Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99
------------------------------

KALAH-MENANG BANTENG NGAMUK?

(POLITIK): Kendati jalan Megawati mulus sebagai presiden, pendukungnya
diperkirakan tetap ngamuk. Kantor-kantor DPD Golkar diarahkan jadi sasaran
oleh para 'avonturir'. Inikah balas dendam Prabowo?

Kalau ada yang menurunkan massa, saya akan turunkan Banser NU," ujar
Abdurrahman Wahid, pekan silam. Ia menjawab sinyalemen kekecewaan massa
PDI-P jika Megawati Soekarnoputri diganjal menjadi presiden RI ke-4. Gus
Dur, panggilan akrabnya, lebih lanjut menandaskan perkataannya ditujukan
pada 'semua' pihak. Ada yang bertanya-tanya, apa lagi maunya Gus Dur?

Kekhawatiran terjadinya bentrok antar pendukung calon presiden harus diakui
makin mengemuka belakangan ini. Skenario semacam ini bila berbuntut chaos
sungguh berbahaya bagi masa depan demokrasi. Dalam situasi begini, lagi-lagi
militer bakal sangat diuntungkan. Dengan sangat mudah mereka bisa mengikuti
langkah Jenderal Prevais Musharraf di Pakistan: kudeta. Lagu lama memang,
tapi amat mungkin terjadi. Inikah yang dikhawatirkan Gus Dur? Entahlah.

Sayangnya, kecil kemungkinan Banser-Banser NU bisa mengendalikan situasi. Di
jalan-jalan kota spanduk-spanduk 'Komite Pendukung Habibie' makin banyak
dijumpai. Berkali-kali pendukung Habibie nyaris bentrok dengan pendukung
Mega di bundaran HI, Jakarta.

Kubu PDI-P sendiri mulai melihat ketidakpastian naiknya Mega sebagai
presiden. Mereka cemas. Dalam voting di SU MPR sesi pertama lalu, mereka
kalah telak. Wakil-wakil partai banteng besar sempat pula memuluskan jalan
Akbar Tanjung menjadi Ketua DPR -mereka menyebutnya strategi untuk
mengalihkan suara Golkar ke Mega dalam pemilihan presiden. Alih-alih hasil
rapim Golkar menegaskan Habibie sebagai capres yang dilanjuti dengan Wiranto
sebagai cawapres pilihan Habibie. Maka, terhitung 2 kali dalam waktu kurang
dari sebulan PDI-P dikibuli mentah-mentah oleh Golkar. Padahal, menurut
Indonesianist asal Amerika, Jeffrey A. Winter sekarang adalah momentum
kritis bagi PDI-P. "Kesempatan Mega cuma kali ini atau tidak sama sekali." 

Massa di bawah mana mau tahu soal high politics, mereka tahunya PDI-P adalah
pemenang pemilu. Setelah sekian lama "bersabar" diterpa guncangan, masakan
kali ini diam.

Siapapun tahu, situasi psikologis massa pendukung Mega saat ini amat mudah
dikompori. Apalagi, pada saat kampanye pemilu lalu, mereka sudah melakukan
sumpah darah segala. Bisa jadi, mereka sendirilah yang kini punya inisiatif
berbondong-bondong datang ke Jakarta. Bisa pula, karena secara informal
dipanas-panasi oleh pengurus mereka di daerah. Atau. Jangan-jangan mereka
malah telah 'disusupi' avonturir yang memang menghendaki terjadinya chaos. 

Pengurus Pusat partai sudah pasti membantah tuduhan pengorganisasian massa.
"Mana ada keputusan macam itu?" tandas Taufik Kiemas yang juga suami
Megawati. Menurut Taufik kebijakan pusat hanyalah bagaimana langkah-langkah
harus diambil guna memenangkan Mega sebagai presiden. "Penerjemahan
kebijakan di bawah terserah masing-masing DPD," lanjut Taufik.

Ada pihak lain yang malah tak khawatir ancaman kekacauan, karena yakin Mega
bakal jadi presiden. "Sekarang ini semua cuma kembangan," papar cendekiawan
muslim Nurcholish Madjid atau akrab dipanggil Cak Nur. "Ada pihak yang
menentukan siapa yang bakal menjadi presiden dan wakil presiden." Menhan AS,
William Cohen dalam kunjungannya pun melemparkan isyarat serupa. Pernyataan
itu ditimpali pengamat LIPI Syamsudin Haris pada peluncuran buku Gus Dur,
Siapa Sih Sampeyan di Jakarta. Haris memperkirakan "in the last minutes" Gus
Dur akan mundur (karena itukah Amien Rais menyiapkan calon baru? Belum
jelas. Pastinya, di depan utusan Keluarga Alumni Gajah Mada, Amien mulai
mengisyaratkan kemungkinan pencalonan Cak Nur).

Anehnya, ada pula kecenderungan yang menunjukkan ancaman amuk takkan pupus
andaipun Mega naik ke kursi presiden. Berdasarkan keterangan yang diberikan
sumber Xpos, pengkondisian terhadap massa pendukung PDI-P sudah terlanjur
berjalan. Target mereka adalah menghabisi kantor-kantor DPD dan DPP Golkar.
Kenapa?

Selama tiga dekade lebih Orde Baru dan orde lanjutannya, Golkar dianggap
sebagai kekuatan yang memfasilitasi ketidakadilan dan berbagai kejahatan
politik di Indonesia. Kemenangan PDI-P disamakan dengan kemenangan kubu
pembaruan. "Elemen-elemen lama semacam itu hanya akan mengganggu jalannya
perubahan radikal," cetus salah seorang aktivis penggerak barisan muda PDI-P.

Aktivis yang mewanti namanya tak disebut ini menyebutkan satu skenario di
tingkat bawah. Rencananya kader dan massa PDI-P bakal 'merayakan' eporistik
mereka dengan melancarkan aksi ke kantor DPD Golkar wilayah masing-masing.
Konon aksi itu bakal didukung unsur AD anti Wiranto. Disinyalir mereka
berasal dari desertir Koppasus. Aktivis itu mengaku telah bertemu dengan
mantan Danjen Koppasus, Prabowo Subianto di Kuala Lumpur.

Ditanyakan apakah skenario eporistik tersebut merupakan cetusan dendam
massal lama, ia mengelak. "Ini menjawab realitas historis masyarakat,"
lanjutnya. Entah apa maksudnya. Namun, jika ini benar-benar terjadi, kita
memang perlu khawatir. Petinggi PDI-P sudah saatnya mencabut 'racun' yang
kini memasuki tubuh bantengnya. Memberi kesempatan pada para militer
avonturir tentu tak ada bedanya dengan kudeta militer -atau mungkin bisa
lebih buruk? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke