Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 29/II/22-28 Agustus 99
------------------------------

DARAH BARU UNTUK MEGAWATI

(POLITIK): Setelah mendapat dukungan penuh dari DPP PKB dan mendapat angin
dari Partai Golkarnya Akbar Tanjung, kini Mega mendapat dukungan dari para
ulama NU. Peta politik nasional kembali berubah.

BJ Habibie, calon presiden tunggal Golkar sudah coreng moreng setelah
terbukanya skandal Bank Bali. Bahkan sudah seharusnya dia mengundurkan diri
dari pencalonan, karena selain skandal itu sudah menjadi tanggungjawabnya,
para pendukungnya pun sudah meninggalkannya. 

Sedangkan itu posisi calon presiden yang lain, Megawati semakin kuat saja.
Upaya penolakan terhadap calon presiden wanita yang didengung-dengungkan
oleh lawan politiknya bahkan dengan memakai Fatwa Majelis Ulama, pun
akhirnya jebol juga. Sebab mayoritas masyarakat tetap mendukung Megawati.
Bahkan sebuah jajak pendapat membuktikan bahwa 61% ulama Nahdlatul Ulama
(NU), tidak keberatan bila harus wanita yang menjadi presiden. 

Kesimpulan hasil survei Yayasan Semesta yang dilakukan selama sebulan dari
20 Juni s/d 15 Juli 1999 itu tidak main-main. Sebab surveinya dilakukan
terhadap 1.057 ulama dan atau kiai NU di Jawa dan Madura yang antara lain
terdiri atas 318 pengasuh pesantren, 218 aktivis ormas, 196 pengasuh
pesantren sekaligus aktivis ormas, dan 66 aktivis orpol dan hasilnya 642
ulama setuju wanita presiden, 339 tidak setuju dan 76 abstain. Adapun alasan
persetujuannya macam-macam. Dari 642 ulama yang setuju, 464 memberikan
persetujuan dengan alasan politik kebangsaan, 129 ulama berdasarkan syariat
agama, dan alasan figur 41 ulama. Sedangkan 339 ulama yang tidak setuju,
sebagian besar (258 orang) menolak dengan alasan syariat agama, kepentingan
nasional 56 ulama, dan kebudayaan 15 ulama, serta lain-lain 10 ulama.

Memang, sejak semula para petinggi NU sudah membuka diri atas calon presiden
wanita. Katib 'Aam PB NU, KH Dr Said Aqiel Siradj berulang-ulang mengatakan,
bahwa persoalan wanita menjadi presiden merupakan masalah fiqh yang sampai
hari kiamat pun masih terbuka untuk dipersoalkan. Sebab menurutnya, soal
fiqh berbeda dengan syariat Islam yang tidak bisa dipersoalkan lagi.

Said Agil pun mengeluarkan argumen sejarah, bahwa mazhab Imam Syafii yang
dianut sebagian besar umat Islam Indonesia memang mengharuskan pria menjadi
pemimpin. "Tetapi, Imam Malik guru Imam Syafii membolehkan wanita jadi
pemimpin. Itulah fiqh," ujarnya.

Menurut Said, darah pertama yang tumpah membela nama Islam pun adalah darah
Sumayah, ibu dari pejuang Islam Amir bin Yasir. "Jadi, peran wanita dalam
sejarah Islam juga tidak perlu diragukan. Selain Sumayah, ada Aisyah yang
telah meriwayatkan sekitar 2.000 hadis," ujarnya.

Adapun di kitab kuning yang menjadi referensi ulama dalam fiqh siyasah
(fiqih politik) belum ada yang membahas soal presiden. Di sana hanya bicara
soal khalifah atau imamah, yang konsepnya jauh berbeda dengan lembaga
kepresidenan.

Khalifah atau imamah, tidak serta merta berfungsi sebagai kepala negara
tetapi sekaligus penyelenggara syariat Islam. Khalifah Abu Bakar misalnya,
tidak hanya menjadi kepala negara bagi kawasan Hejaz, tetapi seluruh dunia
Islam. 

PB NU juga tidak akan mempersoalkan siapa yang menjadi presiden mendatang.
Yang terpenting, yang bersangkutan terpilih secara demokratis. "Sejak dulu,
sikap PB NU memang begitu. Jadi, siapa pun yang nanti jadi presiden, kita
akan menerimanya. Yang terpenting, harus dipilih secara demokratis," kata
Rois Aam PBNU KH Ilyas Ruchiyat.

Namun menurut kyai asal Tasikmalaya, Jabar ini mengatakan, NU telah
memberikan kewenangan penuh pada pengurus PKB untuk mengambil keputusan
sendiri. Sebab, meski didirikan oleh NU, PKB pada hakikatnya telah menjadi
organisasi politik tersendiri. 

Sementara itu, Habibie sebagai capres andalan Partai Golkar hingga sekarang
ini belum memiliki dukungan yang jelas dari partai-partai reformis yang
memperoleh suara dalam pemilu. Bahkan posisi politiknya kini, semakin hari
semakin buruk saja. Tanggungjawab penyelesaian kasus KKN Orde Baru tak
pernah terselesaikan (terutama KKN mantan Presiden Soeharto), bahkan semakin
merajalela. Di tambah dengan terbukanya sejumlah skandal politik dan
ekonomi, polarisasi pendukungnya di Golkar, semakin membuat posisi Habibie
limbung tak karuan. 

Karena itulah, jalan terbaik yang seharusnya ditempuh Habibie adalah:
mempercepat pertanggungjawaban sebagai presiden dan membatalkan pencalonan
dirinya menjadi presiden. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke