Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/II/21-27 Nopember 99
------------------------------

TANAH RENCONG, TARGET BERIKUT AS?

(POLITIK): Sehabis Gus Dur, giliran mahasiswa Aceh ke Gedung Putih. Sikap AS
tak jelas, apakah mendukung Jakarta atau Aceh. Alwi Sihab dianggap salah
menafsirkan.

Sudah jadi anggapan umum, Amerika dengan liberalisasinya menginginkan
kemunculan banyak negara baru. Proyek hegemoni ekonomi politik internasional
mensyaratkan hubungan ketergantungan tanpa koersi. Apalagi, AS melihat
bahaya jika Indonesia berhasil menciptakan blok baru yang lepas dari
jangkauan intervensi AS. Jadilah fragmen bantah-bantahan berikut:

Berbicara dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Clinton menyatakan dukungan
Amerika terhadap upaya pemerintah Indonesia untuk mempertahankan Aceh.
Menurut Clinton AS sangat berkepentingan dengan Indonesia yang bersatu.
"Saya hanya tidak mau bersumpah saja bahwa AS ingin Indonesia tetap utuh.
Kami akan mengupayakan apapun untuk keutuhan tersebut," tambah Menlu AS
Madelaine Albright seperti dituturkan Menlu Alwi Sihab pada pers seusai
pertemuan Gus Dur-Clinton.

Kurang dari lima hari, pernyataan itu dikoreksi. Menlu Alwi Sihab dinilai
salah memberikan interpretasi. Direktur Hubungan Asia Dewan Keamanan
Nasional AS (NSC/National Security Council) Ravic Huso lantas 'meluruskan'
sikap pemerintahnya di hadapan delegasi International Forum for Aceh (IFA).
Sikap resmi AS yang benar menurut Ravic Huso adalah "mendukung segala bentuk
penyelesaian damai di Aceh, termasuk referendum dengan salah satu opsi
membentuk negara sendiri."

Sebagaimana diberitakan harian Waspada, juru bicara politik dan hubungan
internasional SMUR (Solidaritas Masyarakat untuk Referendum) Aguswandi
bertemu Ravic Huso, Direktur Urusan
Filipina-Indonesia-Malaysia-Brunei-Singapore Deplu AS, Douglas Hartwik
beserta sejumlah pejabat dan staf senior kementerian luarngeri lainnya pada
hari Rabu (17/11) di Gedung Putih. Bersama Aguswandi adalah Koordinator IFA
Jafar Siddiq Hamzah, Suraiya IT dan Riva. Nama terakhir ini merupakan anak
Gubernur Aceh, Syamsuddin Machmud. Kedatangan empat orang delegasi merupakan
rangkaian kampanye internasional menyangkut nasib bangsa Aceh. Setelah dari
Paman Sam, perjalanan berlanjut ke Kanada dan Eropa.

Menggarisbawahi Ravic Huso di atas, Douglas Hartwick menandaskan bahwa
bagaimanapun hasilnya, referendum menjadi urusan rakyat Aceh semata. Asal
saja proses referendum berlangsung tanpa kekerasan. "Maka, kami tidak ingin
melihat pemerintah Indonesia demi mempertahankan persatuan dan kesatuan
wilayahnya menggunakan kekerasan bersenjata," tekan Hartwick.

Kepada Aguswandi dan kawan-kawan, Gedung Putih juga membantah telah memenuhi
permintaan pemerintah Indonesia mendatangkan tim ahli penyelesaian konflik
dalam negeri. Namun dari SIRA (Sentra Informasi untuk Referendum Aceh)
diperoleh keterangan bahwa tim dimaksud memang akan datang. "Cuma tim ini
hasil kesepakatan pertemuan IFA, bukan sebagaimana diungkapkan oleh Alwi
Sihab," tutur Azwar Nurdin, aktivis SIRA. Nurdin mengaku informasi itu
diperoleh setelah dirinya dihubungi Aguswandi dari Washington selepas pertemuan.

Seandainya "janji" Washington kepada IFA benar apa bakal berlaku? Sejauh
keterangan Nurdin kedatangan mereka masih berkait soal pemantauan hak asasi
manusia. Jadinya menjadi gegabah mengira tujuan tim AS memuluskan
referendum, misalnya.

Kalau toh begitu, tidak berarti banyak. Sebab Gus Dur sendiri sudah
menyetujui pelaksanaan pengumpulan pendapat dalam tujuh bulan mendatang.
Kendati DPR menentang keras, bahkan Kapuspen Mayjen (TNI) Sudrajat menampik
sebagai pernyataan pribadi. Di sisi lain meski disambut positif, Gus Dur
dicurigai tidak bersungguh hati dengan ucapanminta waktu tujuh bulan.
Pengamat lain menilai janji referendum bagi Aceh dikeluarkan dengan tujuan
Gus Dur dapat diterima rakyat Aceh. Seterusnya, ia bakal melakukan dialog
dengan beberapa tokoh politik dan masyarakat Serambi Mekkah.

"Kalaupun benar, it's okay. Karena dialog memang cara penyelesaian paling
baik," tukas pengamat politik CSIS, J Kristiadi. Sejatinya tuntutan
referendum merupakan kulminasi kemarahan rakyat Aceh. Selama beberapa dekade
berlangsung perilaku tiran dari pemerintah pusat yang diikuti oleh
pemerintah daerah. "Penderitaan produk dari pemerintah tiran yang lalu ini
menjadi penderitaan bagi seluruh rakyat Indonesia," papar Kristiadi. Maka
diperlukan cara penyelesaian yang komprehensif. Bukan secara parsial.

Titik berangkat penyelesaian komprehensif terang berasal dari itikad semua
pihak. Kecaman internasional diperlukan melulu sebatas solidaritas di level
hak asasi. Hanya saat keikutsertaan luar negeri bertendensi penancapan
pengaruh, tidak perlu keraguan menampik balik. Terlebih menanggapi
kekencangan AS menata dunia di bawah ketiak hegemoninya. Referendum betul
suatu jawaban. Di sanalah momentum pernyataan aspirasi rakyat. Ia tidak
boleh menjadi alat kepentingan ekonomi dan politik manapun kecuali rakyat
sendiri. Apalagi kalau menjadikan rakyat Aceh lepas penderitaan akibat
militerisme, masuk ke kancah "welfare state overseas" ala Amerika. Kita
tunggu saja. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke