Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ POROS TENGAH (LUGAS): Gus Dur sudah jadi Presiden. Rasaya baru kemarin, Gus Dur adalah bagian dari kita.Sekarang ia Mr. Presiden, akan ada jarak dan harus dikritisi. Gus Dur mungkin harus pindah dari rumahnya di pinggiran kota Jakarta itu, atau kalau kiai itu mau, ia dan keluarganya bisa tinggal di Istana Merdeka yang megah itu. Ada pasukan pengawal presiden berseragam merah seperti pasukan Sultan Yogyakarta. Gus Dur kini berkantor di Bina Graha, meninggalkan Kantor PB Nahdlatul Ulama di Jl. Kramat Raya yang pengab kendati sudah ber-AC. Di Bina Graha ia dijaga polisi militer, tak bisa di antara kita sembarang masuk. Jika kita nekad melompat, bisa-bisa didor kita. Di Kantor NU kita bisa nyelonong masuk ke ruang Gus Dur tanpa ada orang yang curiga. Di rumah Gus Dur di Ciganjur kita bisa nongkrongi kiai itu sambil tiduran di masjid yang sederhana di muka pintu rumahnya. Kini tidak bisa lagi. Gus Dur yang sarungan dan kaus oblong yang lusuh mungkin sulit didapati. Gus Dur amat menikmati semua ini, jadi presiden, dikawal "secret service" berbadan tegap dan ber-earphone. Ini semua berkat "jasa" Poros Tengah. Semua kenikmatan yang diperoleh Gus Dur itu. Amien Rais dan partai-partai Islam lah yang memunculkan Gus Dur jadi Presiden dan itu berhasil. Niat Poros tengah sebenarnya bukan sungguh-sungguh mencalonkan Gus Dur, melainkan agar Megawati surut dari pencalonan. Dulu Poros Tengah mencalonkan Megawati jadi Wakil Presiden, namun kampanye itu tak berlanjut, mungkin karena sadar bawah Gus Dur yang buruk kesehatannya, akan membuat Wapres, siapapun orangnya akan cukup berkuasa. Apalagi, kalau di tengah jalan Gus Dur berhalangan tetap. Wapres-lah yang akan menggantikan Gus Dur. Itu yang dicemaskan Poros Tengah. Dan, itu terjadi. Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum PBB dan konco-konconya, Achmad Sumargono, Hartono Mardjono dan A.M. Fatwa dari PAN, tertunduk lesu saat Megawati terpilih jadi Wapres. Mereka cemas, Gus Dur berhalangan tetap akan terjadi setahun atau dua tahun lagi. Lalu, manuver "kotor" mereka jadi sia-sia. Poros Tengah dipuji-puji setelah Amein Rais terpilih jadi Ketua MPR dan Gus Dur terpilih jadi Presiden. Manuver yang cantik, begitu kata koran. Namun, sebenarnya Poros Tengah sedang dipecundangi PKB. Dengan gaya tenang dan menunggu, PKB mencuri dua point, kursi Presiden dan Wapres, tanpa susah-susah bermanuver dan tanpa harus mengorbankan nama baiknya, sebagaimana dialami PAN. Kalau ada predikat tim terbaik dalam "kompetisi" Sidang Umum ini, PKB lah tim itu. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
