Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ SINGKIRKAN HABIBIE DENGAN INTERNET (POLITIK): Lewat internet, masyarakat profesional menjalin jaringan untuk menohok duet Habibie-Wiranto. Banyak juga petualang politik yang coba memanfaatkannya. Teori lama tentang perubahan politik dimulai dari kelas menengah, rupanya menggejala di benak profesional Indonesia. Asumsinya, kalau kelas menengah bergerak secara terorganisir meneriakkan tuntutannya akan perubahan politik maka publik pasti akan benar-benar memperhitungkan. Dengan kesadaran ini, organisasi-organisasi profesional seperti Masyarakat Profesional untuk Demokrasi (MPD), Solidaritas Profesional untuk Reformasi (SpuR), dan Gerakan Sarjana Jakarta (GSJ) membentuk komite ad hoc yang dinamai Masyarakat Profesional Indonesia (MPI). Agendanya adalah menolak status quo yang direpresentasikan duet Habibie-Wiranto. Maka kerja-kerja pengorganisiran pun mulai disusun. Pemanasan dimulai dengan aksi-aksi menyangkut Bank Bali menjelang berakhirnya masa keanggotaan DPR 1997. Dari sini terjalin kesepakatan untuk melanjutkan dorongan politik yang lebih signifikan dalam Sidang Umum. Maka menjelang hari-hari yang menentukan kepemimpinan nasional, MPI rajin menggelar aksi menolak Habibie-Wiranto. Aji Barata dari MPD yang menjadi fasilitator MPI mengatakan, "MPI mencoba merepresentasikan suara dunia bisnis yang selama ini sudah muak dengan praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. KKN ini tidak efisien bagi dunia bisnis dan sisa-sisa Orde Baru yang penuh KKN ini diwakili oleh Habibie. Sedangkan Wiranto kami tolak karena ia dari TNI yang tidak mau melepas peran sosial politiknya." Di balik aksi-aksi di BEJ tersebut, pengorganisasian profesional digalang lewat surat elektronik yang lebih sering disebut e-mail. Sita Soepomo, mantan manajer Mead Johnson yang kini bekerja untuk PBB, aktif menjalin komunikasi lewat e-mail ke segenap profesional yang berminat. "Profesional itu kan sedikit waktu luangnya di luar pekerjaan. Maka kontak-kontak lewat e-mail ini bisa menerobos jam-jam kerja mereka yang sibuk dan melelahkan sekaligus sebagai selingan yang menarik," ujar Sita Soepomo. Pentingnya peran e-mail juga diakui oleh Ketua MPD Gatot Prihandono, "Kemajuan teknologi berkomunikasi dengan adanya e-mail ini mengubah metode pengorganisasian menjadi lebih cepat dan efisien." Apalagi, kata Gatot, bila sifatnya kolektif dengan adanya homepage atau minimal mailing-list. MPD sendiri mempunyai mailing-list untuk kalangan eksternal [EMAIL PROTECTED] maupun yang khusus anggota, yakni [EMAIL PROTECTED] Sedangkan SpuR punya website http://www.geocities.com/capitolhill/congress/1028 dan mailing-list [EMAIL PROTECTED] Sementara GSJ cukup punya alamat e-mail gsj@ nettaxi.com. Total jendral daftar peserta mailing-list ini mencapai seribu dua ratus profesional dan akan bertambah terus. Jadi bisa dibayangkan bila seruan lewat e-mail untuk aksi bergayung-sambut. "Di samping momentumnya memang pas. Jadi banyaknya massa profesional dalam aksi kemarin menggabungkan unsur kepercayaan, teknologi, jaringan, dan momentum politik," kata Gatot Prihandono. Tapi kelemahan dari jaringan lewat e-mail ini, pesertanya tidak saling kenal. Masing-masing akrab hanya lewat internet saja, maka ketika aksi di lapangan jadi celingukan satu sama lain. Fatalnya, hubungan yang hanya bersendi kepercayaan ini tidak punya ikatan komitmen yang kuat. Hal ini diakui hampir semua aktivis SpuR yang paling aktif menggunakan e-mail. Konsekuensinya, MPI jadi mudah ditunggangi para petualang politik. "Ya adalah pasti yang mau memanfaatkan MPI karena melihat forum ini begitu cantik dan diterima berbagai lapisan," ujar Fadjroel Rahman yang bekerja sebagai reporter Jakarta News FM. Ismed Hasan Putro disebut-sebut sebagai salah seorang yang mau memanfaatkan MPI dan mengklaim dirinya sebagai koordinator MPI. Tentu saja cara-cara seperti ini segera dipotong oleh eksponen lainnya. "Bagaimanapun kita kan nggak ingin diklaim seenaknya," kata Fadjroel. Tak hanya aktivis, para tokoh pun ada yang ingin dapat panggung MPI di BEJ seperti ekonom terkemuka Dr. Syahrir. Ceritanya waktu itu Aji Barata mengundang seorang profesional muda, Hidayat Jati, untuk bicara. Di samping Jati berdiri Syahrir. Syahrir menyangka ia yang diundang dan langsung maju naik panggung. Boris Sirait dari GSJ waktu itu sempat menarik Syahrir yang nyerobot panggung seenaknya. Melihat kelebihan dan kekurangan ini, MPI menurut penggeraknya hanya akan dibatasi sebagai forum yang tidak dilembagakan dengan struktur yang baku. Jadi tidak ada satupun orang yang berhak mengatas-namakan diri mewakili MPI kecuali atas dasar kesepakatan bersama yang melibatkan MPD, GSJ, dan SPUR. Yah, paling tidak bila melihat misinya untuk menolak status quo a la Habibie dan Wiranto, MPI boleh dibilang berhasil membentuk opini yang cukup berpengaruh dengan bantuan publikasi media-massa. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
