Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

MERETAS DAMAI DI ACEH & IRIAN

(POLITIK): Tuntutan merdeka di Aceh dan Irian Jaya, benarkah harga mati?
Sebagian analis masih belum yakin. Sayangnya Gus Dur sempat keseleo lidah.

Merdeka. Sekarang, sekarang dan sekarang," pidato berapi-api Ir Soekarno di
muka sidang BPUPKI, 54 tahun silam. Sembari berucap, telunjuk Soekarno
menuding langit dan sesaat tepuk sambutan menggempita seisi ruang.

Semangat serupa Soekarno dan nuansa gempita seisi ruang muncul kembali pada
"Presentasi Penelitian Resolusi Konflik Aceh dan Irian Jaya," di Jakarta
(27/10). Tengku Syech Marhaban, yang dijuluki 'Khomeini Aceh' menggelegarkan
suara di ruangan berisi sekitar 70 hadirin. Syech menandaskan kemerdekaan
berarti, "lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan
otonomi atau federasi". Cuma kali ini Syech tidak menudingkan telunjuk ke
langit.

Dengan begitu, tertutupkah peluang penyelesaian alternatif, semisal otonomi
luas atau federasi? Tidak perlu pagi-pagi menarik kesimpulan. Apalagi yang
berhak mengambil sikap bukan siapa-siapa, kecuali rakyat bersangkutan.
"Jakarta hanya berfungsi menyelenggarakan beberapa kemungkinan agar proses
penentuan sikap bisa dilangsungkan secara fair," ulas J. Kristiadi, pengamat
politik CSIS. Maksudnya? "Tuntutan turunan seperti penarikan pasukan TNI,
mengembalikan pengungsi ke tempat asal, mengadili pelaku pelanggar HAM harus
betul-betul dilaksanakan," sambung Kristiadi.

Dari penelitian LSM Yappika ditengarai tiga aspek yang menjadi akar soal.
Yakni, perbedaan sejarah, identitas, dan ketidak-adilan sosial. Proses
sejarah dan pembentukan identitas masyarakat Aceh diklaim berbeda dengan
wilayah lain di 13.000 pulau ini. Identitas politik Aceh terbentuk sejak
abad XVI (1520). Tentangan perang pemerintah Hindia Belanda tanggal 26 Maret
1873 pun disikapi dengan perlawanan tanpa mundur. Maka, ketika Indonesia
diproklamasikan, kalangan elit Aceh segera melakukan 'analisa situasi'.

Manakala ketidakadilan sosial-ekonomi-politik mendera, aras analisa menuju
ke satu simpul. Lepas dari RI. Akar serupa kiranya terjadi pada Irian.
Berdasar catatan sejarah, Irian pernah memproklamirkan diri tanggal 1
Desember 1961. 'Bintang Kejora', bendera perlawanan rakyat Papua pun sempat
menjulang di tujuh kabupaten dari sembilan yang ada selama kurun Juli
1998-Juli 1999. Wilayah ini juga diwarnai beberapa pemberontakan sejak tahun
1960-an.

Namun, Litbang Kompas Daniel Dhakidae, meragukan unsur identitas sebagai
akar persoalan konflik Aceh pun Irian. Terutama soal identitas keislaman
yang disebut menjadi faktor utama di Aceh. Menurut Dhakidae, identitas yang
sama turut dimiliki sekitar 80 persen rakyat Indonesia. "Artinya ia tidak
menjadi khas Aceh. Peta persoalan lebih tepat dan penting bila dilihat dari
kacamata struktural." Dhakidae mensinyalir adanya internal colonialism di
kedua wilayah. "Saya bisa katakan, di Irian Jaya telah berlangsung
perbudakan terselubung." Dengan begitu, Dhakidae memaklumkan ketidakadilan
dan pelanggaran asasi manusia lebih mendasari munculnya tuntutan-tuntutan
rakyat.

Di sisi lain Dakhidae sepakat dengan rekomendasi upaya damai selain
kemerdekaan. Upaya alternatif yang mengemuka mencakup referendum dan dialog
rekonsiliasi. Sejumlah nama direkomendasikan bakal mewakili kepentingan
rakyat dalam proses dialog. Untuk Aceh terdapat nama-nama Tengku Syech
Marhaban, Tgk. H. Ibrahim Bardan, Tgk. H. Nurzahri Tgk. H. Syarmaun Risjad,
Tgk. H. Daud Zamzami, Tgk. H. Muslim Ibrahim, Tgk. Abubakar AlBayani, Tgk.
H. Muhammad Nasir Waly dan Tgk. H. Abubakar Sabil dari kalangan ulama. 

Sementara Tgk. Bulqaini dan Tgk. Baihaqi (thaliban/santri), Aguswandi,
Kautsar, M. Taufik Abda, Islamuddin, Azmi, Fajran Zein, Effendi Hasan,
Alfian, Mukminan, dan Muhammad Radhi (mahasiswa). Terdapat pula wakil LSM
seperti Otto Syamsuddin, Abdul Gani Nurdin, Maimul Fidar, Suraiya, M.Yunus,
Basyir Achmad, Ramadhana, Faridah Hariani dan Dr. Humam Hamid.

Dialog Irian Jaya melibatkan: Tom Beanal (tetua adat), August Kafiar (tokoh
masyarakat), Yusan Yeblo (tokoh perempuan), Frans Siriwa (pers), Nafi
Sanggenafa dan Dr Benny Giai (intelektual), Martinus Werimon (mahasiswa),
serta August Rumansara dan John Rumbiak (LSM). Wakil pihak luar, yaitu tokoh
masyarakat pendatang Verry Rioh dan Mayjen Sembiring dari unsur TNI
(pemerintah Jakarta). Kalangan birokrasi setempat dan gubernur pun
rencananya turut dilibatkan.

Peluang penyelesaian damai sebetulnya terbuka dalam pemerintahan baru di
bawah KH Abdurrahman Wahid. Kepada pers, presiden mengaku menanggapi kasus
Aceh dan Irian secara serius. Ini ditunjukkan dengan pembagian tugas dengan
Wapres Megawati Soekarnoputri. Sementara Irian, Maluku, Riau dan
daerah-daerah konflik lain diserahkan kepada wapres, Aceh akan langsung
ditangani presiden. Cuma entah keseleo lidah atau ceplas-ceplos selayak
sebelum menjabat presiden, Abdurrahman Wahid belakangan melontarkan
pernyataan kontroversial. "Pelaku pembunuhan rakyat Aceh bukan TNI, mereka
adalah orang-orang yang menggunakan baju TNI."

Kontan pernyataan itu menyulut protes kalangan LSM Aceh. Penunjukan
Hasballah M. Saad sebagai Menteri Hak Asasi Manusia pun malah dinilai minor.
Sejumlah tokoh gerakan Aceh menyikapinya secara dingin. Menurut keterangan
Ichsan Malik, mantan pengurus PKBI, lantaran Hasballah mendapat nilai minus
dari tokoh-tokoh tersebut. "Kalangan ulama menganggap Hasballah oportunis.
Kenyataannya, ia memang tidak dapat disebut wakil gerakan Aceh." Nah,
hati-hati dong. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke