Precedence: bulk


ISTIQLAL (9/9/99)# SEKITAR "LIPPOGATE" DAN "BALIGATE"
Oleh Sulangkang Suwalu

        Harian Pelita (25/8) memberitakan bahwa PDI Perjuangan diduga
terlibat money politics dengan bank Lippo, sekitar setengah triliun rupiah
dalam rangka suaka politik kelompok Lippo.
        Anggota Komisi VIII DPR RI, Ekki Syahruddin, mengaku telah menerima
bocoran data yang lengkap tentang adanya money politics yang terjadi di
PDI-P, yang menerima sumbangan dari Bank Lippo senilai Rp.500 miliar,
ditambah dengan beberapa rupiah untuk hal lainnya.
        "Terus terang saya bersedia mengatakan hal ini, karena Amien Rais telah
mengatakan, sedang saya sudah punya dokumennya. Sebenarnya saya tak mau
komentar karena nanti ada negative thinking untuk Megawati dan PDIP, dan
karena Anda-anda semua memaksa, ya terpaksa," kata Ekki kepada wartawan,
seusai mengisi acara Forum Dialog yang diadakan oleh RRI-Harvest
International Business Forum di Jakarta, Selasa (24/8).
        Ekki khawatir money politics itu sebagai cara mencari suaka, sehingga kalau
Megawati nanti memerintah, tak ada problem. Karena kehancuran ekonomi banyak
muncul oleh ulah konglomerat, ketika diburu masyarakat mereka lari mencari
perlindungan pada partai politik. Sehingga pemerintahan baru tidak bisa
membereskan masalah ini, karena berhutang budi pada para konglomerat itu,
ujar Ekki.
        Ditanya tentang rincian dari skandal tsb, dia tidak bersedia menjelaskan.
Data-data itu telah banyak yang tersebar di masyarakat, bukan saja saya.
tetapi tidak ada yang berani menyorongkan badan untuk mengakuinya, kecuali
Amien Rais baru-baru ini. 
        Disebutkan ada perbedaan mendasar antara "Lippogate" dengan "Baligate".
Kalau "Lippogate" merupakan perdata, karena merupakan sumbangan sukarela
yang melebihi ketentuan, disini juga tidak ada campur tangan pemerintah,
karena PDIP memang belum berkuasa.
        Sedangkan "Baligate" diduga karena uang itu sulit dikeluarkan,
mereka pinjam tangan yang dekat dengan kekuasaan. Dari dua kasus itu lebih
berat Baligate karena melibatkan penguasa.


PERLAKUAN KASAR AMIEN RAIS KEPADA WARTAWAN
        Menurut Ekki, ia membuka Lippogate, setelah Amien Rais membukanya lebih
dulu. Dalam rangka pernyataan Amien Rais ini, adalah menarik pernyataan
Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Bangsa (SB), Petron Curie, yang
menyesalkan sikap kasar Amien Rais terhadap wartawan Suara Bangsa Kleofas
Klewen, ketika hendak mengkonfirmasikan berita di Kantor PP Muhammadiyah. 
        Menurut siaran pers SB, wartawan SB mendapat penugasan menemui Amien
Rais untuk mengembangkan pernyataan Amien Rais yang dimuat pada SB edisi
Sabtu, 21 Agustus 1999. Dalam berita berjudul "Partai besar terlibat skandal
seperti BB" itu. Amien Rais antara lain menyatakan masih ada skandal
keuangan perbankan yang sama besar dan melibatkan sebuah partai besar selain
partai Golkar. Ingat, masyarakat juga harus menyorot skandal perbankan
lainnya, yang melibatkan partai besar yang dipilih mereka dalam pemilu yang
lalu.
        Wartawan "SB" tsb ditugaskan untak mengkomfirmasikan apakah yang dimaksud
sebagai partai besar itu adalah PDIP, karena kesan yang muncul pemberitaan,
partai besar yang dimaksudkan adalah PDIP. Wartawan "SB" juga ditugaskan
untuk menanyakan berapa besar nilai skandal perbankan yang melibatkan partai
besar itu.
        Amien Rais setelah membantah bahwa partai besar yang dimaksudkannya bukan
PDIP, kemudian bersikap kasar setelah ditanyakan berapa besar nilai uang
dalam skandal perbankan itu. Amien Rais menarik kerah baju wartawan tsb dan
mengeluarkan kata-kata kasar, antara lain "Suara Bangsa adalah koran
comberan yang kalau digugat akan bangkrut".
        Amien Rais sembari menarik kerah baju wartawan SB kemudian juga
memerintahkan ajudannya, Yunus, untuk melakukan interogasi. Pemred "SB"
mengatakan Amien Rais sebagai pemimpin sebuah partai besar dan juga figur
publik tidak sepatutnya bersikap kasar kepada seorang wartawan yang sedang
menjalankan profesinya. Bisa saja pertanyaan seorang wartawan menjengkelkan,
tapi kerah bajunya tidak perlu ditarik dan disuruh diinterogasi seperti itu,
kata Petrons.
        "Suara Bangsa" kata Petrons bersedia menyampaikan maaf secara
terbuka kepada Amien Rais jika ada perkataan atau tindakan wartawan "SB"
yang tidak sesuai dengan norma atau ketentuan yang berlaku. Sebaliknya Suara
Bangsa tidak meminta permohonan maaf dari Amien Rais dan juga tidak akan
mengajukan tuntutan apapun."Kami hanya ingin menyatakan penyesalan atas
sikap kasar Amien Rais," kata pemred "SB"( Pelita 25/8).

ISU PICISAN
        Reaksi keras segera muncul dari kalangau PDIP setelah pernyataan Ekki
Syahruddin di atas. Selain dinilai kebablasan, pernyataan Ekki juga
merupakan upaya untuk mengalihkan isu, sehingga skandal Bank Bali yang
diduga melibatkan beberapa mentera dan orang-orang dekat Habibie, tidak
dibongkar tuntas.
        "Itu isu picisan," ujar Krissantono, Sekretaris Puslitbang PDIP.
Pengungkapan rumors "Lippogate", ini persis kasus Ghalib dulu. Pada saat
orang sedang meramaikan soal rekening Ghalib, pengacaranya tiba-tiba datang
ke DPR dan menyodorkan rekening beberapa menteri. Jadi, kalau sekarang
diungkap soal sumbangan ke PDIP, tujuannya tak lain agar skandal Bank Bali
hilang dari peredaran atau tak dibongkar habis.
        Dia melihat, pengungkapan isu ini sebagai upaya balas dendam politik untuk
membongkar kejelekan orang lain. Dikemukakannya, tampaknya para pendukung
capres tertentu, kini mencoba melakukan politik bumi hangus dalam rangka
menghancurkan musuh-musuhnya.
        Rakyat melihat setelah terbongkarnya skandal Bank Bali sepertinya
pemerintah menjadi kalap. Dengan muka merah para pejabat itu bilang, bukan
hanya saja saya, tetapi juga dia, dan kalau saya diusut, mereka juga. "Saya
jadi geli. Kalau mau pergi ke neraka, ya mbok ndak usah ngajak teman," kata
Krissantono.

EKKI MEMUKUL GOLKAR SENDIRI 
        Apa tujuan Ekki secara terang-terangan mengemukakan keterlibatan
PDIP dalam " Lippogate ", yang bsritanya dimulai dengan pernyataan Amien
Rais, yang kasar kepada wartawan "Suara Bangsa", seperti dikatakan Pemred
"Suara Bangsa" itu?
        Tujuan yang hendak dicapai Ekki selain dari yang dikemukakan Krissantono,
ialah bahwa yang melakukan skandal perbankan, bukan hanya Golkar seperti
dalam "Baligate", tetapi juga PDIP. Meskipun Ekki mengakui dosa Golkar lebih
besar, karena menggunakan kekuasaan untuk memperolehnya, sedang PDIP hanya
sebagai sumbangan dari konglomerat yang mencari suaka politik pada partai besar.
        Mengenai usaha mencari selamat dari konglomerat, dengan cara
membantu partai, tampaknya bukan soal baru. Golkar di masa lalu sudah banyak
mempunyai pengalaman. Karena itulah maka Ekki dengan lancar membayangkan
walau partai beralasan dana dan sebagai partisipasi anggota, tapi tidak
mungkin terlepas dari balas jasa dan tidak ada jaminan pengusaha itu tidak
mencari balasan... orang tidak bisa independen kalau menerima sesuatu tanpa
suatu jasa.
        Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kaum kapitalis atau
konglomerat tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun, kalau tidak akan
mendapat keuntungan dari pengeluaran itu. Mereka bersedia rugi lebih dulu,
untuk mendapat keuntungan dibelakangnya. Jadi, kalau ia membantu satu
partai, tentu dengan tujuan agar partai itu akan membantunya dan
melindunginya bagi kelancaran usahanya di masa mendatang.
        Tak ada "sumbangan" tanpa pamrih. Baik dari kapitalis dalam negeri,
apalagi dari kapitalis asing. Yang terjadi ialah "saling bantu" dan dalam
prakteknya "lebih banyak bantuan dari yang dibantu" daripada "yang
membantu". Itu telah dialami lndonesia dengan "bantuan luar negerinya".
Kekayaan lndonesia makin mengalir keluar negeri.
        Jelasnya, Ekki yang hendak menendang PDIP, sekaligus juga menendang
Partai Golkar. Karena itu Wakil Ketua Departemen Hukum dan Perundang-undang
DPP Golkar, Muchyar Yara menyesalkan pernyataan Ekki, karena selain merusak
citra Golkar, bisa menggangu kerukunan antar parpol. Dalam kasus skandal
Bank Bali, PDIP kan tidak pernah menyudutkan Golkar, tetapi kenapa Ekki
malah memojokkan PDIP? Ada apa ini?
        Mochyar Yara menilai pernyataan Ekki tidak pada tempatnya. Ini
membuktikan Golkar tidak gentle, karena ditengah-tengah terpaan akibat ada
kadernya yang terlibat skandal Bank Bali, malah menyerang PDIP. Sebagai
sesama kader Golkar saya sesalkan tindakan Ekki (Rakyat erdeka, 26/8).

KESIMPULAN
        Dibukanya " Lippogate " dan hubungannya dengan PDIP, hanya
mencerminkan berlangsungnya kontradiksi antar partai, yang pimpinannya
sama-sama burjuasi. Kontradiksi di kalangan burjuasi ini, tentu saja akan
memperlemah kedudukan burjuasi itu sendiri secara keseluruhan. Dan kenyataan
itu secara tidak langsung membenarkan teori marxisme, bahwa kontradiksi yang
dikandung kapitalisme itu makin lama akan semakin tajam dan pada akhirnya
akan menghancurkan kapitalisme itu sendiri.
        Bila sekarang kapitalisme mengglobal, bukan berarti akan abadinya
kapitalisme. Dalam kapitalisme global kontradiksi dalam tubuh kapitalisme
makin mendalam dan meluas menjadi global. Krisis ekonomi, politik, sosial,
budaya kapitalis global secara periodik adalah suatu hukum yang melekat pada
dirinya dan memperdalam kontradiksi yang akan mengantar, melahirkan kekuatan
penggerak mengubah sistim kapitalis ke sosialisme global.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke