Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99 ------------------------------ TANGISAN MANTAN PANGLIMA Oleh: Hendry Boen (OPINI): Kalau anggota tentara melakukan tindak kekerasan terhadap warga sipil, adalah sesuatu yang biasa. Namun kalau orang sipil melakukan kekerasan terhadap militer, itu baru berita. Itulah yang dilakukan Presiden Gus Dur terhadap mantan Menpen Letjen TNI Purn M Yunus Yosfiah. Saat berdialog dengan Presiden soal likuidasi Depppen di Istana, Letjen Yunus dibentak-bentak oleh Gus Dur. Hingga Yunus tampak gugup, mike yang dipegang Yunus terlihat bergetar. "Yang tahu penderitaan rakyat itu saya, bukan Bapak, karena yang menang (Pemilu) saya kok. Masyarakat sudah lama jengkel dengan Pemerintah, tahu? Bapak ini enak, jadi Letnan Jenderal, jadi Menteri, tidak merasakan yang di bawah kayak apa, " bentak Gus Dur pada Jenderal Yunus. Gus Dur murka, karena dalam dialog tersebut, M Yunus banyak memotong omongan Gus Dur. M Yunus tak mampu menahan emosinya, "perlawanannya" terhadap Gus Dur, merupakan upaya terakhir untuk mempertahankan sisa-sisa martabatnya, sebagai mantan Menpen. Tindakan Yunus itu sudah sesuai dengan semangat prajurit Korps Baret Merah, kesatuan dari mana Yunus berasal, yang berbunyi "lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga". Kalau M Yunus yang hanya gugup saja sudah membuat kita terheran-heran, lho kok ada jenderal gemetar, begitu mungkin pikir banyak orang. Apa yang terjadi pada Mayjen TNI Purn Adang Ruchiatna (Irjen Depsos) dan Mayjen TNI Purn IGK Manila (Sekjen Deppen) lebih heboh lagi, kedua jenderal "galak" itu menangis! Menangis sesenggukan, seperti anak kecil yang merengek meminta es lilin pada ibunya. Namun setelah tahu permasalahannya, wajarlah kalau mereka berurai air mata. Mereka sedih, karena instansi tempat mereka berbakti, dibubarkan oleh pemerintahan Gus Dur. Deppen yang dulu biasa membreidel surat kabar dan majalah, kini ganti yang dibreidel. Begitu juga Depsos, Depsos yang biasa menyantuni panti-panti sosial, kini giliran karyawan Depsos yang perlu disantuni, karena terkena ancaman PHK massal. Hidup adalah tragedi. Karena hidup adalah tragedi, maka pengalaman tragis Deppen dan Depsos itu, bisa menjadi bahan renungan kita semua. Ketika seseorang sedang jaya (menjabat), hendaknya janganlah sombong. Ketika seseorang sedang di atas, janganlah bertindak sewenang-wenang pada yang di bawah. Kalau kita petik dari hikmah "bentakan" Gus Dur di atas, seorang pejabat harus berempati pada penderitaan masyarakat banyak. Kalau Gus Dur peka terhadap nasib rakyat, karena ia adalah pimpinan umat NU, yang umumnya tinggal di pedesaan, dan rata-rata miskin. Dan lagi Gus Dur adalah seorang yang sosialis-religius. Itu bisa terjadi, karena sejak muda ia telah melahap karya-karya Marx dan Lenin. Dalam beberapa kali ceramahnya dalam lokakarya pekerja LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), di antaranya di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur, Gus Dur mengaku terus terang, ia mengagumi salah satu karya besar Lenin, yaitu "What does to Be Done". Ia sangat terinspirasi oleh karya-karya Lenin, tanpa harus menyebut dirinya Marxis. Kini kembali soal pembubaran Deppen dan Depsos. Memang sudah selayaknya kedua instansi itu bubar. Perlu ada efisiensi di segala bidang. Biaya operasional (overhead) kedua instansi itu terlalu besar. Untuk apa mengeluarkan biaya besar, untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Sekarang masyarakat semakin cerdas, kemudian piranti komunikasi semakin canggih, maka keberadaan Deppen tak lagi relevan. Yang dikatakan sebagai era informasi itu adalah, informasi yang dikelola sendiri oleh masyarakat (swasta), bukan oleh Deppen. Bagi karyawan Deppen yang memiliki keahlian khusus, bisa menjadi orang swasta, dengan menjadi pekerja kreatif di bisnis komunikasi, seperti media elektronik, disain grafis atau periklanan. Peluang masih terbuka, jangan terlalu tergantung pada uluran tangan pihak lain. Hentikanlah menangis. Depsos termasuk instansi tidak bermanfaat. Menilik namanya, seolah-olah ia berbuat baik pada orang lain (sosial), tapi yang terjadi adalah memanipulasi dana, yang seharusnya untuk kebaikan pihak-pihak yang memerlukan. Kongkretnya begini, anggaran-anggaran untuk perbaikan sosial, untuk gelandangan misalnya, tidak pernah sampai pada kelompok sasaran, karena ditilep oleh jajaran Depsos sendiri. Itu sebabnya lembaga-lembaga sosial dari luar negeri enggan menyalurkan dananya lewat Depsos, mereka lebih percaya pada LSM-LSM. Meski LSM sendiri juga ada indikasi manipulasi dana, dan demoralisasi pada pekerjanya. Namun tidak separah Depsos. Pada LSM masih ada mekanisme kontrol yang lumayan ketat dari funding. Pembubaran Deppen dan Depsos, juga merupakan tragedi, seperti kehidupan itu sendiri. Bagaimana tidak? Deppen dan Depsos adalah termasuk kementrian yang pertama-tama didirikan, ketika republik ini baru lahir. Ketika itu yang dipercaya memimpinnya adalah tokoh-tokoh yang sangat kita hormati, masing-masing adalah Mr Amir Syariffudin (Menpen) dan Ibu SK Trimurti (Mensos). Terutama untuk Mr Amir Syariffudin, jasa besar beliau terhadap negeri ini di awal kemerdekaan, perlu mendapat ganjaran setimpal. Misalnya, mengabadikan namanya untuk jalan-jalan protokol di beberapa kota. (*) Penulis adalah mantan aktivis LSM --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
