Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

Profesor Charles Coppel, pengajar Universitas Melbourne:
"HABIBIE BENAR, TNI YANG MENGACAUKAN"

(DIALOG): Timor Timur sudah lepas dari Indonesia. Pasukan Interfet yang
dipimpin Australia, mengamankan kondisi negeri Loro Sae itu sebelum PBB
masuk dan mengalihkannya ke pemerintah Timor Leste merdeka. Hubungan
Australia pun jadi tegang dengan Indonesia. Media umum tak kalah seru
memojokkan Australia. Tapi sebenarnya, apa pendapat orang Australia sendiri
melihat masalah ini. Berikut wawancara Xpos dengan Charles Coppel mengenai
Timor Timur dan hubungan Indonesia Australia:

T: Australia tampaknya ngotot banget mengupayakan kemerdekaan bagi Timor Timur?
J: Pemerintah Australia sejak aneksasi Timor Timur sebetulnya lebih berpihak
ke pemerintah Indonesia. Tetapi ada banyak hal mengapa kemudian dukungan itu
berbalik. Pertama, karena alasan sejarah bahwa dulu ada kesalahan ketika
Australia menyatakan dukungan ke Indonesia sebetulnya dengan catatan: tidak
dengan jalan kekerasan. Tetapi itu dilanggar tentara Indonesia. Kedua,
masyarakat Australia khususnya LSM-LSM yang ada di sana baik yang berhaluan
kanan sampai kiri sangat menentang penjajahan Indonesia atas Timor Timur
dengan alasan bahwa kemerdekaan adalah hak asasi sebuah bangsa, sama seperti
ketika masyarakat Australia mendukung kemerdekaan Indonesia lepas dari
penjajahan Belanda. Bahkan dulu sampai para buruh pelabuhan di Darwin dan
kota-kota pantai lainnya di Australia mogok melayani kepentingan Belanda
karena mereka mendukung Indonesia. Nah, dukungan semacam itulah yang kini
diberikan masyarakat Australia ke Timor Timur. Memang ada yang keterlaluan
sampai merugikan warga Indonesia yang tinggal di Australia. Ketiga, ada
banyak pengungsi Timor Timur yang hijrah ke Australia, termasuk dulu Jose
Ramos Horta. Pengungsi ini banyak mengkampanyekan perjuangan Timor Timur
untuk merdeka. Salah satu puncak kampanye adalah ketika insiden Santa Cruz
meletus. Publik Australia dan juga publik dunia melihat bagaimana kekejaman
tentara Indonesia menembaki masyarakat yang tak bersenjata. Ada satu adegan
peristiwa yang menyayat ketika seorang demonstran mati terkapar di atas
kuburan dengan darah berlumuran. Saya pikir tiga faktor itu sudah sangat
mengubah pandangan pemerintah Australia.

T: Bukannya pemerintah Australia punya kepentingan politik dan ekonomi
terhadap Timor Timur?
J: Banyak media di Indonesia memberitakan bahwa John Howard punya
kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemilu sebentar
lagi, jadi dia harus memberi hati pada publik Australia. Berita itu tidak
benar, tidak ada pemilu untuk pemilihan Perdana Menteri dalam waktu dekat.
Yang ada adalah jajak pendapat terhadap masyarakat Australia apakah akan
memilih tetap di bawah Ratu Elizabeth di Inggris atau mandiri menjadi
republik sendiri. Kalau dilihat kepentingan ekonomi, saya pikir justru
Australia akan rugi karena Indonesia bagaimana pun adalah pasar yang besar,
menguntungkan dan menjanjikan bagi Australia. Mungkin kepentingan Australia
tetap ada dengan memperhatikan hubungan ekonomi-politik dengan Timor Timur
di masa depan.

T: Tampaknya hubungan Indonesia dan Australia akan seperti dua ekor landak
yang tidak bisa sangat dekat karena akan saling menusuk?
J: Saya tidak sepesimis itu. Hubungan Australia-Indonesia pada dasarnya
lebih banyak hal yang menguntungkan secara ekonomi-politik. Kalau kita
masing-masing berpikir secara rasional tentu lebih baik memilih hubungan
dekat daripada jauh. Hanya sentimen nasionalisme yang berkembang di dua
negara saat ini tampak memperburuk keadaan. Dan hubungan yang panas saat ini
tentu tidak bisa tiba-tiba didinginkan. Perlu proses untuk mendamaikan tiga
pihak: Indonesia, Australia, dan Timor Timur.

T: Hal itu menjelaskan mengapa Kay Rala Xanana Gusmao lebih memilih untuk
menjalin hubungan regional dengan Pasifik daripada dengan Asean?
J: Pilihan Xanana sangat bisa dipahami. Saya pikir karena dua sebab.
Pertama, Indonesia adalah negara besar dan sangat berpengaruh di Asean, jadi
Xanana tidak ingin berada terus di bawah subordinasi Indonesia. Kedua,
alasan rasis. Timor Timur merasa bahwa mereka lebih dekat dengan ras
melanesia daripada dengan ras melayu-cina. Jadi Xanana memperhitungkan bahwa
Timor Timur akan diterima sederajat oleh Papua Nugini, Bougenville, Fiji dan
negara-negara kecil lainnya di Lautan Pasifik.

T: Tampaknya publik internasional khususnya Barat lebih mengecam Indonesia,
padahal dulu Barat juga yang mendorong Indonesia masuk ke Timor Timur?
J: Ada perubahan yang mendasar dalam hubungan internasional sejak
berakhirnya Perang Dingin. Dulu sebelum Perang Dingin, memang Baratlah yang
memasok senjata untuk Indonesia guna menghabisi kekuatan Fretilin yang
dianggap komunis. Padahal tidak semua anggota Fretilin itu komunis. Hanya
saja banyak negara masih belum mengakui Timor Timur bagian dari Indonesia.
PBB juga tidak mengakuinya. Lalu perang dingin selesai dengan pecahnya
Soviet, kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya yang mengkhawatirkan blok
komunis akan menjadikan Timor Timur sebagai pangkalan perang tidak ada lagi.
Perubahan internasional inilah yang terlambat dipahami TNI.

T: Jadi Habibie melakukan hal yang benar dalam soal Timor Timur?
J: Ya. Publik internasional melihat opsi yang diberikan Habibie itu baik.
Tetapi semuanya dirusak oleh TNI yang secara terselubung mendukung milisi.
Saya lihat di televisi Australia, Kapuspen Mayjen Sudrajat mengatakan "Tidak
ada bukti bahwa TNI mempersenjatai milisi". Tapi ketika TNI maupun Interfet
melucuti milisi, terkumpul banyak senjata yang menjadi standard digunakan
tentara Indonesia. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke