Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 30/II/29 Agustus-4 September 99 ------------------------------ MACAN OMPONG (LUGAS): Ada dua hal yang membuat sejumlah "Macan Asia", bisa cepat keluar dari krisis ekonomi. Pertama, memiliki pemimpin yang relatif bersih dan dipercaya rakyat. Kedua, mempunyai strategi pemulihan ekonomi yang benar. Untuk poin kedua ini, langkah pertama yang dilakukan adalah upaya menguatkan pondasi utama penyaluran modal melalui pembenahan dan penyehatan sistem perbankan. Bank ibarat jantung yang memompakan aliran modal guna menghidupi semua sektor. Kedua faktor ini bagaikan 2 pasang tungkai yang menopang sang macan. Kehilangan sepasang, akan berarti fatal. Andaikan badai krisis kembali melanda, pasti sulit untuk bangkit, melompat dan menyambar peluang yang tersedia di depan mata. Bayangkan, bila kedua pasang tungkai tadi sama sekali tak ada. Ketika terhempas krisis Asia, kurang dari 2 tahun lalu, Korea Selatan nyaris kehilangan kedua kakinya. Pemerintahannya dikenal korup, demikian pula sistem perbankannya yang collapse terlilit utang. Untungnya, pemilu akhir 1997 menghasilkan presiden yang dipercaya rakyat. Financial Times menulis, "Banyak analis percaya, kelebihan Mr. Kim (Presiden Kim Dae-jung, red.) dalam segi moral sangat membantu, dalam memenangkan dukungan publik untuk melakukan reformasi kendati menimbulkan rasa nyeri." Di bawah Presiden Kim, restrukturisasi sejumlah perusahaan tak laik modal -yang berdampak besar bagi pengangguran- dapat lebih mudah dilakukan. Kini, dengan strategi mengatasi krisis yang benar, Korsel adalah "Macan Asia" yang paling cepat mengaum. Lihat pula pengalaman Macan Asia lainnya. Benar bahwa Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, mulai menurun popularitasnya. Tapi, regulasi perbankannya yang hati-hati, menyelamatkan negeri jiran itu dari krisis yang parah. Begitu pula halnya dengan Singapura dan Filipina, yang relatif tak tenggelam di masa krisis. Thailand, setelah dipimpin Perdana Menteri Chuan Leek-pai, secara khusus meminta Bank Dunia mendampingi proses penyehatan bank mereka. Setidaknya, mereka semua mencoba bangkit berdiri. Tapi, apa yang terjadi di Indonesia? The Economist menyebut sistem perbankan Indonesia sebagai "yang paling korup yang pernah ada di dunia." Bank Bali yang modalnya sudah hendak disuntik oleh pemodal besar -Standard Chartered, malah di-obok-obok. Dana masyarakat yang terhimpun dalam bank itu dimanipulasi. Dan gilanya, digunakan membiayai kampanye presiden yang tak didukung oleh rakyat. Celakanya lagi, tak ada sanksi hukum dijatuhkan. Kita bukan saja lumpuh, tapi juga ompong. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
