Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

HASIL AKHIR

(LUGAS): Sikap kompromi Gus Dur dalam menyusun formasi kabinet, akhirnya
menghasilkan wajah kabinet yang kompromistis pula. Malah, kesannya terlalu
kompromistis. Sejumlah nama dianggap layak menduduki posnya, namun sejumlah
nama lagi terkesan dipaksakan.

Keberatan muncul saat nama Bomer Pasaribu muncul sebagai Menteri Tenaga
Kerja. Sebagai pimpinan serikat pekerja (FSPSI) yang berafiliasi ke Golkar,
banyak yang menilai Bomer justru tak gigih memperjuangkan nasib buruh. Ia
memang dipilih untuk mengisi 'jatah' Gokar di kabinet, atas persetujuan
Akbar Tanjung.

Nama Bambang Sudibyo pun dipertanyakan kelayakannya sebagai Menteri
Keuangan. Sebab, ekonom dari PAN ini tak bersuara kritis, di masa Habibie
berkuasa. Yang justru dinilai lebih tepat adalah Faisal Basri, Sekjen PAN.
Namun, atas campur tangan Amien Rais, justru Bambang yang naik -meskipun Gus
Dur sempat menanyakan di mana sebaiknya pos Faisal. Gus Dur pilih kompromi.

Yang terang-terangan ditolak oleh kalangan LSM adalah Sonny Keraf yang
menjadi menteri lingkungan hidup. Alasan pemilihan Sony, kali ini bukan
karena ingin memenuhi jatah partai tertentu, tapi untuk memberi kursi pada
wakil dari agama Katholik. Gus Dur, tampaknya, inginkan kabinet yang penuh
warna.

Salahkah Gus Dur berkompromi? Relatif. Kompromi tidak salah, jika mereka
yang dikompromikan memang tidak kompeten dalam bidangnya. Tak ada yang
bereaksi keras ketika nama Marzuki Darusman muncul sebagai Jaksa Agung.
Begitu pula ketika Kwik Kian Gie muncul sebagai Menko Ekuin serta Laksamana
Sukardi sebagai Menteri Investasi. Mereka memang politisi, namun oleh dunia
usaha dianggap memiliki kapabilitas.

Kompromi akan salah, jika mereka yang dikompromikan, ternyata gagal
bertugas. Lalu, siapa saja yang gagal? Tentu saja, tak bisa dinilai
sekarang, karena para menteri itu belum mulai bekerja efektif. Itu artinya,
putusan Gus Dur untuk berkompromi, saat ini, tak bisa dinilai benar-salahnya.

Menilai salah-benar tindakan Gus Dur, dari dulu pun susahnya setengah mati.
Yang bisa kita nilai hanyalah hasil akhirnya: membawa kebaikan bagi banyak
orang atau tidak. Bagi Kyai nyentrik ini, yang penting ia bertindak di saat
yang tepat atau tidak. Saat ini, mungkin ia beranggapan, dibutuhkan kabinet
yang kompromistis. Entah di lain waktu.

Itu artinya, kalau nanti para menterinya ternyata tak mampu ia pun dituntut
bisa bertindak tepat. Memecat atau menggantinya. Soalnya, mampukah ia selama
periode kepemimpinannya terus bertindak tepat? Wallahualam. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke