Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 30/II/29 Agustus-4 September 99 ------------------------------ TNI REPOSISI = AMBIL POSISI (POLITIK): Soesilo Bambang Yudhoyono menyodorkan tiga skenario ramalan politik. Skenario terburuk, TNI akan amankan situasi. Maksudnya? Di hadapan para profesional pasar modal Jakarta (24/8), Kepala Staf Teritorial Letjen Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan ramalan politik. Tiga ramalan TNI itu mengantisipasi segala hal sosial politik yang sekiranya bisa terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Ramalan pertama, terjadi konsensus di antara pimpinan politik mengenai pembagian kekuasaan yang diterima oleh semua pihak sebelum Sidang Umum MPR, termasuk dalam pemilihan calon presiden. Ramalan kedua, sama sekali tidak ada konsensus. Semuanya diserahkan pada proses yang terjadi dalam MPR dan hasilnya diterima oleh rakyat. Ramalan ketiga, pemilihan presiden dilakukan secara voting oleh MPR tetapi hasilnya tidak diterima rakyat. Ramalan ini, meskipun dangkal, menarik dikaji. Pakar politik Dr. Hermawan Sulistyo berkomentar tidak ada suatu hal baru dalam pernyataan Yudhoyono. "Semua orang Indonesia yang tahu politik dasar saja bisa memprediksi tiga hal itu," kelakar Hermawan dalam satu perbincangan informal dengan para aktivis mahasiswa. Kalau dipertajam menurut Kiki, panggilan akrab Hermawan, ideologi TNI itu mendukung saja siapa yang menang asal tidak mengganggu kepentingan ekonomi politik tentara. Kalau yang menang tidak didukung rakyat, ya TNI rebut kekuasaan itu saja. Meski didesak oleh seorang profesional dengan pertanyaan siapa yang sesungguhnya didukung TNI, Yudhoyono tak mau menjawab. Hanya secara tersamar, peserta seminar bisa membaca apa yang tersirat dari ramalan itu. Skenario pertama bisa dibaca bahwa sebelum Sidang Umum, reputasi Habibie sudah jatuh dan elit politik secara bersama menyepakati sebuah komunike untuk mendukung Megawati. Skenario kedua, kubu Habibie masih mampu bertahan dengan segala cara termasuk menggunakan politik uang untuk mencalonkan diri di Sidang Umum MPR, tetapi kubu Megawati berhasil merangkul atau menetralisir kekuatan politik Poros Tengah dan TNI, ditambah dukungan massa ekstra parlementer yang menolak pencalonan Habibie. Hasil akhirnya, Megawati terpilih sebagai presiden. Skenario ketiga, segala cara yang dihalalkan kubu Habibie termasuk dalam pemilihan utusan golongan dan utusan daerah ternyata berhasil mengumpulkan suara yang lebih besar daripada suara pendukung Megawati untuk jadi presiden. Putusan MPR ini akan membangkitkan kemarahan yang luar biasa dari massa rakyat. "Dan pada saat inilah, bisa jadi TNI akan ambil alih kekuasaan dari Habibie," simpul Hermawan. Menurut Bambang Yudhoyono, jika skenario ketiga yang terjadi, maka pertama-tama yang akan dilakukan oleh TNI adalah menghentikan kerusuhan dan memberikan peluang kepada elite politik untuk duduk bersama mencari dan menyepakati suatu solusi. "Tentu saja solusi yang konstitusional," kata Bambang. Seorang peserta berkomentar secara berbisik, "Makanya TNI ngotot betul untuk menggolkan Rancangan Undang-Undang Keselamatan dan Keamanan Negara." Lebih daripada soal konstitusional, persoalan memberikan peluang kepada elite politik untuk duduk bersama mencapai kesepakatan sesungguhnya adalah suatu hal yang sulit. Kecuali, memberi peluang itu bisa dibaca sebagai penghalusan dari cara memaksa. Bila hal ini yang terjadi, tak ubahnya pemerintahan sipil baru berada dalam kontrol dominasi militer. Inikah yang dimaksud dengan reposisi TNI sebagaimana pernah juga diungkapkan Bambang Yudhoyono beberapa bulan lalu? Bambang tak memberikan jawaban. Informasi yang dibocorkan dari Mabes TNI mengungkapkan, sekarang TNI berada dalam pilihan-pilihan yang sulit. Apalagi TNI tidak sekompak yang dilihat orang dari luar. Yudhoyono, kabarnya, termasuk jajaran pimpinan yang menginginkan TNI hanya di garis belakang dalam politik sementara banyak perwira tinggi yang masih punya ambisi untuk memimpin di depan, termasuk mendesak Yudhoyono sendiri untuk maju jadi presiden bila saatnya tiba. Singkatnya, ada TNI putih ada TNI hitam. Soal putih atau hitam ini, aktivis Fadjroel Rachman punya komentar menarik. "Tergantung bagaimana kita pada dasarnya melihat TNI. Kalau kita melihatnya sebagai ular, ya baik ular putih atau ular hitam ataupun ular belang, semuanya tetap ular!" tutur Fadjroel. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
