Dear Winny and Willy,
 
Sesudah membaca email anda timbul suatu pertanyaan dipikiran saya  yang bunyinya begini:”Perlukah seorang mempelajari bahasa mother tongue nya kalau dilingkungan kehidupannya didominasi oleh  bahasa lain.?”
Pertanyaan ini susah dijawab dan tergantung keapada dari faktor:siapa dia,bagaimana lingkungan(masyarakat) hidupnya.,dinegara mana dia tinggal.
Memang ada sekolompok kecil manusia merasa tidak penting bagi dirinya  terhadap masalah budaya dan bahasa. Seandainya didunia ini penuh dengan manusia model begini berarti manusia tidak ada peradaban,tidak pernah maju!
 Suatu keberuntungan kalau kita tinggal di masyarakat multicultural seperti di negara Amerika ,Australia. Banyak pengalaman bangsa lain dapat menjadi bahan input bagi kita.
Beberapa kesaksiaan yang pernah saya lihat di tv tentang kehidupan imigran Itali di Australia.Sesudah akhir perang dunia ke 2,banayak imigran Itali datang ke Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dibandingkan negara asalnya. Keturunan mereka yang lahir di Australia banyak yang hilang budaya dan bahasa mereka.Dalam kesaksian itu ada mengatakan mereka merasa malu ketika mereka masih kecil mau belajar bahasa mereka.Sekarang mereka merasa menyesal ketika ada kesempatan untuk belajar bahasa mother tongue nya dibiarkan kesempatan itu berlalu .Itulah namanya kehidupan manusia kalau kita menghadapi suatu situasi “no turn point” dan mengambil keputusan yang salah berarti everything gone.
 Beberapa tahun yang lalu ada saudara dari keluarga istri saya datang ke Sydney untuk mengadakan operasi ginjal batu dengan teknologi laser.Saudara ini tidak bisa bicara bahasa Inggeris,hanya berbicara Hakka dan bahasa Indonesia. Kami kuatir ketika diruang operasi (pasien ditaruh bak  air) saudara kami akan mengalami kesulitan mengerti instruksi dari dokter.Tetapi diluar dugaan kami salah satu team dokter itu bisa berbicara bahasa Hakka,Hakka dari Kuching.Inilah keberuntungan menguasai bahasa mother tongue.!
 Tidak ada ruginya  kalau kita ada kesempatan  untuk belajar bahasa mother tongue.Itu adalah kewajiban menjaga dan mengembangkan bahasa dan budaya kita .Kita tidak mau seperti nasibnya salah satu suku minoritas di Taiwan hanya tinggal beberapa orang didunia ini akibat gempa bumi.Bahasa mereka sebentar lagi akan sirna dari bumi ini.
 Terutama Sdri Winny,you masih muda kalau ada peluang belajar bahasa mother tongue dari teman mu yang berasal dari Sumatera itu,pergunakan kesempatan itu.Orangtuamu pasti  bangga  akan you dikirim ke Amerika bukan cuma pintar berbahasa Inggeris tetapi juga bahasa Hakka.Siapa tahu kelak you  dapat menjadi penterjemah untuk nenek(kakek)mu ketika beliau jalan –jalan ke Amerika.Sungguh suatu kebanggaan!!
 
Salam,
Robert Lay-sydney
 


Winny - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ngga kepikiran sama sekali bahasa hakka-nya cemburu atau turut berduka cita. Memang sekarang dalam pergaulan sehari2, bahasa hakka di singkawang banyak dicampur dengan bahasa indonesia. Kalo ada yg ngomong hakka seratus persen, seringkali saya tidak mengerti. Bahkan dulu kalo ngomong sama nenek rasanya minder karena ada kata2 yang ngga tau (cuman tau bahasa indo-nya doank). Pernah waktu itu, saya dikasi tau nenek soal tsunami di aceh. Tapi karena ngga ngerti kata 'tsunami' itu, saya cuman oo.. doank. Setelah baca berita di koran, baru kepikiran kalo yang dimaksudkan nenek itu soal tsunami. (malunya...)
Sekarang saya lagi kuliah di sacramento, california, tetapi masih di college. Di kota saya (posesif banget), orang indo-nya ngga banyak. Di gereja sih ada beberapa keluarga hakka cuman mereka dari sumatra. Karena ngga pd ngomong hakka (soalnya beda sendiri), kadang2 saya menjawab dalam bahasa indo. Sekarang sih rasanya malu.. harusnya bangga donk ama hakka singkawang (barang langka). hehehe..
mungkin saya bisa cerita dikit soal chinese di sini. Banyak sekali orang canton, jadi rata2 mereka bisa cantonese. Ada juga komunitas dari china daratan yang cuman bisa ngomong mandarin. Tetapi sepertinya yang lebih populer di sini adalah cantonese. Setau saya kalo di china, karakter hurufnya itu sudah yang disederhanakan. Tetapi kalo di sini ke restoran cina ato china town, karakter hurufnya itu memang yang masih tradisional. Sebenarnya kita bisa hidup di amerika tanpa bahasa inggris sama sekali, khususnya yang komunitasnya banyak seperti chinese, mexican, ... Bayangkan kalo tinggal di china town, mo apa az uda ada. Mereka banyak buka usaha seperti toko dan restoran. Kalo perlu barang lain, tinggal beli di supermarket yang bisa ngga pakai ngomong karena kita melayani diri sendiri.
Namun, generasi2 selanjutnya fasih bahasa inggris karena sekolah pakai bahasa inggris. mereka seringkali hanya memakai bahasa ibu di keluarga dan menurut saya kalo pada generasi yg selanjutnya lagi, mereka mungkin akan melupakan bahasa ibu yang dipakai nenek ato kakeknya. (cuman ini tergantung sih..)
sekian dulu dari sacramento (cow town. hahaha)

New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.

=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke