Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------

OPERASI SAPU 'JAJAK'

(POLITIK): Sebanyak 11.000 warga sipil dilatih, Rp26 miliar dihabiskan untuk
gagalkan jajak pendapat. Sejumlah perwira tinggi turun tangan. Benarkah
Prabowo terlibat? 

Bukan perang saudara di Timor Leste. Kekerasan berupa teror dan serangkaian
pembunuhan manusia merupakah operasi militer beserta intelejen. Sejak 9
bulan lalu rencana operasi telah dimatangkan. Targetnya? Bumi hangus Timor
Leste.

Sebagaimana diberitakan, tanah Lorosae selepas jajak pendapat yang
dimenangkan pro-kemerdekaan bak lautan api. Pembunuhan-pembunuhan terhadap
rakyat sipil berlangsung tanpa kendali. Milisi Aitarak (Duri) dan Mahidi
(Mati Hidup Integrasi dengan Indonesia) terlihat bebas menembaki warga sipil
serta membakar ratusan rumah, pertokoan dan bangunan lain. Markas Unamet di
Dili pun turut diserbu dan dibakar. Tanpa kecuali kediaman Uskup Dili,
Felipe Ximenes Belo SDB yang kemudian diterbangkan ke Darwin, Australia.

"Hampir-hampir nggak ada bangunan yang luput dari serangan," jelas
Andriyanto, Divisi Informasi Solidamor (Solidaritas untuk Perdamaian di
Timor Timur) yang ikut memantau situasi.

Bagaimana sampai kediaman Uskup dibakar, padahal mayoritas warga Timor
beragama katolik? "Yang terjadi di sana bukan perang. Kalau perang kan masih
punya aturan. Juga tidak ada kait mengkait antara pembakaran dengan
mayoritas agama yang dianut," lanjut Andriyanto.

Jawaban Andriyanto mengingatkan pada operasi TNI di Timor Leste sejak
Oktober 1998. Operasi bersandi "Sapu Jagat" itu diberi misi menggagalkan
kemungkinan berlangsungnya jajak pendapat. Sebanyak 11.000 warga sipil
-kebanyakan dari NTT- diberi latihan para-militer untuk memperkuat 20.000
pasukan TNI yang telah ada. Meski angka rasio menunjukkan satu tentara untuk
40 penduduk, jumlah tersebut dirasa belum cukup untuk menebar teror.

Sejumlah nama besar di TNI terlibat dalam operasi dengan dana Rp26 milyar
ini. Mayjen TNI Zacky Anwar Makarim disebut-sebut sebagai penanggung jawab
ketegangan dan terbunuhnya warga sipil di Dili sejak Nopember 1998-Mei 1999.
Tersangkut juga Mayjen TNI Kiki Syahnakri yang pernah menjadi komandan
militer di Timor. Kiki sebelumnya sempat ditarik dari Dili tahun 1995
setelah meletus peristiwa Liquica yang menyebabkan terbunuhnya enam
gerilyawan Falintil. Pangdam IX/Udayana, Mayjen (TNI) Adam Damiri sendiri
merupakan pengendali operasi.

Tidak ketinggalan: pasukan elit AD yang akrab dengan Timor Leste. Menurut
laporan East Timor International Support Coalition (ETISC), 10 Nopember
tahun lalu, 400 anggota pasukan Grup IV Kopassus mendarat di pelabuhan
Kupang. Satuan Tugas Intelejen (SGI) Kopassus bertugas menjadi pelaksana
sebelum pasukan para-militer terbentuk. Mereka pun tampak terlibat dalam
pembakaran dan pembunuhan pasca jajak pendapat,bergabung dan memakai seragam
Aitarak. Menurut kabar, mantan Pangkostrad Letjen (TNI) Prabowo Subianto,
memantau  operasi dari Singapura sejak tiga bulan lalu.

Sedang Panglima TNI, Jenderal Wiranto bukan orang yang ditelikung dengan
operasi ini. Sebagian orang percaya ia adalah juga tokoh kunci. Wiranto
merasa dirinya ditinggal ketika Habibie menawarkan dua opsi bagi Timtim pada
27 Januari lalu. Ia pun memerintahkan dilakukan suatu perkiraan hasil jajak
pendapat beserta rencana aksi jika opsi otonomi ditolak.

Dokumen perkiraan dan rencana tersebut ditulis oleh H.R. Garnadi, Asisten I
Menkopolkam, tertanggal 3 Juli 1999. Dari 'dokumen Garnadi' diketahui apa
yang disebut sebagai rencana kontijensi (cadangan) TNI. Mereka pertama-tama
bakal mengevakuasi PNS RI dan pendatang ke Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya
dilakukan penyiagaan unsur-unsur TNI (AD, AL, AU) baik personil maupun
peralatan di dekat daerah-daerah untuk evakuasi. NTT disiapkan untuk
menerima pengungsi secara besar-besaran berikut pengamanannya. Selanjutnya
merencanakan rute pengunduran, kalau mungkin sembari merusak fasilitas obyek
vital.

Dan kini dengan terbitnya Keppres No 107/1999 mengenai keadaan darurat
militer di Timor Leste, keadaan sepenuhnya di bawah kendali TNI. Keppres itu
terbit tanggal 7 September 1999, hanya selang satu hari setelah Indonesia
menolak digelarnya pasukan perdamaian PBB di Timor Leste. Wiranto ingin
membangun opini, dirinya dapat meredam kekerasan yang nota bene
diciptakannya sendiri tanpa campur tangan PBB. Opini berikutnya adalah bahwa
ia tidak bermaksud menghalangi keinginan rakyat Timor untuk merdeka.
Sedianya hal tersebut bakal membantu ambisinya jadi orang pertama di Indonesia.

Rahlan Nashidik dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia
(PBHI) berharap pemberlakuan darurat militer diarahkan bukan pada Falintil.
Namun semata-mata untuk meredam operasi-operasi khusus militer dan mencegah
milisi dari tindakan-tindakan yang menyerang kelompok sipil. "Meski saya
menyangsikan hal itu."

Operasi-operasi khusus yang dimaksud Rahlan tampaknya mengacu kepada banyak
kegiatan militer sebelum dan sesudah jajak pendapat dilakukan. Maka, menjadi
jelas pangkal sebab kekacauan bersumber dari TNI. Dalih menciptakan rasa
aman, alih-alih menimbulkan keadaan mencekam. "Bermaksud menjadi pengawal
integrasi, justru dia penyebab disintegrasi," tandas Rahlan.

Jalan menuju kemerdekaan Timor Leste pun menempuh rute panjang. Kemenangan
hingga 79% atau 344.580 suara mengatasi 94.388 suara (21,5%), tampaknya
tidak dianggap berarti oleh TNI. Atau kita juga? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke