Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/II/21-27 Nopember 99
------------------------------

AGENDA TERABAIKAN: KEMISKINAN DAN HUTANG!
Oleh: Yos Suprapto

(OPINI): Fakta kehidupan masyarakat konsumerisme industri yang kita anggap
sebagai satu-satunya jalan menuju ke arah peradaban modern itu, ternyata
sangat tidak memberikan kepuasan dalam banyak hal dan juga tidak memberikan
jaminan pada kelanjutan hidup jagad  manusia secara umum. Hal ini bisa
dilihat dari kenyataan yang ada. Dari semua persoalan-persoalan politik,
sosial dan ekonomi ternyata telah membuktikan  bila kualitas kehidupan kini
telahsemakin bobrok. Secara umum ini adalah merupakan masalah kemanusiaan
yang harus dipikirkan dan ditanggapi bersama secara konkrit. Kita tahu bila
masalah itu sendiri yang jelas tidak bisa diatasi hanya lewat usaha
meningkatkan kwantitas produksi atau konsumsi, standar hidup yang
berlebihan, keuntungan dari kekuatan pasar, dan pertumbuhan ekonomi. Karena
jika masalah kemanusiaan yang menuntut kehidupan yang berkwalitas hanya
diselesaikan hanya lewat kegilaan ekonomi kapitalistik seperti saat ini,
maka kelanjutan hidup manusia dan perwujudan jagad yang adil dan makmur
tidak akan pernah menjadi kenyataan. Maka jika kita ingin mewujudkan
keadilan serta kemakmuran dalam kehidupan manusia di bumi Nusantara, kita
harus berani mengambil langkah radikal dalam menuju cita-cita tersebut.

Salah satu langkah tadi ialah kita harus berani melakukan perubahan secara
radikal terhadap cara hidup yang selama ini terkondisikan oleh paham
konsumeris industri kapitalisme. Karena paham yang kita percayai sebagai
asas kemoderenan hidup itu ternyata amat boros dalam segala aspek. Oleh
karena itu kita harus berani secara mendasar merubah nilai-nilai sosial dan
sistim politik yang dijejalkan dalam kehidupan kita selama ini. Kita harus
berani merubah sitim ekonomi yang tidak mampu memberikan jaminan apapun pada
kelanjutan hidup manusia dalam konteks ekologi itu. Dengan kata lain kita
harus berani melakukan transformasi sosial secara total tanpa kompromi.

APA YANG TELAH DICAPAI OLEH ORDE BARU SELAMA INI?
Sejak Orde Baru marak sebagai penguasa, para tekhnokrat bermimpi bisa
menciptakan keajaiban ekonomi bangsa dengan hasil pinjaman hutang dan
mengundang kembali modal asing masuk kebumi Nusantara. Digambarkan bahwa
dengan hasil bantuan hutang dari negara-negara kapitalis yang nota bene
bekas para penjajah itu, Indonesia akan berhasil membangun perekonomiannya
mencapai tingkat yang sederajat seperti negara-negara yang memberinya
hutang. Bahkan tidak segan-segan untuk melanggengkan impian tentang
keberhasilan tadi para penguasa mengangkat salah satu agen bekas penjajah
yang bernama Jendral Suharto itu menjadi Bapak Pembangunan. Namun apa yang
sesungguhnya terjadi di negeri ini, segala macam 'uphoria' yang pernah
terjadi itu ternyata hanya bayangan fantamorgana. Meminjam istilah ajaran
Budha: itu semua ternyata "maya" atau "ilusi". Karena terbukti bahwa
kapitalisme hanya mampu memberikan kenikmatan mendadak atau "instant
excitement" yang bersifat sementara. Namun untuk kenikmatan sementara
tersebut bangsa Indonesia harus membayar konsekwensinya dengan pembayaran
yang tidak murah. Bangsa Indonesia harus  mengidap penyakitnya kapitalis
seperti halnya negara-negara yang memberikan bantuan hutang tadi. Karena
yang diserap oleh bangsa Indonesia hanya penyakit dan borok-boroknya saja
maka kondisi hidup dan kehidupan rakyat semakin memburuk. Masalah-masalah
lingkungan hidup dan sosial yang semakin memburuk itu kini sebetulnya
merupakan perwujudan global di setiap negara yang menganut kapitalisme. Jadi
ini bukannya fenomena nyata di negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia
saja, tetapi juga merupakan perwujudan nyata negara-negara kapitalis besar
seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang dll.nya. Bahkan Jimmy Carter bekas
Presiden Amerika Serikat sendiri mengemukakan pendapatnya tentang dasar
strategi kapitalisme yang disebut "trickle down" atau sistim perembesan ke
bawah itu "...is not working". Dan ini mempunyai dampak sosial yang sangat
serius.

Masalah-masalah sosial yang semakin memburuk akibat sistim ekonomi
kapitalisme itu bisa dilihat dari beberapa sektor. Misalnya; pengangguran,
perbedaan antara kaum miskin dan kaya, pendidikan dan banyak lagi contoh
yang bisa dikemukakan di bawah ini. Pengangguran: Meskipun masalah ini bisa
didapat dari data biro statistik, namun untuk mengetahui secara benar data
pengangguran di Indonesia masih perlu diadakan penelitian lagi secara
independen. Mungkin dengan mendefinisikan kembali arti pekerja dan
pengangguran secara gamblang. Karena setelah krisis ekonomi yang
mengakibatkan nilai rupiah ambruk dan banyaknya perusahaan bangkrut, data
tentang jumlah penganggur dan pekerja tidak begitu jelas. Meski saat ini
nilai rupiah nampaknya sudah mulai stabil, tapi banyak perusahaan belum
berhasil bangkit kembali seperti semula. Sementara setiap tahun jumlah
pencari pekerjaan yang muncul dari jumlah anak-anak muda yang baru lulus
dari sekolah semakin bertambah. Dengan situasi seperti itu tentu saja bisa
dibayangkan bila jumlah pengangguran semakin bertambah pula. Apalagi dengan
munculnya sistim baru dalam perdagangan nilai mata uang seperti saat ini.

Dimana banyak pemilik modal melakukan spekulan baru sebagai metode
pengolahan modal. Sehingga tidak ayal lagi bila perusahaan yang melibatkan
kehidupan buruh itu tidak lagi menjadi begitu penting. Dengan sistim serupa
ini pemilik modal akan lebih memusatkan perhatiannya pada sistim yang lebih
menguntungkan. Jika sektor perusahaan dianggap tidak begitu menguntungkan
maka mereka akan meninggalkannya begitu saja. Faktor lain yang juga
merugikan kehidupan buruh di Indonesia adalah "capital flight" atau modal
yang ditanam lewat perusahaan-perusahaan tadi di tarik keluar negeri karena
menganggap di Indonesia sudah tidak lagi begitu menguntungkan. Pengangguran
dan kemiskinan tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya.

Kemiskinan: Masalah kemiskinan sebetulnya bukan isu  baru. Sejak Indonesia
jatuh ke dalam jerat penjajahan selama tiga setengah abad lewat kekuatan
modal itu, bangsa Indonesia sudah hidup dalam kemiskinan. Miskin karena
selama tiga setengah abad itu bangsa Indonesia harus hidup di dalam
penjarahan, penghisapan, pemerasan dan penindasan. Penjajahan yang pernah
ada di tanah air dan sistim kapitalisme yang sekarang menjadi tiang fundasi
republik ini ternyata sama saja. Karena kedua-duanya mempunyai pandangan
yang sama: Keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.

Kedua-duanya tidak akan bisa berfungsi tanpa eksploitasi. Eksploitasi yang
berarti "memeras atau menghisap sesuatu sehingga tidak lagi ada sisanya" itu
adalah asas dasar kapitalisme. Oleh karena itu, penjajahan yang berubah
menjadi kapitalisme itu ternyata sangat tidak cocok untuk dijadikan sebuah
sistim dalam kehidupan manusia yang ingin hidup berkelanjutan dengan
alamnya. Bahkan dengan semakin membengkaknya kemiskinan dalam sistim
kapitalisme yang kita anut seperti sekarang ini, jurang pemisah antara yang
kaya dan yang miskin semakin lebar dan dalam. Polarisasi yang ada saat ini
bisa terlihat dengan kian menyusutnya jumlah orang yang kaya dan semakin
membesarnya jumlah orang yang miskin. Sementara itu kelas menengah dengan
sendirinya terdesak masuk ke dalam kelompok orang miskin karena
ketidakstabilan ekonomi. Sedang untuk mengatasi masalah ini, sistim yang
kita anut akan dengan sendirinya melihat hutang merupakan satu-satunya jalan.

Hutang: Masalah hutang sebetulnya bukan hanya persoalan negara-negara bekas
jajahan yang sedang berkembang seperti Indonesia. Di negara-negara maju pun
hutang merupakan masalah yang mengkhawatirkan. Bahkan mengkhawatirkan
kestabilan dunia secara umum. Misalnya hutang di negara seperti Amerika yang
sudah mencapai total US$15,000,000, 000,000 (limabelas juta juta) tentunya
merupakan ancaman bagi negara itu. Saat ini seperlima dari GDP Amerika
diperuntukan untuk membayar bunga dari hutang. Ini berarti bahwa buruh
Amerika yang bekerja lima hari dalam satu minggu itu, gajihnya yang satu
hari harus disisihkan untuk bayar hutang beberapa gelintir orang yang
menggunakan modal dari pinjaman. Perlu dicatat bila separuh dari modal yang
ada di Amerika itu berada di tangan 5% penduduknya. Mungkin kita bertanya
mengapa negara seperti Amerika yang dibebani hutang sebegitu besar itu tetap
menjadi negara yang paling berkuasa di dunia? Jawaban yang paling sederhana
ialah karena negara seperti Amerika punya hak veto dalam institusi-institusi
keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF.

Sehingga mereka mampu melakukan monopoli dalam setiap keputusan. Sampai
disini kita tahu bila keaadilan dalam sektor ekonomi kapitalisme itu tidak
ada. Yang ada adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Jadi trend dari
hutang yang sekarang berlaku itu tidak bisa berjalan terus menerus. Karena
masalah hutang ini akan menimbulkan kekacauan di dunia secara menyeluruh.

Namun demikian kita tidak akan bisa menghindari kekacauan ini jika mulai
sekarang kita tidak bertindak dengan cepat. Tindakan yang tepat untuk
mengatasi ancaman ini adalah kita harus keluar dari sistim ekonomi yang ada
dan mendesak setiap institusi keuangan internasional untuk menghapus sistim
pinjam meminjam lama dengan yang baru. Dalam sistim yang baru ini, pinjaman
harus diberikan tanpa disertai embel-embel bunga. (*)engancam: referendum
mesti dalam bingkai negara kesatuan. Jelas, ini bukan sikap seorang
demokrat. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke