Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

MENANTI LEPAS DARI CEKIKAN UTANG

(POLITIK): Dengan utang US$135 milyar, butuh tindakan darurat untuk
selamatkan ekonomi -termasuk berdagang dengan Israel. Sayang, masih banyak
yang picik.

Diplomat Indonesia harus bisa jadi sales dan 'menjual' Indonesia, ujar Menlu
Alwi Shihab dikutip Detikcom menjelang kunjungannya bersama Gus Dur ke
negara-negara ASEAN. Terlalu berlebihan barangkali -apalagi dikaitkan dengan
sikap nasionalisme. Tapi toh harus tetap realistis, jika kita tidak ingin
terpuruk.

"Jika (Presiden Abdurrahman -red.) Wahid tidak dapat menyakinkan para
investor bahwa situasi telah aman dan menguntungkan untuk kembali, lingkaran
setan kemiskinan, pengangguran dan kerusuhan bakal kembali dan menghancurkan
harapan 204 juta orang pada masa depan yang lebih demokratis," papar Majalah
Time edisi 1 November lalu.

Untuk memulihkan ekonomi Indonesia memang butuh 'keajaiban'. Bayangkan, 70%
debitor dari bank-bank di dalam negeri telah berhenti membayar cicilan
utangnya. Sementara, utang luar negeri Indonesia telah mencapai US$135
milyar. Tahun lalu, perekonomian merosot hingga 14%. Pemerintah mematok
pertumbuhan ekonomi antara 0% hingga 2% tahun ini, dan berharap meningkat
jadi 6% hingga 7% pada tahun 2003-2004. Entah bakal datang dari mana.

Infrastruktur di dalam negeri diragukan kapasitasnya, seandainya menerima
kucuran modal baru. Hanya separuh kapasitas industri yang masih digunakan.
Sehingga, sebetulnya, tak ada insentif bagi investasi baru. Di samping itu,
anjloknya harga berbagai produk komoditi Indonesia, membuat nilai ekspor
-kecuali minyak dan gas- mengalami stagnasi, meskipun volumenya mengalami
sedikit peningkatan. Menjadi US$41 milyar pada 1998, dibanding US$38 milyar
di tahun 1996.

Sulit membayangkan peningkatan konsumsi yang signifikan dalam waktu dekat.
Pemerintah memang menjanjikan kenaikan gaji pegawai negeri sipil, namun
banyak yang meragukan kemampuan pemerintah meraih dana untuk itu. Selama
pertumbuhan Produk Domestik Bruto masih berada di bawah 3%, hanya sekelompok
kecil dari dua juta orang yang kemungkinan bisa masuk bursa pasar tenaga
kerja tahun depan.

Lantas harus bagaimana? Dalam keadaan darurat, langkah-langkah daruratlah
yang harus diambil. Langkah pertama telah dijalankan dengan baik oleh
pemerintah. IMF berhasil diyakinkan untuk kembali mengucurkan pinjaman. Mau
tak mau ini mesti dilakukan. Kita sudah tak punya apa-apa. Hanya saja, mesti
dipikirkan cara melepaskan ketergantungan berlebih pada utang.

Selama ini, walaupun IMF serta para kapitalis besar macam AS dan Jepang
seolah-olah menjadi penyelamat, sebetulnya mereka pula yang menciptakan
ketergantungan Indonesia pada utang. Karena telah beroleh pinjaman,
Indonesia harus ikut aturan main perdagangan dunia yang mereka tetapkan
seenaknya. Indonesia diminta membuka lebar pintu impor komoditi dari
negara-negara itu. Sementara, mereka hanya menerima produk-produk tertentu
dari Indonesia. Alhasil, sedikit devisa yang diraih Indonesia. Utang yang
mereka berikan, hanya untuk membeli produk-produk mereka sendiri. Itu
sebabnya, utang makin menggunung. 

Langkah berikutnya, seperti dikatakan Alwi Shihab, 'menjual' Indonesia ke
investor asing. Mengingat, kondisi dalam negeri yang porak-poranda, para
diplomat memang harus jadi penjual yang baik (tak lagi berwatak birokrat,
yang dihubungi warganya sendiri di luar negeri pun, sulitnya setengah mati).
Bagaimanapun beban berat ini mesti dibagi. Masuknya investor asing membawa
konsekuensi sejumlah aset akan dikuasai asing. Tapi, ini berarti, mereka
akan ikut menata kembali infrastruktur ekonomi lokal.

Di sinilah arti penting perjalanan Gus Dur ke negara-negara tetangga,
khususnya Singapura dan Cina. Para investor dan pelaku pasar keturunan Cina
yang hengkang dari Indonesia, harus diyakinkan bahwa Indonesia Baru berbeda
dengan Indonesia Lama. Yang perlu diperhatikan, demi memuluskan kedatangan
mereka, adalah kesungguhan pemerintah membabat habis akar kolusi, korupsi
dan nepotisme -di samping memantapkan stabilitas politik melalui
demokratisasi yang lebih desentralistik.

Selanjutnya, masuknya kembali modal ke dalam negeri, diharapkan bisa
merangsang pertumbuhan sektor riil, khususnya yang berkandungan impor
rendah. Pilihan untuk memfokuskan pembangunan ekonomi pada bidang pertanian
dan maritim, kiranya sudah tepat. Melalui penjualan berbagai produk -maupun
jasa- maritim dan pertanian, devisa negara diharapkan takkan banyak
terbuang. Terlebih lagi, bila penanganan industri pertambangan nasional
-yang sebetulnya adalah salah satu kekayaan utama Indonesia, seperti
Pertamina dan Timah- dilakukan secara efisien (bebas KKN).

Tinggal bagaimana memikirkan alternatif pasar. Mengandalkan hubungan yang
timpang dengan AS dan Jepang, tak banyak artinya. Meningkatkan hubungan
dagang dengan Cina, sebetulnya sangat strategis, mengingat jumlah
penduduknya yang besar adalah potensi pasar yang 'seksi'. Begitu pula
membuka hubungan dagang dengan negara-negara terisolir semacam Israel,
posisi tawar Indonesia pasti akan lebih kuat. Sayang, masih banyak orang
picik yang menolak ide brilyan ini. Tak mau Indonesia jaya? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke