Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

MAHASISWA MASIH LAYAK DEMO

Oleh: Hendry Boen

(OPINI): Banyak kalangan merasa kecewa, melihat komposisi Kabinet RI periode
1999-2004 pimpinan Duet Gus Dur dan Mbak Mega. Tentu yang paling kecewa
adalah kelompok aktivis mahasiswa. Pasalnya,  masih banyak anggota kabinet
yang beraroma dwifungsi atau Orde Baru. Tentang wajah TNI di kabinet, bukan
lagi sekadar aroma, tapi sudah  menyengat.

Delegasi-delegasi mahasiswa seperti FAMRED dan FORKOT, secara tegas menolak
komposisi kabinet tersebut, yang dimanifestasikan untuk terus melakukan aksi
ekstra parlementar (demonstrasi), kalau perlu akan menghadap Gus Dur di
Istana. Sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya JMI (Jaringan Mahasiswa
Indonesia), telah membuktikkan ancamannya, mereka berdemo di bundaran HI
(27/10), menentang komposisi kabinet. Aksi JMI ini merupakan aksi mahasiawa
pertama paska terpilihnya Gus Dur dan Mbak Mega. Ketika menghadiri "Hari
Sumpah Pemuda" di Lampung (28/10),  Mbak Mega juga disambut demo mahasiswa,
yang sekali lagi menyerukan: dicabutnya Dwifungsi TNI dan kabinet yang bebas
dari Orde Baru. Suara-suara kekecewaan juga muncul dari kantong-kantong
gerakan mahasiswa yang lain, sebagaimana yang dilaporkan secara on air, oleh
radio Jakarta News FM (97,4 Mhz). 

Kekhawatiran para aktivis mahasiswa, sejalan dengan pemikiran pengamat
politik Arbi Sanit. Menurut Arbi, komposisi Kabinet Persatuan Nasional
(julukan resmi kabinet ini) merupakan ancaman bagi proses demokrasi di tanah
air. "Dengan masuknya partai-partai besar dalam kabinet, dikhawatirkan tidak
muncul lagi kekuatan oposisi yang mengimbangi dan mengontrol jalannya
pemerintah," tambah Arbi Sanit.

Karena tidak ada kekuatan oposisi di Parlemen, maka kini mahasiswa kembali
diharapkan sebagai kekuatan ekstra parlementer, sebagai pembawa suara
aspirasi rakyat yang sejati. Mahasiswa tetap rela berpanas matahari, atau
bermandi hujan, dan selalu berada dalam ancaman tindak kekerasan aparat.
Sebagaimana yang pernah diucapkan seorang aktivis yang mengalami luka cukup
parah (karena tindakan aparat), bahwa penderitaan mahasiswa selama melakukan
demo, tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan rakyat.

Kabinet yang sekarang ini sering disebut sebagai "Kabinet Kompromi", namun
komprominya dengan sesama elit partai (besar), bukan "kompromi" dengan
harapan masyarakat. Kalau elemen masyarakat lain masih memberikan toleransi
100 hari kepada "Kabinet Kompromi", elemen mahasiswa (terutama sayap
militan) sama sekali tidak mau berkompromi dengan "Kabinet Kompromi".
Mahasiswa pantas merasa kecewa, mereka yang dulu berjuang menegakkan
reformasi, kini aspirasinya seolah tak didengar penguasa.

Seandainya tidak ada gerakan mahasiswa, bisakah Gus Dur dan Mbak Mega kini
menduduki posisi yang terhormat di negeri ini? Sudah selayaknya kalau suara
mahasiswa didengar. Terlebih mahasiswa tidak memiliki pamrih kekuasaan.
Seperti yang pernah dikatakan Dr Arief Budiman, perjuangan mahasiswa adalah
perjuangan yang murni. Bandingkan dengan manuver-manuver elit-elit partai
selama SU MPR tempo hari, yang semuanya bermuara pada kekuasaan, termasuk
oleh Gus Dur sendiri. Sampai beberapa hari menjelang pemilihan Presiden,
orang belum yakin Gus Dur, bahwa Gus Dur ternyata serius ingin jadi
Presiden. Ketika Gus Dur benar-benar terpilih sebagai Presiden, orang baru
terhenyak, betapa canggihnya permainan elit partai di Senayan.

Memang yang paling menyakitkan mahasiswa adalah masih adanya wajah TNI dalam
kabinet, dalam jumlah yang cukup besar, terlebih bila dibandingkan dengan
yang diperoleh PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pemilu. Koordinator
ICW Teten Masduki berpendapat, kabinet pemerintahan saat ini seolah
merupakan kemenangan Golkar dan TNI. "Saya menghitung ada 14 personel
menteri yang berasal dari kedua kelompok," tegas Teten Masduki.

Dari komposisi kabinet tersebut, terlihat Gus Dur dan Mbak Mega tidak cukup
memiliki keberanian mencoret nama-nama yang direkomendasi oleh Jenderal
Wiranto. Masuknya Letjen TNI SB Yudhoyono dalam kabinet misalnya, tidak
lepas dari bertemunya kepentingan intern Angkatan Darat dengan kepentingan
Pemerintah. Masuknya SB Yudhoyono dalam kabinet, adalah untuk memuluskan
jalan Letjen TNI Tyasno Sudarto (Kepala BIA) sebagai KSAD. Selama ini yang
diproyeksikan sebagai KSAD, adalah Yudhoyono. Sementara Tyasno banyak
mendukung Megawati menjelang pemilihan Presiden, sebagai balas budi, Tyasno
diganjar jabatan KSAD. Sedang Yudhoyono diberi jabatan Mentamben, sebagai
kompensasi batalnya dia sebagai KSAD.

Pertimbangan balas budi juga menjadi alasan diangkatnya Letjen TNI Agum
Gumelar sebagai Menhub. Saat masih menjabat sebagai Direktur A BAIS, Agum
Gumelar ikut berperan terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI, dalam
Munaslub di Hotel Kemang, Jakarta Selatan, tahun 1994 yang lalu. Demikian
juga dengan terpilihnya Letjen TNI Purn Surjadi Sudirja sebagai Mendagri,
merupakan nepotisme dari Gus Dur, karena Surjadi Sudirja berasal dari
kalangan NU.

Mahasiswa juga menuntut, kabinet bebas dari unsur Orde Baru. Oleh karenanya
mereka yang pernah menjadi pejabat tinggi di masa Orde Baru, harus mundur,
salah satunya adalah Sarwono Kusumaatmaja. Beberapa kali Sarwono mengatakan,
bahwa kabinet bentukan Gus Dur, harus bebas dari Orba. Kalau Sarwono
konsisten dengan ucapannya, ia seharusnya mundur selaku Menteri Negara
Eksplorasi Laut. Menteri lain yang masuk "kategori" Orde Baru (di luar
militer dan Golkar) adalah: Yusril Ihza Mahendra (penulis teks pidato
Soeharto), Juwono Soedarsono, dan Menkes Ahmad Sujudi.

(*) Penulis adalah mantan aktivis LSM

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke