Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99 ------------------------------ BOCORAN LAPORAN PwC (PERISTIWA): Laporan panjang PriceWaterhouse Coopers (PwC) akhirnya membuka keterlibatan orang-orang dekat Habibie, seperti Tanri Abeng, Baramuli, Fredy Latumahina, Agus Sudono, Manimaren dan lain-lain. Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar menerima dana yang terkait dari bobolan Bank Bali. Ini mengejutkan. Jumlahnya cukup besar: Rp15 miliar. Bappilu Golkar menerima kiriman duit sebesar itu dari Arung Gauk Jarre, pengusaha, Presiden Direktur PT Mondalindo Grahaperdana, kawan dekat Tanri Abeng. Arung sebelumnya memperoleh transfer dana dari Manimaren Sinivasan, Wakil Bendahara Golkar dan anggota tim sukses Habibie, sebesar Rp30 miliar. Arung tak hanya menerima dana bobolan Bank Bali dari Manimaren tapi juga dari Djoko Tjandra, Direktur Pelaksana PT Era Giat Prima sebesar Rp 43 miliar. Kalau Bappilu Golkar menerima uang melebihi batas yang diperbolehkan oleh Undang-Undang Pemilu, ini jelas pelanggaran. Seseorang hanya boleh menumbang sebuah partai tak lebih dari Rp15 juta. Ini jelas money politics yang selalu dibantah Golkar. Nah, dana yang masuk ke Bappilu Golkar inilah yang mengkaitkan nama Ketua DPR-RI yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tanjung terkait dalam bagi-bagi uang curian itu. Elit Golkar, (mantan) tim sukses Habibie dan orang-orang di seputar Habibie lainnya terlibat dalam konspirasi korupsi ini, makin jelas. Keterlibatan Manimaren, salah satu anggota tim sukses tak resmi B.J. Habibie, memiliki peran penting dalam skandal ini. Temuan PwC menunjukkan Manimaren dan perusahaan garmen miliknya, PT Ungaran Sari Garmen terlibat dalam bagi-bagi uang ini, selain PT EGP, Djoko Tjandra dan Arung Gauk Jarre Bank Lippo milik James Riyadi, mantan anggota MPR dari Golkar, sebenarnya ikut "terlibat" secara tak langsung dalam memperlancar skandal ini. Sebulan sebelum pembobolan Bank Bali, Manimaren, sebagai Wakil Bendahara Golkar, memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Lippo sebesar Rp30 miliar. Pinjaman ini luar biasa, karena Mei, ketika utang itu cair, posisi perbankan Indonesia masih dalam keadaan tak bisa memberi kredit. Tapi toh utang untuk Manimaren itu tetap cair. Nah, dengan bukti milik PwC ini, ketahuan, Lippo Bank memang "pendukung" dana Golkar, bukan penyumbang PDI-P seperti dituduhkan beberapa waktu lalu. PDI-P diisukan menerima Rp500 miliar dari Lippo Bank, jumlah yang amat fantastis di masa krisis perbankan saat ini. Sumber penting di PDI-P mengatakan, penyebar isu itu adalah kalangan Islam garis keras. Utang dari Lippo Bank itu kemudian ditutup PT EGP pada 8 Juni dengan dana dari bobolan Bank Bali. Sehari kemudian, PT EGP mengirim uang lagi sebesar Rp43,3 miliar ke rekening Arung di Bank Lippo. Arung mentransfer kembali uang itu ke rekening baru di Bank Lippo, di Lippo Centre sebesar Rp32 miliar. Dari rekening baru inilah, Arung mulai mentransfer ke tiga perusahaan milik keluarga Tanri Abeng. Tercatat, tanggal 27 Juni, dari rekening baru tadi, Arung mentransfer Rp 900 juta ke rekening PT Mulia Multi Mandiri, anak perusahaan PT Tason Putra Mandiri, milik keluarga Tanri. Pada hari yang sama Arung juga mentransfer uang ke rekening PT Bintang Sidoraya, perusahaan milik Tanri, sebesar Rp1,2 miliar. Dari rekening ini, Arung tercatat empat kali menariknya secara tunai, masing-masing sebesar Rp5,8 miliar Rp3,2 miliar, Rp5 miliar dan Rp4,3 miliar. PwC pun tak bisa melacak siapa penerima uang itu. Arung tercatat pula mengirim ke rekening seorang anggota DPR, yakni Didi F. Korompis di Marine Midland bank sebesar Rp3,5 miliar. Dari rekening PT USG, dana juga ditransfer ke berbagai rekening, termasuk nyangkut ke Agus Sudono, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Agus adalah orang dekat Ketua DPA saat itu, A.A. Baramuli, tokoh yang diduga kuat terlibat dalam skandal ini. Agus menerima transfer di rekeningnya di Bank Bukopin (A/C 0108002180 sebesar Rp1,5 miliar. Baramuli pun, sang bos, ikut menerima transfer melalui perusahaannya PT Indowood Rimba Pratama (money dealer) sebesar Rp5 miliar langsung dari rekening Djoko Tjandra di BNI Rasuna Said. A. Mongid, staf Menko Kesra dan Taskin, menerima transfer dari PT USG sebesar Rp1 miliar. Tak jelas mengapa orang ini dapat cipratan pula. Nah, sejumlah dana, menurut PwC, juga dialirkan ke Texmaco Grup sebesar Rp550 juta. Dari rekening PT USG ini pula, uang ditransfer ke rekening-rekening yang pemiliknya tidak diketahui, misalnya tranfer pada tanggal 11 Juni ke sebuah rekening di BNI KPO/JPU sebesar Rp40,5 miliar, tranfer ke sebuah rekening BDN Warung Buncit sebesar Rp5 miliar, ke rekening tak dikenal di BCA Pasar Minggu sebesar Rp1 miliar dan ke deposit tak dikenal di Bank Putra Multiperkasa, sebesar Rp6 miliar. Seorang anggota tim sukses Habibie lainnya, Fredy Latumahina, anggota DPR dari Golkar, menerima transfer dari rekening Manimaren di Bank Lippo, Plaza Indonesia, sebesar Rp920 juta pada 22 Juli. Fredy tak membantah menerima dana itu. Namun, uang itu, kata Fredy, keluar lagi pada 23 Juli untuk membiayai tim Drum band Indonesia di Kejuaraan Dunia Putri Drum Band di Sydney, Australia. Fredy adalah ketua panitia pengiriman grup itu yang ditunjuk sendiri oleh Presiden Habibie. Kawan dekat Baramuli di kaukus Iramasuka ini bohong jika ia langsung mencairkan uang kiriman Manimaren itu. Karena menurut audit PwC, Fredy menarik tunai uang itu dua kali: pada 23 Juli sebesar Rp300 juta dan 27 Juli sebesar Rp620 juta. Padahal, grup drum band itu sudah berangkat dan pencairan uang itu dilakukan sehari setelah grup drum band itu terbang ke Sydney. PwC pun menyebut-nyebut, beberapa pertemuan antara Rudy Ramli, mantan Direktur Utama Bank Bali dengan para tokoh penting seperti Baramuli, Syahril Sabirin, Bambang Subiyanto, Tanri Abeng, Timmy Habibie, Anthony Salim dan sebagainya. PwC pun menyalahkan Mark Bird, Kepala Bank Dunia Jakarta yang tahu rencana pembobolan Bank Bali, namun tidak bertindak mencegahnya. Memang tak ada dana yang mengalir langsung ke rekening pribadi Habibie atau Amien Rais seperti yang dikabarkan. Namun, sejumlah rekening tak bernama (nominee account) masih belum bisa dibongkar pemiliknya yang oleh Bank Indonesia amat dilindungi, mungkin akan membuat publik makin terkejut. Siapa para pemilik rekening tak bernama yang menerima aliran dana Bank Bali ini? Kita tunggu niat Presiden Gus Dur membongkar skandal ini. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
