Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

SEANDAINYA ACEH MERDEKA

(POLITIK): Dibandingkan CNRT di Timor Leste, Gerakan Aceh Merdeka kalah siap
untuk membentuk negara. Bisa jadi Aceh justru jadi ajang perang saudara.

Apa yang dibutuhkan untuk membentuk suatu negara? Tanah air, warga negara
yang bersepakat, konstitusi dan kepemimpinan yang diterima. Membentuk negara
tentu berbeda dengan memproklamasikan negara. Kalau dibanding kompetisi
sepakbola, soal proklamasi adalah soal merebut posisi juara, sedangkan
membentuk negara adalah soal mempertahankannya.

Bila kesempatan referendum diberikan ke Aceh saat ini, di mana reputasi
Indonesia begitu hancur di mata rakyat Aceh, bisa jadi Aceh benar-benar akan
lepas dari Indonesia. Maka selanjutnya akan merdekalah Aceh sebagai suatu
negara baru. Siapa yang akan memerintah Aceh setelah merdeka? GAM? GAM
sendiri punya banyak faksi. Beberapa bulan silam, berbagai faksi dalam tubuh
GAM mengadakan pertemuan rahasia di Bangkok, Thailand. Tapi belum ada
kesepakatan siapa yang akan memegang pucuk pimpinan dan pertemuan hanya
mencapai kesepakatan pemahaman berbagai taktik yang akan ditempuh
masing-masing faksi.

Di luar GAM, ada banyak elemen yang berjuang untuk referendum demi
kemerdekaan, mulai dari sektor mahasiswa, intelektual dan ulama. Selama
belum ada kesepakatan di antara elemen tersebut, pilihan untuk merdeka
justru bisa memancing perebutan kekuasaan di kalangan orang Aceh sendiri.
Ini berbeda dengan perjuangan rakyat Timor Leste untuk merdeka. Di Timor
Leste, organisasi payung CNRT (Conselho National Resistensia de Timorense)
berhasil menyatukan berbagai faksi pro kemerdekaan di bawah kepemimpinan
Xanana Gusmao.

Persoalan tambah rumit menyangkut pengelolaan kekayaan alam Aceh. Selama ini
kekayaan alam Aceh dihisap oleh para kapitalis asing yang membayar militer
untuk menjaga keamanan mereka, seperti minyak dan gas alam. Bila banyak
perusahaan asing seperti Exxon, Mobil Oil, dan Caltex langsung
dinasionalisasi, goncangan ekonomi bisa dipastikan akan melanda Aceh. Bila
tidak dinasionalisasi, penghisapan kekayaan alam Aceh hanya berpindah tuan
saja, bagaikan dari lepas dari mulut buaya masuk ke mulut singa.

Menghadapi persoalan yang sedemikian pelik, pihak-pihak yang pro kemerdekaan
Aceh saat ini pun berupaya memperpanjang waktu tuntutan referendum. Di satu
pihak mereka butuh kampanye yang semakin meluas ke massa Aceh di sisi lain
mereka segera bersiap mengkonsolidasikan diri bila nanti benar-benar merdeka.

Strategi ini memperpanjang waktu ini tampaknya juga akan dilakukan oleh
kabinet Gus Dur. Dalam waktu dekat, Hasballah M Saad akan berkunjung ke Aceh
untuk bicara dengan tokoh-tokoh kunci masyarakat Aceh. Hasballah yang mantan
anggota GAM ini tahu persis siapa yang akan dihubungi untuk menenangkan
emosi masyarakat Aceh, sementara di sisi lain, pengadilan-pengadilan untuk
menjatuhkan hukuman ke personil TNI yang melakukan tindak pelanggaran HAM
segera akan digelar.

Jadi, siapa yang akan memenangkan strategi memperpanjang waktu ini? Wallahu
a'lam. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke