Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

POROS TENGAH II

(LUGAS): Menko Ekuin Kwik Kian Gie memastikan tak ada pergantinan Kepala
BPPN, Rabu (3/11) lalu. Berita ini mengakhiri spekulasi yang berkembang
beberapa hari sebelumnya. Ketika itu beredar isu, Glenn Yusuf akan 'dicopot'
dan digantikan oleh Rini Suwandi.

Sebetulnya, tak ada yang aneh dengan pergantian semacam itu, mengingat saat
ini adalah era kabinet baru. Pergantian pejabat tinggi, terjadi di semua
lini. Tak ada salahnya pula mengganti Glenn Yusuf. Sebab, kendati banyak
pihak menilainya 'bersih', toh sulit membuktikan apakah ia cukup capable
atau tidak. Soalnya, selama ini BPPN memang tidak mandiri, jadi tak bisa
berprestasi.

Yang jadi masalah, dikabarkan, isu pergantian ini dilakukan sebagai manuver
politik kubu "Poros Tengah" untuk menguasai aset-aset bernilai tinggi.
Seperti diketahui, BPPN mengelola aset senilai Rp600 trilyun. Ini dikaitkan
dengan 'penguasaan' pos-pos gemuk lain oleh Poros Tengah, seperti Menteri
Kehutanan dan Perkebunan (Dr. Nur Mahmudi Ismail) serta Menteri Keuangan
(Dr. Bambang Sudibyo).

Dengan menguasai BPPN, tentunya pengaruh mereka akan makin besar. Sebab,
seperti Golkar sebelumnya, uang bisa  memperoleh suara signifikan dalam
Pemilu '99 lalu. 

Tingginya rasa percaya diri Poros Tengah, agaknya mulai muncul setelah
mereka berhasil menggolkan Gus Dur sebagai presiden. Meskipun partai-partai
yang tergabung di Poros Tengah, tak meraih suara berarti dalam pemilu. Sikap
kompromi Gus Dur dalam membentuk kabinet pun dimanfaatkan mereka dengan
sebaik-baiknya.

Manuver ini jelas mengkhawatirkan. Meskipun, seandainya, otonomi daerah
dijalankan secara benar, kekhawatiran ini bisa berkurang. Toh, hal itu tak
bisa serta merta berjalan dalam waktu 1 atau 2 tahun ini. Dalam kurun waktu
ini, banyak hal yang bisa 'diraup'.

Untuk itu, memang perlu dirumuskan mekanisme pemberian sanksi yang jelas
bagi siapapun yang hendak menyalahgunakan wewenangnya. Mengharapkan Gus Dur
sendiri yang melakukannya, sungguh amat riskan. Bagaimanapun, seperti diakui
Gus Dur sendiri, pembentukan kabinetnya dilakukan dengan kompromi. Tentu
sulit baginya untuk mendepak orang-orang yang direkomendasikan Amien Rais
misalnya.

Kiranya perlu diberikan wewenang pada DPR untuk melakukan 'impeach' pada
pejabat pemerintah yang telah jelas-jelas melakukan kesalahan. Apalagi, saat
ini, DPR lebih dikuasi oleh PDI-P dan Golkar yang pasti akan lebih berani
berbicara keras pada Poros Tengah. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke