uang. Membelokkan dana.
Memanipulasi segala  macam program. Bukan cuma yang bersifat materi, tetapi
juga yang kultural. Yakni program pembodohan, dan pembangkaian karakter "nation
building" dari Republik Indonesia. 

Lebih jauh lagi. Katanya, karya kerakusan kekuasaan rejim Soeharto telah
mengakibatkan "luka-luka" bagi daerah-daerah seperti Irian Jaya, Timor Timur
dan Riau, serta Aceh, Kalimantan dsb. Ini juga bahasa Orde Baru yang
meremehkan, betapa kerusakan dan kehancuran karakter "nation building" selama
32 tahun itu, hanya dinilai sebagai "luka-luka" belaka. Seolah-olah bisa
diobati dengan surat resep dokter kekuasaan.

Seperti, ketika massa rakyat Papua di Irian Barat menyatakan diri akan
keluar dari Republik Indonesia, Jakarta segera menawarkan pelebaran
propinsi-propinsi baru. Lalu ketika massa rakyat Dayak menuntut kembalinya
hak politik mereka, cepat-cepat Jakarta (pusat) menawarkan satu kursi DPR
bagi wakil etnis Dayak. Sama halnya dengan massa rakyat Badui. Padahal pada
saat yang sama kita mengkritik serta total menolak pelaksanaan bernegara
yang diazaskan pada kekuasaan seperti ini.

Mungkin yang namanya "orang Indonesia" masih tidak begitu sadar betapa
parahnya kerusakan serta kehancuran yang telah dilakukan rejim Soeharto, si
bapak pembangunan itu. Kalau hanya terpaku pada krisis moneter, kebangkrutan
duit dan hancurnya gedung-gedung atau materi lainnya pasti lah tidak akan
terjadi rasa "tidak mau tetap-Indonesia". Karena nasionalisme yang sebenarnya
ternyata bukanlah cuma romantisme kepahlawanan via monumen dan museum ABRI,
ataupun solidaritas kesamaan cita-cita akan material [gedung dan jalan raya
yang wah-WAH!], ia juga kebahagiaan dan kebanggaan akan siapa diri kita. Bahasa
klise orde baru, adalah masyarakat yang adil dan makmur lahir batin, tetapi
toh nyatanya adil dan makmur itu mesti untuk mereka atau atas belas kasihan
mereka. Dan ini tetap menjadi praktek rejim yang sekarang ini diklisekan
sebagai transisi. Sapa yang bisa percaya?

Jangan lupa rezim Soeharto itu tegak di atas bangkai-bangkai saudara sendiri
yang dibantainya di tahun 1965-1966. Tiga puluh dua tahun kerja keras rejim
Soeharto melakukan pemerasan dan banditisme, telah berhasil menghalau rasa
bangga sebagai rakyat dari Republik Indonesia dari massa rakyat Papua, massa
rakyat Aceh, massa rakyat Dayak dll-nya, sebagai rakyat dari Republik
Indonesia. 
Kebanggaan ini lah nurani kedaulatan Republik yang dihuni massa rakyat dari
bermacam-macam bangsa dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" dahulu. Tetapi
akhirnya, setelah 32 tahun mengalami penindasan serta penganiayaan harkat
dan martabat lahir batin, kebanggaan sebagai rakyat Republik Indonesia telah
hancur lebur. Inilah sebenarnya yang paling tidak mungkin diobati dengan
tawar menawar resep, seperti yang disampaikan di atas tadi. Entah itu dengan
apa yang disebut perbaikan hubungan sipil-militer, ataupun pusat dan daerah.
Maupun penyerahan kembali sumber-sumber kekayaan alam setempat. Atau
membangun mesjid, gereja, pura dsb. Hal-hal semacam itu sering dijadikan
ajang dan sasaran politik adudomba serta politik pecah-belah dan kuasai
(divide et impera) itu. 

Soalnya, bagaimana jiwa yang telah keropos dinista aktifitas banditisme selama
tiga dekade itu akan bisa diobati? -- Masih bisakah? -- Kehancuran jiwa
bukanlah sama dengan luka-luka kena tembak senjata ABRI. Atau memar dan patah
kaki maupun tangan setelah ditendang sepatu lars, maupun dihantam popor bedil.

Sekarang semua ramai berteriak reformasi, demokrasi dan entah apa lagi. Toh,
nyatanya hanyalah nyanyian perebutan kedudukan bermacam golongan dan kelompok
yang haus kekuasaan. Sama sekali tidak adasentuhan nurani untuk memikirkan
nasib massa rakyat, kecuali dipakai sebagai barang dagangan mereka. Banyak
pejabat jatuh bangun. Banyak juga yang seperti merasa "inilah saatnya bagi
kita." 

ABRI tidak bubar, tetapi diparkirkan. Lalu dipasang TNI dan POLRI. Buktinya,
aksi banditisme ala rejim Soeharto yang "lengser" hampir 15 bulan yang lalu
itu, masih tetap dilaksanakan. Padahal semua orang bisa dan boleh bicara.
Kebebasan sudah luas. Semua seolah bisa dibongkar dan diadili. Nyatanya ....?

Jangankan peristiwa penembakan mahasiswa di Jakarta atau pemerkosaan di bulan
Mei 1998 itu! Korupsi kekayaan negara oleh keluarga Soeharto yang jelas-jelas
bertengger menjulang di depan hidung orang-orang di Jakarta sekalipun tidak
bisa dibuktikan oleh pengadilan Republik Indonesia. Sementara pembantaian
terhadap sesama manusia di Aceh, Ambon, dan Irian Jaya masih tetap berjalan
dengan buasnya. Bahkan besar kemungkinan akan dilaksanakan juga di setiap
daerah dan tempat yang dicap sebagai daerah rawan [separatis]. Apalagi kalau
kita ingat rencana undang-undang bela negara yang sebentar lagi akan
disyahkan oleh DPR. Dalam draftnya, dikatakan, seorang babinsa [bintara
pembina desa, merangkap intel militer sekaligus centeng dan pemeras di desa]
bisa melaporkan aktifitas masyarakat setempat ke pusat, dan boleh menjadi
alasan menetapkan wilayah tersebut sebagai DOM [Daerah Operasi Militer]!

Ini kah nanti hadiah reformasi? Sudah lima belas bulan diktator lengser.
Sampai sekarang tidak ada satu pun agenda yang jelas untuk mereformasi
kehancuran Republik Indonesia --- Nah!

Apa yang tersisa dari Republik Indonesia sekarang? Yang bisa dibanggakan oleh
rakyat dari massa rakyat bangsa-bangsa di sebagian Nusantara ini? 

Saya kira sudah saatnya kita bangsa-bangsa dan orang-orang di Nusantara ini,
mulai mendiskusikannya. Mempersiapkan diri semanusia-manusianya. Ayo kita
berbicara secara baik-baik, membubarkan Republik Indonesia dengan cara damai.
Karena yang dibela selama ini hanyalah persatuan dan kesatuan yang sama saja
dengan jalan pikiran rezim Soeharto dulu. Yakni, persatuan dan kesatuan menurut
PUSAT. Yang tidak sejalan digebug.

Banyak kekhawatiran dihembus-hembuskan yang sebenarnya adalah kekhawatiran
orang-orang di Jakarta belaka. Terutama dengan istilah disintegrasi.
Indonesia pecah! Yang jelas kekhawatiran begini lah yang merupakan ide politik
keamaman rejim Soeharto atau apa yang selalu disebut sebagai security
approach. Jadi dalam kepala mereka justru masih lengket ide security
approach. Padahal sudah lama ditentang, dan pada saat yang sama mereka juga
teriak perihal otonomi. Bisa difahami bahwa kekhawatiran ini lebih beralasan
lantaran kepentingan Jakarta lah yang terancam. Manakala yang dikatakan sebagai
daerah tersebut lepas, mempunyai otonomi, merdeka, jelaslah benefisial
yang selama ini mengalir dari hubungan si penjajah dan si terjajah akan terputus
sama sekali. Inilah ide raksasa persatuan dan kesatuan yang membusuki
kebanggaan Indonesia. Sementara rejim Habibie tak bisa dipungkiri lagi, ia
tetap lah bermentalitas rejim Soeharto juga.

Sekali lagi. Apalah yang bisa dibanggakan dari Republik Indonesia begini ?

Maka itu opsi Republik Indonesia bubar secara damai adalah upaya yang
berakal budi dan sangat manusiawi. Ia bukanlah kehancuran manusia. Justru
sebaliknya,
secara ngotot mempertahankan persatuan dan kesatuan seperti yang sudah dan
sampai sekarang ini diberlakukan, adalah penghancuran. Karena yang diutamakan
bukan lagi akal budi dan keberadaban, tetapi mengumbar nafsu saling mengusai
satu dan yang lainnya. Yang akhirnya berakibat seperti daerah Balkan maupun
Uni Soviet. Ah, Indonesia yang terkenal dengan adat ketimuran ayang halus
budi serta bahasa itu, masakan akan begitu?

Nah, bicaralah secara baik-baik. Dan bubarkan Republik Indonesia dengan damai.
Daripada mempertahankannya dengan saling bunuh terus-menerus, 'kan mending
begitu.

[beN abeL, iTHaCa, 13 Agustus 1999] <email address deleted>

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke