Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

BEREBUT Rp 600 TRILIUN

(POLITIK): Rebutan pundi-pundi BPPN berakhir. Gus Dur yang dapat. Tapi
banyak wakil partai berusaha menguasai departemen yang basah.

Kelompok Amien Rais kalah dua kali dalam perebutan lembaga yang menangani
aset senilai Rp 600 triliun itu. Pertama, Ketua BPPN Glenn Yusuf tetap
dipertahankan Presiden dan tak jadi diganti Fuad Bawazier, tokoh Poros
Tengah dari PAN atau orang dekat PAN lainnya, Rini Suwandi. Kekalahan kedua,
BPPN diambilalih Presiden langsung, tidak lagi di bawah Departemen Keuangan
yang menterinya orang PAN. Seharusnya kalau Bambang Sudibyo, sang Menteri
Keuangan itu, Fuad Bawazier dan Amien Rais sendiri tidak "menggebu-gebu"
ingin mendongkel Glenn, mereka tidak perlu kehilangan BPPN. Paling tidak,
Ketua BPPN tetap Glenn, namun BPPN tetap di bawah kendali Bambang. Tapi apa
lacur?

Kalau mau dievaluasi, manuver kelompok Amien kali ini, yakni manuver untuk
merebut BPPN memang  tak matang betul. Kesalahan fatal Amin karena
memaksakan Fuad Bawazier menggantikan Glenn. Fuad, mantan Menkeu di kabinet
terakhir rezim Soeharto itu, dikenal korup di zamannya, dan ia ditolak
pasar, kekuatan abstrak yang bisa kapan saja menjatuhkan lagi situasi
ekonomi Indonesia ke jurang krisis yang lebih dalam. Kesalahan berikutnya,
Amien memberi alternatif calon lainnya, yakni Rini Soewandi, mantan Wakil
Ketua BPPN yang kini Direktur Utama PT Astra Internasional. Rini, lajang
yang dikenal amat-amat dekat dengan Fuad ini, gampang sekali dirobohkan oleh
orang-orang Glenn. 

Nah, ihwal munculnya nama Rini menurut sumber Xpos berawal dari telepon Fuad
ke Glenn setelah susunan kabinet diumumkan Gus Dur. Fuad, ujar sumber itu
memberitahu Glenn bahwa Rini akan menggantikannya.

Nah, Rini sendiri dulu mundur dari Wakil Ketua BPPN karena tersangkut dalam
skandal spekulasi valas di Bank Hastin. Sumber di BPPN mengatakan, Rini,
Februari 1998 memperoleh kredit dari Bank Hastin yang digunakannya untuk
main valas, mengantisipasi diberlakukannya Currency Board System. Kredit
yang diterima Rini cukup besar, jumlahnya hampir US$2 juta. Karena sepkulasi
valas di Bank Hastin ini, bank itu dirugikan hampir Rp2 miliar. Gara-gara
kasus ini, Rini diminta mundur, ia akhirnya mundur dan balik ke Astra
International, tempat dia dibesarkan Bob Hasan, kroni utama Soeharto. 

Kasus rebutan kue BPPN muncul setelah Glenn Yusuf membeberkan kepada pers
bahwa ia akan diganti oleh seorang direktur utama sebuah perusahaan
otomotif. Glenn tidak menyebut namanya, namun semua orang tahu, yang
dimaksud adalah Rini. Namun yang tidak diungkapkan Glenn adalah, ia dan
keluarganya diteror oleh orang-orang tak dikenal agar melepaskan jabatannya
itu dan tak usah bertindak macam-macam untuk melawan. "Lu menyerah aja,
mundur aja," ujar seseorang ke telepon genggam Glenn. Nah, kasus ini makin
terbuka ketika Menkue mengadukan ke bosnya, Amien Rais, bahwa Duta Besar
Amerika Serikat Robert Gelbard, menekannya agar tidak mengganti Glenn dalam
pertemuan di rumah Mari'e Muhammad, Jl Brawijaya. Kontan penyakit lama
Amien, yang agak sentimen sama Amerika Serikat itu muncul. Ia menuntut
Gelbarld diusir tidak dengan hormat dari Indonesia. Belakangan, ternyata,
Bambang salah dengar, karena menurut Alwi Shihab, yang hadir dalam pertemuan
yang dimaksud Bambang, Gelbarld tidak pernah menekan Bambang. "Ia hanya
mengatakan agar orang-orang yang terlibat korupsi jangan dipakai lagi," ujar
Alwi. Kesaksian Alwi ini dibenarkan Mari'e, tuan rumah pertemuan itu yang
merasa tak enak. "Tak pernah dibicarakan soal penggantian Glenn," ujarnya.

Pertemuan itu sendiri atas prakarsa Alwi, Kamis 28 Oktober silam. Alwi yang
ditujuk Presiden jadi Menteri Luar Negeri ditelepon Gelbard yang ingin tahu
soal BPPN. Gelbarld juga ingin bertemu Menteri Keuangan yang baru. Alwi
mengontak Mari'e Ketua Independent Review Committee lembaga pengawas BPPN. 

Menurut sumber Xpos diskusi di rumah Mari'e itu fokusnya pada pemberantasan
korupsi yang dilakukan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), yang
dipimpin Mari'e dan hasil penyelidikan organisasi itu soal peringkat korupsi
Indonesia dan soal BPPN. Dalam pembicaraan khusus soal BPPN memang
disinggung mengenai penggantian, tetapi tak pernah dibicarakan apakah Glenn
diganti atau dipertahankan. 

Tapi entah dapat wangsit dari mana, besoknya, Bambang menuding Dubes AS
mengintervensi kebijakan dalam negeri Indonesia dengan menekannya agar tidak
mengganti Glenn Yusuf. Ada yang menduga, Bambang tak paham betul berhasa
Inggris, sehingga ada kalimat yang mungkin diterjemahkan Bambang sebagai
tekanan agar tak mengganti Glenn.  

Fuad bahkan menuduh Glenn sebagai agen Amerika. Pernyataan Bambang ini
kekanak-kanakan. Kalau bantuan IMF, Bangk Dunia, ADB dan CGI benar-benar
dihentikan karena sentimen anti Barat ini, ya mampuslah kita.

Gus Dur, tampaknya risih dengan manuver kelompok Amien yang ingin merebut
kue BPPN, maka daripada untuk rebutan, ya dia ambil sendiri BPPN. Lagi-lagi,
yang ya PKB. Sumber Xpos mengatakan, kelompok Amien ingin menguasai BPPN
sepenuhnya dari para profesional seperti Glenn yang lebih memihak ke
Megawati ketimbang ke Poros Tengah. Alasan lainnya, karena PDI-P sudah
menguasai aset lainnya senilai Rp300 triliun lewat tangan Laksamana Sukardi
yang jini jadi menteri urusan BUMN. Dalam pikiran Amien dan kawan-kawan,
PDI-P tak boleh dibiarkan menguasai aset demikian banyak, karena bisa saja
digunakan untuk kepentingan politik ekonomi PDI-P. Jadi Poros Tengah harus
menguasai sumber penting lainnya: BPPN. 

Baru kali ini kelompok Amien gagal merebut kursi. Sebelumnya mereka sukses
menjegal Megawati menjadi Presiden dan menggolkan Gus Dur jadi Presiden.
Berikutnya mereka berhasil menyusupkan delapan orangnya ke Kabinet Gus Dur,
kendati gagal merebut BPPN dari orang-orang profesional seperti Glenn. 

Tapi perjuangan Poros Tengah menggolkan kadernya menduduki "jabatan"
tertentu belum usai. Ada guyonan , Poros Tengah sedang mencari cara yang
efektif untuk membantu Wanda Hamidah, artis pendukung PAN, untuk merebut
"jabatan" sebagai Bintang Lux. Kompetisi yang melibatkan bintang-bintang
terkenal itu tengah diperlombakan, siapa memperoleh suara terbanyak dia yang
menang. Nah, kalau menggulingkan Megawati saja bisa, pasti merebutkan
"jabatan" untuk Wanda, pendukung berat PAN di masa Pemilu lalu, bukan hal
yang sulit. (*)

---------------------------------

MENIRU LANGKAH ADI SASONO

(BOX): Belum ada seminggu menjabat sebagai Menteri Negara Koperasi dan
Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah, Zarkasih Nur pagi-pagi sudah mematok
keperluan departemennya minimal Rp100 triliun. Ketika serah terima jabatan
dari Adi Sasono kepadanya Senin (1/11), Zarkasih mengatakan  untuk bisa
mengembangkan KPKM diperlukan dukungan permodalan dari pihak perbankan.
Modal yang diharapkan bisa membantu KPKM ini menurut Zarkasih sebesar Rp100
triliun rupiah, karena selama krisis berlangsung yang paling menderita
adalah rakyat kecil.

Entah bagaimana rasionalitasnya, yang jelas Zarkasih hanya membandingkan
dengan biaya rekapitalisasi perbankan sebesar Rp500 triliun. Kalau misalnya
uang sebesar Rp100 triliun dulu diberikan kepada KPKM barang kali Indonesia
tidak akan mengalami krisis yang berkepanjangan ini. 

"Target kita  harus tinggi, kan harus begitu kalau  mau meminta. Tapi kalau
tidak disetujui ya namanya saja permintaan," katanya.

Menurut sejumlah sumber, Zarkasih sengaja menggelembungkan dana kantornya
untuk meniru langkah Adi Sasono dalam merekrut pendukung partainya. Bahkan
untuk mewujudkannya, sekarang Zarkasih sedang mempersiapkan skenario
penggantian para pimpinan teras kantornya.

Seperti menjadi rahasia umum, bahwa ketika menjadi Menkop PKM Adi Sasono
diduga keras memakai infra struktur dan dana kantor Menkop untuk kepentingan
Partai Daulat Rakyat (PDR). Namun usaha mencari pendukung itu gagal total
karena ternyata para pengurus PDR banyak melakukan penyelewengan dana untuk
kepentingan diri sendiri.

Sumber Xpos menyebutkan, ketika pembentukan kabinet, konon kabarnya terjadi
perdebatan seru antara para elit parpol untuk memasukkan orangnya di
kabinet-kabinet basah. Sebagian dari mereka menganggap dengan masuk ke
departemen basah, maka akan mudah baginya untuk mengeruk dana pemenangan
Pemilu mendatang. Pihak yang paling ngotot memasukkan orangnya ke pos-pos
basah tersebut adalah poros tengah. Dan setelah berhasil menempati pos
menteri, mereka sekarang sedang giat memasukkan orang-orangnya ke
jabatan-jabatan inti, seperti sekjen, deputi maupun jabatan-jabatan
strategis lain. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke