Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ POLITIK UANG DI PEMILIHAN GUS DUR (PERISTIWA): Puluhan anggota MPR yang disogok Habibie untuk memilihnya akhirnya menyalurkan suaranya ke Gus Dur, atas permintaan kubu Habibie. Pertanggungjawaban Habibie ditolak. Habibie pun mundur dari pencalonan Presiden RI. Itu tak masalah bagi Habibie. Lha bagaimana lagi kalau ditolak, bahkan oleh sebagian besar anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar. Namun pengunduran diri Habibie jadi masalah bagi puluhan anggota MPR, terutama dari Utusan Golongan dan Utusan Daerah yang kebingunan. Mengapa? Mereka sudah dibayar Habibie untuk memilihnya kembali. Habibie mundur, uang terlanjur diterima.Lantas bagaimana? Namun kebingunan itu tak berlangsung lama. Sebaliknya, malah kegembiraan. "Baramuli mengintruksikan agar para anggota MPR yang sudah kadung dibayar itu, agar memilih Gus Dur, jangan Mega," ujar sebuah sumber. Mengapa Habibie memilih Gus Dur dan bukannya Megawati? Jawabnya gampang: karena Megawati sudah mengeluarkan ancaman untuk "mengusut" Habibie atas hilangnya sebuah propinsi, Timor Timur. Nah, ini membuat Habibie ngeri. Kalau Gus Dur yang terpilih, Habibie jelas aman. Gus Dur sudah sering bertandang ke rumahnya, makan siang bersama dan ngobrol apa saja. "Karena instruksi Habibie agar orang-orang yang disogoknya itu memilih Gus Dur, ya mau tak mau, Gus Dur tercemar juga. Ternyata ada money politic dalam pemilihan Gus Dur, kendati tak dikehendaki olehnya," ujar sumber tadi. Setelah Habibie mundur Rabu (20/10) dini hari, kalangan intelijen TNI sudah tahu, Gus Dur lah pemenangnya. Golkar sudah diperintahkan memilih Gus Dur, begitupula anggota-anggota yang sudah disogok Habibie, plus anggota MPR Fraksi TNI/Polri yang sudah diperintahkan Jendral TNI Wiranto agar menyerahkan 38 suaranya ke Gus Dur. Bagi TNI, Gus Dur adalah pilihan yang lebih baik ketimbang Megawati, mengingat ia cukup dekat dengan jendral-jendral aktif di Mabes TNI. "Lagi-pula Gus Dur masih enak diajak bicara ketimbang Mega," ujar sumber di kalangan TNI. Dengan konfigurasi itu, dan semangat ABM (Asal Bukan Mega) yang dikampanyekan Poros Tengah, Gus Dur menang. Habibie, kendati sedih karena terlanjur kehilangan uang hampir Rp1 triliun, ia cukup lega karena Gus Dur bersikap lunak padanya. Dialah orang pertama yang dikunjungi Gus Dur segera setelah ia terpilih. Jadi Habibie bisa hidup dengan tenang, apalagi Megawati juga telah memaafkannya di pidato pelantikan dirinya sebagai Wapres. Habibie ingin pensiun dari pemerintahan dan akan mendirikan lembaga hak asasi manusia. Namun, sumber Xpos di Komnas HAM mengatakan, Habibie sudah mengirimkan lamaran untuk menjadi anggota Komanas HAM. Tentu ini lucu, karena saat ia memerintah, ia tak sanggup mengontrol tentara melakukan banyak pelanggaran HAM di mana-mana: Aceh, Timor Timur dan Semanggi. Namun, Habibie akan dicatat dalam sejarah dunia bahwa ia punya jasa yang cukup besar bagi kemerdekaan Timor Timur. Itulah satu-satunya prestasinya selama memerintah di mata luar negeri. Jika di dalam negeri, sebagian besar rakyat Indonesia serempak menganggap Timor Timur sebagai wilayah Indonesia, dan Habibie melakukan kesalahan besar. Toh demikian, ia akan terbebas dari tanggungjawabnya melepas Timor Timur di dalam negeri. Ia punya koneksi, Gus Dur dan Amin Rais, yang pasti akan melindungi dirinya, apalagi MPR sudah menyetujui pemerdekaan Timor Timur. Nah, soal hubungan dekatnya dengan Amien, itu bukan rahasia lagi. Tapi kalau Ketua MPR datang ke rumah Habibie malam hari di seputar pemilihan presiden tempo hari, tentu ini menyiratkan hubungan yang dekat antara Amien dan Habibie. Habibie akan happy, percayalah. Sebaliknya, Soeharto, guru Habibie, akan was-was, Gus Dur mungkin akan membawanya ke pengadilan. Nah, yang jadi kecemasan di masyarakat adalah berita yang beredar dari koran asing The Strait Times, bahwa Fuad Bawazier, anggota PAN yang jadi anggota MPR dari Utusan Daerah, akan menduduki Menteri Keuangan di Kabinet Gus Dur, atas jasanya mencetuskan kaukus Poros Tengah yang mencalonkan Gus Dur. Kalau Fuad kembali ke jabatan lamanya dulu, di kabinet terakhir ditaktor Soeharto, ini berbahaya. Fuad adalah pejabat keuangan Orde Baru yang korup. Semoga Gus Dur terbuka mata hatinya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
