Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 29/II/22-28 Agustus 99 ------------------------------ MENUNGGU HABIBIE TERDONGKEL (PERISTIWA): Setelah Pande Lubis, Setya Novanto dan Djoko Candra, "korban lebih besar" akan terseret. Benarkah BAIS berada di balik operasi ini? Minggu-minggu ini suhu politik di dalam negeri kian memanas. Awalnya memang bermula dari berbagai soal ekonomi, yaitu kasus-kasus perbankan berbau KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) seperti yang terungkap di Bank Bali (BB), lalu belakangan di Bank Internasional Indonesia (BII). Tapi, karena telah melibatkan sejumlah elit politik, tak pelak lagi hal ini menjadi pertarungan politik tingkat tinggi. Bertemunya Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung, 12 Agustus lalu, adalah salah satu puncak peristiwa yang menandai serunya pertarungan ini. Selama ini, meskipun status resminya adalah orang tertinggi dalam Partai Golkar, namun Akbar Tanjung selalu ditelikung oleh "Tim Sukses Habibie." Dalam Rapim Golkar bulan Mei lalu, misalnya. Ia harus merelakan dirinya tergusur sebagai salah satu dari lima calon presiden Golkar. Ketika itu, karena kelihaian para pendukung Habibie, Rapim Golkar pun memutuskan Habibie sebagai calon tunggal presiden RI periode mendatang. Mungkin karena dibayangi 'sukses' sebelumnya itu, "tim sukses" yang tokoh-tokoh intinya antara lain melibatkan AA Baramuli, Tanri Abeng, Fanny Habibie dan Hariman Siregar ini, terkesan menjadi terlalu percaya diri. Mereka disebut-sebut memiliki sumber keuangan yang tak terbatas dan dapat melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Mempertahankan kursi presiden adalah tujuan yang pasti bakal bisa mereka raih. Kasus BB dan BII tanpa diduga-duga, kini mengancam keberadaan mereka. Betapa tidak? Cara-cara kotor mereka menggali "sumber dana tak terbatas" itu, kini mulai terungkap satu-persatu. Ibarat perang, ketika sumber logistik telah digempur, maka kejatuhan hanyalah soal waktu belaka. Inilah yang dimanfaatkan dengan cerdik oleh Akbar Tanjung. Dengan melakukan pertemuan simbolik dengan Mega, ia mencoba menunjukkan bahwa posisinya berbeda dengan "tim sukses Habibie". Ini akan menyelamatkan karir politiknya (menurut seorang pengamat, sejak dulu karir politik Akbar selalu 'selamat'). Sebaliknya, PDI-Perjuangan yang sadar betul bahwa "tim sukses Habibie" adalah ancaman terbesar bagi pencalonan Megawati sebagai presiden langsung memanfaatkan momentum. Caranya, melalui pernyataan Kwik Kian Gie ketika melakukan konferensi pers bersama dengan "si pembongkar" kasus BB Pradjoto, yang sengaja membedakan antara "Golkar Hitam" dan "Golkar Putih" serta langsung mengulurkan ajakan kerjasama dengan "Golkar Putih". Tentu saja ini merupakan pukulan telak buat Habibie. Apa yang kini dilakukan para pendukung Habibie adalah mencoba habis-habisan meminimalisir risiko. Supaya, kalau memang harus ada yang dikorbankan, takkan sampai ke Habibie. Baramuli, misalnya, mati-matian membantah Habibie menerima uang sebesar Rp400 miliar dari kasus BB. Cara meminimalisir risiko ini misalnya, membatasi pelaku utamanya hanya pada Wakil Bendahara Golkar Setya Novanto, deputy chairman BPPN Pande Lubis dan pengusaha Djoko Chandra. Sebuah demonstrasi beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh Humanika (yayasan milik Bursah Zarnubi, Ketua GPRI yang pro-Habibie) hanya menuntut ketiga nama tadi untuk diadili. Berhasilkah?. Belum tentu. Media terus menggempur habis-habisan melalui berbagai artikel dan ulasan soal kasus BB. Karena itu, Baramuli dan kawan-kawan, tampaknya telah bersiap-siap mengorbankan nama yang lebih besar, yaitu Menteri Keuangan Bambang Subianto dan Kepala BPPN Glenn Jusuf. Tapi usaha ini pun, agaknya tidak bisa membendung gelombang tuntutan yang kini muncul. Apalagi kini, telah terungkap rekaman yang mengindikasikan keterlibatan "tim sukses Habibie". Tak pelak lagi, nama-nama lain dalam lingkaran inti tim tersebut, pasti kelak terseret satu-persatu. Seandainya, dua nama saja dari tim itu, Baramuli dan Tanri Abeng terseret dan diproses secara hukum, maka akan sulit bagi Habibie untuk bertahan. Semua permainan bisa terbongkar, dan tanpa logistik, tak ada lagi perlawanan yang berarti. Siapa di balik bobolnya informasi-informasi A1 yang melibatkan "tim sukses" Habibie? Kemungkinan pertama adalah, datangnya dari lingkaran dalam dari tim tersebut. Namun, ini agak sulit diterima, mengingat tidak adanya kepentingan yang cukup kuat bagi orang-orang di sekitar Habibie untuk mengamputasi kepentingannya sendiri. Kemungkinan lain, informasi tersebut didapatkan oleh orang-orang yang terlatih. Beberapa sumber Xpos menyebutkan, bahwa ini semua bisa terjadi karena adanya campur tangan pihak intelejen, Badan Intelejen Strategis (BAIS). Dan tak usah heran, bila satu per satu kasus yang melibatkan Habibie dan orang-orang dekatnya, bakalan terungkap. Setelah kasus BB dan BII, akan ada lagi kasus lain. Misalnya, bukti bahwa Habibie sampai kini masih terus membayar pajak untuk pemerintah Jerman sebagai warga Kota Achen. Ini juga bakal jadi pukulan telak, mengingat dalam UUD '45 ditegaskan bahwa presiden RI adalah WNI asli. Kelompok Habibie bukan berarti akan tinggal diam. Didukung oleh badan intelejen lainnya, BAKIN, yang dipimpin oleh ZA Maulani, perwira tinggi militer yang tergabung di ICMI, mereka pasti akan melakukan manuver lain. Kita saksikan saja. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
