Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ GAGAL, REVOLUSI TANPA RESTU (POLITIK): "Megawati presiden atau revolusi", akhirnya jadi slogan kosong. Lobi politik para elit, nyatanya bisa meredam suasana. Massa memang tak pernah dididik pimpinannya untuk berevolusi. Duapuluh Oktober 1999. "Akhirnya, mbakyu. Akhirnya, tidak sia-sia kita sudah datang jauh-jauh," histeria seorang pemuda gondrong di bunderan HI. Bersama dengan perempuan paruh baya yang dipanggil "mbakyu" keduanya berpelukan dan bertangisan. Pada jarak lima puluhan meter, beberapa orang menceburkan diri ke kolam. Shalawat pun berkumandang dari loud speaker yang dipasang di atas truk. Sejurus kemudian keriaan berganti menjadi ekspresi kekecewaan. Apa pasal? Ternyata telah terjadi salah pengertian pada ribuan massa PDI yang memadati muka Hotel Indonesia. Mereka kira, Megawati keluar sebagai pemenang hasil voting anggota MPR. "Ibu dicurangi," pekik massa. Walhasil, barisan yang membentang di sisi Jl. Sudirman guna menyambut kedatangan Megawati pun berubah menjadi barisan aksi. Serentak mereka menuju Gedung MPR/DPR. Sepanjang jalan yel-yel layaknya aksi mahasiswa diteriakkan. "Re-vo-lu-si, revolusi." Jakarta pun panik. Situasi di Bursa Efek Jakarta yang tadinya diwarnai sikap optimistis, berubah total: Aksi jual terjadi terus-menerus, menjadikan kenaikan IHSG tak sampai 1 poin. Benarkah terjadi revolusi sosial terjadi? Pertanyaan ini terjawab keesokan malamnya (21/10), saat massa kembali memadati bunderan HI. Bedanya, kali ini, mereka tidak lagi harus merasa kecele. Gembira betul-betul dapat diluapkan. Hasil pemungutan suara beberapa saat sebelumnya menyatakan Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi wakil presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid, mengungguli kandidat lainnya, Hamzah Haz dari F-PPP. Dalam voting wapres yang usai pukul 18.25 WIB (Kamis, 21/10) Megawati beroleh 396 suara. Sementara Hamzah Haz dipilih oleh 284 anggota MPR. Lima suara lainnya (persis seperti pemilihan presiden) memilih abstain. Pemandangan Jakarta malam seusai pengambilan sumpah Megawati berbalik 180 derajat dari sehari sebelumnya. Ketika ratusan ribu massa pendukung Megawati menyatakan ketidakpuasan mereka. Ketika itu ancaman revolusi sosial seolah sudah menghadang di pelupuk mata. Laju barisan banteng tertuju ke Gedung MPR/DPR dan terhadang di bawah fly over di simpang Taman Ria Senayan. Aparat keamanan dari PHH Brimob, PPRM, dan Kodam Jaya mendapat perlawanan sengit massa. Sebuah jip, Taft, meledak di dekat Balai Sidang hingga menyebabkan satu orang tewas dan tiga orang luka parah. Ikhwal ledakan ini kemudian memancing emosi massa makin meluap. Barikade PHH Brimob yang berjarak 50 meter diserbu hingga terpukul mundur beberapa puluh meter. Setelah itu keduanya saling melakukan persiapan. Pukul 20.20 WIB seusai Gus Dur menyampaikan pidato pertamanya, aparat baru berhasil menghalau massa dari Jl. Gatot Subroto dan mendesaknya hingga kawasan Semanggi. Ledakan gas airmata dan laju panser air menggiring massa mundur. Seperti aksi-aksi mahasiswa sebelumnya, konsentrasi perlawanan terjadi di dua titik. Jalan masuk arah RS Jakarta, dan Pasar Bendungan Hilir. Hanya kali ini aparat keamanan berniat memberi 'pelajaran'. RS Jakarta lewat tengah malam diserbu dengan gas airmata dan letusan-letusan peluru. Pihak RS mengaku mengalami kerugian besar lantaran PHH merusak bangunan dan fasilitas yang ada. Kemarahan pendukung Megawati hari itu juga berlangsung di Solo, Medan, dan Buleleng (Bali). Hingga berita ini diturunkan Walikota Solo, Imam Sutopo mengaku belum memiliki kantor baru lantaran Balai Kota Solo dibakar massa. Solo terbilang mengalami kerugian paling besar akibat pelampiasan amarah massa banteng. "Kita belum hitung, tapi angkanya mencapai miliaran rupiah," terang Walikota kepada sumber Xpos. Buah dari revolusi? "Itu bukan revolusi," ujar Ulil Abshar Abdalla menilai gelombang amuk banteng. Massa PDI-P menurut Ulil bukanlah kader-kader Mao Tse Tung yang memiliki militansi tinggi hingga sanggup bertahan selama long march revolusi Cina. "Kehabisan logistik juga mereka bakal pulang," lanjut Ulil. Sebaliknya Jalaludin Rahmat justru melihat bahwa syarat-syarat perubahan revolusioner justru telah mencukupi. Berbicara pada bedah bukunya di Bandung, (18/10), "Rekayasa Sosial, Reformasi Atau Revolusi" Kang Jalal memaklumkan hal tersebut. "Yang kurang satu, yakni habisnya kesabaran masyarakat dan munculnya pemimpin kharismatik yang bisa membawa revolusi," lanjut intelektual muslim ini.Apa syarat yang diajukan Kang Jalal terpenuhi? "Tidak. Lantaran proses politik Indonesia memang hanya berlangsung di istana," cetus seorang pengamat politik lainnya. Gerakan massa di bawah tidaklah secara sistematik mengarah ke revolusi. Adanya hanya imbas pergulatan elit politik tadi. Gerakan massa melulu dijadikan alat tawar menawar belaka. "Apalagi organisasi politik yang ada tidak pernah melakukan pendidikan ideologis terhadap kader-kadernya. Berbeda misalnya dengan parpol-parpol masa sebelum Orde Baru." Baik Ulil maupun Kang Jalal barangkali betul dalam satu hal. Syarat revolusi salah satunya adalah kader-kader organisasi yang revolusioner. Namun sejauh pengalaman di lapangan, keberanian dan militansi lebih dipunyai oleh massa. Lihat saja, mereka tanpa mengukur resiko nyawa menantang senapan aparat dengan dada. Kalau kader? Realitas politik membuat mereka berpikir puluhan kali. "Lha kalau mati duluan, kita dapat apaan?" (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
