Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

DEWAN EKONOMI DITOLAK EKONOM

(POLITIK): Para ekonom UI dan UGM menolak masuk Dewan Ekonomi Nasional
bentukan Gus Dur, karena ada Subyakto, Fuad Bawazier dan Yusuf Faisal.

Yusuf Faisal mengaku di mana-mana, di setiap kesempatan, di
konperesnsi-konperensi pers bahwa ia sudah diangkat Presiden Gus Dur sebagai
Sekretaris Jendral Dewan Ekonomi Nasional. Dari namanya, dewan ini amat
bergengsi, karena sebelum kabinet terbentuk, Gus Dur lebih dulu memanggil
sejumlah ekonom, dan dua mantan menteri Orde Soeharto yakni Fuad Bawazier
(mantan Menkeu) dan Subiyakto Tjakrawerdaya (mantan Menkop) untuk membentuk
dewan ini. 

Fuad dan Subiyakto, semua orang sudah tahu siapa mereka. Tapi Yusuf Faisal?
Ia memang orang baru. Yusuf, yang istrinya  penyanyi masa lampau, Hetty Koes
Endang, adalah pengusaha sukses yang bergabung ke PKB. Ia anggota Departemen
Ekonomi PKB. Keistimewaan orang ini bukan hanya itu, ia dekat dengan Gus Dur
dan konon ia menyumbang dana yang cukup besar untuk PKB. Usaha kelapa
sawitnya di Kalimantan sukses besar dan bisnis lainnya di Malaysia
membuatnya sukses. Yusuf lulusan IPB dan masternya diselesaikan di London
Economic Shcool. 

Sebelum dewan ekonomi ini terbentuk, ia sudah punya kantor di Bina Graha
yang memang direncanakan untuk sekjen dewan ekonomi. Yusuf, karena berkantor
di situ, sudah seperti layaknya ekonom senior di awal kekuasaan Soeharto,
seperti misalnya Prof Dr Soemitro, begawan ekonomi kita atau Prof Dr Widjojo
Nitisastro, dua peletak dasar pembangunan ekonomi Orde Baru. Yusuf,
tampaknya juga ingin dicatat sebagai salah satu peletak dasar pembangunan
ekonomi Orde Persatuan Nasional. 

Toh, Yusuf dan Subiyakto akhirnya ditunjuk Gus Dur jadi Sekjen dan Ketua
DEN. Namun, para anggotanya belum ada. Para ekonom andal Universitas
Indonesia seperti Sri Mulyani, Chatib Basri, Anton Gunawan dan Universitas
Gajah Mada seperti Tony Prasetiantono, Sri Adingsih dan Anggito Abimanyu
yang sedianya bergabung, menolak. Mengapa? Mereka tak mau orang-orang dari
masa lalu, seperti Subiyakto, yang amat dekat dengan Bambang Trihatmodjo dan
Mbak Tutut ini bercokol kembali di dewan ekonomi, apalagi jadi ketua. Tak
hanya itu, sumber Xpos mengatakan para ekonom itu merasa risih dengan gaya
Yusuf Faisal, Sekjen Dewan Ekonomi yang merasa dirinya ekonom andal. Para
ekonom itu juga menginginkan Dewan Ekonomi bebas dari pengaruh partai,
artinya orang-orang yang duduk di dewan itu sama sekali bukan orang partai,
ekonom yang benar-benar independen. Yusuf adalah orang PKB dan ia pasti
partisan. Demikian pula Subyakto, penggagas Dewan Ekonomi ini. Subyakto
dekat dengan PKB karena belakangan ini, kata sebuah sumber Xpos menyumbang
dana yang cukup besar yang entah sumbernya dari mana. 

Nah, kalau para ekonom andal itu itu menolak bergabung, apakah Dewan Ekonomi
pimpinan Subiyakto itu akan berwibawa? Jawabnya: jelas tidak. Siapa yang
akan percaya Subyakto dan Yusuf Faisal yang kepakaran ekonominya masih jauh
di bawah Chatib Basri misalnya, anak muda yang cemerlang dalam pemikiran
ekonomi? 

Boikot para ekonom itu, tampaknya akan cukup menghambat laju kepercayaan
pasar dan investor asing terhadap Indonesia. Bagaimana ini Gus? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke