Dear Saudara Rudi,

Saya senang menerima post anda yang panjang dan menarik untuk dibaca.Begitu juga isinya sangat berbobot dan penuh dengan pengalaman yang menarik dan bermanfaat.
Sorry akan post saya yang terlalu ada sedikit misinterpreted tentang  anda.
Syukurlah anda mengusai bahasa ibu,bahasa hakka.Ini termasuk sesuatu keberuntungan bagi anda.Kelak ada buku pelajaran bahasa Hakka Singkawang anda tidak  perlu capek-capek belajar lagi-anda free.Hehehehe

Saya coba sedikit menceritakan tentang proses register bahasa Hakka Singkawang(San Keu Jong Hak Fa) di internasional linguistik melalui salah satu universitas di Jepang.Karena Jepang adalah pusat bahasa Asia Timur bahkan ada beberapa orang Jepan adalah ahli bahasa Hakka.Pertama :student yang mau menjadi Hakkalogist Bahasa Hakka Singkawang ini harus membuktikan bahwa bahasa Hakka Singkawang ini berbeda dengan bahasa Hakka yang telah diregistered(21 variant).Kedua:harus membuat daftar Pin Jim dan perbedaan bunyi,intonasi dll.Pokonya ini bukan pekerjaan yang gampang.Semua proses ini harus memenuhi persyaratan ilmiah.Dengan demikian bahasa Hakka Skw dapat dipelajari oleh siapa saja terutama mereka ahli bahasa.Kemudian dari pihak universitas menguji hasil thesisnya.Sesudah itu pihak universitas register ke internasional linguistik bahwa diuniversitas tersebut  ada bahan studi bahasa Hakka Singkawang. Ini adalah peristiwa sangat bergengsi bagi bahasa Hakka Singkawang.Siapa tahu kelak mau menperdalam bahasa Hakka Singkawang harus ke Jepun.Hehehhe

Saya sependapat dengan anda kalau  dapat ada beberapa ciri khas kesenian kita  dapat   dilestarikan kemudian dengan  new packaging untuk dipasarkan kepada tourism.Sebenarnya daerah Singbebas itu banyak terdapat potensi yang dapat diekploratasi untuk meningkatkan taraf  hidup bagi mereka yang kurang beruntung.Tetapi bagaiman mengumpulkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang ada  daerah ini untuk pembangunan,Inilah masalah  yang besar dihadapi daerah ini?Sebagai contoh setiap tahun banyak anak SLTA(sekarang apa sebutannya?)tamat kemudian mereka tidak tahu harus membuat apa didalam masayarakat(kalau tidak melanjutkan diuniversitas).Mereka ini tidak ada skill.Ketika mereka disekolah mereka hanya diajar menghafal dan mengejar nilai-nilai.Disamping itu lapangan pekerjaanpun tidak banyak.
Apakah  ada badan tertentu training  new skill utk mereka ?Ini ada persoalan sosial harus dicari jalan keluar utk mengatasi masalah ini? Ini bukan hanya ada duit(dana) masalah ini dapat diatas,tetapi kita perlu system tanpa suatu system persoalan ini susah diatasi.Ini suatu kenyataan hidup yg dihadapi masyarakat di Singbebas. Mudah-mudahan kelak ada orang genius dapat menciptakan system(pemecahan) untuk mereka. itulah harapan kita.

Sekian,terima kasih

Salam,
Robert Lay-sydney


Rudi Dustika Teja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Pak Robert,
 
terima kasih banget atas tanggapannya,  :)
kalau saya mah belum merantau jauh kok Pak, baru nyebrang pulau hehe.
Ya kalau bahasa hakka, itu makanan sehari2 lah, karena sebagian besar keluarga berasal dari Bengkayang dan besar di Singkawang.
 
Wah Pak Robert, terima kasih banget atas informasinya juga about variant bahasa ke 22,  bisa jadi kebanggaan kita2 sebagai orang khek tuh hehe. Soal tulisan hakka, hehe... lagi2 masih blank.
 
Tapi secara pribadi saya merasa kalau adat istiadat kita itu potensial banget apabila dilestarikan. Dulu waktu masih kecil, sekitar belasan tahun yang lalu (di zaman orde baru), di Bengkayang ada peresmian Tempekong, nah waktu itu saya sempat berada di sana dan menyaksikan pagelaran musik hakka, yang lagunya lagu hakka, terus alat musik yang dimainkan meliputi erhu, guceng dan lain sejenis, terus ada  kaya opera boneka dll. Ternyata itu menjadi moment yang pertama dan terakhir kalinya saya bisa menyaksikan pagelaran tersebut di daerah. Waktu itu saja seingat saya pemainnya dan penyanyinya sudah tua2.
 
Oh ya Pak Robert, soal pertanyaan saya bagaimana cara Permasis membangun di daerah Singbebas? ini tadinya saya hanya mencoba berpikir potensi2 creative dari sisi pemberdayaan internet(website) saja, jadi bukan dari sisi program kerja, mohon maaf kalau terjadi missperception ya :) .
 
Kebetulan beberapa waktu lalu sempat singgah di Makassar, dan saat itu saya heran kok banyak sekali orang2 jepang di sana. Eh ternyata orang2 jepang ini pada punya bisnis di sana, bisnis ikan(hasil laut), teh dll. Wah bagaimana penduduk lokalnya? ternyata tourism di sana boleh dibilang cukup hidup, walaupun masih jauh kalau dibandingkan Bali.Jadi bisnis kaya handycraft lumayan hidup di sana, dan mereka(penduduk lokal) memiliki jalur untuk ekspor. Waktu itu jadi berpikir, wah Singkawang gimana ya? seandainya saja tourism-nya bisa lebih hidup kaya di sini mungkin bisa mengangkat taraf hidup saudara2 kita juga ya hehehe :D  . 
 
Nah..soal potensi Singbebas, boleh dibilang potensial banget lah dari dulu hanya saja mungkin belum tersentuh dan dimaintain dengan baik.  Kalau dari sisi kesenian , seingat saya beberapa tahun lalu sempat beredar lagu Hakka dalam bentuk VCD & Kaset di Singkawang, yang isinya lagu mandarin yang dihakka-kan . Tapi nggak tahu nasibnya sekarang, masih ada apa nggak. Dan sempat ada film Wo Ai Ni yang di RCTI itu juga kan. Eh , kalau seandainya ada film2 hakka lagi yang mengangkat Romansa kehidupan Singbebas, menarik juga ya. Siapa tahu Singkawang bisa jadi kota penghasil film kaya korea hehehe... (Winter Sonata korea vs Summer ChongSaPa singkawang   :p ).
 
 
hehe..sekian dulu deh ya.
 
regards
 
Rudi
 


Robert Lay <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Saudara Rudi,
Mengenai pertanyaan anda bagaimana cara  Permasis membangun didaerah Singbebas ?Ini adalah pertanyaan yang berbobot tentang program kerjanya Permasis.Pertanyaan yang beginian diluar capability saya memberi jawanban kepada anda karena saya sendiri bukan staff dari organisasi tersebut.
 
Anda tidak perlu merasa kecewa tentang ketidaktahuan anda dengan adat istiadat orang khek(hakka).Ribuan bahkan jutaan generasi muda yg lahir diperantauan dari orangtuanya berasal dari daerah singbebas yang situasinya sama dengan anda.
Untuk  memahami sesuatu adat istiadat dari sesuatu  bangsa (suku) degan baik kita pelu mempelajari bahasa dari mereka,dalam hal ini contoh Hakka Singkawang.
Untuk mempelajari sesuatu bahasa ,bahasa yg akan kita pelajari harus dalam bentuk tertulis.Dengan demikian proses belajar akan lebih cepat.
Tidak lama lagi(sedang proses) bahasa Hakka Singkawang(singbebas) akan diakui secara international(terdaftar linguistik international) sebagai variant bahasa Hakka ke 22.Berarti bahasa hakka singkawang dapat dilafal(tulis) dalam lafal bahasa Indonesia.
Sesudah proses itu berarti ada buku terbit dalam bahasa hakka singkawang,atau buku mengajar bagaimana mengucapkan dalam bahasa hakka singkawang.
Tunggu tgl mainnya....!
 
Sekain,terima kasih
 
Salam,
Robert Lay-sydney
 
 

  Rudi Dustika Teja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Bung Robert dan Bung Hendy,
 
terima kasih banyak atas atensinya dalam menjawab keingin-tahuan saya  mengenai Permasis :) . Dari uraian informasi mengenai organisasi tersebut, saya menemukan visi dan misi positif yang tujuannya baik.
 
Melihat ide website untuk Permasis, saya berpikir sejenak. Wah kalau seandainya Permasis bisa menggalang kawula muda dalam membangun komunitas maya Singbebas  itu seru juga ya. Mengingat di era informasi begini, internet kan boleh dibilang powerful-lah sebagai jembatan komunikasi.
 
Lalu terpikir kembali, hm.... membangun bagaimana ya?
Kalau dipikir-pikir memang banyak hal bisa dibangun dari sana,terutama dalam hal wawasan. Jujur saja sebagai kaum muda , untuk adat istiadat orang khek saja saya nggak ngerti-ngerti , hehe paling tahu Ko Nyien (sin cia) dan Cang Nyiet Pan (cap go meh). Nah kalau informasi2 tersebut bisa terdokumentasi dengan baik, setidaknya bisa memberikan wawasan bagi kita-kita lah.hehe. 
 
demikian , terima kasih
 
regards
 
Rudi
 
 
 


Hendy Lie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Tadi saya diajak ke rapat pengurus Permasis ama Hasan Karman. Saya
diminta memaparkan ide dan saran saya tentang website Permasis. Saya
datangnya agak telat soalnya harus tunggu pulang kerja baru bisa ke
sana. Jadi saya gak tau apa aja yang di-meeting-in.

Btw, hampir semua pengurus Permasis itu kebanyakan udah senior-senior.
Rata2 di atas 40 tahun, dan juga merupakan bos-bos gede. Jadi gak usah
heran kalo dana abadinya juga lumayan gede ;-). Di sana saya yang
paling muda, karna usia terpaut jauh jadi agak susah juga komunikasi
ama mereka. Apalagi mereka ngomong pake bahasa Khek yang tanpa campur
bahasa Indonesia sama sekali, saya jadinya malah gak ngerti apa yang
mereka ngomongin soalnya bahasa Khek saya gak dalam banget :(.

Soal apa aja yang dibahas di rapat tadi, saya gak bisa bilang, soalnya
itu bukan wewenang saya, trus takut salah ngomong juga. Cuman yang
pasti, Permasis ini punya banyak sekali kegiatan2 yang bertujuan untuk
memajukan Singkawang dan sekitarnya. Dan diharapkan orang-orang
Singbebas perantauan juga bisa membantu kegiatan Permasis ini.

Btw, Bung Rudi sekarang posisi ada dimana? Punya banyak teman
Singkawang perantauan? Ajak donk main ke milist ini biar rame ;-)

Thanks

Kind regards,
Hendy Lie


--- In [email protected], Rudi Dustika Teja <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Dear Hendy,
>   
>   iya saya sudah baca di message yang Anda posting sebelumnya.
>   terima kasih banyak atas informasinya. :)
>  







 
 

New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.


Blab-away for as little as 1�/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.



 
 

Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.


Blab-away for as little as 1¢/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.


=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke