Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99 ------------------------------ SENSE OF CRISIS HABIBIE TUMPUL (POLITIK): Ancaman embargo ekonomi AS pada Indonesia, tak surutkan ambisi Habibie. Terlanjur enak berkuasa, ia lupa pernah nyatakan tak mau calonkan diri sebagai presiden kedua kali. Anjing menggonggong kafilah berlalu." Jika para demonstran dan mahasiswa pro-reformasi menggunakan semboyan itu supaya terus berjuang menegakkan cita-citanya, tentu akan sangat bermanfaat untuk menjaga semangat mereka. Namun, jika rezim pro-status quo yang menggunakan semboyan itu. Entahlah, musibah apa yang bakal terjadi dengan negara ini. Sialnya, tanda-tanda terakhir ini yang lebih terlihat. Begitu rapat pimpinan Partai Golkar yang berlangsung pekan ini memberi isyarat memantapkan pencalonan BJ Habibie sebagai presiden, bursa saham di Bursa Efek Jakarta langsung melorot. Rabu (13/10) lalu, Indeks Harga Saham Gabungan kembali jatuh 5,036 poin, menjadi 566.346. Berbeda dengan hari Selasa yang mencatat 571,382 poin -itupun sebelumnya telah anjlok 12,678 poin. Demikian pula rupiah yang nilainya merosot menjadi Rp7.975 per dolar AS pada Rabu lalu, dibandingkan Rp7.860 per dolar AS hari sebelumnya. Pasar modal maupun pasar uang memang khawatir dengan perkembangan politik menjelang pemilihan presiden dalam SU MPR ini. Tadinya, mereka begitu berharap investasinya akan berlipat ganda setelah pemilu 1999 berakhir damai dan Megawati dengan PDI Perjuangannya tampil sebagai pemenang pemilu. Mereka menganggap, Megawati yang dikenal konsisten dalam menempuh jalur hukum, kelak bila memimpin pemerintahan, bisa membersihkan akar korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Berarti, aman, modal yang akan mereka tanamkan. Karena itu, mereka sabar menunggu hasil akhir SU ini. Kini, harapan mereka mungkin tak terwujud. Bahkan sebelum berlangsungnya rapim Partai Golkar, orang-orang dekat Habibie sudah yakin "jagoannya" bakal tak tergoyahkan posisinya. Dengan penuh percaya diri, Habibie tampil dalam sebuah paket siaran televisi untuk menegaskan kesediaannya dipilih kembali sebagai presiden. Tak pelak lagi, keraguan kembali dirasakan para pemilik modal. Sense of crisis sebagian elit kita memang sudah terlanjur tumpul. Mereka mungkin lupa dengan awal mula terjadinya krisis moneter yang berdampak pada jatuhnya Soeharto. Ketika itu, para elit politik dipaksa mengakui kenyataan bahwa pondasi perekonomian Indonesia takkan mungkin kokoh, tanpa adanya pemerintahan yang bersih -yang bebas KKN. Setiap kali terkesan pemerintah hendak memberantas KKN, pasar modal maupun pasar uang langsung bereaksi positif. Namun, setiap kali pasar menyadari bahwa janji pemerintah adalah "janji kosong" belaka, nilai rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan di bursa efek, langsung anjlok. Begitu pula ketika penyidikan terhadap dugaan KKN Soeharto dihentikan. Tim pendukung Habibie tak peduli dengan semua itu. Bahkan yang dijadikan salah satu alasan untuk mencalonkan Habibie adalah kesuksesannya memberantas KKN, di samping 'sukses' menekan inflasi dan menurunkan suku bunga bank. Padahal, sama sekali, hal itu tak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan Habibie. Bagi pengamat ekonomi Tony Prasetyantono, rendahnya inflasi tak melulu berarti prestasi, tapi bisa berarti buruk, "karena menurunnya daya beli masyarakat yang sebagian besar telah kehilangan pekerjaan." Rendahnya inflasi juga terjadi karena sebelumnya inflasi Indonesia pernah mencapai 77%. Menurunnya bunga bank pun, menurut Tony, tak bisa dikatakan sebagai keberhasilan, jika suku bunga bank yang rendah itu tidak mendukung bergerak kembalinya sektor riil. "Sektor riil belum bisa bergerak karena sektor perbankan masih terhambat restrukturisasinya, akibat adanya skandal Bank Bali, sehingga menurunnya suku bunga itu menjadi percuma tanpa lancarnya rekapitalisasi," ujar Tony dalam pertemuan teknis dengan Tim IMF di Bappenas, beberapa waktu lalu (12/10). Ukuran keberhasilan, menurutnya, harus memperhitungkan apakah investasi asing dan capital flight sudah kembali masuk, di samping menghitung kemampuan pemerintah mengembalikan utang luar negeri. Kenyataannya, utang luar negeri Indonesia hingga 1998 lalu telah mencapai US$70 miliar, sehingga memunculkan tuntutan penghapusan utang (debt relief) sebagaimana dilakukan negara-negara termiskin di dunia. Di samping itu, IMF pun telah menunjukkan ketidaksenangannya pada rezim Habibie. Dalam kunjungannya ke Indonesia baru-baru ini, Tim Teknis IMF lebih memilih bertemu wakil dari kalangan LSM serta beberapa parpol ketimbang bertemu Habibie. Sementara itu, isolasi internasional terhadap Indonesia makin besar. Selain penghentian program bantuan IMF, Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia yang nilainya mencapai Rp47 trilyun, pemerintah AS pun telah membekukan bantuan ekspor senilai US$1 milyar. Kongres AS, dikabarkan, tengah menyiapkan sidang yang akan membahas embargo ekonomi pada Indonesia. Ini akan segera diikuti dengan hengkangnya banyak perusahaan AS yang mempunyai cabang di Indonesia. Sulit membayangkan ujung akhir skenario semacam ini. "Enaknya berkuasa" membuat tim pendukung Habibie merasa tak perlu mendengar "anjing yang menggonggong." Begitu mudahnya, mereka meraup dana Bank Bali, hanyalah salah satu bukti. Padahal, menurut pengamat perbankan Pradjoto, kasus Bank Bali hanya bagian kecil dari gunung es yang besar. Pemborosan Pertamina sebesar Rp16,040 trilyun, diduga keras melibatkan orang yang sama juga. Kalau begini terus, para mahasiswa yang menolak Habibie juga tak usah peduli dengan "anjing-anjing 'pro-status quo' yang suka menggonggong." (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
