Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99 ------------------------------ DEN, UNTUK SIAPA? (POLITIK): Gus Dur dan Amien Rais nampaknya nekad mau menempatkan Subiakto dan Fuad Bawazier di Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Perlawanan muncul dari pasar dan ekonom. Susah memang kalau punya hutang, apalagi kalau itu hutang politik. Hutang inilah yang membelenggu Gus Dur dan Amien Rais berkaitan dengan Subijakto Tjakrawerdaya dan Fuad Bawazier. Soebijakto, dikenal masih berlumur dosa Cendana, berupaya menyelamatkan karir politiknya dengan mendekati Gus Dur. Ia memasok dana kampanye yang cukup besar untuk Partai Kebangkitan Bangsa, sehingga jasanya tak mungkin dilupakan begitu saja oleh Gus Dur dan Kaum Nahdliyin. Cara yang sama dilakukan juga oleh Fuad Bawazier, bedanya yang jadi gacoan mantan Menteri Keuangan di bulan-bulan terakhir Soeharto itu adalah Amien Rais. Keduanya memang jago menjadi kasir politik. Dengan harapan yang oportunis, keduanya berniat selamat dari perahu retak Orde Baru. Harap diingat, kedua orang ini menduduki posisi kementrian Soeharto karena rekomendasi putra-putri Cendana yang berhasil mereka jilat, yakni Tommy dan Titiek. Wajar ketika jadi menteri koperasi, Subiakto membebaskan Tommy bikin skandal yang menggerogoti uang rakyat dan negara: yakni skandal BPPC (Cengkeh) dan GORO. Sedangkan Fuad yang sukses jadi Dirjen Pajak dengan membebaskan putra-putri Cendana untuk tidak bayar pajak, diangkat Soeharto menjadi Sekretaris Jendral Dewan Pemantapan dan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan. Fuad dianggap berhasil jadi Sekjen Dewan karena mampu menyelamatkan harta keluarga, dan ganjarannya ia diangkat sebagai Menteri Keuangan di kabinet terakhir Soeharto. Oportunisme Fuad sangat kelihatan ketika jadi Menteri Keuangan tidak pernah konsisten dengan keputusan yang dibuatnya. Pernah ia mengeluarkan keputusan yang langsung dicabutnya lagi hanya dalam tempo dua hari. Berkali-kali ia juga menarik ucapan dan keterangannya di depan wartawan. Tapi bagaikan belut, meski tak pernah berpendirian lurus, kedua orang ini licin otaknya dalam menyelamatkan karir politik. Keluarga Soeharto tak lagi kuasa, mereka ganti menjilat tokoh-tokoh pro reformasi yang diperkirakan bakal duduk di posisi puncak, yakni Gus Dur dan Amien Rais yang mereka dekati dengan menggunakan sentimen primordial. Bagaimanapun politik memang butuh dana, begitu juga politik Gus Dur dan Amien Rais butuh suplai dana yang besar. Subiakto dan Fuad Bawazier tahu persis kebutuhan tersebut dan mereka dengan lihai menancapkan pengaruhnya. Gus Dur dan Amien Rais sendiri bukannya naif tidak tahu belang mereka. Hanya saja, ada tujuan lain yang ingin digapai dengan upaya menarik kedua belut politik itu. Pertama, Gus Dur ingin menarik sebanyak mungkin uang Soeharto untuk dikembalikan ke kas negara. Subiakto dan Fuad dianggap tahu kemana saja uang Cendana itu mengalir. Gus Dur tentu saja butuh modal besar untuk membangun kembali ekonomi Indonesia, ia bersedia "mengampuni" Soeharto dengan catatan Soeharto mau menyetor kembali uang hasil sedotannya semasa ia berkuasa. Sedangkan Amien Rais berkepentingan untuk mengimbangi gerak strategi ekonomi Kwik Kian Gie. Amien, bagaimanapun punya sense yang agak berbau SARA, sehingga ia tak bisa merelakan begitu saja kekuatan ekonomi dikendalikan oleh golongan nasionalis dan non muslim. Ada dua taktik yang coba dimainkan Amien untuk menempel Kwik, yakni menguasai Dewan Ekonomi Nasional dan BPPN. Fuad dicalonkannya masuk ke DEN, sedangkan BPPN coba diobok-obok dengan menggusur Glenn Jusuf dan menempatkan Dirut Astra, Rini Soewandi, untuk duduk di pucuk pimpinan BPPN. Tapi naga-naganya, niat Gus Dur dan Amien Rais untuk mendudukkan Soebijakto dan Fuad Bawazier ini mendapat tantangan keras dari pasar dan para ekonom pendamping yang rencananya masuk DEN. Ketika Gus Dur mengundang Soebjakto, Fuad, dan Sri Mulyani untuk menggagas DEN, rupiah langsung melemah di bursa. Sri Mulyani sendiri menolak untuk bekerjasama dengan Sobijakto dan Fuad. Bahkan penolakannya itu sudah dikemukakan langsung di depan Soebijakto dan Fuad. "Pemulihan ekonomi itu membutuhkan kepercayaan, Pak. Dan saya melihat bahwa kepercayaan pasar terhadap Bapak-Bapak sangat rendah. Jadi kalaupun Dewan ini jadi dibentuk sebaiknya Bapak-Bapak ada di luar saja," ujar Sri Mulyani tanpa basa-basi. Meskipun staf pengajar FE-UI ini sempat "dirayu" dengan lobby makan siang berkali-kali oleh Soebijakto, Sri Mulyani masih tampak teguh pada pendiriannya. Sikap sama juga diungkapkan ekonom kritis dari UGM, Dr. Anggito Abimanyu, yang melontarkan sinyal penolakan bila masih ada personil sisa pengikut Soeharto. Penolakan lebih kencang dilakukan oleh Faisal Basri yang kini lagi patah arang dengan Amien Rais di PAN. "Saya bersama rekan-rekan intelektual agaknya lebih cocok untuk ada di luar, sehingga bisa tetap kritis," tutur Faisal. Melihat gelagat penolakan para ekonom ini, Gus Dur tampaknya marah. "Kalau tidak mau ya sudah!" sengatnya di hadapan banyak wartawan. Sayang juga sebetulnya, banyak elit politik dan intelektual yang masih ngotot dengan agenda politik kelompoknya. Padahal, masalah besar memburuknya ekonomi sudah kian parah. Kalau masing-masing ngotot, yang jadi korban justru rakyat kecil. Daripada rakyat terus jadi tumbal, mending yang dikorbankan ya Soebijakto dan Fuad Bawazier yang sudah menikmati madu Orde Baru. Masak mau terus menerus menghisap madu? (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
