Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ HABIBIE MUNDUR BEJ UKIR SEJARAH? (EKONOMI): Bursa Efek Jakarta catat transaksi hingga lebih dari Rp3 trilyun. Mesin pencatat pun sempat macet. Buki bahwa pasar berpihak pada kubu pro-demokasi. Sikap pasar yang selama ini alergi pada rezim status quo memang bukan hal yang dibesar-besarkan. Hal ini terbukti beberapa saat sebelum dimulainya pemilihan presiden RI ke-4 20 Oktober lalu. Tak lama setelah BJ Habibie menyatakan mundur dari pencalonan presiden, pasar modal dan pasar uang bereaksi positif. Rupiah pada hari Rabu itu sempat menyentuh Rp6.950 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pagi hari mencapai 46,057 poin atau menguat hingga 7,3%, mencapai level 629,704. Bahkan, di luar dugaan, transaksi yang terjadi di Bursa Efek Jakarta (BEJ) itu mencatat rekor tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia, yakni mencapai Rp3,419 trilyun dengan volume penjualan sebesar 4,965 milyar saham. Menurut Jenri MP Panjaitan melalui siaran persnya, nilai sebesar itu diperoleh lewat frekuensi pencatatan sebanyak 70.000 kali. Sebelumnya, rekor tertinggi di BEJ adalah 48.851 kali, pada 24 Juli 1999 lalu. Sebetulnya, transaksi yang dilakukan di BEJ kemungkinan bisa lebih dari 70.000 kali. Persoalannya, kapasitas terpasang mesin Jakarta Automatic Trading System (JATS) yang digunakan oleh BEJ hanya mampu mencatat maksimum 70.000 transaksi. Seandainya, transaksi yang terjadi telah mencapai angka itu, mesin JATS akan menolak setiap order yang dimasukkan ke mesin itu. Dan itulah yang terjadi pukul 15.49 pada hari bersejarah itu. Order setelah itu, secara otomatis ditolak untuk menghindari kerancuan antara informasi yang disajikan JATS dengan data yang ada di mesin perdagangan. Selain untuk memudahkan anggota bursa melakukan verifikasi atas transaksi yang telah terjadi. Bandingkan yang terjadi pada minggu lalu. Begitu Rapim Golkar yang berlangsung 11-12 Oktober lalu memberi isyarat memantapkan pencalonan BJ Habibie sebagai presiden, bursa saham di BEJ langsung melorot. Sehari setelah rapim itu (13/10), IHSG jatuh 5,036 poin, menjadi 566.346. Berbeda dengan hari sebelumnya (12/10) yang mencatat 571,382 poin -itupun sebelumnya telah anjlok 12,678 poin. Demikian pula rupiah yang nilainya merosot menjadi Rp7.975 per dolar AS pada Rabu itu, dibandingkan Rp7.860 per dolar AS hari sebelumnya. Pasar, ketika itu, memang khawatir dengan perkembangan politik menjelang pemilihan presiden dalam SU MPR ini. Terbukanya peluang kelompok status quo kembali berkuasa, benar-benar mengkhawatirkan mereka. Kekhawatiran itu, kini telah berlalu. Meskipun setelah terpilihnya Gus Dur sebagai presiden, ada kecemasan terhadap "ancaman revolusi" dari para pendukung setia Megawati -seandainya tokoh idola mereka kalah- namun, hal itu tak berlangsung lama. Rupiah pada penutupan hari pemilihan presiden itu, setelah sempat menguat, akhirnya ditutup pada posisi Rp7.450/Rp7.550 per dolar AS. Yang berarti naik 150 poin dibandingkan sehari sebelumnya -sebelum ditolaknya pertanggungjawaban BJ Habibie oleh MPR- yang berada di kisaran Rp7.600/Rp7.650 per dolar AS. Demikian pula dengan IHSG yang ditutup pada level 564,425, yang berarti menguat 0,788 poin atau 0,13%. Berdasarkan hasil pencatatan yang dirilis BEJ via internet (http://www.jsx.co.id) pada hari itu, hampir semua bidang industri yang sahamnya tercatat di BEJ mengalami kenaikan. Kecuali, bidang pertambangan yang turun 0,26 poin jadi 167,768 serta barang-barang konsumen turun 1,56 poin jadi 175,256 dan bidang konstruksi, real-estat dan properti turun 0,84 poin jadi 49,196. Selebihnya, mengalami kenaikan. Bidang pertanian mengalami kenaikan tertinggi, dengan 2,88 poin jadi 339,662%; bidang aneka industri naik 1,22 poin jadi 120,529; bidang industri dasar naik 1,534 poin jadi 128,930; bidang perdagangan dan jasa naik 1,08 poin jadi 137,787. Bidang lainnya, kenaikannya kurang dari 1 poin. Terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai wakil presiden, keruan saja memperkuat kepercayaan pasar. Hari Kamis (21/10) itu juga, rupiah menguat ke kisaran Rp6.900 per dolar AS. Pasar terbukti berpihak pada kekuatan pro-reformasi. Jelas, ini merupakan sinyal positif bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Sebab, meskipun belum ada kebijakan yang dihasilkan duet pemerintahan Gus Dur dan Megawati, namun pasar di dalam dan luar negeri telah terlanjur yakin dengan komitmen kedua tokoh ini pada penciptaan iklim ekonomi yang sehat dan transparan. Kredibilitas pemimpin negara memang amat menentukan dalam meraih kepercayaan internasional. Ini telah terbukti: Dari berbagai negara Asia yang sama-sama dilanda krisis moneter, Korea Selatan dan Thailand adalah yang paling cepat bangkit. Presiden Kim Dae-jung dari Korea Selatan, dikenal sebagai tokoh pro-demokrasi yang konsisten dan bersih. Begitu pula dengan Perdana Menteri Chuan Leekpai dari Thailand. Mudah-mudahan hal yang sama segera terwujud di Indonesia. 'Pe-eR' bagi dwi-tunggal Gus Dur-Mega, tentulah sesegera mungkin memantapkan pondasi yang kuat bagi pembangunan politik dan ekonomi -demi menuju perekonomian yang mandiri dan bebas dari utang. Yang dapat dimulai dengan membentuk pemerintahan yang kredibel, kuat dan bebas KKN. Komitmen pada pembersihan KKN ini harus nyata ditunjukkan dengan menyeret para pelakunya ke meja hijau. Tindakan seperti ini akan sangat menentukan rasa aman pemilik modal dari luar negeri. Ini dapat dimulai dengan menuntaskan kasus Bank Bali. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
