Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 42/II/21-27 Nopember 99 ------------------------------ Myra Diarsi, Wakil Ketua Komnas Perempuan: "ISTILAH GENDER, TERORIZE BAGI BIROKRAT" (DIALOG): Ruangan ini awalnya gudang," ungkap Mira di "ruang kerja"-nya di bagian belakang kantor Komnas HAM, Jakarta, minggu lalu. Sejauh mata dilayang ucapan Mira tidak mengada-ada. Sedikitnya terdapat 180 kotak kardus bertengger rapi di 3 rak besar. Isinya berkas surat menyurat Komnas HAM. "Pantas saja, ta' kira file Komnas Perempuan sudah sebanyak itu," gumam seorang mahasiswi yang kala Xpos datang tengah menemui mantan dosen ini. Toh, Myra, Saparinah Sadli, Kemala Chandrakirana dan penggerak Komnas Perempuan lain enteng menanggapi. Senantiasa bergiat di ruangan seluas 3 x 8 meter. Beberapa kali pembicaraan terhenti karena ponsel Myra memanggil-manggil. Terhitung Carla Bian Poen dan Nursyahbani Katjasungkana menghubungi di jalur sana. Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Internasional, 25 November mendekat. Kekerasan terhadap perempuan tidak kunjung henti? Bahkan di wilayah seperti Aceh, Ambon cenderung meningkat? Sejenak Mira tertegun, matanya menatap jauh mengikuti relief meja. T: Kantor Komnas HAM dan Komnas Perempuan kok kental dengan nuansa patriarki? J: Ha... ha... ha... Bisa saja Anda bilang begitu. T: Bagaimana ceritanya Komnas Perempuan berkantor di belakang -katakan- Komnas 'laki-laki'? J: Mula berawal dari kalangan aktivis perempuan Indonesia yang mendesak pemerintah agar masalah kekerasan terhadap perempuan ditangani secara serius. Waktu itu namanya Masyarakat Anti Kekerasan, berhasil mengumpulkan sekitar 6.000 tanda tangan. Kita menuntut agar kekerasan terhadap perempuan seperti pada peristiwa bulan Mei 1998, di Papua, di Timor, Aceh dan macam-macam secepatnya ditangani. Bu Saparinah (Sadli) kemudian mengemukakan bahwa harus ada keputusan dari presiden. Bila perlu ditangani suatu lembaga khusus. Oleh Habibie yang diamini pembentukan komisi nasional ini aja. Tapi komisi ini jelas bukan dimaksudkan sebagai lembaga pemerintah. Dari sisi politik kita memaksudkan agar peran dalam menyuarakan kepentingan perempuan dapat berlangsung secara lebih efektif dengan memanfaatkan celah legitimasi yang telah ada. Sampai dengan tahun 1998 kira-kira sudah sekitar 13-14 tahun kelompok-kelompok perempuan yang memakai bendera swadaya masyarakat, sangat independen, dan tidak ada touch ke negara. Kita seperti anjing menggonggong, isunya tetap saja marjinal. Karena upaya-upaya untuk me-mainstream-kannya terbentur pada entah ketidaktahuan, ketidakpedulian dari pihak birokrasi. Makanya kita coba pakai ini. T: Supaya tidak dianggap hanya gonggongan, action-nya bagaimana? J: Kita berupaya agar lembaga ini punya daya intervensi terhadap pejabat negara, aparatur negara maupun tentara dan tidak sekedar atas nama suatu swadaya masyarakat. Itu sendiri memang pertarungan yang sangat kuat. Kita pernah mengundang orang-orang seperti KH Ali Yafie agar ada persentuhan dengan otoritasi agama. Tapi wonge teko sepisan (orangnya datang sekali) pun belum pernah. Lantas kita undang orang-orang seperti Hartini Hartarto. Tahu akibatnya? Dia rombak mandat Dharma Wanita. Tidak ada paksaan lagi bagi setiap istri pegawai wajib menjadi anggota, dan pemilihan ketua tidak lagi didasarkan pada pertimbangan bahwa ia istri seorang pimpinan instansi. Terang Hartini dilawan oleh orang-orang yang pro-status quo di Dharma Wanita. T: Sekarang Men-UPW diubah menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Porsi Komnas Perempuan berkurang peran? J: Nggak begitu. Mandatnya kan beda, fungsinya juga beda. Misal saja sekarang ketika Khofifah ke Aceh bersama Hasballah, Komnas menjalankan fungsi networking-nya. Siapa-siapa yang, dalam tanda kursif, harus ditemui. T: Menurut Anda, Khofifah memang harus berangkat? J: Ya, ya. Kenapa? Karena kita tahu perempuan di Aceh sangat potensial untuk menuju perdamaian, rekonsiliasi. Sebelum ini kita telah memfasilitasi pelatihan-pelatihan sukarelawan yang akan membantu korban kekerasan yang mengalami post-trauma (post traumatic stress dirorder -red.). T: Dari mula aktivis perempuan meminta Menteri urusan peranan wanita dibubarkan saja? J: Dengan design seperti dulu mending dibubarkan. Policy-nya toh cuma dipandang sebelah mata oleh departemen dan menteri-menteri lain. Maka Khofifah maju dengan syarat, mandat kementerian UPW harus diubah. Dan Khofifah pun terbukti bermain sangat cantik. T: Di mana cantiknya? J: Selama Orde Baru, lembaga yang paling banyak mengambil keuntungan dari perempuan dan paling merugikannya adalah BKKBN. Belasan tahun saya di LSM Perempuan selalu tukaran (beradu mulut) dengan BKKBN. Bahkan BKKBN ini juga sering ribut dengan Depkes. Kerap BKKBN yang membuat program tapi kalau ada kesalahan Depkes yang harus turun tangan. Untuk ini Anda harus mengejarnya ke orang-orang terkait. Nah, pendeknya BKKBN tidak memberi benefit apapun bagi perempuan. Main cantiknya Khofifah di sini. Dia terima jabatan menteri dengan mandat baru. Makanya sekarang nama kementrian Khofifah adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan/Ketua BKKBN. Wow, banyak orang-orang BKKBN ribut. T: Lobi kelompok perempuan di kabinet kelihatannya cukup kuat? J: Meski begitu kita harus tetap menjaga jarak agar tetap kritis dalam melihat. Khofifah sendiri saya nilai cukup terbuka dan tidak birokratis. Waktu diumumkan menjadi menteri, langsung dia surati via email para aktivis perempuan supaya datang hari Sabtu. Rencana ini kemudian diundur hari Senin. Sekitar 200 orang datang dari Jakarta, tapi juga Yogya, Ujung Pandang, Padang, dan banyak lagi. Di situ dia langsung mengemukakan kesulitan-kesulitannya. Bahkan dia juga sempat tanya, "Tolong carikan istilah Indonesianya gender." Istilah gender memang terorize bagi birokrasi. T: Kemudian ada kontak rutin? J: Rutin sih nggak. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
