Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LOROSAE (5)

Dear Joko dan Riri,

Kita semua sudah tahu apa yang diinginkan rakyat di Timor Lororsae. 
Mayoritas dari mereka menginginkan kemerdekaan, melepaskan diri dari 
Indonesia, mereka menolak tawaran otonomi luas. Artinya, mereka ingin 
menjadi bangsa yang merdeka. Bagi rakyat Timor Lorosae ini bukan hal yang 
baru, karena mereka telah menginginkan kemerdekaan ini sejak 24 tahun lalu. 
Dan mereka tak pernah lelah apalagi menyerah dalam memperjuangkan 
kemerdekaan. Kalian tahu, berapa ratus ribu orang yang mati ketika Indonesia 
menginvasi sebuah negeri yang kecil, di bagian timur ini. 

Aku bersama sahabat-sahabatku pagi di Sabtu 4 September 1999. Kami 
menyaksikan siaran televisi Portugal yang menyiarkan pidato Sekjen PBB. Aku 
tahu apalagi mereka. Sahabat-sahabatku pasti yakin tahu bahwa mereka akan 
merdeka. Aduh, begitu pengumuman itu selesai dibacakan, mereka langsung 
meloncat gembira. Kami saling berpelukan dan bertangisan. Hanya itu. Aku 
tahu, kemerdekaan bagi sahabat-sahabatku itu merupakan satu langkah awal 
untuk meniti sebuah jalan yang masih panjang. Bahkan mungkin teramat 
panjang. Tak ada perayaan, tak ada pesta dan tak ada luapan kegembiraan di 
jalan-jalan, seperti yang kalian bayangkan sebelumnya. 

Apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Tak ada. Sepi. Dan senyap.

Kota Dili, yang sebesar Pasar Minggu di Jakarta, seperti tak ada penghuninya. 
Padahal, sejak kedatangan UNAMET di sini, kota Dili menjadi ramai, apalagi 
setelah jurnalis asing datang ke mari. Kamu tahu, kota Dili seperti sebuah 
kota internasional. Manusia dari berbagai negara dan bangsa ada di sini. 
Tapi perubahan datang begitu drastis. Kota Dili setelah pelaksanaan 
referendum itu memang jadi seperti kota mati. Aku tahu, mereka telah mencari 
tempat yang aman akibat teror dan intimidasi oleh aparat yang bersenjata. 
Mereka memilih tempat di hutan-hutan. Ya, ribuan penduduk kota Dili kembali 
mengungsi setelah milisi Aitarak dan Besi Merah Putih melakukan serangan 
beruntun di seluruh kota. Kaum perempuan dan anak-anak yang panik berlarian 
ke daerah perbukitan di selatan, sebagian lain melarikan diri ke 
tempat-tempat yang mereka anggap aman. Beberapa kampung, khususnya di daerah 
Dili Timur sudah melompong. Penduduk lari membawa barang-barang seadanya 
akibat dari teror pembunuhan dan penculikan yang dilakukan milisi Aitarak 
dan Besi Merah Putih itu. Mereka tinggal di hutan, entah sampai kapan. 
Kalian tahu, mereka pasti kedinginan karena tak ada tempat untuk berlindung. 
Mereka pasti kelaparan karena tak cukup membawa bekal. Anak-anak dan 
orangtua tentu akan sakit. Siapa yang mengurus mereka? Siapa yang membantu 
mereka? Mungkin bukan itu pertanyaan yang pantas kita ajukan. Tapi kenapa 
mereka harus bersembunyi dan kenapa mereka merasa tak aman tinggal di rumah 
sendiri, tinggal di wilayahnya sendiri? Siang sampai sore tadi, setelah 
pengumuman kemenangan mereka, semakin banyak orang yang tak aman tinggal di 
rumah sendiri. Kalian tahu, ada ancaman, yang pasti jelas siapa yang 
melakukannya, bahwa akan ada penyerbuan, akan ada pembunuhan. Teror dan 
intimidasi merebak di sana dan di sini. 

Joko dan Riri, malam ini situasi Kota Dili semakin mencekam. Saat aku 
menulis surat ini seperti aku sedang menonton film perang. Sejak sore tadi 
bunyi tembakan semakin sering. Tembakan itu datang beruntun. Semakin larut 
suara itu seperti bunyi letusan senjata yang saling menembak, bukan lagi 
memberi tembakan peringatan. Hampir setiap 5 menit rentetan tembakan 
terdengar di mana-mana. Dan itu bukan lagi bunyi senjata rakitan. Jangan 
tanyakan, siapa yang melakukan semua ini. Bener, Ri, mendengar semua itu aku 
seperti gagu. Kenapa mereka masih melakukan teror dan intimidasi pada rakyat 
yang baru saja membuktikan pada dunia, bahwa mereka memang menginginkan 
kemerdekaan? Kita pantas bertanya pada pihak Polri yang bertugas "menjaga 
keamanan" di Timor Lorosae: kenapa gerakan pengacau keamanan alias milisi 
pro-otonomi dibiarkan dan bahkan didukung melakukan tindakan kriminal 
seperti itu?

Meski di Bumi Lorosae dari menit ke menit semakin tidak menentu, tapi kalian 
jangan menyuruh aku segera pulang. Di sini aku ingin menemani para 
sahabatku, menemani mereka, rakyat Timor Lorosae yang tengah berada dalam 
ketidakpastian.  Jelas mereka tak bisa melawan, bukankah mereka tak memiliki 
senjata? Bagaimana mungkin mereka melawan tentara yang bersenjata?  Aduh, 
bagaimana mereka bisa melawan sedangkan para aparat itu bersenjata? 

Kalian pun perlu tahu, pihak kepolisian yang sudah berjumlah belasan ribu 
saat ini sepertinya tidak berdaya. Penduduk menganggap mereka memang sengaja 
tidak berbuat apa-apa. Dalam sebuah kejadian di Becora siang tadi, terlihat 
anggota Brimob Kontingen Lorosae membiarkan segerombolan anak muda usia 
16-20 yang membawa senapan dan parang mengejar sejumlah ibu dan anak-anak 
yang menjerit ketakutan. Tidak ada tindakan apa pun yang mereka ambil. 
Tindakan biadab yang membiarkan rakyat diteror oleh gerombolan yang menyebut 
dirinya milisi pro-otonomi (yang terbukti kalah dalam jajak pendapat) sudah 
berlangsung selama beberapa minggu, dan makin meningkat sejak pemungutan 
suara lalu. Hari ini, untuk kota Dili saja ada laporan enam orang tewas. Dua 
orang korban, seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki sore hari dibawa 
ke RSU Bidau karena luka tembak. Diduga bahwa mereka juga menjadi korban 
keganasan milisi pro-otonomi yang sejak siang tadi menembaki penduduk.

Kejadian di Santa Cruz lebih mengenaskan. Seorang pemuda siang tadi ditembak 
oleh milisi Aitarak dan terjatuh. Karena dikira meninggal, milisi yang 
datang bersama sejumlah anggota TNI menyuruh seorang bapak yang kebetulan 
berada di sana untuk mengangkat tubuhnya. Tapi saat disiram air, pemuda yang 
dikira sudah tewas itu terbangun kembali. Darah masih bercucuran di 
tubuhnya. Bukannya membawa korban ke rumah sakit, milisi Aitarak dan anggota 
TNI menyuruhnya berdiri dan lari ke arah pemakaman. Dengan tertatih-tatih ia 
berlari, dan setelah mencapai jarak 100 meter tiba-tiba senjata milisi 
kembali meletus, dan tubuh pemuda itu tersungkur tewas.

Dari Namlea, Dili Timur dilaporkan lima orang tewas terkena tembakan. 
Keluarga korban hanya bisa menangis sambil menahan suara di bawah pengawasan 
anggota TNI dan Polri. Saat seorang keluarga korban minta bantuan Polri 
untuk membawa jenazah saudara mereka, seorang anggota Brimob membentak: "Itu 
bukan urusan kami. Sana cari palang merah!" Jurnalis dan para pemantau 
internasional juga mengalami nasib serupa. Sore tadi, segerombolan anggota 
milisi menyerbu masuk ke Hotel Mahkota dan menggedor pintu-pintu kamar 
mencari staf UNAMET. Sekitar 30 petugas polisi yang berjaga di lantai dasar 
hotel juga tidak bertindak apa-apa.

Di samping penduduk sipil, sasaran serangan milisi pro-integrasi yang lain 
adalah staf UNAMET. Seperti diberitakan sebelumnya, empat orang staf lokal 
UNAMET tewas di tangan milisi pro-otonomi yang menuduh mereka berlaku 
curang. Pembunuhan itu dilakukan setelah ada hasutan dari para pemimpin UNIF 
seperti Basilio Dias Araujo dan bupati Manatuto Vidal Doutel Sarmento yang 
memprotes pelaksanaan jajak pendapat karena dianggap curang. Sampai saat ini 
sudah ada lima kantor UNAMET yang ditutup, masing-masing di Ainaro, Aileu, 
Ermera, Same, dan Maliana. Semuanya karena serangan brutal oleh milisi 
pro-otonomi yang dibiarkan oleh Polri.

Serangan yang paling serius terjadi siang tadi ketika seorang polisi sipil 
PBB yang bernama Chandler ditembak oleh milisi Besi Merah Putih pimpinan 
Manuel Sousa. Ia segera diungsikan ke tempat yang aman untuk menunggu 
helikopter PBB menjemput. Tapi pada saat helikopter itu tiba beberapa waktu 
kemudian, milisi BMP kembali melepaskan tembakan ke arah helikopter, 
sehingga pilot kemudian memutuskan untuk tidak mendarat. Baru setelah 
petugas UNAMET mendesak petugas Brimob untuk menghalau gerombolan milisi 
itu, helikopter bisa mendarat. Kini korban dirawat di Medical Centre UNAMET, 
Fatuhada, Dili.

Begitu pula yang terjadi di Same. Sekitar pukul 10.00 pagi, milisi ABLAI, 
singkatan dari Aku Berjuang Lestarikan Amanat Integrasi menyerbu kantor 
UNAMET setempat. Mereka melempari kantor itu sambil berteriak-teriak memaki 
para petugasnya. Beberapa lama kemudian polisi datang dan "mengamankan" para 
staf UNAMET. Sayangnya, staf lokal tidak mendapat fasilitas yang sama, 
sehingga empat orang saat ini diduga hilang dan belum diketahui nasibnya. 
Seluruh staf UNAMET yang ada di Same kemudian dievakuasi dengan helikopter 
ke Dili. Masyarakat setempat yang tinggal berdekatan dengan kantor UNAMET 
langsung mengungsi ke hutan-hutan di sekitar kota untuk menyelamatkan diri.

Kalian jangan "mati rasa" setiap kali aku mengabarkan berita tentang 
pembunuhan, kekerasan, teror dan intimidasi yang dilakukan oleh aparat 
secara sistematis ini. Kalian harus melakukan sesuatu, apa saja yang  
menurut kalian bisa dilakukan. Sebab, kita tak boleh membiarkan kekerasan 
seperti ini terulang, terjadi lagi dan terjadi lagi, di sini maupun di 
mana-mana. Kita harus berupaya untuk menghentikan semua ini. Dan kalian 
jangan bosan membaca suratku, yang tentu saja tak pernah mengabarkan cerita 
yang menyenangkan. Kalian pun tahu bahwa aparat juga telah menteror para 
jurnalis. Sebagian dari mereka telah memilih kembali ke tempat 
masing-masing, sebagian lagi dipulangkan oleh pemerintahnya. Kenapa mereka 
juga diteror? Kata Jenderal Wiranto karena mereka telah memberitakan 
kekerasan secara tidak proporsional. Tapi, kalian jangan khawatir pasti 
masih ada jurnalis yang mengabarkan pada dunia atas semua kejadian di sini. 
Ya, karena aku bukan jurnalis, aku hanya bisa menceritakannya pada kalian 
saja. 

Aku masih ingat pertanyaan yang diajukan oleh Luluk. Dia bertanya, bukankah 
kata rezim Soeharto, mereka yang tak mau integrasi itu adalah komunis. 
Apakah sebetulnya dari dahulu memang mereka tidak berkenan untuk bergabung 
dengan kita?  Sebab, kalau masalahnya hanya karena kekejaman rezim Soeharto 
mengapa sekarang mereka jadi mau memisahkan diri? 

Aku akan mencoba menjawab pertanyaan Luluk yang satu ini. Luk, Timor Lorosae 
bukan wilayah Indonesia. Timor Lorosae menjadi wilayah Indonesia setelah 
diinvasi Indonesia pada 7 Desember 1975. Indonesia menggunakan alasan, bahwa 
dia datang ke Timor Lorosae karena permintaan empat partai (UDT, APODETI, 
KOTA, dan Trabalhista) yang dituangkan dalam apa yang disebut "Deklarasi 
Balibo", pada  tanggal 30 November 1975. Deklarasi ini adalah bikinan suatu 
tim operasi intelijen yang disebut Operasi Komodo, di bawah tanggungjawab 
Letnan Jenderal Ali Moertopo. Salah seorang perwira intelijen yang 
melaksanakannya adalah Kolonel Aloysius Sugianto, yang dalam tabloid Detak 
bulan April lalu, mengakui bahwa deklarasi ini dibuat di sebuah bungalow di 
Bali, yang bernama Paneeda Park, yang memang sering digunakan oleh Opsus 
(Operasi Khusus, suatu lembaga intelijen pimpinan Ali Moertopo). Orang-orang 
yang menandatangani kemudian diterbangkan ke Balibo untuk membacakannya lalu 
mereka kemudian pergi lagi. 

Pengakuan yang sama juga dikemukakan oleh salah seorang penandatangannya, 
Jos� Martins (pimpinan partai KOTA) di depan PBB pada tahun 1976. Pimpinan 
partai APODETI Arnaldo dos Reis Ara�jo juga mengemukakan hal yang sama dalam 
wawancara dengan Radio Nederland. Pimpinan partai UDT, M�rio Viegas 
Carrascal�o juga memberikan kesaksian yang sama. Menurut Kol. Aloysius 
Sugianto, Carrascal�o menolak menandatangani deklarasi ini karena tidak 
mencantumkan bahwa integrasi harus  melalui referendum. 

Deklarasi itu sendiri dibuat dua hari setelah  FRETILIN (Front Revolusioner 
Kemerdekaan Timor Lorosae) memproklamasikan kemerdekaan dan berdirinya 
Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) tanggal 28 November 1975. Sebenarnya 
proklamasi ini dibuat karena keadaan terpaksa. Latar belakangnya begini. 
Pada April 1974 di Portugal terjadi "Revolusi Bunga", sebuah kudeta militer 
terhadap rezim fasis Salazar-Caetano yang telah berkuasa lebih dari 50 
tahun. Pemerintahan yang baru melakukan program demokratisasi di Portugal 
dan dekolonisasi (memerdekakan koloni) bagi tanah jajahannya. Menanggapi 
perubahan keadaan tersebut, di Timor Lorosae berdiri beberapa partai, yang 
terpenting adalah tiga, yaitu UDT yang menginginkan otonomi di bawah 
Portugal, FRETILIN yang menginginkan kemerdekaan total, dan APODETI yang 
menginginkan integrasi dengan Indonesia. 

Tapi pada bulan Februari 1975 UDT berubah sikap politiknya menjadi mendukung 
kemerdekaan, dan membentuk koalisi dengan FRETILIN. Indonesia menjalankan 
operasi intelijen mendukung APODETI. Tapi dalam pemilihan umum tingkat 
daerah, ternyata bahwa kekuatan APODETI tidak ada artinya. FRETILIN mendapat 
suara sekitar 55%, sedang UDT 35%. Karenasi itu strategi Operasi Komodo 
berubah dengan mendekati UDT. Sekitar Juni, Ali Moertopo mengundang pimpinan 
UDT ke Jakarta. Para pemimpin UDT diberi tahu, bahwa Timor Lorosae tidak 
mungkin merdeka selama masih ada FRETILIN. FRETILIN itu komunis. Indonesia 
tidak akan mentolerir adanya komunis di Timor Lorosae, karena akan 
membahayakan keamanan dan "perimbangan kekuatan global". Setelah itu UDT 
meninggalkan koalisi dengan FRETILIN. Mereka bahkan bergerak lebih jauh: mau 
mengenyahkan FRETILIN. Pada 11 Agustus 1975 UDT dengan dukungan komandan 
polisi Timor Lorosae, Letnan Kolonel Maggiolo Gouveia melancarkan sebuah kup 
yang disebutnya Movimento Revolucion�ria Anti Comunista (Gerakan 
Revolusioner Anti Komunis) dan menangkapi para pemimpin FRETILIN. Gubernur 
Portugis Kolonel M�rio Lemos Pires kebingungan karena sebagai militer ia 
tidak boleh mencampuri politik partai-partai, karena sesudah "Revolusi 
Bunga" militer Portugis menganut doktrin "Apartidarismo" (tidak campur 
tangan politik partai). Ia meminta pengarahan dari pemerintah pusat di 
Lisbon, tapi Lisbon agak lamban merespons dan lebih celakanya, utusan 
pemerintah pusat tidak bisa mencapai Timor Lorosae karena dihambat oleh 
pemerintah Indonesia. Untuk ke Dili, ia harus menempuh penerbangan ke 
Jakarta, dilanjutkan ke Denpasar untuk ke Dili. Tapi di Denpasar ia dihambat 
oleh pihak berwenang Indonesia dan tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Dili.  

FRETILIN yang diserang habis-habisan oleh UDT berusaha melawan. Mereka 
berhasil meyakinkan orang-orang Timor Lorosae yang menjadi anggota tentara 
Portugis bahwa kup UDT harus dilawan. Karena besarnya dukungan pada tanggal 
30 FRETILIN berhasil menguasai keadaan seluruh Timor Lorosae. UDT melarikan 
diri memasuki perbatasan Indonesia. FRETILIN meminta Gubernur Lemos Pires 
yang melarikan diri ke pulau Ata�ro di lepas pantai Dili pada saat perang 
saudara, untuk kembali dan melanjutkan dekolonisasi yang terputus. Tapi sang 
gubernur tidak juga datang dan FRETILIN terpaksa menjalankan pemerintahan, 
termasuk menjalankan perekonomian dan berbagai macam program kesejahteraan 
lainnya. Sementara itu mulai September pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kol. 
Dading Kalbuadi melakukan penyusupan di perbatasan. 

Pada bulan Oktober mereka bahkan melakukan penyerangan terhadap kota 
perbatasan Batugade dan Balibo, yang antara lain mengakibatkan matinya lima 
orang wartawan asing (dari Australia dan Inggris). Karena semakin jelas 
bahwa Portugis tidak akan datang dan Indonesia akan menyerang besar-besaran, 
dengan tujuan untuk mencegah serangan tersebut FRETILIN mengumumkan 
kemerdekaan. Dengan demikian, akan ada pemerintahan di Timor Lorosae. Kalau 
tidak ada pemerintahan, Indonesia akan mudah masuk karena Timor Lorosae 
adalah "wilayah tak bertuan". Tapi Indonesia tidak peduli dan melancarkan 
serangan besar-besaran pada 7 Desember. Tanggal 12 Desember Majelis Umum PBB 
mengeluarkan resolusi yang mengutuk invasi dan menyerukan Indonesia segera 
menarik mundur tentaranya. Tapi sampai hari ini resolusi itu dan sembilan 
resolusi PBB lainnya tak membuat Indonesia mundur dari Timor Lorosae. 
Kendati begitu FRETILIN terus melawan. 

Tapi, Indonesia tak bisa keras kepala seperti sekian tahun silam. Dengan 
bukti, bahwa 344.588 rakyat Timor Lorosae telah menyatakan menolak tawaran 
otonomi, maka tak ada alasan bagi Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan 
Timor Lorosae. Dan seluruh penduduk di dunia ini telah menjadi saksi atas 
pilihan mereka. 

Joko dan Riri, aku sudah mulai lelah tapi kenapa ya mata tak juga mengantuk. 
Agak lega setelah aku menulis surat pada kalian. Mungkin, kalian tak lagi 
bisa terlalu sering menerima surat dari Dili. Sebagaimana yang aku katakan 
kemarin, apa saja bisa terjadi di sini dalam waktu-waktu mendatang. Mungkin 
sekarang sudah harus memperhitungkan segala kemungkinan dalam hitungan 
menit, bukan lagi jam seperti beberapa hari lalu. 

Ucapan selamat atas kemerdekaan dari kalian telah aku sampaikan pada seluruh 
sahabatku di sini.  Dukungan kalian tentu akan menambah semangat mereka 
untuk tetap bertahan. Bertahan untuk tetap melawan atas ketidakadilan dan 
kesewenang-wenangan ini. Sampaikan salamku untuk Eric dan Maya yang tengah 
menanti kelahiran anak mereka. Kabarkan juga pada teman-teman yang lain, 
bahwa aku masih akan berada di sini, entah sampai kapan. 

A luta continua!!!

Salam kangenku dari kota Dili,
dini hari, 5 September 1999

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke