Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

AWAS, MILISI MODEL BARU

(POLITIK): Ancaman pada Bagito dikhawatirkan membawa kembali budaya teror.
Perlukah dibuat lembaga "pemantau milisi"?

Sikap arif Gus Dur yang segera memaafkan grup lawak Bagito, dianggap
melegakan. Tak cuma untuk Miing, Unang dan Didin yang dituduh `melecehkan'
kyai yang sangat dihormati kalangan NU ini, tapi juga bagi banyak orang yang
muak dengan balas dendam politik. Sulit membayangkan ini terjadi saat
Soeharto berkuasa, misalnya.

Bagi Alwi Shihab, tokoh PKB yang kini jadi Menlu, pelecehan fisik yang
dilakukan Miing, memang sudah keterlaluan. Sehingga, dapat dimengerti kalau
ada reaksi marah dari sejumlah organisasi di bawah NU, seperti Banser dan
Pagar Nusa.

Masalahnya, memang bukan dengan Gus Dur. Tapi dengan para 'pecinta'
fanatiknya. Stasiun televisi swasta Indosiar yang menyiarkan secara langsung
acara "Gebyar BCA" -yang menampilkan Bagito- berkali-kali menerima telepon
berisi kecaman dan ancaman. Bukan saja dari organisasi-organisasi NU, tapi
juga organisasi Islam lainnya, termasuk Muhammadiyah. Itu sebabnya, selain
Bagito, direksi Indosiar pun buru-buru minta maaf.

Reaksi macam inilah yang menimbulkan kecemasan baru. Usainya SU MPR, bagi
banyak orang adalah awal menuju Indonesia baru. Masyarakat berharap tak ada
lagi teror dan ancaman kerusuhan yang sekian lama berlangsung. Adanya
ancaman pada Bagito, sedikit membuyarkan harapan akan keadaan yang lebih baik.

Organisasi macam Banser dan Pagar Nusa, tentu berbeda dengan Pemuda
Pancasila misalnya. Selain dibekali ilmu bela diri, mereka memperoleh
pelajaran tentang kebijakan dari para kyai. Selama ini pun, mereka memiliki
track record yang cukup baik. Tak seperti organisasi pemuda yang
menggantungkan diri pada pemerintahan Orde Baru, yang tak segan-segan ambil
bagian dalam penyerangan markas PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri pada 27
Juli 1996.

Namun, bukan berarti kesalahan tak mungkin dilakukan. Orang bisa berubah,
begitu pula organisasinya. Sikap pasif organisasi-organisasi di bawah NU
selama ini, dimungkinkan karena induk organisasi mereka mengambil jarak
dengan politik. Sekarang, situasi sudah berbeda. Warga NU kini dapat
menyalurkan aspirasi politiknya melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Perubahan atmosfir politik ini, tentu saja bisa membawa pengaruh besar.
Apalagi Ketua Umum PBNU kini menjabat sebagai Presiden RI. Mereka kini
menjadi begitu dekat dengan kekuasaan. Secara politik, terbuka ruang lebar
bagi mereka untuk tidak lagi bersikap pasif.

Mencermati rekan-rekannya yang idealismenya memudar setelah bersentuhan
dengan kekuasaan, mantan narapidana politik yang mendekam selama lima tahun
di penjara karena tuduhan menghina presiden, Nuku Soleiman pernah berkata,
"Kalau mendapat susah, banyak dari kita yang sanggup menanggung menderita."
Sayangnya, "Sedikit yang sanggup bertahan, bila mendapat senang." Situasi
inilah yang persis dihadapi mereka yang kini dekat dengan kekuasaan.

Di masa Orde Baru berkuasa, sejumlah organisasi pemuda tadinya hanya
merupakan kelompok penekan di masa Soekarno. Mereka memiliki idealisme yang
tinggi dan seperti halnya pemuda dan mahasiswa sekarang, ikut turun ke jalan
di pertengahan dan penghujung tahun 60-an. Namun, banyak dari mereka yang
ditawarkan posisi-posisi penting dalam kekuasaan dan akhirnya terbenam
kesadarannya bersama rezim status quo.

Celakanya lagi, organisasi-organisasi kepemudaan tempat mereka bernaung
'dilumpuhkan' kekuatannya. Kebanyakan diserap dan dijadikan alat
melegitimasi kekuasaan Orde Baru. Caranya, dengan membuat mereka tergantung
secara finansial. Pola semacam ini -yang terbukti sukses- malah menjadikan
organisasi pemuda bersifat anti-demokrasi. Dari pengorganisasian model
beginilah, belakangan bermunculan milisi-milisi yang sering dihadapkan
dengan gerakan pro-demokrasi. Dalam perkembangannya, model ini makin sering
digunakan untuk melakukan pemaksaan kehendak. Seperti ketika "Peristiwa 27
Juli 1996" terjadi.

Pola ini juga terjadi saat rezim Orde Baru mendekatkan diri dengan
simbol-simbol Islam. Pemerintah menjadikan dirinya sebagai satu-satunya
representasi Islam yang paling benar. Hal yang membuat kelompok
pro-demokrasi sering harus berhadapan dengan "massa Islam" (ini berlanjut
hingga menjelang pemilihan presiden pada SU-MPR lalu. Misalnya saat Front
Umat Islam Bersatu menolak Megawati sebagai capres).

Di Timor Timur pun setali tiga uang. Penguasa, khususnya militer, dengan
keunggulan finansial, melatih dan mempersenjatai organisasi-organisasi
pemuda di sana. Akibatnya, teror pada pihak yang berbeda pendapat dengan
mereka, makin menggila. Seringkali lebih kejam. Dengan alasan "kebebasan
berbicara", organisasi semacam ini melakukan pemaksaan kehendak. Mereka
lupa, kebebasannya berbatasan dengan kebebasan orang lain.

Terulangnya kesalahan sejarah, itulah yang paling dikhawatirkan. Terutama
melihat reaksi yang muncul dari "kasus Bagito".

Banyaknya faksi dalam kabinet Gus Dur, bila tak berhasil menciptakan
harmoni, berpotensi mengkristalkan perbedaan-perbedaan (manuver politik
poros tengah misalnya, bisa jadi pemicu). Pada saat Gus Dur harus
bertentangan dengan "faksi lainnya", di sinilah ia akan diuji. Ia mungkin
saja tergoda menggunakan pengaruhnya di NU -yang berarti menyuburkan
munculnya milisi-milisi baru.

Sikap arif Gus Dur mutlak diperlukan di sini (sejauh ini dilakukannya dengan
baik). Di samping, perlunya sikap aktif masyarakat, khususnya LSM. Di AS,
fenomena milisi, seperti Klu Klux Klan pun masih ada. Namun, di sana ada
lembaga pemantau milisi, "The Militia Watchdog" yang didirikan masyarakat.
Lembaga ini memberikan segala informasi yang dibutuhkan untuk mengantisipasi
meluasnya gejala anti-demokrasi ini. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke