Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 32/II/12-18 September 99 ------------------------------ TENTARA ASING LEBIH BAIK (POLITIK): Dunia internasional menginginkan pasukan perdamaian PBB masuk ke Timtim. Indonesia menolak, ancaman embargo ekonomi di depan mata. Masalah keamanan di Timtim semakin menyulitkan posisi Indonesia di dunia internasional saja. Rasa pesimis mulai terdengar dimana-mana, bahwa Indonesia tak sanggup menjaga keamana di Timtim dan tak sanggup menentramkan milisi yang sebenarnya dibentuk sendiri oleh TNI itu. David Wimhusrt, jurubicara Unamet, setelah sampai di Darwin, Australia mengatakan bahwa pihaknya sangat meragukan janji Indonesia untuk bisa menjaga keamanan di Timtim. "Sulit kita percaya bahwa Indonesia bisa menjamin keamanan di Timtim. Pemberlakuan darurat militer itu justru memperkuat posisi TNI dan milisi untuk tetap melakukan operasi dan tetap membunuh warga sipil," kata David di Darwin. Keraguan dunia internasional terhadap TNI dan Polri yang disepakati pada pertemuan Tripartit 5 Mei untuk menjaga keamanan di Timtim, semakin memperlemah posisi Indonesia, dan kredibilitas Indonesia di dunia internasional semakin terpuruk. Tekanan dunia internasional bukan hanya dari intervensi militer, namun ancaman embargo ekonomi serta pemboikotan produk dan bantuan Bank Dunia dan IMF justru memperburuk citra Indonesia. Memuncaknya ancaman dari negara-negara Barat itu memaksa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai titik terendah. Kondisi yang sama juga membuat perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga lesu hingga posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menurun. Dalam transaksi di pasar spot antar-bank Jakarta, Kamis (9/9), rupiah ditutup pada Rp9.100 per dolar AS. Posisi ini merupakan yang terendah selama sepekan terakhir ini. "Masalah Timtim rupanya berdampak besar terhadap transaksi rupiah karena konsentrasi pelaku pasar terutama asing tertuju ke Timtim," kata seorang dealer bank swasta nasional di Jakarta seperti dikutip AFEC Research. Menurut dia, melemahnya rupiah bermula dari tekanan jual terhadap mata uang Indonesia tersebut hingga level 9.100 dalam perdagangan di pasar uang New York, Kamis malam. Selain masalah Timtim, belum tuntasnya masalah Bank Bali juga memberikan sentimen negatif bagi rupiah. "Memang pelaku pasar Eropa, Amerika, dan Australia sangat peduli terhadap Timtim sehingga begitu situasi keamanan mulai memanas, langsung mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap rupiah," katanya. Sedangkan dampak politik yang juga terasa adalah ancaman untuk memutuskan hubungan dari negara-negara Barat terhadap Indonesia. Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Selandia Baru secara terang-terangan mengancam untuk memutuskan hubungan kerja sama dalam bidang ekonomi terhadap Indonesia, bila Indonesia tidak secepatnya memulihkan kondisi keamanan yang stabil di Timtim. "Bila Indonesia telah segera memulihkan kondisi di Timtim, maka hal itu akan membawa perekonomian Indonesia menjadi terpuruk. Dan Indonesia akan hancur," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madeline Albright di Damascus beberapa waktu. Ancaman Amerika itu bukan gertak sambal, buktinya bantuan militer Amerika terhadap Indonesia diputuskan, serta Amerika juga menekan Bank Dunia dan IMF untuk menghentikan kucuran dana untuk Indonesia. "Sebagai komitmen kami kepada Indonesia bahwa, negara-negara barat sangat peduli dengan pelanggaran HAM yang selama ini terjadi di Timtim," tambahnya. Inggris juga tak tinggal diam, melalui Menteri Luar, Robin Cook, pemerintah Inggris juga akan menghentikan penjualan pesawat tempur kepada Indonesia. Karena pemerintah Inggris menganggap bahwa Indonesia telah melanggar perjanjian dengan menggunakan pesawat tempur untuk bersiaga dan menghadapi rakyat Timtim. "Kami akan menekan dengan berbagai cara supaya militer Indonesia harus menghentikan kekerasan di Timtim," katanya. Sedangkan di Australia, aksi untuk memboikot segala macam produk Indonesia sudah dilakukan. Pemogokan untuk tidak melayani pesawat komersial Indonesia, seperti Garuda sudah dilakukan. Akibatnya Garuda yang mendarat di Australia tidak dilayani dan terlantar. Terhadap kapal-kapal barang Indonesia juga sama, hingga saat ini sudah sekitar lima atau enam kapal barang Indonesia yang terlantar dan tidak dilayani. "Ini adalah aksi solidaritas kami terhadap kekerasan yang terjadi di Timtim," kata para buruh. Nah, kalau Indonesia tidak bisa menyepakati komitmennya untuk menjaga dan memberi jaminan kepada masyarakat di Timtim, maka dampak terburuk ekonomi akan melanda Indonesia. Bahkan dikhawatirkan akan lebih buruk dengan krisis ekonomi yang menimpa Indonesia setahun lalu. "TNI sekarang mempertaruhkan 200 juta penduduknya untuk menjaga keamanan di Timtim. Bila kekerasan masih tetap terjadi maka 200 juta penduduk ini akan dilanda krisis ekonomi yang berkepanjangan," kata seorang intelektual muda kepada Xpos. Timtim adalah sahabat, di mana Indonesia patut minta maaf kepada rakyat yang telah menderita akibat suatu kebijakan politik di masa lampau. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
