http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=61077


Senin, 21 Mei 2007
Didirikan Lo Fang Pak
Lan Fang, Republik Pemula Asia dan Nusantara (1)

Di Asia pada permulaan model pemerintahan khas republik terdapat 24
negara, baik otonom, protektorat, maupun independen. Salah satunya
Republik Lan Fang, di Provinsi Kalbar.


"The Lan Fang Republic was a Hakka Chinese state Western Kalimantan
that was established in 1777 until was ended by Dutch occupation in
1884. The Lan Fang Republic is the strongest contender for the frost
republic in Asia." Demikian salah satu nukilan mata kuliah
`ketimuran' yang diajarkan di Univeristas
Leiden—Netherlands, maupun di Universitas Honolulu—Amerika
Serikat.

Seorang cendekiawan asal Singkawang, Hasan Karman SH, MM melakukan
penelitian pustaka sejarah Tionghoa di Kalbar yang berasal dari catatan
data-data pustaka kuno di Belanda maupun Dinasti Qing (kerajaan terakhir
Tiongkok sebelum menjadi republik saat ini). "Republik Lan Fang,
demikian namanya yang pernah dibentuk orang-orang Hakka dari Kwantung
(Tiongkok) pada akhir abad 18. Republik ini berlangsung selama 107 tahun
dan mencatat sepuluh presiden yang pernah memimpin republik di Kalbar
ini," tutur Hasan Karman.

Salah satu the founding father dari Republik Lan Fang ini, bernama Lo
Fang Pak. Beliau mulai merantau dari tanah leluhur pada usia sekitar 34
tahun. Lo Fang Pak merantau ke Kalbar saat ramainya orang-orang mencari
emas (Gold Rush), dengan menyusuri Han Jing menuju Shantao, sepanjang
pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar.

Ketika itu para sultan maupun panembahan banyak yang percaya bahwa orang
Tionghoa adalah pekerja keras. Demikian juga dengan Sultan Omar dari
Kesultanan Brunei Darussalam mendengar tentang ketekunan orang Tionghoa
memanfaatkannya melalui sistem kontrak lahan kepada orang Tionghoa, guna
membuka kawasan. Awalnya 20 buruh Tionghoa dipekerjakan di Brunei.

Lo Fang Pak dalam merantau memilih di tanah Kalbar. Pada masa
kedatangannya Kerajaan Belanda belum secara agresif invansi ke
Kalimantan. Dikarenakan di Pulau Jawa, Belanda sedang mengalami banyak
pemberontakan dari penguasa lokal, seperti dari Sultan Agung (Mataram),
Sultan Ageng Tirtayasa (Banten).

Disusul kemudian pemberontakan Untung Suropati (mantan anak angkat
bangsawan Belanda) terbentang dari Bali, Batavia, Jawa Barat, terus ke
Jawa Tengah hingga ke Jawa Timur. Termasuk pemberontakan Trunajaya
didukung pejuang Tionghoa yang berhasil membakar Istana Kartasura yang
menjadi markas militer Belanda dan Kasuhunan.

Konsentrasi militer Belanda belum dapat membidik Kalimantan dikarenakan
terjadi pemberontakan Pangeran Samber Nyawa (Mangkunegara) dan
Mangkubumi (Hamengkubuwana), tidak jauh berbeda dengan tahun kedatangan
Lo Fang Pak ke Kalbar. Pemberontakan berakhir dengan genjatan senjata,
Mangkunegara berhak memerintah tanah merdeka.

Belanda makin sulit ekspansi ke Kalimantan dikarenakan kekuasaannya di
Malaka (Malaysia) diusik Inggris, Prancis, Spanyol dan Portugis yang
menginginkan bekas daerah jajahannya tersebut kembali lagi. Dikarenakan
kerajaan yang menjadi tanah jajahan Belanda kadangkala berperang sendiri
maupun memberontak, maka pada tahun 1812 dilarang memiliki tentara
penggempur (raider). Maka hanya diperbolehkan memiliki tentara
Bhayangkara (penjaga pusat kerajaan).

Pun demikian, Republik Lan Fang mempersenjatai diri ketika Belanda
menuntut pengakuan kekuasaan dan belasting (pajak) yang tinggi atas
pendapatan kaum Tionghoa di Kalbar. Republik Lan Fang meniru gaya para
pejuang Kesultanan Tanjungpura (Ketapang) dengan moto, lebih baik mati
berkalang tanah daripada bayar belasting.

Pertempuran antara Republik Lan Fang dengan Belanda dimulai, ketika
seluruh pemberontakan besar di Nusantara berakhir, seperti Perang
Diponegoro (1830) dan Perang Bonjol—Sumatera Barat (1837). Ditambah
Belanda mendapat keuntungan dari bisnis tukar guling buah dari Traktat
London, di mana setelah perang Napoleon di Eropa selesai (1816), Belanda
berhak mendapatkan jajahannya kembali dan merdeka dari Perancis. Namun
Malaka (Malaysia) diberikan kepada Inggris, sedangkan Bengkulu, Riau,
Batavia dan Jawa diberikan kepada Belanda. Sedangkan Singapura menjadi
kuasa Sir Thomas Stamford Raffless, Jenderal Inggris.

Kuasa monopoli tanah merdeka Singapura kepada Raffless sebagai imbalan
memenangkan perang Napoleon di Asia Tenggara. Khususnya dalam merebut
Batavia (Jakarta) yang dikuasai Prancis penjajah Belanda selama Perang
Napoleon di Eropa. Karier Raffles sendiri juga diakui lawan politiknya
Gubernur Deandles (pembangun jalan raya dari Anyer-Panarukan untuk
tujuan perang melawan Inggris) dan Jenderal Jansen atas nama
Perancis-Belanda menyerah kalah kepada militer Inggris.

Kemesraan Inggris dan Belanda daripada sebelumnya yang sering berebut
tanah jajahan di Nusantara, imbas perang Napoleon, berdampak menguatnya
militer Belanda. Segala pemberontakan berhasil ditekan, termasuk makin
mulusnya rencana mengokohkan kekuasaannya di Kalbar. Namun langkah
Belanda yang sudah berhasil membangun kerja sama dengan kerajaan maupun
kesultanan di Kalbar, memiliki duri dalam daging, Republik Lan Fang.
(mah/bersambung)





Kirim email ke