Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

TURUNKAN tARIF, HUTAN GUNDUL

(POLITIK): Tarif pajak produk berbahan baku kayu di AS akan dibuat nol.
Penebangan hutan dipastikan makin merajalela. Padahal, hutan Indonesia telah
menyusut 47,8 hektar.

Pajak kertas, barang mebel dan produk kayu lainnya bakal diturunkan
pemerintah Amerika. Berarti harganya ikutan turun, asyik dong? Asyik buat
siapa? Buat pedagang, tapi tidak buat hutan kita. Rancangan kebijakan baru
yang diumumkan Gedung Putih 2 Nopember lalu ini justru kontroversial. Sebab
dengan tarif pajak rendah, apalagi hapus, dapat dipastikan impor
barang-barang hutan akan mengalir deras di AS. Bagi negara berhutan luas
semisal Indonesia -yang kayunya lebih sering dicuri-, ini justru ancaman
lebih besar. Artinya, deforestasi alias 'penggundulan hutan' bisa jadi makin
dahsyat.

Kelompok peduli lingkungan internasional sebagaimana diberitakan Reuters
(3/11), telah melakukan kecaman keras. Mereka meminta hasil studi Perwakilan
Perdagangan dan Pengendalian Mutu Hutan Gedung Putih yang menyebut bakal
terjadinya ekspor kayu besar-besaran dari Finlandia, Australia dan
Indonesia, dibatalkan. "Negara-negara tropis seperti Nepal, Brazil, Srilanka
dan Indonesia sudah tergerus hutannya secara gila-gilaan." Demikian para
aktivis lingkungan internasional tersebut. Paling parah menimpa Nepal yang
mencapai 4,5 persen diikuti Srilanka sebesar 3,5 persen.

Studi World Resources Institute (WRI) malah menyimpulkan hampir separuh
hutan asli dunia sudah habis. Separuh tersisa pun sebagian besar mengalami
degradasi. WRI menyebut angka 22 persen hutan primer yang relatif belum
terganggu (fontier forest). Hasil perhitungan WWF melengkapi fakta
pengrusakan hutan dunia. Yakni kurang dari 10 persen hutan perawan tersisa.
Sementara tiap jam terdapat 45.000 hektar pohon-pohon di hutan tropik
tumbang oleh gergaji. Chile dalam 25 tahun mendatang diperkirakan
benar-benar kehilangan hutannya apabila kebijakan pembabatan kayu tidak
kunjung diubah.

Untuk Indonesia dengan luas hutan 113,895 juta hektar diketahui telah
terdeforestasi sebesar 0,5 persen. Jangan lantaran nol koma lantas dibilang
kecil. Dengan hitungan ini saja berarti Indonesia telah kehilangan hutan
seluas 600.000 hektar. Malah sejak hak pengusahaan hutan (HPH) diadakan,
selama 20 tahun terakhir terjadi penyusutan hutan seluas 47,8 juta hektar.
Jadinya, total hutan kita pun tinggal 92,4 juta hektar saja. Opo tumon?

Mending terbabatnya jutaan hektar tersebut ditingkahi peningkatan taraf
hidup rakyat Indonesia -khususnya masyarakat di sekitar hutan. Alih-alih
yang terjadi seperti digambarkan oleh aktivis LPSM Purwokerto, Bedjo
Sabariadi saat berada di Jakarta. "Sekedar pintu masuk kalangan kapitalis
berpesta pora." Penduduk asli tetap saja miskin. Malah harus dicap 'maling'
karena melakukan penebangan hutan. .

Kebijakan perdagangan Amerika akhirnya perlu diwaspadai lantaran setelah ini
mereka berniat meneruskannya ke forum Organisasi Perdagangan Dunia
(WTO/World Trade Organization). "Makanya, Departemen Kehutanan dan
Perkebunan Indonesia perlu menanyakan maksud Amerika menurunkan tarif pajak
kertas, mebel dan produk hutan tersebut". kata, para pemerhati lingkungan.
Dephutbun terutama harus tegas menolak rencana penghapusan tarif yang
direncanakan Amerika untuk WTO. "Maka, sangat baik jika ada pertemuan
delegasi pemerintah dengan kalangan LSM selain dengan dunia usaha," tambah
Esron Aritonang, dari LSM Bina Desa.

Seperti diketahui, pada bulan ini delegasi Indonesia yang dipimpin
Menperidag bakal melawat ke Seattle, AS menghadiri sidang WTO. Kemudian dari
tanggal 29 Nopember-3 Desember 1999, 134 pemimpin dunia akan duduk di meja
di kota tersebut. Salah satu agenda penting di sidang ini menyangkut
keputusan penghapusan tarif yang direncanakan mulai berjalan tahun depan
untuk negara-negara maju dan tahun 2003 bagi negara-negara berkembang.
Perjanjian internasional baru seputar perdagangan internasional tadi diberi
nama Forest Agreement Product (FAP). "Kami para aktivis lingkungan
menyebutnya sebagai perjanjian pembalakan hutan global atau Free Logging
Agreement (FLA)," lanjut Ginting. 

Sekarang baru soal tarif. Rencana lanjut, pada masa mendatang perjanjian
baru bakal menyusul. Perluasannya meliputi penilaian-penilain non tarif,
kebijakan pemerintah untuk phytosanitary control on pest, restriksi ekspor
yang tidak diproses, dan sebagainya.

Berkait dengan cerita balak membalak hutan bisa makin membuka belang
kerakusan Amerika dan strategi 'destruksi' dunia globalnya. Ide FAP memang
berawal dari inisiatif Clinton yang melobi negara-negara maju dalam
pertemuan GATT tepatnya saat berlangsung Putaran Uruguay 1995. Proposal
Clinton adalah hapusnya seluruh ketentuan tarif hasil-hasil hutan di seluruh
dunia. Lantaran gagal, Washington menyiapkan tim khusus guna menegosiasi
usulan ini di Forum APEC 1997, Vancouver. Gagal lagi. Tidak kenal jera
seperti jagoan-jagoan film Hollywood, dilakukan negosiasi baru di pertemuan
APEC Malaysia 1998 hingga terakhir di Selandia Baru tahun ini.

Gagal di semua forum-forum APEC, terutama ditentang oleh Jepang, Amerika
membawa 'obsesi'-nya ke sidang Seattle. Bagaimana putusannya memang belum
keluar. Apakah bermain di kandang sendiri lebih menguntungkan bagi Tim
Gedung Putih? Kita lihat saja. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke