Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99
------------------------------

MEMBANGUN DI ATAS PUING-PUING

(POLITIK): Kehancuran di Timor Timur membuat mereka kembali ke titik nol.
Celakanya, "Celah Timor" yang bakal jadi sumber pemasukannya, masih diklaim
milik Indonesia.

Nyaris tak ada lagi tersisa. Ketidakrelaan pihak Indonesia akan kemerdekaan
Timor Timur, akhirnya membawa akibat buruk bagi rakyatnya. Tidak saja,
karena besarnya jumlah korban yang meninggal pasca jajak pendapat, tapi juga
karena beratnya beban yang mesti dipikul mereka yang akan membangun
perekonomian negara baru itu. Selama berada di bawah penguasaan Indonesia,
kekayaan alam Timor Timur nyaris habis terbagi oleh para kroni keluarga
Cendana. Selepas dari Indonesia pun, nyaris tinggal puing yang tersisa.

Celah Timor, yang diyakini kaya akan cadangan minyak dan gas alam dan
diharapkan menjadi sumber utama pemasukan kas negara itu, ternyata statusnya
tidak otomatis menjadi milik Timor Timur. Pasalnya, pihak Indonesia yang
bersama-sama Australia mengatur pembagian wilayah laut itu dalam "Perjanjian
Celah Timor", telah membatalkan secara sepihak isi perjanjian tersebut.
Akibatnya, nasib proyek bernilai A$130 juta per tahun, jadi terkatung-katung.

Dengan membatalkan perjanjian itu, Indonesia mengindikasikan masih mengklaim
sebagian wilayah di Celah Timor sebagai bagian dari kedaulatan
teritorialnya. Ini berarti, bertambah lagi 'PR' bagi Timor Timur untuk
memperjuangkannya dalam forum internasional. Apalagi, TNI Angkatan Laut,
dikabarkan telah pula menghentikan sementara operasi New Horizon (Cakrawala
Baru) yang biasa dilakukan bersama-sama dengan Angkatan Laut Australia untuk
mengawasi perairan wilayah itu.

Hanya mengandalkan apa yang tersisa di dalam Timor Timur, tak mungkin
menghidupkan kembali denyut nadi perekonomian bumi Loro Sae itu. Keith
Richburg dari The Washington Post menggambarkan, kehancuran di Timor Timur
sebagai "tahun kembali ke nol (Year Zero)." Tak usah pula mengharapkan
adanya infrastruktur yang bakal menunjang kelancaran pembangunan di sana.
Kemarahan milisi pro-otonomi dan tentara Indonesia yang membabi-buta
benar-benar dahsyat.

Sentra-sentra ekonomi di Dili seperti pusat bisnis, bank, pasar bahkan
restoran-restoran telah rata dengan tanah. Berdasarkan penilaian awal tim
dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua stasian radio, kantor redaksi
"Suara Timor Timur", sebuah rumah sakit, beberapa hotel, bahkan kantor
keuskupan Katholik, dibakar, dihancurkan dan dijarah. Penduduk Dili yang
tadinya mencapai 175.000 jiwa, sebagian entah ke mana, sebagian mengungsi ke
luar Timor Timur, sebagian lagi (sekitar 70.000 jiwa) memilih kembali ke
Dili namun hanya bisa tinggal di tenda-tenda yang didirikan di lapangan dan
di pinggir pantai.

Tak cuma di Dili, di bagian barat Timor Timur juga mengalami hal yang sama.
Maliana dilaporkan mengalami kehancuran sampai 80%, Balibo mencapai 95%,
Liquica 60%, Glenois 80%, Suai 90%-95%. Sementara semua bangunan
pemerintahan di sana, pompa bensi, penampungan air dan pasar, juga tak tersisa.

"Ini tanah tak bertuan, sekarang," ujar Ross Mountain, koordinator urusan
kemanusian PBB. Menurutnya, UNTAET (United Nations Transitional Authority
for East Timor, badan PBB yang mengurusi transisi pemerintahan di Timor
Timur) akan menjalankan sebuah pemerintahan tanpa birokrat.

Pertanyaan lain adalah mata uang apa yang akan digunakan? Saat ini, rupiah
memang masih lebih banyak digunakan, kendati banyak juga yang memilih
menggunakan dolar AS. Namun, cepat atau lambat, mata uang resmi harus
diberlakukan. Soalnya, mata uang apa? Bagaimana pula membangun sistem
keuangannya? "Tak ada bank yang masih beroperasi di sini," ujar Mountain.

Bidang pertanian yang diperkirakan bakal menjadi andalan untuk menghidupkan
perekonomian, kini masih menghadapi kendala. Kendati musim hujan sebentar
lagi tiba, namun ratusan ribu orang masih berstatus pengungsi dan
kemungkinan akan melewatkan "musim tanam" ini. Tanpa ada yang ditanam, tentu
takkan ada pula aktifitas perdagangan di pasar.

Soalnya, yang mesti dibangun tentu bukan melulu infrastruktur ekonomi.
Sekolah pun harus kembali diaktifkan. Tak usah dulu memikirkan 'di mana' ini
akan dilakukan -meskipun masih banyak sekolah yang berdiri, namun kebanyakan
telah digunakan sebagai base camp pasukan penjaga perdamaian PBB. Bahkan
untuk memulai pelajaran pun mereka akan kesulitan. Pihak Unicef yang
mencanangkan 1 Desember sebagai dimulainya kembali pendidikan Sekolah Dasar,
kebingungan untuk menyediakan buku teks dan menyiapkan kurikulum.

Andaikan sekolah kembali dimulai, tak mungkin menggunakan kurikulum model
Indonesia. Pelajaran sejarah misalnya, apakah ada yang menceritakan sejarah
Timor Timur? Buku sejarah Indonesia hanya bercerita sedikit tentang Timor
Timur, itupun lebih pada soal 'integrasi' bukan 'aneksasi'.

Pertanyaan terbesar saat ini: berapa biaya mesti dikeluarkan untuk membangun
Timor Timur? Dan siapa yang mesti menanggungnya? PBB serta beberapa lembaga
sosial merencanakan akan mengajukan permohonan dana awal sebesar US$135 juta
yang hanya akan digunakan selama sembilan bulan. Itupun nilainya masih terus
direvisi.

Syukurlah sebagian rakyat Timtim masih punya 'semangat' untuk bangkit
-banyak pengungsi yang memilih kembali ke Timtim. Lalu, lembaga sosial
lainnya termasuk LSM dari Indonesia, juga tergerak meringankan beban rakyat
Timtim. Andaikan Celah Timor tak diambil oleh Indonesia, betapa besar
artinya untuk membantu kegiatan kemanusian di sana. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke