Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

TANTANGAN TNI, CABUT DWIFUNGSI

(POLITIK): Agus Wirahadikusuma setuju Dwifungsi TNI dicabut. Semoga tidak
jadi retorika saja, TNI harus tunduk di bawah pemerintahan sipil.

Dwifungsi itu anak haram yang terlanjur lahir!" seru Agus Wirahadikusumah di
hadapan ratusan hadirin diskusi buku "Indonesia Baru dan Tantangan TNI".
Kontan, pernyataannya disambut tepuk tangan membahana di lantai empat
Mandarin Hotel, Jakarta. Diskusi yang cukup panas itu menghadirkan empat
pembicara, selain Agus ada pengamat sosial politik Marsillam Simanjuntak,
Mahrus Irsyam, dan aktivis mahasiswa UI, Tommy.

Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah yang punya jabatan Asisten Perencanaan Umum
(Asrenum) Panglima TNI, selama ini dikenal sebagai faksi intelektual dalam
tubuh TNI. Karena kevokalannya, seperti mengusulkan amandemen UUD'45, Agus
telah membuat gerah banyak perwira tinggi TNI. Sayang ia tak berada dalam
posisi yang menentukan di jajaran TNI sekarang. Dukungan untuknya lebih
banyak berasal dari rekan-rekan seangkatannya alumni AKABRI 1973, seperti
Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu dan Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi
setelah pembentukan kabinet Gus Dur, hubungan Agus dengan Susilo Bambang pun
retak karena Susilo tidak mau pensiun dari TNI setelah punya pos sipil
sebagai menteri. Tampaknya, Agus cukup konsisten untuk menolak dwifungsi.

Ketika disinggung Xpos tentang kecilnya faksi reformis di TNI, Agus menolak
anggapan itu. Menurutnya, sejak dulu cukup banyak perwira TNI yang
berpikiran reformis. Ia meramalkan, begitu pucuk pimpinan yang berpikiran
status quo berubah, maka TNI dalam sekejap akan berubah. Karena itu, ia
berharap TNI dibersihkan dari pimpinan yang berpikiran status quo. "Saya
sudah bicara dengan Laksamana Widodo agar beliau segera melakukan reformasi
kepemimpinan di TNI. Bersihkan pimpinan yang ada dan ganti dengan
perwira-perwira yang mempunyai strong leadership," tegas Agus.

Agus melihat adanya proses pembusukan dalam manajemen personel TNI sudah
lama berlangsung. TNI menurutnya sudah lama meninggalkan hukum alam seperti
logika pohon dan air. "Bila suatu pohon ingin kuat, maka ia harus mengakar
ke bawah dengan kuat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak perwira
TNI yang mencari cantolan ke atas. Logika air juga dibalik, mestinya
mengalir ke bawah, di TNI malah mengalir ke atas, alias apa yang selama ini
kita kenal dengan budaya setoran," seru Agus yang kembali mendapat tepuk-tangan.

Sementara itu, Marsillam Simanjuntak masih kritis melihat TNI. Ia menilai
saat ini tentara telah ingkar janji untuk mengurangi perannya di bidang
sosial politik. Terbukti dengan adanya empat tentara aktif yang duduk di
kabinet Gus Dur. "Ini jenderal-jenderal aktif masuk di sana. Artinya,
imbangan kekuatan politik dengan masuknya anggota TNI itu akan jalan terus.
Sehingga janji untuk mengurangi dwifungsi itu dibatalkan dengan masuknya
empat atau lima jenderal dalam kabinet. Buat apa?" sodok Marsillam dengan
sinis. Saat ini, tentara yang menduduki kabinet adalah Jendral TNI Wiranto,
Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, Letjen TNI Agum Gumelar, dan Laksamana
Freddi Numberi.

Marsillam mengatakan, masuknya tentara aktif itu menunjukkan bahwa TNI masih
punya kekuatan untuk melakukan penekanan terhadap pemerintah. Pendapat
Marsillam disanggah Agus, masuknya tentara ke kabinet itu hanya melaksanakan
tugas negara saja. "Kita tidak mengenal dwifungsi lagi. Itu hanya panggilan
tugas dari negara. Karena itu mereka dihadapkan pada dua kepentingan, mana
yang lebih dipentingkan. Kalau itu dianggap penting, maka mereka harus
berhenti jadi tentara. Dia harus konsisten dong dengan aturan. Tapi kalau
tidak mau ya harus lapor pada presiden," kata Agus.

Para jendral yang masuk dalam kabinet itu tak mau melepaskan baju TNI karena
khawatir lepas dari akarnya hingga tak punya kekuatan politik lagi. "Tanpa
tanda pangkat di pundak, Wiranto atau Susilo Bambang Yudhoyono itu bukan
apa-apa lagi. Kemampuan mereka kalah jauh profesionalitasnya untuk
mengerjakan banyak persoalan sipil," sanggah balik Marsillam, "Itulah
dwifungsi."

Beberapa tokoh yang hadir dalam diskusi, dari paranormal Permadi sampai
pakar TNI Harold Crouch, menilai dwifungsi memang perlu dibahas ulang secara
mendalam agar tak terjebak dalam retorika-retorika. Perlu batasan yang jelas
menyangkut kepentingan-kepentingan TNI maupun politisi sipil. Karena
bagaimanapun sesungguhnya, TNI harus tunduk di bawah supremasi sipil. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke