Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 31/II/5-11 September 99
------------------------------

OPERASI PASCA JAJAK PENDAPAT

(POLITIK): Berita-berita kekalahan pro otonomi di Timtim sudah mulai
terdengar. Skenario pengacauan situasi di seluruh pelosok Timtim sudah mulai
menjadi kenyataan.

Walaupun hasil jajak pendapat baru secara resmi diumumkan pekan depan, (7/9)
tapi masyarakat Timtim di luar negeri justru saat ini merayakan kemerdekaan
dengan pesta champagne. Di Australia pada saat pemungutan suara, masyarakat
sudah merasa yakin otonomi kalah, sehingga seusai pemungutan suara mereka
berpesta di bar-bar untuk merayakan independen day.

Tapi, di Timtim tak ada suasana damai, apalagi pesta. Setelah hari
pemungutan suara, kondisi Timtim justru makin mencekam, karena milisi
bersama TNI dan Polri melakukan operasi. Mereka ingin menciptakan kekacauan
di Timtim supaya PBB bisa membatalkan hasil jajak pendapat. Skenario pertama
untuk menciptakan kekacauan saat ini sedang dilakukan oleh milisi dengan
pencegatan terhadap rombongan Unamet, mengebom sekretariat Unamet serta
menciptakan kerusuhan di Dili yang menelan korban jiwa. Bahkan mereka juga
menembaki wartawan di depan Markas Unamet, Balide, Rabu (1/9).

Kekacauan itu berlangsung secara sistematis di seluruh daerah di Timtim.
Masing-masing milisi di 13 kabupaten secara serentak menciptakan kerusuhan
dengan pola yang sama yaitu menembaki warga sipil serta menyerang staf lokal
Unamet, dan mencegat misi Unamet yang membawa kotak suara dari
daerah-daerah. Untuk melancarkan kerusuhan itu, TNI dan Polri menciptakan
skenario, yakni milisi melakukan kerusuhan pada saat polisi sudah tidak
berpatroli lagi, sehingga dengan leluasa para milisi itu menambak dan
membakar rumah penduduk. Pada kerusuhan, Rabu (1/9), di dekat markas Unamet
polisi tidak berbuat banyak karena yang ditugaskan untuk mengamankan para
milisi itu hanya berjumlah tujuh personel. Setelah milisi membakar rumah
penduduk, menembak seorang bocah dan seorang dewasa serta menembaki
wartawan, barulah polisi datang ke TKP untuk pengamanan. Ketika polisi
mendatangi TKP, milisi-milisi itu meninggalkan TKP.

Hal itu diakui sendiri seorang perwira ILO berpangkat Letnan Kolonel
(Letkol) dari Indonesia yang ditugaskan secara resmi di Timtim untuk
mendampingi penghubung militer PBB. Dalam percakapan tidak resmi itu
terungkap bahwa TNI telah menerima komando dari Menhankam/Pangab TNI untuk
menyusun skenario terburuk yakni bila masyarakat Timtim tolak otonomi,  maka
konflik bersenjata tidak terelakkan. Karena TNI tidak ingin Timtim menjadi
sebuah negara sendiri. "Kita akan berupaya dengan segala cara, asalkan
Timtim tetap menjadi bagian dari Indonesia," kata perwira itu.

Skenario kedua, menurut perwira itu, bila masyarakat Timtim menolak maka
sasaran pertama yang dilakukan oleh TNI adalah menghancurkan pusat
telekomunikasi, PLN serta memblokir semua informasi dari dan ke Timtim,
sehingga Timtim akan terisolasi dan menjadi daerah tertutup bagi semua
informasi yang masuk dan keluar dari Timtim. "Dengan cara itu TNI bisa
melakukan apa saja tanpa diketahui oleh dunia luar, karena kita akan
memblokade semua arus informasi," tambah perwira itu.

Untuk tidak terlibat secara langsung, kata perwira itu, TNI memberikan
senjata kepada milisi untuk menciptakan kerusuhan yang besar di Timtim.
Sehingga terlihat bahwa orang Timtim tidak ingin berdamai, dan konflik yang
terjadi di Timtim adalah konflik internal antara dua kelompok yang bertikai
selama 24 tahun.  Dengan dalih untuk mengamankan situasi yang kacau balau di
Timtim itulah, TNI akan menumpas orang-orang yang pro kemerdekaan. "Kita
sudah punya daftar list orang-orang yang pro kemerdekaan. Xanana Gusmao juga
menjadi target kita, tapi khusus untuk pemimpin seperti Xanana, termasuk
dalam targetnya adalah milisi, sehingga terkesan bahwa TNI tidak terlibat
pembunuhan itu," katanya.

Skenario yang sangat radikal adalah pemberian senjata besar-besaran kepada
milisi di seluruh Timtim. Dengan pemberian senjata itu, TNI ingin
menghindari keterlibatannya secara langsung, dan TNI akan menunjukkan kepada
dunia bahwa TNI tidak terlibat perang saudara, tapi posisi TNI adalah
netral. Skenario itu yang saat ini sedang dijalankan oleh milisi di Timtim.
Pasokan senjata untuk milisi saat ini sudah tak terhitung lagi.
Senjata-senjata itu berstandar internasional, seperti M-16 buatan Amerika
dan AK-47 buatan Rusia. Dengan demikian para milisi bisa bebas untuk
bertindak, dengan cara menggagalkan hasil jajak pendapat.

Untuk menjalankan skenario-skenario itu secara bersih, Panglima TNI Wiranto,
berpura-pura mengeluarkan pernyataan yang bernada mengecam dan menyesalkan
tindakan milisi pro integrasi yang mengepung Dili. Melalui beberapa media
nasional, Wiranto mengatakan pengepungan yang dilakukan tidak dibenarkan.
Namun Wiranto juga memaklumi pengepungan itu sebagai tindakan spontan
masyarakat yang kecewa dengan sikap Unamet. Milisi menganggap Unamet lebih
berpihak kepada kelompok pro kemerdekaan. Atau, misalnya, Kapuspen Brigjen
Sudrajat lebih tegas lagi mengatakan bahwa tindakan milisi itu, adalah
tindakan yang melawan hukum dan tak bisa dibenarkan. Tapi kenyataan
dilapangan menunjukkan bahwa milisi dibeking secara penuh oleh TNI dan Polri.

Sumber Xpos di Dili mengatakan, Senin (30/8) lalu, pada saat masyarakat
Timtim berbondong-bondong ke TPS untuk menyoblos, perwira tinggi TNI di
Dili, yakni, Mayjen Kiki Syahnakri, Mayjen Zacky Anwar dan Brigjen Glenny
Kairupan mengadakan pertemuan rahasia dengan pemimpin milisi di Rumah Tangga
Panglima (RT-Pang) Farol Dili. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa ledakan
kerusuhan yang sangat besar akan dimulai pada saat pengumuman hasil jajak
pendapat, yaitu tanggal 7 September mendatang. Pada saat itu Kota Dili akan
digempur dari semua arah, dan beberapa fasilitas penting seperti Telkom dan
PLN akan dihancurkan, sehingga operasi itu akan berlangsung tanpa diketahui
secara luas. Untuk melancarkan operasi itu, beberapa milisi seperti, Besi
Merah Putih (BMP) yang bermarkas di Liquica, Naga Merah Putih (Ermera), AHI
(Aileu), Halilintar (Atabae), Mahadomi (Manatuto) dan Mahidi (Ainaro) sudah
dikonsentrasikan ke Dili dengan sasaran serangan yang sudah diatur oleh TNI.   

Milisi Aitarak yang menjadi tuan rumah akan beroperasi dibeberapa untuk
memblokade lapangan terbang, pelabuhan serta pintu-pintu keluar dari Timtim.
Supaya menghindari adanya warga yang akan keluar dari Timtim, pada saat itu.
Posisi Unamet dalam hal ini memang terlihat terjepit. Karena Unamet hanya
mempunyai polisi sipil dan perwira penghubung yang tanpa dilengkapi dengan
senjata. Sebaliknya polisi Indonesia, sesuai dengan kesepakatan 5 Mei adalah
polisi Indonesia yang bertanggungjawab atas seluruh keamanan di Timtim. Tapi
faktanya polisi dan  Brimob diam, dan tidak melakukan tindakan preventif apapun.

Sehingga kehadiran pasukan perdamaian PBB sangat dibutuhkan untuk saat ini.
Kalau sampai tanggal 7 September Dewan Keamanan PBB belum mengambil
keputusan pengiriman pasukan perdamaian, maka darah rakyat Timtim akan
membanjiri Kota Dili. Persoalannya perlukah darah orang Timtim kembali
membasahi bumi Lorosae? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke